
Satu Minggu berlalu setelah Afsha pulang ke rumahnya. Ia menjalani aktivitas seperti biasa di rumah. Bahkan kali ini dia beberapa hari ke kantor ayahnya untuk belajar bisnis sekaligus membantunya.
“Afsha kemari sebentar.” panggil Abizar saat mereka berdua berada di kantor.
Beberapa waktu yang lalu pria itu mengajari Afsha sedikit demi sedikit tata cara menjalankan bisnis.
“Ya, ayah ada apa ?” jawab Afsha setelah masuk ke ruangan ayahnya.
Pria itu kemudian menyerahkan beberapa berkas pada Afsha, “Bawalah ini dan kerjakan nanti tunjukkan hasilnya padaku.”
“Baik, ayah.” Afsha menerima dokumen itu dan kembali ke ruangannya mencoba membaca data-data yang diberikan oleh ayahnya tadi lalu mengentrinya.
Di tengah pekerjaannya tiba-tiba dia melamun.
“Biasanya jam segini aku membersihkan teras depan dan memotong rumput di sana.” gumamnya teringat pada aktivitas yang biasa dia lakukan saat di rumah dr. Ammar.
Tak hanya itu saja, ia bahkan teringat pada para pelayan yang ada di sana. Lebih parahnya lagi ia teringat pada pria brengsek yang selalu usil mengganggunya, dr. Ammar.
“Bagaimana kabarnya dokter tengil, itu ?” gumam Afsha tiba-tiba saja teringat pada setiap kejahilan pria itu. “Ah, kenapa aku sampai memikirkan dia segala ?!” setelah tersadar Ia pun segera menghapus bayangan pria itu dari pikirannya.
Afsha kembali fokus mengerjakan tugasnya karena ayahnya berdiri di depan pintu ruangannya mengawasinya.
“Apa yang dia pikirkan ? Sedari tadi tampak melamun.” batin Abizar beberapa kali melihat putrinya itu melamunkan sesuatu. “Apa dia sedang melamun kan dr. Ammar ?” mengira demikian sambil tersenyum kecil kemudian pergi dari sana dan kembali ke tempat duduknya.
Sementara di Rumah Sakit Aspetar, dr. Ammar sedang melayani pasiennya yang banyak. Dan di saat istirahat, pria itu memanfaatkan waktu yang ada sebaik mungkin.
“Yusuf, selama aku istirahat ini jangan terima pasien VVIP dulu.” ucap pria itu sebelum keluar dari ruangannya pada Yusuf.
“Baik, dokter.”
Di ruangan tempat beristirahat, dr. Ammar ternyata duduk bersandar dan melamun selain terlihat lelah.
Ya, satu minggu ini pria itu merasa lelah karena susah tidur di malam hari. Entah kenapa semenjak kepergian Afsha, ia merasa ada yang kurang di sana dan suasana di sana tak seramai dan semenarik biasanya saat ia menggoda Afsha juga mengerjai gadis itu.
“Apa aku terkena mental disorder ?” gumamnya mendiagnosis sendiri penyakit insomnianya selama seminggu ini, terlebih bayang Afsha selalu muncul dalam pikirannya dan susah sekali mengusirnya sampai memerlukan tenaga yang banyak untuk mengenyahkan gadis itu dari pikirannya.
“Afsha kau ini meskipun sudah tak ada bersamaku tapi masih saja membawa masalah padaku, ck.” decaknya sambil menarik nafas panjang.
Satu jam berlalu dan tak terasa jam istirahat bagi dr. Ammar sudah selesai dan memaksa pria itu kembali bekerja.
“Panggil pasien masuk.” ucapnya pada Yusuf setelah berada di ruangan.
Langsung saja Yusuf mangga satu pasir untuk masuk.
Seorang pasien kemudian masuk beberapa detik setelahnya, seorang gadis berusia sebaya dengan usia Afsha yang masuk ditemani oleh ibunya.
“Jadi bagaimana dokter ? Apakah aku sudah masuk dalam kategori anoreksia ?” tanya gadis itu yang ketakutan karena berdiri terlalu ketat bahkan sampai saat ini membuatnya hanya makan 5 sendok saja setiap kali makan.
Namun dr. Ammar caranya seperti melamun saat melihat pasien itu, karena ada sedikit kemiripan dari pasien itu dengan Afsha.
“Raut mukanya yang bingung mirip sekali dengan raut muka Afsha saat dia bingung.” batinnya tiba-tiba kembali teringat pada Afsha.
“Dokter, bagaimana dengan putriku ? Bagaimana apakah dia bisa kembali mendapatkan nafsu makannya normal seperti sebelumnya ?” sampai ibunya pasien yang bertanya karena tak ada respon saat putrinya bertanya.
“Ohh, ya maaf nyonya. Aku akan membantunya.” ucapnya segera tersadar dari lamunannya sambil mengumpat dalam hati, “Kenapa lagi-lagi dia muncul kepikiranku padahal aku tak ingin memikirkannya.”
dr. Ammar pun memaksa Afsha pergi dari pikirannya agar dia bisa konsentrasi dalam bekerja.