
Dr. Ammar tak tahu kenapa tiba-tiba Safa kembali pingsan di depannya padahal menurutnya ia sama sekali tak melakukan apapun.
“Kau ini.” umpatnya kesal Baru saja sampai rumah sampai dan merasa lelah sekarang sudah harus mengurusi Safa. “ck...” decaknya sembari menangkap tubuh Safa kemudian segera membawanya ke kamar gadis itu.
Kali ini pria itu tak memanggil pelayan untuk meminta bantuan mereka, namun ia ingin menyadarkan Safa sendiri.
“Apa ya kira-kira yang bisa membangunkan mu dengan cepat ?” dr. Ammar kali ini memutar otak karena ia sedang berada di ujung lelahnya.
Tiba-tiba pria itu tersenyum lebar dan segera keluar dari kamar Safa masuk ke ruang cuci.
“Semoga saja masih ada baju kotor ku di sini.” ia menuju ke mesin cuci dan mencari baju terkotornya dari semua baju kotornya yang ada.
“Ini dia.” dr. Ammar membawa kaos putihnya yang saat ini berwarna krem dari dasar tabung mesin cuci sambil menyempat hidungnya sendiri kemudian masuk ke kamar Safa.
Dr. Ammar kemudian mengayunkan baju kotornya itu ke hidung Safa masih dengan banyak tempat tidurnya karena ia sendiri tak tahan mencium aroma baju kotornya itu.
Tak ada reaksi dan pria itu dengan sabar mengulanginya hingga 5 menit ke depan.
“Ugh... bau busuk apa ini ?” gumam Safa masih memejamkan mata tapi hidungnya sudah bereaksi duluan. “Argh... !” gadis itu membuka mata dan langsung menampik baju kotor itu dari mukanya. Malahan ia melemparnya tepat ke muka dr. Ammar.
“Kau... siapa kau berani mengusikku ?” ucapnya dengan marah setelah duduk menatap tajam ke arah dr. Ammar.
Ya, Safa terbangun namun dalam kepribadian lain, yaitu Hana. Perempuan yang pemarah dan tak kenal takut.
“Apa kau mau aku mengambil matamu yang melotot itu ?” ucap Hana merasa kesal dengan tatapan yang ditunjukkan padanya yang membuatnya ingin mencongkel mata pria itu.
“Kau...” dr. Ammar menahan tangan Hana yang akan memukul dirinya. “Kenapa dia tiba-tiba berubah kasar seperti ini dan berani padaku, seperti orang lain saja.” batinnya merasa ada yang salah dan aneh pada gadis itu.
“Safa... kau berani pada tuanmu ini maka jangan menyesal jika aku memecatmu.” ucapnya masih memegang tangan Hana denhan erat.
“Aku Hana bukan Safa perempuan tua yang kau maksud itu. Ingat itu jangan sampai salah menyebut namaku.” jawabnya dengan penuh tekanan pada setiap katanya.
Ya, tiga kepribadian yang mendiami tubuh Afsha mengenal satu sama lainnya meskipun tak bisa berkomunikasi dengan mereka. Afsha di rumahnya setiap hari memasang CCTV untuk merekam dirinya sendiri jadi dia tetap tahu apa saja yang dilakukan kepribadian lain yang bergantian menguasai tubuhnya.
dr. Ammar tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Kau bilang siapa nama mu ?”
“Hana.” jawabnya singkat.
“Apa mungkin dia punya beberapa kepribadian ?” dr.Ammar melongo menatap gadis di depannya. “OMG. Aku sudah cukup pusing dengan semua masalah pasienku di rumah sakit dan sekarang di rumah bertambah pula pasien ku.” keluhnya dalam hati merasa semakin berat dan terhimpit oleh profesinya.
“Hana... Safa atau siapapun dirimu dengarkan aku. Aku hanya ingin mengetes mu saja. Bersikplah kooperatif padaku.”
Hana bukannya menurut saat dr.Ammar mencoba memberinya pertanyaan, gadis itu malah semakin emosi dan mengepalkan tangannya dengan kencang kemudian mengayunkan ke muka dr. Ammar.
“Awh... !” pekiknya kesakitan.