Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 101 Pernikahan



Malam hari di rumah Afsha.


Terlihat Abizar duduk bersama dr. Ammar di ruang keluarga. Ia senang sekali dengan langkah tegas yang diambil oleh pria itu. Meskipun sebelumnya ia sempat punya pikiran meminta Afsha untuk mengakhiri hubungan tersebut saja karena tak adanya kepastian.


“Jadi bagaimana jika nanti aku akan membangunkanmu rumah sakit?” tanya Abizar.


“Itu terlalu besar, Tuan.” jawab dr. Ammar. Impiannya hanyalah mempunyai tempat praktek saja agar dia juga lebih santai tidak tertekan oleh waktu seperti di rumah sakit sebelumnya.


“Ayah, mulai sekarang kau harus membiasakan diri memanggilku dengan sebutan itu. Karena sebentar lagi kalian akan menikah.”


dr. Ammar tersenyum kecil menanggapinya sembari mengangguk.


“Atau klinik pribadi saja?” ulang Abizar mengkoreksi idenya.


“Sepertinya itu lebih tepat, Ayah.”


Bukan dr. Ammar yang menjawabnya tapi Afsha tiba-tiba muncul dari belakang mereka dan ikut bergabung.


Abizar tertawa hingga memperlihatkan gigi putihnya yang berbaris rapi. Baru kali ini pria itu bisa sebahagia ini.


“Mengenai tanggal pernikahan sebaiknya kalian berdua segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini. Aku tak ingin ada orang memfitnah karena memasukkan seorang pria tinggal di sini.


“Ya, Ayah. Kami akan mencari tanggal yang tepat,” jawab Afsha dan dr. Ammar.


Mereka berdua kemudian berdiskusi setelah kepergian Abizar untuk mencari tanggal yang bagus untuk melangsungkan pernikahan.


“Tanggal ini bagus untuk kita menikah,” ucap Afsha mengambil kalender meja lalu menunjuk salah satu tanggal.


“Itu terlalu lama. Tanggal ini saja,” dr. Ammar memberi saran serta memilih waktu yang lebih awal daripada waktu yang dipilih Afsha.


Tiga minggu kemudian disebuah hotel berbintang lima sedang diselenggarakannya sebuah acara suci pernikahan.


Sebuah pesta yang sangat megah bahkan hampir setara dengan pernikahan seorang artis.


Bunga segera membingkai setiap sudut jalanan hingga menuju ke pelaminan.


Terlihat raja dan ratu semalam duduk di kursi pelaminan putih dengan bunga mawar merah segar menghiasi back drop mereka.


“Selamat atas pernikahanmu Afsha,” ucap seorang tamu wanita yang merupakan teman sekolah Afsha dulu.


“Ya, terimaksih,” jawab Afsha tersenyum lebar di hari pernikahannya itu, ia tak bisa melukiskan kebahagiaannya.


Selain tamu Afsha, datang juga tamu dr. Ammar di Rumah Sakit tempatnya bekerja dulu.


“Ammar, aku tak menyangka kau meninggalkan kelompok jomblo kita dan menikah sekarang,” tutur dr. Pasha kemudian beralih menatap grupnya yang terdiri dari tiga orang.


“Makanya cepat menikah, agar tidak karatan yang di bawah sana,” bisik dr. Ammar sembari menepuk bahu teman dekatnya itu.


“Ammar, kau tetap menikah dengan gadis itu meskipun tanpa restu dariku,” ucapnya lalu kembali menatap foto pengantin pada undangan tersebut.


Beberapa waktu yang lalu, dr. Ammar menelepon ibunya serta mengirim undangan mengabari tentang pernikahannya, karena berapa kali pun pria itu menghubungi ibunya tak mau mengangkat telepon darinya.


“Sampai kapanpun aku tak akan merestuti hubungan kalian.” ucap Nyonya Fatima meremas undangan di tangannya, lalu ia melemparnya sembarangan ke lantai dengan tatapan penuh kebencian.


Anak yang selama ini selalu menurut padanya kini membantahnya. Bahkan tetap menikah meskipun tanpa restu darinya.


Acara di hotel berbintang 5 di kota doa itu berlangsung sampai sore. Namun menjelang petang pengantin baru itu baru turun dari pelaminan.


Semua tamu undangan sudah pergi satu jam yang lalu.


Sedangkan pengantin baru itu tak langsung pulang ke rumah, ternyata mereka berada di sebuah kamar président suite yang juga berada di area yang sama untuk menghabiskan bulan madu mereka.


“Kenapa kau sedari tadi terus menempel padaku,” ucap Afsha sampai mengurungkan niatnya untuk ganti baju.


Ia masih mengenakan gaun penggantinya meskipun berat karena ada dr. Ammar disana.


“Lalu kapan aku akan ganti baju,” ucapnya lalu memutar bola matanya melirik dr. Ammar yang duduk di sampingnya.


“Ganti baju saja sekarang dan aku akan membantumu. Aku sudah menunggumu melepas baju.”


Muka Afsha segera bertemu merah mendengar jawaban pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya.


Tanpa diminta sekalipun, dr. Ammar lalu membuka resleting belakang Afsha.


Gaun putih itu kemudian teronggok di lantai dan menyisakan tubuh polos Afsha.


Tentu saja dr. Ammar segera mendekapnya erat lalu membawanya ke tempat tidur.


“Afsha, sekarang kita sudah halal,” ucapnya dengan nafas panas, sepanas tubuhnya yang kini sudah tak memakai pakaian sehelai benangpun.


Afsha hanya memejamkan mata. Dia takut sekaligus tak penasaran pada malam bulan madu mereka.


“Buka matamu, aku akan lembut padamu.”


dr. Ammar lalu mencium bibir Afsha. Tangannya bergerak liar di sekujur tubuh Afsha hingga akhirnya ia mendengar ******* Afsha bercampur dengan deraian air mata yang menitik di awalnya namun berganti menjadi ciuman maut yang melahap habis tubuh dr. Ammar.


***


Karya ini sebentar lagi akan tamat dan akan ada karya baru lainnya. Di tunggu feedback daej pembaca semua untuk mendapatkan giveaway berupa pulsa untuk satu pembaca teraktif ya.


BTW, sambil menunggu karya baru lainnya bisa mengunjungi karya ini. Tentang detektif. Yang pasti seru!!!