Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 89 Ke Rumah dr. Ammar



Satu minggu kemudian di akhir pekan. Pagi hari sekali terlihat dr.Ammar sudah tiba di rumah Afsha.


Tok-tok.


dr. Ammar segera mengetuk pintu setibanya di depan rumah Afsha.


Kriek


Pintu terbuka tapi bukan Fatma yang membukanya.


“Tuan, Abizar ?” sapa dr. Ammar saat pria itulah yang membukakan pintu.


“Pagi sekali datang kemari dr. Ammar. Ayo masuk dulu.” seulas senyum menyambut tamunya.


dr. Ammar lalu masuk dan duduk di ruang tamu bersama pria itu.


“Ada acara kemana pagi-pagi begini ?” Abizar tampak senang pria itu datang untuk meluangkan waktunya bersama putrinya.


“Sebenarnya aku ingin mengajak Afsha ke rumah bertemu dengan keluarga.”


Abizar mangut mangut mendengarkan penjelasan pria itu.


“Tapi Afsha masih tidur.”


dr. Ammar sampai mengangkat kedua alisnya dan geleng-geleng kepala mendengarnya.


“Tenang, aku akan membangunkannya.”


Abizar lalu bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju ke kamar Afsha.


“Afsha, bangun nak. Ada yang mencari mu.” ucapnya setelah masuk ke kamar putrinya.


Ia mengguncang tubuh putrinya dengan lembut hingga Afsha membuka matanya.


“Ayah, ini hari libur kenapa membangunkan ku ?” protesnya yang biasa bangun siang di hari libur karena tak ada aktivitas apapun yang ia lakukan.


Afsha kemudian duduk dan masih malas beranjak dari tempat tidur.


“Apa kau tak ingat hari ini ada janji dengan seseorang untuk bertemu seseorang ?”


Afsha seketika mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti akan ucapan ayahnya.


“Tunangan mu sudah menunggu di luar.” ucap Abizar langsung.


“Apa ?!” seketika Afsha terkejut. “Sepagi ini dia sudah datang ?!”


Afsha tidak lupa pada agenda acara kali ini namun ia mengira biasanya pria itu datang agak siangan jadi dia santai saja.


“Aduh, bagaimana ini ?” pekiknya menatap dirinya sendiri yang masih berbalutkan piyama. “Ayah, tolong temani dia sebentar dan aku akan bersiap.”


Abizar mengangguk dan segera kembali ke depan menemani dr. Ammar kembali.


Sedangkan Afsha ia segera berlari masuk ke kamar mandi meskipun sempat terpeleset sebelumnya saat berlari.


“Afsha.” panggil Abizar dan dr. Ammar secara bersamaan.


Afsha kemudian duduk di samping ayahnya.


Dari samping dr. Ammar berulang kali mengirim sinyal mata dengan kedipan matanya pada Afsha.


“Dia meminta untuk cepat berangkat ? Sungguh tak sabaran sekali dia.” batin Afsha yang menangkap sinyal tersebut.


Ia pun mengangguk saja karena juga merasa bersalah membuat pria itu menunggunya.


“Tuan Abizar, kami permisi dulu dan tak sampai sore nanti aku akan mengantar Afsha kembali.”


dr. Ammar segera berdiri dan berpamitan pada ayahnya Afsha.


“Hati-hati di jalan.” ucap Abizar mengantar mereka berdua sampai ke depan pintu kemudian melambaikan tangan.


Mobil kemudian segera meluncur menuju ke kota As Sani.


Di sepanjang jalanan terdengar Afhsa beberapa kali tersenyum dengan jokes dr. Ammar sehingga situasinya tidak kaku dan tegang.


“Kita sampai.” dua jam kemudian mereka tiba di rumah dr. Ammar.


Refleks saja Afsha saat melihat pagar dia pun bermaksud turun dari mobil. Dia terbiasa dengan posisinya di sana dulu sebagai seorang pelayan dan sering membukakan pagar jika dr. Ammar datang.


“Hey, kau mau kemana ?” dr. Ammar menarik lengan Afsha lalu menahannya untuk duduk kembali. “Kau mau membuka pagar ?”


Afsha diam saja meresponnya dan berarti itu benar.


“Kau sekarang bukanlah pelayan seperti dulu tapi tunanganku.” kilah dr. Ammar dan Afsha pun urung turun dari mobil.


Tak lama kemudian Kak Amla keluar dari rumah dan berhambur ke pagar untuk membukanya.


“Kak Am...” tiba-tiba saja dr. Ammar membekap bibir Afsha saat dia akan menyapa pelayan tersebut.


Afsha melebarkan manik matanya dengan menuntut menatap dr. Ammar.


“Jangan menyapa nya. Nanti dia juga akan tahu sendiri.” jelasnya lalu menarik kembali tangannya dari bibir Afsha.


Afsha sendiri tak tahu apa alasannya tapi dia menurut saja.


“Sepertinya yang duduk di samping tuan adalah seorang gadis. Apa mungkin itu tunangannya ?” batinnya menatap mobil yang terus berlari masuk ke rumah.


beberapa waktu yang lalu Nyonya Fatima pernah memberitahukan kepada mereka jika dr. Ammar akan datang bersama tunangannya kemari.


Klak.


Pintu mobil terbuka. Mereka berdua turun dari sana.


dr. Ammar memegang lengan Afsha.


“Afsha ???” kak Amla tercengang melihat sosok gadis yang dibawa oleh dr. Ammar.