
Nyonya Fatima berhenti di sebuah ruangan kosong tak terpakai.
“Ibu jangan.” dr. Ammar menolak hukuman yang diberikan oleh ibunya pada Afsha.
Kamar kosong tempat untuk menghukum Afsha memang sering digunakan oleh wanita tersebut untuk menghukum setiap pelayannya yang melakukan kesalahan yang tak bisa ditolerir lagi. Tak ada apapun di sana hanya gudang tua yang tak terpakai tanpa ada satupun perabotan rumah di sana.
“Ammar aku hanya membantumu saja memberi pelajaran pelayan ini agar selanjutnya bisa bekerja dengan benar. Jangan membantahku.” ucap wanita itu tegas saat putranya akan memberikan penjelasan padanya. Baginya apa yang sebaiknya putuskan mutlak dan tak bisa ditawar lagi.
“Sekarang kau masuk kesana.” Nyonya Fatima beralih menatap Afsha juga menggiring gadis itu karena Afsha berjalan pelan seperti siput dan ia tak sabar dengan itu.
“klik.” setelah Afsha masuk wanita itu segera mengunci pintunya lalu menyimpan kunci itu sembari berlalu begitu saja meninggalkan putranya sendirian di sana.
“Ibu tunggu !” dr. Ammar berusaha mengejar ibunya dan meminta wanita itu agar mengganti hukumannya saja dengan hukuman yang lain.
“Tidak, Ammar biarkan dia berada di sana selama 2 sampai 3 hari saja. Kurasa itu sudah cukup baginya.” ucap Nyonya Fatimah tanpa berhenti dan terus melangkah pergi.
dr. Ammar pun berhenti mengejar ibunya karena percuma saja jika Ibunya sudah mengambil keputusan bulat seperti itu. Pria itu bukan bermaksud untuk melindungi Afsha tapi karena penyakit gadis itu. Ia tak mau penyakit skizofrenia yang diderita oleh Afsha semakin bertambah buruk karena hukuman dan tekanan dari ibunya serta membuat usahanya sia-sia saja untuk menyembuhkan Afsha.
“Harusnya aku tak perlu semarah itu.” sesalnya tak bisa melakukan apapun dan hanya bisa berlalu pergi dari sana, masuk ke kamarnya kembali dengan rasa bersalah.
Sementara Afsha berdiri dan mencari saklar lampu karena ruangan itu gelap sekali.
“klik.” ia menemukan tombol saklar dan segera menekannya membuat lampu temaram di sana menyala redup.
“Yah masih mending daripada tak ada penerangan sama sekali.” Afsha masih bersyukur di ruangan yang masih terlihat gelap meskipun lampu sudah menyala.
“Sepertinya tak ada apa pun disini yang perlu ditakuti.” gumamnya sembari berkeliling menyisir ruangan berukuran 4 x 5 meter itu karena ia melihat apapun di sana, bahkan alas pun tak ada di sana.
Afsha duduk di sudut ruangan dengan merangkum karena semakin malam cuaca semakin dingin.
“Harusnya tadi aku memakai jaket tebal jika tahu begini.” sesalnya kembali membayangkan jaket tebal miliknya.
Baru saja ia memejamkan matanya tidurnya harus terganggu dengan banyaknya nyamuk yang menggigit nya. Tak hanya itu saja setelah tangannya merasa panas memukul nyamuk kini ada kecoa dan tikus yang berseliweran di sana.
“igh.” Afsha yang jijik pada hewan tersebut segera mencari tempat yang bersih dan duduk kembali di dekat pintu.
Baru saja ia merasa nyaman dan memejamkan matanya, tidurnya harus kembali terganggu dengan suara bising dari arah belakang yang sangat nyaring juga memekakkan telinganya.
“whoosh !” terdengar suara pesawat berseliweran tinggal landas juga mendarat yang membuat Afsha sampai menutup kedua telinganya.
“Apa di belakang sana adalah airport ?” desau Afsha mulai merasa stress.
Hingga beberapa jam ke depan seorang bising tak kunjung berhenti yang membuat Afsha pusing, terlebih dia belum meminum obatnya malam tadi.
“Astaga bisa rusak pendengaranku jika terus berada di sini.” Afsha tak tahu lagi harus menyumpal telinganya dengan apa agar tak mendengar suara bising dari bandara.
Dua jam berikutnya gadis itu sudah tak tahan lagi dan merasa sangat stres. Dalam detik itu juga dia berubah ke kepribadian lainnya.
“hiks... aku takut.” ucapnya menangis sambil meringkuk di dekat pintu.