Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 64 Pulang Paksa



Afsha dalam perjalanan pulang bersama dr. Ammar.


“Kenapa kau malah ingin ikut pulang bersamaku ?” tanya


dr. Ammar tiba-tiba.


“Kau sudah tahu masalahku.” jawab Afsha singkat malas bicara panjang lebar terlebih mengulangi lagi cerita yang sudah pernah ia ceritakan sebelumnya.


“Satu lagi kenapa mesti aku yang berpura-pura menjadi kekasih palsu mu ? Sungguh kau merendahkan statusku sebagai seorang pria keren ini.” ucap pria itu sembari menyombongkan dirinya.


“Siapa lagi yang bisa membantu diriku ? Lalu apa kau berharap menjadi kekasih nyata bagiku ?” balas Afsha asal bertanya saja dan tidak menganggap serius sama sekali.


“Oh, tentu saja tidak. mungkin jika saja aku tidak laku barulah aku mau denganmu.” jawabnya dengan tersenyum mencibir melirik Afsha. “Lalu apa rencanamu setelah ini ?”


Afsha langsung dia mendengar pertanyaan itu. Ia benar-benar bingung dengan semuanya yang mendadak seperti ini. perjumpaannya dengan kedua orang tuanya yang mendadak membuatnya serasa mengingat kembali awal cerita jadinya kabur dari rumah.


“Aku belum ingin pulang.”


“What's ?” pekik dr. Ammar. “Kau jangan seenaknya sendiri begitu. Coba kau pikir kau sudah mendeklarasikan diriku sebagai kekasihmu lalu apa pikiran mereka nanti jika kau tinggal bersama diriku dalam waktu yang lama ?” menatap Intens Afsha “Pikirkan lagi.”


Afsha menarik nafas panjang karena adanya terasa sesak dan berat mendengar pernyataan jika dirinya harus cepat pulang.


“Ya, mungkin satu bulan lagi aku akan pulang.” putusnya setelah berpikir. “Ya, satu bulan lagi.” ulangnya lagi.


Kini ganti dr. Ammar yang menarik nafas panjang. Ia benar-benar tak enak hati pada tuan Abizar jika harus menyimpan Afsha terlalu lama di rumahnya.


“Tidak bisa. Itu terlalu lama ?”


“Lalu menurutmu kapan ?”


“Besok.” jawab dr. Ammar singkat dan tentu saja membuat Afsha protes.


“What's ?!” pekik Afsha. “Itu terlalu mendadak sekali. Aku belum siap.” protesnya tegas.


Tentu saja ia bingung bagaimana caranya berpamitan paa Nyonya Fatimah juga pada para pelayan yang ada di sana. Apa alasan yang tepat ? Belum lagi sudah sampai di rumah pasti juga akan ada masalah lagi.


“Hey, kau kenapa ?” dr. Ammar melihat Afsha yang tampak lemas.


“Ya, anggap saja ini permintaan ketiga dan permintaan terakhirku. Izinkan aku tinggal di tempatmu satu bulan lagi.” ucap Afsha sembari tersenyum menggunakan kartu trufnya.


“Tidak bisa !” ucap dr. Ammar tegas. Kali ini permintaan itu tak berlaku.” lanjutnya dengan penuh penekanan pada kata tidak berlaku.


haah


Afsha kembali menarik nafas panjang dan mencari ide lain tapi hanya itu saja itu terakhir.


“Oh My God, Lalu bagaimana aku Mencari Alasan pada Ibumu juga yang lainnya ?”


Melihat Afsha yang terlihat pusing dan memegang kepala,


dr. Ammar pun turun tangan.


“Kali ini aku yang akan mengurus semuanya. Aku akan membantumu termasuk mengantar mu pulang sampai ke rumah dengan aman.”


Afsha tak merespon ucapan pria itu dan tak bicara lagi sepanjang perjalanan sampai mereka tiba di rumah.


“Buka pagarnya.” ucap dr. Ammar saat mobil berhenti di depan rumah.


Afsha tak menjawab dan masih duduk di mobil sembari menatap pria itu dengan kesal.


“Ayo, turun. Kau masih pelayan di rumah ini tentu saja tugasmu untuk membuka pagar.” tukas dr. Ammar membukakan pintu agar Afsha cepat turun.


ck


Afsha pun terpaksa turun dan membuka pagar rumah lalu


dr. Ammar masuk dan meminta kembali gadis itu menutup pagarnya.


“Benar juga jika aku terlalu lama disini, mungkin akan stress bertemu dia dalam waktu lama.” menatap punggung dr. Ammar yang sudah masuk ke rumah meninggalkan dirinya.


“Apa kira-kira yang bisa aku jadikan alasan yang tepat agar dia bisa resign dari sini! ?” gumam dr. Ammar duduk di sofa ruang tengah sembari berpikir.