Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 100 Sepucuk Surat



Sesampainya di rumah, dr. Ammar langsung menuju ke kamarnya. Tak menunggu lama, ia mengemasi baju dan juga barang penting yang akan dibawanya.


Matanya menyapu ke seluruh ruangan, membuatnya tersenyum tipis.


“Mungkin ini terakhir kalinya aku melihat kamarku.”


Dengan langkah kaki tegas dan hati yang mantab, dr. Ammar menutup kembali pintu kamarnya.


Di seretnya koper sembari pembawaan jaket yang ia sampaikan pada lengan.


Ia kemudian berhenti di depan kamar ibunya. Ternyata wanita itu sedang tertidur.


“Aku sudah mempersiapkannya jika ini terjadi, ” ucapnya lirih. Ia mengeluarkan secarik kertas putih dari saku bajunya lalu menaruhnya ke meja.


dr. Ammar sudah mempersiapkan surat perpisahan itu sebelumnya saat masih ada di rumah sakit. Jika saja Iya menulisnya di rumah sudah pasti dia tak sanggup menulis surat itu.


“Maaf, Ibu aku terpaksa melakukannya demi masa depanku sendiri.”


dr. Ammar lalu menutup pintu kamar ibunya dengan pelan agar tidak membangunkannya.


Segera setelahnya ia menyeret kembali kopernya menuju ke tempat mobilnya terparkir.


“Tuan, apa Anda akan keluar kota?” tanya Kak Amla yang kebetulan lewat di depan rumah.


“Ya, Bi. Aku ada urusan di luar kota,” jawabnya singkat. Lalu ia pun segera memasukkan semua barangnya ke mobil.


Mobil meluncur setelahnya meninggalkan pelataran rumah mewah milik ibunya. Dengan hati berat pria itu menatap untuk terakhir kalinya rumah yang ditempatinya sedari kecil, juga banyaknya kenangan di sana.


“Kemana Tuan Ammar pergi?” gumam Kak Amla, “kenapa aku merasa tatapan dr. Ammar adalah sebuah tatapan perpisahan?” gumamnya menatap mobil yang sudah berlalu dan hilang dari pandangannya.


“Kenapa nomornya tidak aktif,” gerutu Afsha sembari menatap layar ponsel ditangannya.


Ia tiga kali menelepon nomor dr. Ammar, namun nomornya tak bisa dihubungi.


“Ish.” Afsha meletakkan kembali ponselnya.


Sudah lama sejak terakhir kali pria itu akan melamarnya sampai kini masih belum ada kelanjutannya. Hatinya setiap hari terasa sesak jika memikirkan itu, seolah tertimpa gunung berat.


Tapi ia mencoba untuk bersabar menjalaninya demi masa depan hidupnya.


“Kau,” pekik Afhsa terkejut saat melihat siapa yang datang dan ternyata itu dr. Ammar, “apa yang kau lakukan di sini dengan membawa barang sebanyak itu?”


Ia lalu berhamburan menuju ke pria tersebut yang langsung disambut.


“Aku akan penuhi janjiku padamu,” ucap dr. Ammar lalu segera memeluk erat Afsha, “kita akan segera menikah.” tambahnya.


Afsha tak percaya dengan apa yang diucapkan pria itu.


“Ibumu menyetujui pernikahan kita?”


dr. Ammar menggeleng meresponnya.


“Lalu ?” Afhsa menutupnya intens dengan kening berkerut.


“Aku ingin kawin lari denganmu.”


Afsha tersenyum lebar kemudian menyandarkan kepalanya ke dada bidang dr. Ammar. Akhirnya Penantian panjangnya tak sia-sia juga.


Malam hari, Nyonya Fatima bangun. Netranya terpaku pada secari k kertas putih di atas meja dekat pintu.


“Apa itu?” gumamnya penasaran.


Ia pun segera mengambil kertas itu lalu membukanya. Tangannya bergetar hebat saat membaca tulisan yang ada disana.


Bahkan kini tubuhnya bergetar hebat hingga kertas yang dipegangnya jatuh begitu saja.


“Ammar!” pekiknya luar biasa syok. Ia benar-benar tak mengira ini akan terjadi, “Ammar, kenapa kau rela meninggalkan semuanya demi gadis itu?”


Nyonya Fatima tak bisa berpikir dengan jernih dan pandangan matanya tiba-tiba kabur. Tubuhnya seberat 60 kilo itu terasa berat dan ia tak bisa menahannya lagi.


“Nyonya...” pekik Kak Fajar yang saat itu kebetulan melewati kamar wanita itu dan berhenti saat mendengar suara berdebum di lantai.


***


Sambil menunggu karya baru penulis bisa mampir ke sini ya kak. Cerita mengenai detektif. Seru Pokoknya!!