Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 77 Saling Memikirkan



Afsha keluar dari kamar untuk menyusul ayahnya, tepatnya sebenarnya untuk menemui dr. Ammar.


Entah kenapa meskipun dia kesal sekali pada pria itu namun saat bertemu dengannya ia merasa tenang sekali meski hanya dengan memandangnya saja.


“Ayah, di mana dia ?” tanya Afsha menatap ayahnya yang masuk ke rumah dan menutup pintu kembali.


“Dia barusan pulang.” jawabnya singkat dan Abizar bisa melihat kekecewaan di raut muka putrinya. “Jika kau masih ada urusan dengannya maka telepon saja dia.” menyerahkan ponselnya pada Afsha.


“Tidak, ayah.” tolaknya lalu mengembalikan ponsel itu pada Ayahnya.


Afsha kemudian segera pergi dari sana dan kembali masuk ke kamarnya.


“Ada apa dengannya ?” Abizar sampai menautkan kedua alisnya dan mengangkat kedua bahunya menatap tingkah putrinya yang aneh tapi tak bisa berbuat apapun.


Sementara di mobil, dr. Ammar masih tak bisa melupakan apa yang barusan terjadi di antara mereka.


“Afsha....” ia menyentuh bibirnya masih dengan tangan gemetar begitu membayangkannya lagi.


Entah kenapa tadi ia malah merespon ciuman dari Afsha.


“Sial, dia mencuri first kiss ku.” umpatnya dengan pipi yang kembali bersemu merah.


Perasaan dan pikiran dr. Ammar benar-benar kacau saat itu dan mempengaruhi tingkat fokusnya saat mengemudi.


din


Sebuah truk membunyikan klakson keras saat melintasi mobil dr. Ammar.


“Haah... hampir saja.” pria itu menghela nafas panjang setelah selamat dari tabrakan dengan sebuah truk setelah tersadar dari lamunannya dan segera menepi.


“Sebaiknya aku tak pikirkan hal itu dulu.” gumam dr. Ammar karena tak ingin sampai mengalami kecelakaan.


Pria itu kemudian fokus mengemudi di jalanan dan dua jam berikutnya ia sudah tiba di rumah.


“Astaga aku lupa tidak memberikan obatku padanya.” pekik dr. Ammar saat akan turun dari mobil dan melihat tiga botol obat yang di bawanya untuk Afsha. “Sudahlah mungkin lain waktu saja obat yang di sana sudah habis aku akan memberikan yang ini.”


dr. Ammar membawa kembali obat itu lalu masuk ke kamarnya.


Malam hari


“Bagaimana kabar dia sekarang ?” ucap mereka bersamaan dan saling memikirkan.


dr. Ammar kembali teringat pada apa yang sudah mereka lakukan sebelumnya. First kiss itu begitu membekas di hatinya.


“Kenapa, kenapa aku tak bisa melupakanmu dan selalu terbayang dirimu ?” gumam pria itu masih bisa mengingat jelas ciuman mereka.


Beberapa pelayan di rumah itu lewat di depan kamarnya.


“Ada apa dengan dr. Ammar, coba lihat itu.” bisik kak Amla pada kak Cala melihat tuan mereka yang melamun.


“Aku juga tidak tahu. Apa mungkin dia sedang memikirkan seseorang ? Semacam memikirkan seorang kekasih begitu ?” balas kak Cala sembari berbisik.


Mereka berdua mengangkat setengah saling menetap dan tak ingin mengurusi hal tersebut Meskipun mereka tahu semenjak kepergian Afsha dari sana, pria itu terlihat sering melamun.


“Kenapa aku merasa tadi siang begitu dekat dengannya ? Apa aku melakukan sesuatu tanpa kusadari padanya ?” gumam Afsha merasa campur aduk perasaannya.


Afsha berpikir keras untuk mengingatnya. “Aku tidak tahu apa yang sudah kulakukan padanya sampai dia menghindar seperti itu dariku tapi kuharap aku tidak melakukan sesuatu yang membuatnya kesal.” gumam Afsha lagi menatap lepas keluar jendela.


“Kenapa bibir ku rasanya manis sejak siang tadi.” gadis itu menyentuh bibirnya dan mengingat apa saja yang telah dimakannya.


Tapi seingatnya sampai hari ini ia tak makan sesuatu yang manis sama sekali.


“Kenapa aku memikirkan dia lagi ?” gumamnya tiba-tiba kembali teringat pada dr. Ammar.


Kriek


Pintu kamar terbuka dan seseorang masuk ke sana.


“Kakak, apa yang kakak lakukan di sana ?”


“Rafi ?” ternyata yang masuk ke kamarnya saat itu adalah adiknya.


“Tidak, kakak hanya ingin melihat pemandangan di luar saja.”


Rafi berdiri di samping kakaknya itu untuk menemani kakaknya dan mereka pun mengobrol.


“Kenapa kakak hari ini sedikit tidak connect saat di ajak bicara? Apa atau siapa yang sedang dia pikirkan saat ini ?” batin Rafi saat kakaknya sering meminta dirinya mengulangi pertanyaan yang dia lontarkan.