ELLAINE'S SECRET

ELLAINE'S SECRET
Ellaine's Secret Girl Talk



Keesokan harinya,


"ELLA!! UDAH MALAM! CEPET MANDI!! BENTAR LAGI KITA MAU KE RUMAH NENEK!!" teriak Tanisha dari ruang tamu


"IYA MI" sahut Ella dari dalam kamarnya


"JANGAN LAMA-LAMA" Peringat Tanisha mengingat putrinya itu lama sekali kalau mandi


"YES MOM" sahut Ella sekali lagi


35 menit kemudian


Ella masih didalam kamarnya dan belum keluar-keluar juga


"ELLA CEPET! JANGAN LAMA-LAMA. KEBURU TAMBAH MALEM NIH!" teriak Tanisha memanggil Ella yang masih didalam kamarnya


"ELLA" panggil Tanisha lagi karna tidak mendengarkan jawaban Ella


"EL"


"EL"


"Ellaine"


"Ngapain lagi nih bocah, dipanggil nggak nyahut-nyahut" gumam Tanisha berjalan menaiki anak tangga untuk menjemput putrinya itu. Namun, baru 3 anak tangga yang dinaiki..


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum Ella"


"Ella yuhuuu"


"Kita mau main nih"


Tok tok tok


"Siapa lagi malem-malem gini" gumam Tanisha mendengar ketukan pintu rumahnya


"Ella"


"Ella"


Tok tok tok


"Iya tunggu sebentar" kata Tanisha berjalan ke arah pintu


Cklekk


"Siap-"


"Loh! Anya! Rena!" Kejut Tanisha melihat teman-teman Ella


"Eh, Assalamu'alaikum Tante" kata Rena kemudian menyalami Tanisha diikuti oleh Anya


"Waalaikumsalam" jawab Tanisha


"Ella nya ada Tante?" Tanya Anya


"Ada. Ella lagi di kamar, belum keluar dari tadi. Katanya sih mandi, tapi dari tadi belum keluar-keluar. Kalian masuk aja ke kamarnya dulu" kata Tanisha mempersilahkan mereka masuk


"Oke Tante, kita masuk dulu" kata Rena kemudian berjalan ke arah kamar Ella diikuti oleh Anya


Cklekk


"Ella mana?" Tanya Anya pada Rena ketika tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Ella di kamarnya


"Mana gue tau" jawab Rena


"Ella


Ella yuhuu


Ella main yuk" panggil Rena mencari keberadaan Ella di kamarnya


"Bentar, gue masih ganti baju" teriak seseorang dari arah kamar mandi


"Oh oke" balas Rena mendengar suara Ella lalu duduk di tempat tidur Ella dan menyalakan televisi


"Jangan lama-lama" kata Anya


"Iya, 5 menit lagi" jawab Ella dari dalam kamar mandi


"Ren, nonton drakor yuk" ajak Anya duduk di samping Rena yang asik melihat sinetron di televisi


"Boleh" angguk Rena setuju


"Drakor apaan?" Tanya Anya meminta saran


"Terserah gue ngikut aja" jawab Rena


"Oke" kata Anya


Saat mereka berdua sibuk dengan kegiatan masing-masing


Cklekk


"Ella masih mandi?" Tanya Tanisha yang tidak melihat keberadaan putrinya


"Masih, tan" jawab Rena


"Oh yaudah, Tante mau ke rumah neneknya Ella dulu. Kalian tolong bilangin sama Ella ya" kata Tanisha


"Siapp tante Nisha" Jawab Anya


"Makasih ya. Tante pergi dulu" pamit Tanisha


"Hati-hati, tan" kata Anya


Namun, baru beberapa langkah. Tanisha berhenti dan berbalik arah menuju Anya dan Rena lagi.


"Ah, Tante lupa"


"Tolong kamu kasihkan obat ini sama Ella ya" kata Tanisha menyerahkan 3 botol obat kepada Rena


"Bilang jangan sampai lupa minum obatnya" pesan Tanisha sebelum benar-benar pergi dari kamar Ella


"Ella sakit?" Tanya Anya bingung melihat obat di tangan Rena


"Gue juga nggak tau" jawab Rena sama bingungnya


Melihat obat ditangannya


"Oi" kata Ella yang baru keluar dari kamar mandi


"Liatin apaan sih serius banget?" Tanya Ella melihat muka serius sahabat-sahabatnya


"Lo sakit?" Tanya rena


"Nggak" jawab Ella santai


"Trus ini" kata Rena mengangkat obat di tangannya


"Loh. Kalian dapat dari mana" kejut Ella segera mengambil obatnya


"Tante Nisha yang kasih" jawab Anya


"Lo sakit?" Tanya rena sekali lagi


"Nggak. Cuma mag gue aja yang kambuh" jelas Ella segera menyimpan obatnya di laci kamarnya


"Yakin?" Tanya Anya


"Iya"


"Tumben kalian kesini?" Tanya Ella mengalihkan pembicaraan mereka


"Nggak papa. Kita cuma mau main aja" jawab Rena santai melanjutkan kegiatan nonton sinetronnya


"Ck, nggak berubah Lo. Tetep aja suka liat sinetron" ejek Ella


"Biarin yang penting gue bahagia" jawab Rena santai


"Ya yah yah" jengah Ella


"Anya, udah nggak marah lagi sama Ella?" Tanya Ella pada Anya yang tiduran di kasurnya


"Lo tau darimana gue marah?" Kejut Anya mendengar perkataan Ella


"Gue tau. Yah, walaupun Lo nggak bener-bener marah banget sama gue. Tapi gue tau Lo sedikit kecewa sama gue" jelas Ella santai


"Anya gue bener-bener minta maaf. Gue nggak tau kalau Leo punya perasaan sama gue" kata Ella tulus


"Gue seharusnya yang minta maaf. Nggak seharusnya gue marah sama Lo. Gue sadar Lo nggak salah sama sekali dalam kejadian kemarin"


"Maafin gue Ella?" Pinta Anya dengan suara memelasnya


Bukk


"AW. Sakit bego" keluh Anya setelah mendapat lemparan bantal gratis dari Ella


"Muka Lo nggak cocok sedih gitu" ejek Ella


"Bangsat" umpat Anya


"Mulutnya minta di sentil cantik" kata Ella dengan muka serius


"Hehehehe.


Ampun suhu" cengir Anya


"Udah ah. Kalian ngapain disini? Tumben banget" kata Ella


"Kan kita udah bilang mau main" kata Rena sekali lagi


"Curiga gue"


"Jujur aja sih, kalian mau ngapain?" Tanya Ella penuh selidik


"Kita di kasih tau sama Kavin" kata Rena serius sambil melihat reaksi Ella yang tidak berubah sama sekali


"So?" Tanya Ella


"Lo berantem lagi sama Kavin?" Tanya Anya


"Ya" jawab Ella enteng


"Kenapa?" Tanya rena penasaran


"Dia nuduh gue punya hubungan khusus sama bang Krisna" jawab Ella jujur


"Bang Krisna? Kakak kelas kita dulu. Yang waktu kita MOS dia nyanyi didepan kelas buat Lo" kata Rena tak percaya


"Iya. Kakak kelas yang dulu nyanyi buat gue didepan kelas" kata Ella mengiyakannya


"Gila! Lo masih sering chatting sama dia?!" Tanya Anya histeris


"Nggak sering sih. Cuma beberapa kali" jawab Ella enteng


"Dan Kavin tau?" Tanya Anya


"Kemarin taunya" jawab Ella enteng


"Trus Kavin cemburu?" Tanya rena


"Maybe" jawab Ella


"Dan dia nuduh Lo selingkuh sama bang Krisna?" Tanya Anya


"Iya" jawab Ella


"Lo nggak jelasin sama dia, kalau Lo nggak ada apa-apa sama bang Krisna?" Tanya rena


"Menurut Lo?" Tanya Ella kembali


"Udah. Tapi Kavin nggak percaya" tebak Rena


"Nah tuh pinter" kata Ella menganggukkan kepalanya


"Kavin emang minta dihajar" geram Anya


"Ijinin gue gampar Kavin sekarang juga El" kata Rena


"Boleh, silakan, monggo" ijin Ella


"Tapi El, gue penasaran" kata Anya


"Apa?" Tanya Ella menatap anya


"Kenapa Lo masih mau bertahan sama Kavin. Sedangkan Lo juga tau kalau Kavin itu bajingan berwajah tampan?" Tanya Anya


"Karna gue cinta dia" jawab Ella santai


"Bullshit, gue kenal Lo dari bayi. Secinta-cintanya Lo sama cowok. Lo nggak bakal sebodoh ini, sampai mau di sakitin terus" ketus Anya setelah mendengar jawaban Ella yang sangat tidak mencerminkan kepribadian asli Ella


"Anya bener, meskipun gue baru kenal Lo dari SMP. Gue tau, cinta aja nggak cukup buat Lo bertahan sampai sejauh ini" kata Rena setuju dengan perkataan Anya


"Ah, gue jadi terharu. Kalian bener-bener sahabat gue terluv-luv" kata Ella tersenyum manis melihat sahabat-sahabatnya


"Jangan mengalihkan pembicaraan"


"So?" Tanya Rena kembali


"So? So apa?" Tanya Ella tak paham


"Aihh kenapa Lo mau bertahan sama Kavin, meskipun Lo sering disakitin Kavin?" Ulang Rena


"Karna gue takut kehilangan" jawab Ella tersenyum miris menatap mereka


"Ha?!" Kata Anya dan Rena bersamaan


"Maksudnya?" Tanya Rena tak paham dengan perkataan Ella


"Kalian tau dari kecil, gue udah terbiasa kehilangan" ucap Ella sendu menatap foto-foto yang terpasang rapi di kamarnya


"Tuhan sudah menggambil semua yang gue punya


Termasuk


Papi" lanjutnya tersenyum miris


"El" kata Rena menggenggam tangan Ella seakan menguatkan Ella. Ella yang Merasa tangannya digenggam oleh Rena, hanya tersenyum manis menatapnya.


"Kalian tau, 18 tahun gue hidup. 18 tahun juga gue harus merasakan semua rasa sakit, kecewa, marah, sedih, putus asa dan tidak berdaya. Namun, yang bisa gue lakukan hanya pura-pura bahagia, tersenyum, tertawa, ceria, dan bertindak seolah-olah baik-baik saja" kata Ella


"Gue juga ingin bisa tertawa lepas, tersenyum tanpa beban, dan bahagia tapi gue bisa apa? Gue harus menjadi kuat, dipaksa dewasa sebelum waktunya, melihat banyak hal-hal menjijikkan untuk menunjukkan bahwa dunia tidak hanya tentang ice cream dan permen. Lalu gue harus apa? Menuntut? Tidak! Apa hak yang gue punya buat menuntut. Menangis? Terlalu sering gue nangis. Dan nggak ada yang berubah walau gue nangis. Akhirnya yang bisa gue lakuin hanya bertindak seolah-olah semua akan baik-baik saja. Walau kenyataannya, gue bener-bener ingin menghilang dari dunia yang menjijikkan ini" kata Ella menatap kosong ke depan namun dengan senyum manis yang masih terpatri apik di bibirnya


Saat ini dimata Rena dan Anya, Tidak ada lagi Ella yang selalu menebarkan aura positif untuk orang-orang disekitarnya, karna saat ini yang dilihat oleh mereka hanyalah Ella yang sudah jatuh sejatuh-jatuhnya kedalam lubang hitam. Lubang dimana kesedihan, kemarahan, kekecewaan, keputus asaan, dan ketidak-berdayaan. Ella yang sudah benar-benar hancur baik fisik, psikis, dan juga jiwanya.


Ellaine sang cahaya, kini telah jatuh kepusaran kegelapan. Tanpa ada yang bisa menariknya keluar. Topeng yang selama ini digunakan Ella, akhirnya terlepas. Kini tidak ada lagi Ella Mak comblang, Ella biro jodoh, Ella tempat curhat anak-anak SE SMA Garuda, Ella penyabar dan Ella yang selalu tersenyum manis untuk menenangkan semua orang.


"Hikss El, jangan hikss gini kita ngerasa hiks gagal jadi sahabat Lo hiks" tangis Anya pecah melihat sahabatnya yang masih tersenyum manis namun dengan mata yang memancarkan duka luar biasa. Mendengar tangisan Anya, Ella segera menghadap Anya.


"Jangan nangis, hati gue sakit liat air mata Lo" sendu Ella mengusap air mata Anya


"Kalian selalu bertanya kan 'Kenapa gue bertahan sama Kavin yang brengsek kayak gitu?' Jawabnya karna gue takut kehilangan untuk kesekian kalinya" kata Ella menatap Rena dan Anya


"Kavin?" Tanya Rena ragu


"Bukan, gue bukan takut kehilangan Kavin. Tapi gue takut kehilangan mereka" kata Ella menunjuk pada foto Ella dan keluarga Kavin. Difoto itu terlihat Kavin yang merangkul Ella dengan bunda dan ayah Kavin yang samping mereka dan Aya didepannya. Mereka terlihat bahagia, tersenyum manis kearah kamera.


"Gue takut kehilangan kehangatan keluarga ini. Yah, walau gue akui. Sekalipun gue putus dengan Kavin. Bunda, Ayah, dan Aya bakalan tetep anggep gue sebagai putri dan kakaknya sendiri. Tapi, gue nggak bisa ngelihat wajah mereka sedih saat tau hubungan kami yang sebenarnya" lanjutnya tersenyum miris


"Dan walaupun gue males mengakuinya. Tapi Kavin orang pertama yang membawa warna dalam hidup gue yang hitam. Kavin datang membawa secercah cahaya harapan untuk gue yang saat itu terjebak dalam kegelapan, meskipun pada akhirnya dia juga yang memadamkan cahaya harapan itu. Tapi gue nggak bisa ninggalin dia gitu aja, setelah semua harapan yang dia berikan untuk gue dulu. Mungkin kalian nggak percaya. Tapi cahaya Kavin yang ngebuat gue ada saat ini" tambahnya menatap fotonya dan Kavin yang saat itu sedang berlibur di Bali


"Radhit, Evan, Addi, Rei. Mereka kumpulan orang-orang konyol yang tiba-tiba hadir dalam keseharian gue tanpa ijin. Hidup gue yang awalnya penuh air mata berubah menjadi tawa bahagia karena mereka. Tapi jika gue putus, bisakah semua tawa akan tetap sama? Tidak! Tidak akan sama. Gue yakin itu 100%" kata Ella menatap foto mereka saat berlibur di puncak.


"Dan untuk Mami? Kalian tau gue paling nggak bisa liat mami sedih. Tapi, saat tau hubungan kami tak berjalan sesuai harapannya. Bisa kalian bayangkan bagaimana hancurnya hati seorang ibu" lanjutnya menatap fotonya dan maminya


"Tapi El-.


Jujur Gue emang nggak terlalu paham alasan yang lain. Tapi kalau soal Tante Tanisha, gue yakin beliau pasti dukung Lo. Tante Tanisha pasti lebih hancur saat dia tau hubungan kalian yang sebenarnya" jelas Rena


"Rena bener. El Lo pernah bilang ' hubungan yang nggak sehat itu nggak baik buat diterusin ' jadi menurut gue apa nggak sebaiknya kalian putus aja" kata Anya hati-hati saat mengucapkan kata terakhirnya


"Lo bener mami pasti dukung gue. Tapi tetep aja, hati seorang ibu pasti akan hancur. Dan gue nggak bisa liat kehancuran itu lagi" kata Ella menatap Rena


"Anya, jika putus segampang itu, gue pasti udah putusin Kavin dari dulu" katanya berganti menatap Anya


"El?" Panggil Anya menatap Ella ragu


"Biarin gue egois kali ini, meskipun harus mengadaikan kebahagian gue. Gue udah kehilangan banyak hal selama ini. Gue nggak sanggup jika kali ini harus kehilangan lagi" pinta Ella pada Anya


"Dan kalau Lo malah semakin tersakiti?" Tanya anya menatap mata Ella


"Maka gue sendiri yang bakal melepas semuanya" kata Ella yakin


"Oke" kata Anya setuju


"Jika itu memang keputusan Lo. Gue dukung" tambahnya. Sedangkan Rena hanya bisa mengangguk Pelan menyetujui perkataan Ella. Melihat dukungan kedua sahabatnya, Ella tiba-tiba berubah 360°. Tidak ada lagi Ella dengan tatapan kosong, sekarang Ella sudah kembali menjadi ceria seperti biasanya.


"Baiklah, abaikan yang tadi. Jadi siapa pacar Lo?" Tanya Ella tiba-tiba pada Anya


"Ha?" Tanya anya tak paham


"Pacar baru Lo? Jangan sok-sokan nggak paham deh" ketus Ella pada Anya yang masih syok dengan perubahan mendadak Ella


"L-lo ttau?"  Tanya Anya gelagapan


"Tentu saja dong.


So


Siapa laki-laki malang itu, yang bisa-bisa jadiin cewek cabe kayak Lo jadi pacarnya?" Ejek Ella


"Sial Lo" maki anya menabok muka Ella dengan boneka kelinci yang dipegangnya


"Hahaha" bukannya marah, Ella malah tertawa terpingkal-pingkal melihat muka merah Anya yang menahan kesal


"Diam Lo" kesal Anya


"Bodo. Wlekkk😝" ejek Ella semakin menjadi-jadi


"Bangsat Lo El" kesal Anya melempari Ella dengan bantal


"Yehh nggak kena" ejek Ella menghindar dari lemparan bantal Anya


"ELLA" teriak Anya kesal


"Yes beb. Muachh😘" genit Ella mengedipkan sebelah matanya


"Jijik" kata Anya seolah mau muntah


"Hahaha" tawa puas Ella menghiasi seisi kamarnya


'berapa banyak kebohongan yang udah Lo liat. Hingga ngeboongin diri sendiri aja, jadi hal mudah buat Lo el' batin Rena melihat Ella tertawa lebar seakan Ella yang tadi hanyalah mimpi buruk Rena saja.


Ia tau sahabatnya ini mengalami banyak hal menyakitkan, tapi ia tidak tau bahwa Ella begitu mudah menyimpan semua perasaanya selama ini. Ia awalnya percaya bahwa Ella sudah melupakan masa lalunya melihat Ella yang baik-baik saja, tapi setelah melihat Ella hari ini. Ia sadar Ella sama sekali tidak melupakannya, Ella hanya mencoba menutupinya dari semua orang termasuk dari


Dirinya


Dan bodohnya ia percaya itu semua. Betapa tidak bergunanya ia sebagai sahabat.


'gue yang terlalu bodoh atau Lo yang terlalu pintar menutupinya El' batin Rena tersenyum miris mengingat kejadian tadi


...----------------...


...Follow...


...Instagram : @quella.ved...


..."Your Life is Your Choice"...