Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 72 Obat Habis



Beberapa hari berlalu. Baik Afsha maupun dr. Ammar keduanya saling terlihat di waktu senggang mereka. Bahkan tak satupun dari mereka memulai untuk telepon ataupun bertemu.


Mereka berdua terus mengesampingkan dan mengusir bayangan masing-masing menjauh dari pikirannya.


Hingga pada suatu malam, Afsha berada di kamar dan waktunya minum obat.


“Astaga obat ku tinggal satu butir saja.” pekik Afsha mengeluarkan obat dan hanya tersisa satu butir saja. “Lalu besok obat apa yang kau minum ?” menaruh kembali botol obat kosong itu ke tempatnya.


Afsha kemudian duduk di kursi sejenak dan punya pikiran apa sebaiknya menghubungi dr. Ammar saja untuk minta obat padanya ?


“Tidak, kurasa itu bukan ide yang tepat. Aku tak mau berurusan dengan pria itu lagi terlebih harus minum obatnya. Apa katanya nanti ? Apa tidak semakin besar kepala saja nanti dia jika aku ketergantungan pada obatnya.” gumam Afsha menolak keras dirinya sendiri.


Dia pun kembali berpikir, “Apa aku kembali ke dokter lamaku saja ?”


Afsha keluar kamar setelah memikirkan hal itu, tak sengaja ia berpapasan dengan ayahnya di depan pintu kamarnya.


“Kenapa kau kalian bingung seperti itu ?” tanya Abizar langsung saat melihat wajah putrinya yang linglung tak seperti biasanya.


Sebenarnya Afsha ingin membahas tentang masalah obatnya itu dan tak sengaja kebetulan sekali bertemu dengan ayahnya.


“Obat ku habis ayah. Apa aku bisa menemui dokter ku yang lama dan minta obat padanya seperti dulu ?” balasnya langsung tanpa basa-basi.


“Obat ?” tanya pria itu yang di angguki oleh Afsha.


Seingatnya, dr. Ammar pernah bilang padanya jika pria itu merawat Afsha. Berarti selama ini putrinya itu mengkonsumsi obat dari tunangannya.


“Kenapa tidak bilang saja pada tunanganmu itu jika obat mu habis ?” balas Abizar merasa aneh saja.


“Mm... sebenarnya bukannya aku tak mau bilang padanya ayah tapi dia itu super sibuk sekali jadi aku tak mau mengganggunya. Satu lagi menurutku obatnya sama saja dengan dokter ku yang lama tak ada bedanya.” jawab Afsha panjang lebar menyangkal intinya tidak mau minum obat dari pria tersebut.


“Apa kau ada masalah dengan pria itu ?”


“Tidak, ayah.” jawab Afsha sembari menggelengkan kepalanya namun malah semakin menguatkan dugaan bila putrinya sedang ada masalah dengan pria tersebut.


“Apa masalah beberapa waktu yang lalu dan belum selesai sampai sekarang ?” decak Abizar dalam hati.


“Ayah, jangan hubungi dia.” Afsha pun tak mau kalah dari ayahnya dan dia pun segera merebut ponsel itu dengan cepat tepat di saat telepon sudah tersambung. Bahkan ia pun segera mematikan panggilan tersebut meskipun sudah berada pada nada dering ketiga.


“Kembalikan ponsel ayah. Ayah tak akan menghubunginya.”


Afsha mengamati wajah ayahnya dulu Apakah pria itu akan berbohong padanya atau tidak.


“Ini ayah.” ia mengembalikan ponsel ayahnya setelah yakin ayahnya tak akan bohong pada dirinya.


Afsha kemudian pergi dari sana dan masuk ke toilet untuk membasuh mukanya sebelum tidur.


kring.


Setelah kepergian Afsha, Abizar sebenarnya tak ingin menelepon dr. Ammar, namun rupanya dia meneleponnya juga.


“Halo, tuan Abizar maaf membuat anda menelepon kedua kali baru aku mengangkatnya. Ada apa tuan?” tanya dr. Ammar sembari duduk di kamarnya dan menyandarkan bahunya ke kursi.


Abizar kemudian menjelaskan jika obat milik Afsha sudah habis dan putrinya itu bersikeras untuk kembali ke dokter lamanya.


“Apa dr. Ammar ada masalah dengan putriku yang belum selesai dari beberapa waktu yang lalu ?” tanya pria itu sekaligus mengungkapkan apa yang ada di hatinya dan selalu ingin ia tanyakan.


“Masalah ? Tentu kami tidak ada masalah, tuan. Maksud ku aku benar tidak ada masalah dengan Afsha.” jawabnya jujur karena memang yang bermasalah selama ini Afsha, bukan dirinya.


“Aku harap kalian segera meng-clear-kan masalah yang ada di antara kalian.”


Ucapan pria itu benar-benar membuat dr. Ammar bingung karena ia sama sekali tak ada masalah, namun ia hanya menurut saja pada perkataan pria itu.


“Ya tuan. Mengenai obat itu, aku akan mengirimnya ke alamat rumah anda besok.” ucap dr. Ammar.


“Terimakasih, dr. Ammar.”


Abizar kemudian segera mematikan panggilan telepon karena melihat Afsha keluar dari toilet dan melintasinya.