Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 34 Obat Gratis



Afsha masih tertunduk tak berani menjawab. “Semoga saja siapa saja yang berada di tubuhku tadi tak berbuat kekacauan.” batin Afsha merasa takut jika dirinya yang lain sudah berulah.


“Jadi siapa main character yang ada di tubuhmu ?” tanya dr. Ammar dengan penuh penekanan pada kata main character.


Sebenarnya pria itu tak marah padanya. Hanya saja ia ingin mengetahui siapa kepribadian utama dalam tubuh Safa, hanya itu saja.


“I-itu... aku.” jawabnya gugup.


“Ya, aku tahu itu kau. Siapa nama mu ?” tanyanya lagi sembari menyentuh pipi kirinya yang terasa nyeri dan itu membuat terkejut Afsha.


“Apakah itu karena aku, tuan ?” Afsha takut pria itu akan kembali memarahinya atau lebih parahnya lagi akan memberinya hukuman.


Ya, meskipun sebenarnya Afsha tipikal seorang gadis yang kuat namun kondisinya terkadang tidak stabil karena penyakit skizofrenia nya itu.


“Apa susahnya tinggal menjawab pertanyaanku saja ?” ulang dr. Ammar sembari menatap tajam pada gadis di depannya.


“Afsha.” jawabnya singkat. “Maaf tuan, aku tidak tahu siapa yang telah memukulmu tapi aku tetap minta maaf padamu.”


“Jadi nama mu Afsha. Dan saat kita bertemu yang kedua kalinya itu kau menyebut namamu Safa.” pria itu kembali mengingat pertemuan kedua kalinya dengan Afsha saat meminta pekerjaan padanya. Dan sekarang terjawab sudah rasa penasarannya selama ini kenapa sikap gadis itu berubah-ubah dan tak bisa di mengertinya.


“Ya...” Afsha sudah bersiap jika pria itu akan marah padanya karena sosok kepribadiannya yang lain. Namun ternyata dr.Ammar menunjukkan reaksi berbeda seperti yang dibayangkannya.


“ha.” pria itu justru tertawa entah menertawakan kepribadian Afsha atau hal lainnya.


“Oh My God.... aku pusing jika dia mempunyai 4 kepribadian yang sangat berbeda dan bertolak belakang. Apa yang harus ku lakukan ?” batin dr. Ammar merasa stress dan yakin jika gadis yang ada di hadapannya itu pasti akan kembali berulah entah besok, lusa atau kapan.


Afsha merasa aneh sekali dengan sikap pria tersebut yang tidak marah pada dirinya seperti biasanya hingga membuat dirinya pun merasa bersalah.


Kali ini dr. Ammar segera duduk di tempat tidur Afsha tanpa perlawanan juga tanpa pertanyaan. Baginya ia sudah merasa di ujung lelahnya dan tak ingin berdebat panjang yang membuatnya bertambah semakin lelah saja.


“Permisi tuan.” Afsha mengambil handuk hangat dari baskom kemudian mengompres pipi kiri dr. Ammar yang lebam.


“Hiss...” pria itu merintih kesakitan saat tangan Afsha menyentuh mukanya tepat di bagian yang nyeri dan berwarna keunguan itu.


"Sudah tuan.” Afsha menambahkan plester pada pipi tuannya yang sedikit berdarah karena ulahnya.


dr. Ammar merasa lebih baik dan ingin berterima kasih padanya.


“Afsha penyakit mu itu harus diobati. Dan aku akan merawatmu juga memberikan obat pada mu.” ucapnya tiba-tiba yang membuat Afsha karena tumben sekali pria itu berbaik hati padanya.


“Benarkah tuan, terimakasih.” Afsha terlihat tersenyum lebar dengan mata yang membulat.


Melihat Afsha yang terlihat senang entah kenapa pria itu rasanya tak rela saja.


“Ehm tentu saja semua itu tidak gratis. Kau tahu sendiri obatnya mahal jadi aku makan memotong gajimu untuk membayarnya.” ucapnya menggoda kemudian segera berlalu dari sana.


“Hiss.... ya potong saja gaji ku sampai habis tak bersisa !” tentu saja Afsha meneriaki pria itu setelah pria itu benar-benar menghilang dari sana dengan wajah kesal.


Dari luar ternyata dr. Ammar belum benar-benar pergi jauh dari sana dan masih bisa mengenal dengan jelas semua ucapan Afsha.


“Entah kenapa rasanya lega bagi ku jika berhasil membuat gadis itu kesal.” dr. Ammar tersenyum tipis kemudian menuju ke kamarnya.