
“Tidak. Aku tidak mau menjadi kekasih palsu terlebih datang ke pesta pernikahan itu denganmu.” jawab Afsha menolak tegas.
Ia pun kembali berjalan meninggalkan dr. Ammar namun pria itu kembali menarik bajunya agak berhenti karena pria itu pun tak ingin kehilangan kesempatan yang ada.
“Afsha kumohon padamu, bantulah aku kali ini.” ucapnya dengan memohon yang membuat Afsha tersenyum dengan seringai tipis.
“Apa yang membuat pria ini sampai memohon seperti ini padaku. sungguh tak biasa sekali.” Afsha yang awalnya ingin pergi dari sana dan tak mau menghadiri acara pernikahan tersebut tiba-tiba mempunyai pikiran jahil pada pria itu sebagai balasan perlakuannya selama ini.
“Tidak dr. Ammar, maaf aku tak bisa.” jawabnya bermain susah di ajak kerjasama juga jual mahal.
“Afsha bantulah aku kali ini dan aku akan menuruti satu permintaanmu.” jawab pria itu kembali memohon.
“Satu permintaan ?” Afsha terlihat tertarik dengan hal itu namun tetap menggeleng.
“Ayolah.”
Afsha semakin ingin mengerjai pria tersebut saat melihatnya terus memohon pada dirinya dan itu berarti ada sesuatu yang membuat pria itu takut sampai memohon segala padanya.
“Bukan satu tapi tiga permintaan, baru aku mau ikut dengan mu.”
“Apa ?” dr. Ammar merasa gadis itu mengambil keuntungan darinya tapi dia bisa apa, hanya Afsha saja kali ini yang bisa menolongnya karena tak ada gadis lain yang dikenalnya selain gadis itu. “Ya, tiga permintaan tapi kau harus mau mengikuti semua permintaanku selama acara pernikahan berlangsung.”
Tanpa menjawab ya, Afsha pun mengangguk dengan cepat meskipun ia tak tahu apa tiga permintaan yang akan diajukannya.
“Tiga hari lagi kau ikutlah bersamaku ke acara pernikahan itu.” ucap dr. Ammar yang lihat senyum terus berkembang di bibir Afsha.
“Tiga permintaan.” ingat Afsha kemudian berlalu dari sana meninggalkan pria itu yang masih diam mematung.
“Semoga saja permintaannya bukan yang aneh-aneh.” gumamnya sebenarnya menelan salivanya dengan berat karena punya pikiran negatif pada Afsha.
Tiga hari berikutnya tepat di hari H acara pernikahan. Sore hari setelah pulang dari rumah sakit,
dr. Ammar tak langsung pulang ke rumah tapi pria itu mampir sebentar di sebuah butik.
“Ini, tuan.” seorang main kemudian menyerahkan sebuah baju pada dr. Ammar yang langsung dibayarnya tanpa memilih-milih pakaian lainnya.
Pria itu pun kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju ke rumah. Ia langsung menuju ke kamar Afsha begitu tiba di rumah sembari mengetuk pintunya.
“Afsha kenakan baju ini nanti saat acara pernikahan.” pria itu menyerahkan baju yang dibelinya tadi setelah Afsha membuka pintu kamar.
“Ya, dr. Ammar.” Afsha menerima baju tersebut tanpa membukanya dan langsung membawanya masuk.
Malam harinya Afsha terlihat sedikit lama mengenakan baju pemberian dr. Ammar tadi karena ia ketiduran.
“Afsha sudah belum ?” dr. Ammar menunggu gadis itu selama 30 menit lebih namun belum keluar juga.
“Ya, tunggu sebentar ini hampir selesai.”
Dua menit setelahnya ia keluar dari kamar menghampiri dr. Ammar yang menatapnya dengan bengong.
“Apa ada yang salah denganku ?” tanya Afsha melihat tatapan aneh dari pria di sampingnya.
“Kau terlihat berbeda dan lebih cantik dari biasanya.” tentu saja itu ia ucapkan dalam hati saja. “Hari ini kau terlihat jelek bahkan lebih jelek daripada hari biasanya.” jawabnya malah berkata sebaliknya.
“Oh, terima kasih atas pujiannya.” jawabnya dengan kesal sudah susah-susah memakai baju untuk mudah dipakai itu karena terlalu banyak rendanya masih mendapat cacian. “Ya, sudah jika begitu.”
Afsha tiba-tiba kembali masuk ke kamar.
“Hey, aku hanya bercanda. Kau tidak buruk-buruk amat, ayolah keluar dan bantu aku.” pria itu nampak cemas sekali khawatir Afsha batal pergi dengannya ke pesta pernikahan.
“Ya, baiklah. Tapi ingat jangan mengataiku lagi atau aku benar-benar tak akan pergi bersamamu.” ancam nya yang bisa membuat pria itu tak berkutik lagi.
Mereka berdua kemudian berjalan masuk ke mobil menuju ke pesta pernikahan berlangsung.