ELLAINE'S SECRET

ELLAINE'S SECRET
ELLAINE'S SECRET (KAVIN POV)



Alfarezi Kavinda Bagaskara,


Awal cerita seorang playboy seperti gue, bertemu dengan gadis kecil manis sehangat mentari.


Ella berbeda dari gadis lainnya. Dia ceria, manja, cengeng, moodyan, cerewet, namun juga dewasa dan pendiam disaat yang bersamaan.


Awal bertemu dengannya gue udah terjerat dalam pesonanya. Ella baik, penuh aura keibuan.


"La, kenalin ini Kavin. Temennya Leo" kata Rena mengenalkan gue ke sahabat-sahabatnya.


"Ellaine, panggil aja Ella" kata Ella tersenyum manis mengulurkan tangannya. Jujur aja gue bener-bener terpesona dengan senyum manis Ella.


"Kavin" kata Kavin mambalas uluran tangan Ella


"Duduk, La. Mau pesen apa biar gue pesenin?" tanya Rena


"Apa aja boleh"


"Makasih, Nana" kata Ella dengan tetap mempertahankan senyumannya.


Saat itu juga, gue langsung jatuh hati pada pemilik senyuman manis itu.


"Cantik" gumam gue saat Ella dan Rena pergi


"Siapa?" tanya Leo menoleh kearah gue


"Ella cantik, manis" jawab gue blak-blakkan


"Jangan sakiti, dia udah terlalu sakit" kata Leo memperingatkan gue


"Maksudnya?" tanya gue bingung


"Gue nggak bisa cerita. Intinya jangan jadiin Ella target ke sekian Lo"


"Dia gadis yang baik, jangan sakitin, Kav" peringat Leo meninggalkan gue sendirian di kantin sekolah.


"Tapi gue suka, gimana dong" kekeh gue


"Ellaine gue pasti akan dapetin lo apapun caranya"


Sejak saat itu gue dengan gencar mendekati Ella dengan berbagai cara. Mulai dari chatting, anter jemput ke rumahnya, selalu bikin ulah supaya Ella kesel, keluar masuk uks cuma buat diobatin Ella.


Dipikir-pikir baru kali ini gue totalitas banget saat deketin cewek. Dan cuma Ella yang bikin gue tau rasanya berjuang.


Mungkin karna kita udah terbiasa bareng. Sedikit demi sedikit Ella mulai membuka hati untuk gue. Seneng? Jelas dambaan hati gue akhirnya bales perasaan gue.


"La, jujur awalnya aku penasaran sama kamu. Kamu cantik, baik, pintar, humble, ceria. Setiap cowok pasti penasaran sama kamu. Lama kita deket aku jadi kagum sama semua yang ada dalam diri kamu. Kamu terlalu sempurna"


"Tapi aku bener-bener sayang dan cinta sama kamu"


"Mau jadi pacarku?" baru kali ini gue nembak cewek deg-degan parah.


Ella hanya tersenyum simpul


"Mau" katanya


Sejak saat itu kami resmi berpacaran. Bahagia tentu saja. Bersama Ella, aku belajar banyak hal. Terutama bersyukur.


Bersyukur atas apa yang udah kita dapatkan selama ini.


Bersama Ella cara pandang dunia gue berbeda.


Ella nggak pernah ngelarang gue ngelakuin apapun.


"Ini hidupmu, kamu yang punya hak penuh untuk memutuskan apapun pilihan dalam hidupmu. Lakukan semua yang buat kamu bahagia. Selama tidak menyakiti orang lain, it's okay. Lakukan! Kamu harus bahagia. Ingat itu" kata Ella yang selalu gue ingat sampai saat ini.


Ella nggak pernah ngelarang gue ketemu sama siapapun, hangout, kenalan, nongkrong. Ella benar-benar bebasin gue main dengan dunia gue sendiri.


"Kamu punya kehidupan, punya banyak impian, aku juga punya. Hidup kamu nggak selalu harus tentang aku. Begitu juga aku nggak selalu tentang kamu. Kamu punya duniamu sendiri, aku juga punya duniaku sendiri. Aku bebasin kamu apapun. Cukup ingat, kamu punya aku. Jaga hati kamu, itu udah cukup bagi aku" kata Ella saat gue tanya. Dia nggak cemburu, gue sering deket sama cewek lain. Malah sering keluar makan, nongkrong bareng.


Ella terlalu baik buat gue, gue sadar itu. Dia sempurna.


Banyak yang menginginkan Ella, gue juga tau itu.


Namun, bukannya semakin mengeratkan pelukan gue ke Ella. Gue malah semakin menjauh darinya.


Gue merasa nggak puas cuma dengan Ella. Gue pingin lebih.


Gue pingin cewek yang sehobi sama gue, nonton bola, main bola, touring bareng temen-temen gue yang lain.


Dan gue dapetin itu dari Diana, cewek yang satu hobi sama gue. Kalau Ella nggak suka keramaian bahkan cenderung menarik diri dari orang lain. Diana akan berbaur dengan temen-temen gue yang lain.


Ella nggak suka ikut kumpul dengan temen-temen gue, katanya dia nggak nyaman terlalu banyak cowok yang natap dia. Tapi Diana berbeda dia oke-oke aja saat kumpul bareng kita.


Gue terjerat sesaat dengan Diana. Tanpa peduli Ella yang saat itu butuh gue. Ella sakit, tapi gue terlalu asik dengan dunia gue dan Diana.


Tanpa sadar, gue terlalu banyak dan dalam menorehkan luka pada Ella. Ella memilih pergi. Dia menyerah, dia lelah.


Dan disaat itu gue baru sadar, kehilangan hal yang begitu luar biasa. Perempuan yang begitu sempurna hanya untuk kesenangan sesaat.


Maaf, Ellaine. Aku menyakitimu terlalu jauh.