
Senyum Afsha seketika hilang mendengar apa yang diucapkan oleh pria di hadapannya itu.
“Kenapa kau tidak pernah tulus membantuku, tuan dokter ?” protes Afsha keras seandainya ia tahu jika pria itu meminta sesuatu darinya maka ia lebih memilih tetap dikunci di ruang tadi sampai masa hukumannya selesai.
dr. Ammar sendiri sebenarnya hanya bercanda tapi entah kenapa baginya menggoda Afsha apalagi mengerjainya merupakan suatu kesenangan tersendiri baginya di tengah penatnya.
“Cepat kau ikut aku sekarang.” pria itu berlalu menuju kamarnya dan Afsha mengikutinya.
Di tengah jalan mereka bertemu dengan salah satu pelayan, kak Amla.
“Kenapa aku merasa dr. Ammar terlihat dekat dengan Afsha ?” kak Amla melihat dr. Ammar yang tersenyum tipis pada Afsha. “Lalu apa dia juga dr. Ammar yang mengeluarkannya ?” menebak saja tak berani bertanya.
“Sore dr. Ammar.” sapa Kak Amla.
“Ya, bi Amla.” menyapa balik namun terus berlalu.
Sesampainya di depan kamar, pria itu duduk di kursi yang ada di samping pintu sembari menatap Afsha.
“Apa ?” ucap Afsha ketus udah nyampe langsung apa yang diminta oleh pria itu.
dr. Ammar mengangkat salah satu kakinya, “Lepas sepatu ku.” sembari tersenyum lebar yang membuat Afsha mengepalkan tangannya dengan erat menahan amarah.
“Ya, tuan dokter yang agung.” Afsha bahkan sampai duduk untuk melepas sepatu pria itu secara bergantian. Jika saja pria itu tidak menolongnya tadi ia tak akan mau melakukan hal itu yang seperti merendahkan dirinya.
“Terimaksih.” dr. Ammar berdiri dan ia kembali berhenti setelah melangkah dua langkah. “Taruh tas ku di meja sana.” ia menyerahkan tasnya pada Afsha setelah menunjuk sebuah meja.
Tanpa banyak kata Afsha menerima tas itu.
“bugh.” karena kesal sekali ia melempar tas itu begitu saja ke meja yang ditunjuk oleh dr. Ammar. “Kau kira aku pembantumu !”
Afsha di kamar terlihat kesal karena menurutnya mereka itu benar-benar keterlaluan kali ini.
“Tapi jika bukan karena dia aku juga tidak akan keluar dari ruang hukuman itu.” gumam Afsha berpikir ulang jika pria itu punya sisi baik juga.
Malam hari di kamar dr. Ammar.
Pria itu terlihat melamun menatap ponsel di meja setelah ia mengecek daftar kontaknya dan berhenti saat membaca kontak nomor telepon Abizar Cailey.
“Bagaimana jika aku menghubunginya saja ? mungkin saat ini dia sedang cemas mencari putrinya yang hilang.”
dr. Ammar mengambil ponsel di depannya dan menekan tombol hijau di layar ponselnya.
“Sebaiknya aku mencari informasi saja apa alasan gadis itu kabur dari rumah barulah aku menghubungi nomor ini.” gumamnya mematikan panggilan setelah setelah tiga kali nada sambung.
Ia pun kemudian pergi tidur karena hari sudah malam dan lagi dia merasa lelah.
“drrt.” satu jam setelahnya pon sel milik pria itu bergetar.
Ya, dr. Ammar selalu merubah ponselnya ke mode silent di saat malam hari karena ia tak mau jam tidurnya terganggu.
Di kota Doha, Abizar yang baru keluar rumah melihat panggilan tak terjawab di ponselnya. Ia menghubungi balik nomor tersebut.
“Kenapa tak di angkat ?” pria itu mengulangi panggilannya karena tak diangkat hingga tiga kali. “Nomor siapa ini sebenarnya ?” Abizar memutuskan panggilan karena baginya tak terbiasa mengulangi suatu hal yang sama lebih dari tiga kali. “Mungkin saja ini hanya orang Islam sama seperti sebelumnya.”
Ia tak menghiraukan nomor asing tersebut karena sebelumnya banyak nomor asing masuk yang mengatakan menemukan putrinya namun setelah ditemui ternyata mereka berbohong.