
Dalam satu minggu kerja ada libur satu hari yang diberikan oleh Nyonya Fatimah pada para pelayan yang ada di sana. Namun hari libur mereka tidaklah sama dan sengaja di seling untuk setiap pelayan agar setiap hari rumah nyonya besar tetap bersih.
Hari ini Hari Sabtu dan kebetulan semua pelayan libur kecuali Afsha. Ya, gadis itu berada di kamar seorang diri setelah empat pelayan lainnya keluar bersama untuk cari angin di malam hari.
“Apa yang bisa kulakukan seorang diri di sini ?” Afsha merasa jenuh lama-lama berada di kamar sudah selama satu jam lebih tanpa ada kegiatan yang berarti.
“Lebih baik aku ke depan saja daripada di sini, pengab.” gumamnya sembari berdiri keluar dari kamar menuju ke teras rumah.
Di bagian depan rumah Nyonya Fatima terdapat halaman yang cukup luas sekali di mana di sana terdapat taman kecil juga sebuah kolam ikan.
“Daripada tak ada kerjaan sebaiknya aku membantu kerja kak Fajar untuk memberi makan ikan dalam kolam saja.” Afsha kembali masuk ke dalam untuk mengambil pakan ikan.
Ia duduk berjongkok di depan kolam ikan.
“Ya ampun si kuning cantik kau tambah besar saja baru satu minggu.” karena ada teman mengobrol maka Afsha pun mengajak ikan-ikan yang ada di sana untuk bicara sambil memberinya makan.
Dari balkon ada dr. Ammar yang juga ada kesibukan di akhir pekan juga ada teman kencan. Tak mungkin juga ia menghabiskan waktunya dengan ibunya.
“Itu kan Safa.” dr. Ammar menatap ke arah luar dan pandangannya tertuju pada kolam yang ada di teras dimana disana gadis itu terlihat duduk santai. “Apa yang dilakukannya di sana ?”
Terdengar suara Afsha sedang melantunkan sebuah lagu. Awalnya suara itu pelan namun beberapa menit setelahnya suara itu terdengar keras.
“ehm...” Afsha berhenti sebentar untuk mengambil nafas sebelum kembali melantunkan sebuah lagu. “si putih yang gesit aku akan menyanyikan satu lagu untukmu. Toh di sini sepi tak ada siapapun yang melihat atau mendengarku menyanyi.” Afsha melanjutkan nyanyiannya tanpa mengetahui jika di belakangnya ada dr. Ammar yang masih melihatnya dari balkon.
Ia pun bernyanyi seperti biasanya seperti saat ia berada di rumahnya sendiri.
“Lagu itu... ternyata dia tahu juga lagu itu.” dr. Ammar tak menyangka saja gadis itu menyanyikan lagu kesukaannya. “Suaranya lumayan juga untuk ukuran seorang pelayan seperti dia.” diam-diam menikmati lantunan lagu Afsha.
Afsha mengambil sejumput pakan kemudian kembali melemparnya ke kolam yang di sambut dengan berebut oleh para penghuni kolam di sana, entah karena masih lapar atau karena nyanyiannya yang membuat mereka menjadi lapar.
“ehm...” Afsha kembali menarik nafas sebelum melanjutkan melantunkan sebuah lagu lainnya dengan lepas tanpa beban.
“tuing.” dr. Ammar mengambil koin yang ada dalam saku celananya dan melemparnya tempat ke atas kepala Afsha.
“Aduh...” Afsha mengadu sambil memungut koin yang jatuh di dekat kakinya. “Siapa yang iseng begini, sakit tahu.” ia pun kemudian berdiri dan berbalik. “Tuan Ammar ?”
Afsha terlihat sangat kesal sekali kenapa pria itu datang dan mengganggu kesenangannya bahkan sampai menimpuk kepalanya dengan koin. Ia menatap dr. Ammar dengan tatapan tajam seolah minta penjelasan.
“Suara mu lumayan juga makanya aku memberimu koin. Seharusnya kau senang bukan malah kesal begitu padaku.” candanya sembari Mengambil koin lagi dan melemparnya ke arah Afsha.
“Kau kira aku pengemis apa ?” tentu saja itu ia ucapkan pelan dan segera pergi dari sana sambil sambil mengumpat keras setelah jauh dari pria tersebut.
Dia pun lebih memilih kembali ke kamar dan moodnya hilang sudah untuk melakukan hal lainnya setelah terganggu oleh dr. Ammar.