
dr. Ammar kemudian menangkap tubuh Afsha sebelum gadis itu jatuh ke tanah.
“Afsha kau kenapa ?” diam-diam pria itu khawatir juga melihat Afsha yang pingsan lalu memeriksa kondisinya. “Tidak ada yang terluka. Tapi kenapa dia pingsan ?”
dr.Ammar kemudian membopong Afsha kembali ke rumah dan langsung membawanya ke kamar gadis tersebut.
“Oh, tuan apa yang terjadi ?” ucap kak Cala terkejut melihat temannya setengah berlari sambil membopong Afsha masuk ke kamar di sebelahnya.
“Cepat bantu aku.”
Pelayan tadi pun segera masuk ke kamar Afsha mengikuti tuannya.
“Bi Cala tolong ambilkan minyak atau apapun yang bisa membuat gadis ini sadar.”
“Baik, tuan.” Bi Cala segera keluar dari kamar untuk mengambil minyak dan masuk kembali menyerahkan minyak tersebut pada dr. Ammar.
Sebagai dokter tentunya tahu cara untuk membuat pasien yang pingsan tersadar.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada Afsha, tuan ?”
“Safa pingsan setelah mengejar pencuri yang mengambil tas ku.” jawab dr. Ammar menerangkan sama mengerutkan dayinya merasa aneh saja, “Siapa tadi kamu memanggilnya ?” mengira salah dengar dan menanyakannya kembali.
“Afsha, tuan Ammar.” jawab bi Cala dengan jelas yang membuat pria itu semakin bertambah bingung saja.
“Afsha...bukankah namanya Safa ?”
Bi Cala sendiri sebelumnya juga merasa aneh bahkan sama seperti dr. Ammar yang mengira salah dengar dimana nama awal yang disebutkannya adalah Safa yang kini berganti menjadi Afsha.
“Sebenarnya bibi juga merasa ada yang--”
“Dimana aku ?” Afsha tiba-tiba siuman dan memotong perkataan bi Cala kala itu yang membuat pelayan itu tak jadi melanjutkan ucapannya.
“Syukurlah kau sudah sadar Safa. Kau ada di kamarmu.” dr. Ammar tetap memanggil namanya dengan sebutan Safa meskipun sudah diberitahu oleh bibi Cala.
“Maaf om, namaku Rasyid Jangan panggil aku dengan sebutan nama itu.”
“Hey kau jangan bercanda denganku.” dr. Ammar tak suka dengan cara bercanda Safa.
Hal yang aneh terjadi. Afsha tiba-tiba terlihat takut saat menatap dr. Ammar. Parahnya lagi ia pun seketika menangis seperti anak kecil.
“Hey... bercandamu benar-benar keterlaluan dan tidak lucu lagi.” ucap dr. Ammar merasa kesal sekaligus dipermainkan oleh Afsha.
“Om jahat beraninya membentak anak manis seperti ku.” Afsha duduk sambil meringkuk dan masih tetap menangis. “Apa salah ku pada mu ?”
Dr. Ammar pun tak ingin berdebat panjang lebar dengan gadis itu lagipula ia merasa berterima kasih padanya.
“Oke kau tidak salah padaku dan seharusnya aku berterima kasih padamu karena telah berhasil mengambil tasku kembali dari pencuri tadi.”
Bibi Cala yang masih berada di sana juga merasa aneh dengan apa yang dilihatnya.
“Afsha kenapa kau menangis ?” tanya pelayan itu sembari menepuk pundaknya.
“Nyonya, kau siapa ?”
“Kau tidak mengenaliku ? Aneh sekali.” ucapnya sambil mengerutkan kening bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. “Aku kak Cala.”
“Kak Cala ?” balasnya mencoba mengingat pelayan yang baru pertama kali ditemuinya itu.
“Apa mungkin dia gegar otak ? Seingat ku tadi pencuri tadi tidak menyerang bagian kepalanya.” batin dr. Ammar sedikit curiga dengan keanehan yang ditunjukkan oleh Safa. “Apa kepala mu sakit ?”
Afsha menggelengkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Lalu kenapa kau seperti itu ?”
“Aku hanya ingin istirahat. Kalian berdua tolong keluar dari sini.” ia merasa tak nyaman dan sangat terganggu dengan kehadiran mereka berdua apalagi dengan dr. Ammar yang membuatnya sangat ketakutan.
“Bibi Cala lebih baik kita keluar saja. Biar dia istirahat.” dr. Ammar mengajak pelayan tersebut keluar dari sana.
Setelah kamar kosong dan hanya ada dirinya maka Rasyid pun segera mengunci pintu lalu berbaring di atas tempat tidur.