Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 23 Hari Gajian



SAbizar Cailey duduk lemas di sebuah sofa di rumahnya.


“Kemana lagi aku harus mencarinya ?” pria itu menghela nafas kasar setelah melakukan pencarian panjang selama kurang lebih satu bulan lamanya dan belum membuahkan hasil sambil memijat kepalanya yang terasa pusing.


🌹


Siang hari kak Amla terlihat terus tersenyum mesti sedang mengerjakan banyak pekerjaan.


“Kak Amla, kenapa hari ini ceria sekali ?” Afsha ikut duduk di samping wanita itu setelah selesai menyapu rumah sembari mengatur nafasnya yang tidak beraturan.


“Tentu saja satu bulan sudah berakhir dan hari ini merupakan saatnya terima gaji.”


Afsha hanya menganggukkan kepala saja. “Jadi begitu ?”


Gadis itu kemudian menghitung Sudah berapa hari ia bekerja di sana. “Jika aku hanya bekerja selama 14 hari di sini apakah juga akan terima gaji ?”


“Tentu saja kau akan tetap menerima gajimu meskipun tidak penuh.” jawab Kak Amla singkat.


Afsha selanjutnya diam dan tak bertanya lagi. Ia juga tak memikirkan berapa yang ia dapat karena sudah pasti sedikit.


“Sudahlah bisa tidur dan makan gratis di sini saja sudah cukup bagiku.” Afsha tak mempermasalahkan berapa gaji yang ia dapat nantinya.


Sore harinya nyonya Fatima memanggil semua pelayan ke sebuah ruangan setelah jam kerja mereka selesai.


Terlihat wanita itu duduk dengan membawa beberapa amplop yang ia taruh di meja.


“Amla kemari.” panggil nyonya Fatima dan pelayan yang dipanggil segera maju. “Terimkasih nyonya.” Amla tersenyum setelah menerima gajinya dan keluar dari sana.


“Cala.”


“Ya, nyonya.” Kak Cala segera maju dan menerima amplop coklat dari nyonya rumah. Ia berbalik kemudian mengintip isinya sembari tersenyum kecil.


“Fajar.” Nyonya Fatima kembali Memanggil nama pelayan lainnya yang segera maju menerima amplop darinya. “Kau izin sehari, jadi aku poting sedikit.”


“Ya, nyonya.” jawab Kak Fajar singkat kemudian segera keluar tanpa berani mengintip ataupun bertanya daripada menambah masalah.


“Kau pelayan baru, aku lupa nama mu.”


“Afsha, nyonya.” Afsha menyebutkan namanya.


“Ya, Afsha kemarilah.” rupanya wanita itu tak ingat nama Safa yang ia sebutkan dulu. Jika sampai ingat tentu saja akan gawat dan menimbulkan masalah bagi Afsha.


“Ini gaji mu tidak penuh.”


“Terimkasih, nyonya.” Afsha menerima amplop putih tersebut Namun baru saja ia memegangnya seseorang dari belakang mengambil amplop tersebut.


“Hey tunggu ! Biar aku hitung gaji mu.” ucap pria itu membuat Afsha kesal hanya dengan melihatnya saja.


Ya, siapa lagi pria itu jika bukan dr. Ammar yang sangat menyebalkan.


Pria itu menghitung gaji Afsha. “Beberapa waktu yang lalu kau membuat pinggangku sakit setelah terpeleset jadi aku akan mengambilnya sedikit untuk biaya berobat.” ucap nya dengan tersenyum jahil mengembalikan amplop itu pada Afsha setelah mengambilnya beberapa lembar.


“Astaga.... saat itu aku benar-benar tidak sengaja juga sudah minta maaf. Lagipula tuan untuk apa mengambil uang dariku yang jumlahnya relatif kecil dan tak berguna bagi tuan ?” protes Afsha tidak terima selama itu jumlah uangnya yang semakin sedikit saja.


“Ammar kau ini kenapa ?” nyonya Fatima merasa aneh saja melihat tingkah putranya yang tak seperti biasanya, usil pada seseorang apalagi pelayan.


“Ibu kali ini tolong jangan ikut campur urusanku. Ini urusanku dengannya.”


“Oh...” Nyonya Fatima memijat kepalanya yang terasa pusing. Ia pun tak mau ikut campur permasalahan mereka dan keluar dari sana menyisakan dr. Ammar dan Afsha saja.


“Kembalikan gajiku yang sedikit.” Afsha mengurutkan tangannya meminta gajinya kembali.


Dr. Ammar memang sengaja berhubungan demikian karena ini memberi pelajaran pada Afsha.


“Baik ini aku kembalikan padamu.” ia merogoh sakunya dan mencari uang receh kemudian memberikannya pada Afsha kemudian pergi berlalu begitu saja.


“Dasar kikir kau.” Afsha mengumpat keras menerima tiga koin receh itu.


Karena kesal ia pun membuang uang receh tersebut ke lantai dan pergi dari sana. Sementara itu dr. Ammar tersenyum puas melihat koin tadi di lantai.