Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 86 Pengajuan Syarat



Satu bulan berlalu. Dari hari ke hari hubungan antara dr. Ammar dengan Afsha mengalami kemajuan.


Afsha sudah tak sedingin dan seketus dulu pada dr. Ammar.


Sedangkan dr. Ammar juga tidak usil atau pun suka mem-bully Afsha seperti saat sebelumnya.


Mereka sekarang terlihat perhatian dan menjaga perasaan satu sama lainnya.


“Apa kau sudah minum obat malam ini ?” suara dr. Ammar ditelepon sebelum ia naik ke tempat tidur di malam hari untuk memejamkan matanya.


Ya, dia setiap hari rutin memantau apakah Afsha minum obat darinya atau tidak. Karena beberapa waktu yang lalu Afsha lupa minum obatnya karena lelah dengan aktivitas di kantor dan lebih memilih langsung tidur.


Karena jika pengobatan itu sampai putus berapa kali maka harus mengulanginya lagi dari awal. Dan ia tak mau itu. Ia ingin melihat Afsha sembuh.


“Sudah, aku barusan meminumnya.” jawab Afsha hampir lupa dan segera meminum obatnya setelah diingatkan oleh dr. Ammar. “Bagaimana pekerjaanmu di rumah sakit ?”


“Ya sama seperti biasanya jumlah pasien meningkat.”


“Kau tak berpikiran membuka praktek sendiri saja ?”


dr. Ammar diam beberapa detik dan itu menandakan pria itu sedang mempertimbangkannya.


“Mungkin nanti kalau aku sudah menikah atau benar-benar sudah kewalahan.”


“Ya.” Afsha kini terlihat bersama merah Pipinya mendengar kata pernikahan yang diucapkan oleh dr. Ammar.


Kurang lebih 60 menitan mereka berdua bicara di telepon lalu panggilan berakhir kemudian.


Terlihat Afsha mengulas senyum kecil setelah menaruh benda pipih itu ke meja.


*


*


Dua minggu berlalu di suatu pagi kembali dr. Ammar bertemu dengan ibunya sebelum ia berangkat kerja.


“Ammar.” panggil Nyonya Fatima tiba-tiba menghampiri putranya di teras yang akan masuk ke mobil.


“Ya, ibu ada apa ?”


Ia berhenti sejenak meskipun sebenarnya sedang buru-buru berangkat ke rumah sakit.


“Kau bilang tempo lalu pada ibu jika kau sudah mempunyai kekasih dan kau membawanya kemari mengenalkan pada ibu. Kapan kau akan membawanya kemari ?” Nyonya Fatima menagih janji yang diucapkan oleh putranya.


“Ada syarat sebelum aku mempertemukannya dengan ibu.” ucap dr. Ammar yang membuat menikmati ibunya Itu terbelalak lebar.


“Kenapa harus ada syarat ? Dan apa syaratnya ?”


Nyonya Fatima mengerutkan keningnya tak mengerti.


Semuanya sudah dr. Ammar pikirkan sebelumnya. Untuk mengantisipasi jika ibunya tak setuju dengan pilihannya.


“Syaratnya ibu harus menerima wanita pilihan ku. Kedua, ibu tak boleh menentangnya. Ketiga, ibu harus merestui hubungan kami.” jelas dr. Ammar panjang lebar.


Nyonya Fatima hanya bengong saja mendengar syarat yang diajukan oleh putranya yang aneh sekali.


“Tentu saja aku akan menerima pengajuan syarat dari mu. Lalu Cepat bawa wanita pilihan mu itu kemari.” tuturnya cepat tanpa berpikir panjang karena terobsesi pada cucu.


dr. Ammar tersenyum simpul. Ia pun kemudian berpamitan pada ibunya.


“Bu, aku berangkat dulu. Nanti aku akan mengatur pertemuannya dengan ibu dalam waktu dekat ini.”


dr. Ammar pun segera masuk ke mobil dan manajer mobilnya karena kurang 15 menit lagi dia akan terlambat.


Siang hari di rumah sakit. Seperti biasa di jam istirahat, dr. Ammar menghabiskan waktu istirahatnya itu dengan menelepon Afsha.


Ia tak lagi menerima pasien VVIP di jam istirahat. Karena selain melelahkan ia juga jenuh dengan rutinitasnya.


“Afsha, aku makin maju mu ke rumah akhir pekan ini untuk bertemu dengan ibuku.” ucapnya dalam panggilan saluran telepon.


“Apa ?!” Afsha yang masih berada di kantor dan masih duduk di kursinya seketika terkejut. “Oh, bagaimana aku menemuinya nanti ?”


Pikirannya melayang pada apa yang akan dilakukan wanita itu padanya. Sebelumnya dia adalah pelayan di rumah itu dan sekarang menjadi kekasih putranya.


“Kau tak perlu khawatir, ibuku pasti bisa menerima mu juga bisa menerima hubungan kita.” jelas dr. Ammar yang tahu kecemasan Afsha.


“Tapi-tapi aku belum siap jika harus bertemu dalam waktu dekat ini terlebih akhir pekan ini.”


Tut-tut


“Oh sial !” umpat Afsha kesal karena dr. Ammar sudah mematikan panggilan telepon.


Ia pun hanya bisa menarik nafas panjang sembari menatap jam yang tergantung di dinding yang menunjukkan jika waktu istirahat dr. Ammar sudah habis.