
Lima bulan berlalu setelah pernikahan Afsha dan dr. Ammar. Di suatu pagi yang cerah, di sebuah tempat praktek.
Seorang pria duduk di ruangannya setelah memeriksa banyak pasien. Ia rehat sejenak sebelum memanggil pasien lainnya untuk masuk.
Meski terbilang klinik baru, namun ternyata jumlah pasien yang datang cukup banyak. Mayoritas dari mereka menyatakan puas dan sembuh setengah berobat disana.
Krak! Suara pintu ruangan terbuka secara tiba-tiba.
dr. Ammar ketika duduk tegak dan biji matanya tertuju pada pintu tersebut.
Siapa pasien itu, berani sekali dia masuk kemari sebelum aku memanggilnya. Batin dr. Ammar, masih menatap lurus ke arah pintu dengan tatapan tajam nya.
Namun pasien itu itu lihat tenang dan menutup kembali pintunya. Malahan kini ia duduk di depan dr. Ammar.
“Dokter, bagaimana dengan sakitku, Kau tidak bertanggung jawab.” tukas wanita itu malah menopang dagunya dengan kedua tangan di meja.
Dokter Ammar hanya diam saja.
“Dokter, kenapa kau hanya diam saja? Hah!” ucap wanita itu lagi.
“Kau ini mengagetkan aku saja.” hardiknya tegas.
“Apa aku tidak boleh masuk ke tempat praktek suamiku sendiri,” balasnya.
Ya, wanita itu memang Afsha. Abizar membangunkan klinik untuk membantunya itu di sekitar rumahnya.
Bahkan Afsha pun sering datang ke klinik tersebut untuk mengunjungi suaminya.
Afsha yang merasa suaminya itu ini kurang perhatian pada dirinya terlihat kesal.
“Aku tahu kau sibuk. Ya sudahlah. Aku kembali dulu.”
Afhsa berdiri dari tempat duduk kemudian berjalan dengan cepat. Namun kakinya tersandung ujung kursi.
“Afsha!” teriak dr. Ammar terlihat banyak sekali, bahkan ia dengan cepat dan sikap menangkap tubuh Afsha.
“Lepaskan!” Afsha segera menginjakkan kakinya ke lantai lalu mendorong tubuh dr. Ammar menjauh darinya juga membuang pandangan dari pria itu.
“Ayo lah jangan begitu,” tukasnya, lalu menarik dagu Afsha ke depan untuk menetap kedua biji matanya.
Namun Afsha tetap memalingkan wajah dan tak mau melihat pria itu.
“Afsha, aku sangat khawatir sekali padamu juga pada buah hati kita.”
Afsha saat ini hamil 3 bulan. Dan selama hamil ini sikapnya berubah-ubah, moody-an emosi nya naik turun dan parahnya minta perhatian super. Mungkin janinnya yang minta begitu.
Karena mais marah, terpaksa dr. Ammar mencium bibir Afhsa Meskipun mereka masih berada di tempat kerja.
“mmm...” Afhsa meremat bibir dr. Ammar, lalu melepaskan tautan bibir mereka.
dr. Ammar tersenyum lebar karena caranya efektif untuk meredakan amarah Afsha.
“Aku kembali dulu. Nanti sepulang dari klinik kau harus mengajakku jalan-jalan.”
dr. Ammar hanya mengangguk meresponnya.
“Aku takut, rasanya sakit sekali perut ku. Sungguh aku tidak tahan.” ucapnya saat berada di ruang persalinan dengan keringat membasahi bajunya.
“Aku ada disini dan akan menemanimu. Kau harus berjuang untuk melahirkan buah hati kita,” balasnya, dr. Ammar lalu menganggap erat tangan Afsha.
dr. Ammar memaksa untuk menemani proses persalinanan meskipun sebenarnya tak diperbolehkan. Namun karena ia merupakan seorang dokter juga menantu dari Abizar, maka akses itu ia dapatkan dengan mudah.
Tiga jam berikutnya terdengar suara tangisan bayi kencang sekali.
“Putra kita sudah lahir. Kau hebat sekali, sayang.” dr. Ammar mencium kening Afsha setelah proses persalinan normal selesai.
Satu bulan berikutnya, dr. Ammar mengambil dan mengirim foto-foto bayi mereka. Ia tak menyimpannya buat mereka sendiri namun mengirimkan foto itu kepada ibunya.
“Nyonya, ada surat untuk Anda.” ucap Kak Cala, ia lalu segera membawa masuk surat yang barusan diterimanya dan menyerahkannya pada Nyonya Fatima.
Wanita itu menerima surat tersebut kemudian segera membukanya setelah pelayannya pergi dari kamar miliknya.
“Ini...” Tangan nya bergetar hebat saat melihat banyak foto bayi mungil dan tampan, juga sepucuk surat di dalamnya, “Ammar, kau...”
Wanita itu pun lalu menitikkan air mata yang jatuh membasahi foto bayi mungil tadi.
Meskipun tak pernah menelepon ibunya, karena wanita itu tetap saja selalu menolak panggilan darinya. Tapi tetap saja dr. Ammar sering mengirimkan surat pada ibunya itu. Dan menurutnya pasti itu akan dibacanya.
Tiga bulan kemudian, Afsha dan dr. Ammar sedang duduk berjongkok di lantai berkarpet menatap pada buah hati mereka yang kini belajar merangkak.
Bayi itu merangkak menuju ke pintu dengan cepat.
Afsha dan dr. Ammar pun segera menyusul bayi mereka. Namun sang bayi ternyata keluar rumah saat pintu depan terbuka.
“Marhein....” panggil dr. Ammar saat di luar dan tak mendapati bayinya.
“Ammar....”
dr. Ammar segera menoleh ke arah yang jauh mendengar suaranya akrab di telinganya itu.
“Ibu.”
Dari kejauhan Nyonya Fatima datang dengan menggendong Marhein.
“Ini, nenek mu.” ucapnya menatap mata bulat Marhein yang tersenyum lebar menepuk pipi Nyonya Fatima.
“Maafkan, nenek baru melihatmu.” ia pun tersenyum sembari berkaca-kaca, lalu mencium cucunya itu.
Afsha tiba dan seketika berhenti saat mengetahui siapa yang datang. Ia hanya diam berdiri di samping suaminya, karena tahu Ibu mertuanya itu tak suka padanya.
“Afsha, kemarilah, Nak.” panggilnya.
Sejenak Afsha ragu, namun dia pun akhirnya maju. Dan Nyonya Fatima langsung memeluknya.
“Maafkan Ibu.” Kini air mata jatuh di pipi mereka berdua.
dr. Ammar merasa terenyuh sekaligus tersenyum lebar. Akhirnya setelah setahun lebih ibunya itu memberikan restu kepada mereka.
Tamat