Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 58 Bertemu dr.Ammar



Karena kesibukannya dan masih banyak pasien yang menunggunya kemudian


dr. Ammar menceritakan poin utama permasalahannya yang membuat seorang Abizar Cailey tunduk dan mengikuti saja permintaannya demi bisa membawa pulang kembali putrinya yang hilang.


“Maaf tuan Abizar Cailey, aku masih harus segera menangani pasien ku.” ucap dr. Ammar kemudian memutuskan sambungan teleponnya.


Di rumah Abizar


Ibunya Afsha Thanks dari tadi tak makan dan hanya mendengarkan percakapan suaminya ditelepon ikut histeris setelah mendengarnya.


“Ayah apa benar ada seseorang yang sudah menemukan putri kita ?” tanyanya dengan menuntut.


Abizar menaruh kembali ponselnya ke meja baru duduk dan menjelaskan semuanya pada istrinya.


“Ya, ibu.”


“Siapa dia ? Kapan kita akan menjemputnya ?” tanya wanita itu beruntun hingga membuat suaminya kewalahan untuk menjawabnya.


Abizar menyandarkan bahunya ke kursi dan menarik nafas panjang dengan ekspresi wajah tak berdaya.


“Kita tak bisa membawanya pulang sekarang, bu. Aku akan bikin janji dengan pria yang menemukan putri kita dulu untuk bicara.” jelasnya singkat yang membuat istrinya semakin penasaran.


“Jika begitu bikin janji saja dengan dia sekarang, ayah.” desak istrinya lagi yang membuatnya tak berdaya.


Abizar kemudian kembali menghubungi dr. Ammar karena pria itu belum memberinya alamat sekaligus membuat janji bertemu dengannya.


Sore hari Abizar Cailey terlihat keluar bersama istrinya mengendarai mobil menuju ke kota As Sani setelah membuat janji akan bertemu sore hari di akhir jam kerja dr. Ammar.


“Semoga saja yang menemukan putri kita adalah orang yang baik.” ucap ibunya Afsha menatap lurus ke depan tak sabar ingin segera sampai.


“Ya, ibu.” jawab Abizar singkat karena ia harus fokus mengemudi ke tempat yang tentunya tidak dekat dan saat ini sopir pribadinya sedang mudik ke kampung halamannya sehingga mengakibatkan pria itu harus mengemudikan mobilnya sendiri.


Dua jam berikutnya mereka tiba di rumah sakit Aspetar di kota As Sani. Sengaja dr. Ammar memberikan alamat Rumah Sakit daripada memberikan alamat rumah karena memang pertemuan mereka adalah pertemuan rahasia.


dr. Ammar.” ucap Abizar menemui salah satu petugas rumah sakit yang ada di ruang praktek dr. Ammar.


Kebetulan petugas yang mereka temui saat itu adalah Yusuf, asisten dr. Ammar.


“Baik tuan dan nyonya Silakan tunggu sebentar. dr. Ammar masih ada pasien.” jawab Yusuf kemudian masuk kembali ke ruang periksa dan menyampaikan kedatangan orang tuanya Afsha.


“Terima kasih Yusuf. Aku akan menemuinya nanti setelah satu pasien terakhir ini.” ucapnya pada asistennya sebelum memanggil satu pasien terakhir masuk.


dr. Ammar mempercepat waktu periksa bagi pasien vvip-nya kali ini agar bisa segera bicara dengan tamunya.


15 menit kemudian pria itu keluar dari ruang prakteknya dan meminta asistennya tadi untuk menutup karena jika tidak akan datang lagi pasien vvip lainnya.


“Apa anda dr. Ammar ?” tanya Abizar saat ada seorang pria muda berbaju serba putih menghampirinya di ruang tunggu.


“Ya, tuan. Anda tuan Abizar ?” tanyanya yang diangguki oleh pria tersebut. “Mari ikut saya masuk dan kita bicara di dalam.”


dr. Ammar mempersilahkan kedua orang tua Afsha masuk ke ruang tamu di samping ruang periksa nya.


Langsung saja dua pria itu segera membahas masalah Afsha. dr. Ammar memberitahukan pada Abizar Cailey jika Afsha kabur dari rumah karena mereka memaksanya untuk menikahkan gadis itu dengan seorang pria yang tak dikenal.


“Jadi dia mengetahui hal itu ?” ucap Abizar terkejut sekali kemudian menatap istrinya yang juga ikut terkejut.


dr. Ammar juga menyampaikan pada pria itu jika ia menampung putrinya di rumahnya, lebih tepatnya mempekerjakan gadis itu sebagai pelayan di sana yang membuat kedua orang tua Afsha kembali terkejut sekali.


“Lalu kapan kami bisa membawanya dokter ?” tanya ibunya Afsha.


dr. Ammar kemudian menjelaskan jika putrinya itu sedang dalam perawatannya setelah menjelaskan jika dirinya adalah seorang psikiater.


“Aku akan memikirkan sebuah cara untuk mempertemukan anda dengan putri anda. Karena aku merahasiakan hal ini darinya ketika aku memberitahu anda.” dr. Ammar kembali menjelaskan masalah terbesarnya karena ia tak ingin disalahkan oleh gadis itu sedangkan tujuannya murni hanya untuk membantu saja.


“Ya, dokter. Aku berharap kami segera bisa bertemu kembali secepatnya.” Abizar sebenarnya berat harus menunggu lagi untuk bertemu putrinya dan tak tahu itu kapan.