ELLAINE'S SECRET

ELLAINE'S SECRET
Ellaine's Secret Kalut



Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang berubah dari persahabatan Ella dan Anya. Hanya saja Anya sedikit menjaga jarak dari Ella. Ella yang mengetahui alasannya, hanya bisa memaklumi. Dan berharap agar Anya bisa kembali seperti dulu lagi. Bagaimana pun ini bukan sepenuhnya salahnya, Ella juga tidak tau kalau Leo menaruh hati padanya. Jadi dia tidak salah kan?


Kebetulan hari ini Ella ada jadwal bertemu dengan dokter Wisnu. Jam 10 pagi Ella sudah sampai di rumah sakit tempat dokter Wisnu praktek.


Tok tok tok


"Masuk" suruh dokter Wisnu, namun masih tidak mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas pasien di tangannya.


"Permisi. Selamat pagi dokter" sapa Ella ceria


"Ella" kata dokter Wisnu mengalihkan pandangannya begitu mendengar suara yang cukup familiar baginya


"Ah, pagi juga"


"Sudah datang. Ayo duduk dulu" lanjutnya mempersilahkan Ella duduk di depannya


"Kamu sendiri?" Tanya dokter Wisnu heran. Karna biasanya, Ella akan ditemani mami atau tantenya.


"Yup. Mereka sibuk" jawab Ella seakan tau apa yang ada dipikiran dokter Wisnu


"Sudah siap?" Tanya dokter Wisnu


"Sudah dokter" jawab Ella pasti


"Ayo ikut aku" ajak dokter Wisnu menuju ruang pemeriksaan


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan yang menghabiskan waktu hampir 2 jam.


"Jadi dok, hasilnya?" Tanya Ella was-was


"Huft" Hela nafas dokter Wisnu


"Maaf Ella" kata dokter Wisnu menggelengkan kepalanya sedih menyerahkan hasil pemeriksaan kepada Ella


"Tak apa"


"Aku sudah tau, jika hasilnya akan seperti ini" kata Ella tersenyum tipis setelah membaca hasil pemeriksaannya


"Ella sebaiknya kita melakukan kemoterapi saja" saran dokter Wisnu memikirkan langkah yang harus diambil saat ini


"Tidak" tolak Ella tegas


"Kenapa? Ella jika ini dibiarkan, semuanya akan bertambah parah" jelas dokter Wisnu


"Dok, sejak aku divonis 2 tahun yang lalu. Aku udah pasrah dengan semuanya" jelas Ella dengan senyum pedihnya


"Kenapa harus pasrah jika masih bisa diperjuangkan Ella? Kamu masih bisa sembuh jika kamu melalukan kemoterapi" Tanya dokter Wisnu tak habis pikir dengan perkataan Ella


"Aku tau. Tapi aku tak mau" kata Ella


"Kenapa?" Tanya dokter Wisnu


"Dokter, 18 tahun aku hidup. Aku nggak bisa membebani mami lagi" Ella menjeda perkataannya dan menatap ke arah dokter Wisnu


"Jadi aku mohon dok, rahasiakan hasil pemeriksaan hari ini dari mami dan yang lain" pinta Ella


"Tidak bisa Ella. Ini masalah yang penting. Kita harus mendiskusikannya dengan keluargamu" jelas dokter Wisnu perlahan berharap Ella akan mengerti dan mau melakukan apa yang ia sarankan. Namun, dasarnya Ella keras kepala


"Kumohon dokter jangan beritahu siapapun tentang hasil pemeriksaan ini. Aku tak mau orang-orang terpenting dalam hidupku hancur saat mengetahuinya" minta Ella pada dokter Wisnu dengan berurai air mata.


"Jika begitu. Maka kamu harus melakukan kemoterapi. Supaya keluargamu tak sedih saat mengetahui kebenarannya" saran dokter Wisnu


"Kamu sudah ku anggap seperti adik kandungku sendiri Ella. Aku tak mau kamu menghancurkan dirimu sendiri" kata dokter Wisnu sedih


"Aku tau dokter begitu menyayangiku. Karena itu, aku sangat bersyukur dan berterimakasih atas perhatian dokter. Tapi kumohon dok, penuhi permintaan ku saat ini" minta Ella dengan tersenyum manis namun matanya masih berurai air mata


"Ella" lirih dokter Wisnu


"Tak apa dokter. Cukup berikan saja obat pereda sakit untukku" kata Ella menghapus air matanya


"Baiklah. Jika ini keputusanmu, dokter tidak bisa mengatakan apa-apa lagi" kata dokter Wisnu pasrah melihat kekeras-kepalaan Ella


"Terimakasih dokter. Kalau begitu aku harus segera pergi" kata Ella bangkit dari duduknya


"Sampai jumpa dokter cogan" pamit Ella yang masih sempat-sempatnya mengedipkan matanya genit


'dasar ABG labil, matanya bengkak kebanyakan nangis tapi masih aja genit' batin pasrah dokter Wisnu melihat kelakuan Ella


"Yah sampai jumpa anak nakal" sahut dokter Wisnu yang mendapat cengiran dari Ella


Sekeluarnya Ella dari rumah sakit. Hati Ella sangat kacau, ia membutuhkan tempat untuk berkeluh kesah. Meskipun didepan dokter Wisnu, ia sangat tegar. Tapi tetap saja, ia hanya gadis berumur 18 tahun yang membutuhkan bahu seseorang untuk bersandar. Dan Disaat-saat seperti ini, hanya satu orang yang bisa menenangkan hatinya, yaitu


Papinya tersayang. Irul


Setengah jam perjalanan, akhirnya Ella sampai di tempat papinya.


"Papi, maaf Ella datang siang-siang kesini. Ella pasti ganggu yah" kata Ella menyandarkan kepalanya dengan nyaman


"Papi, Ella lagi butuh bahu papi buat bersandar. Jadi Ella Pinjem bahunya bentar yah Pi" kata ella memejamkan matanya.


"Hiks hiks hiks" tangis Ella tak terbendung saat semua memori dalam kepalanya berputar-putar


"Papi Ella capek. Kenapa takdir begitu kejam mempermainkan hidup gadis kecil sepertiku" adu Ella dengan tangisnya


"Kenapa Ella harus dipaksa dewasa, untuk menghadapi semuanya"


"Kenapa Pi? kenapa?" Tanya Ella dengan air mata yang terus turun dari mata cantiknya


Hati, fisik dan pikirannya lelah saat ini. Jika bisa, ia ingin melupakan semuanya. Tapi itu tidak mungkin.


Ia hanya bisa mencoba menerima semuanya dengan sepenuh hati, namun tetap saja. Ada fase dimana ia marah dan kecewa atas semua yang terjadi padanya. Sekali lagi, ia hanya gadis 18 tahun yang dipaksa untuk dewasa.


"Papi.. Ella sudah melakukan semua yang papi suruh. Ella sudah menjadi anak baik, cucu yang baik, keponakan yang manis dan terpenting Ella sudah menjaga mami. Ella sudah menghapus semua air mata yang mereka keluarkan. Tapi kenapa takdir terus memaksaku mengeluarkan air mata setiap hari??


Tak bisakah, sehari saja Ella hidup dengan tenang"


"Papi tau, meskipun Ella menolak melakukan kemoterapi, tapi Ella juga tidak bisa menyerah begitu saja pada penyakit Ella" kata Ella berusaha menghapus air matanya yang tidak mau berhenti


"Ella tak ingin meninggalkan mami dan semuanya begitu saja Pi" kata Ella dengan air mata yang lagi-lagi menetes begitu saja


"Meskipun Kavin playboy kebangetan dan suka nyakitin hati Ella. Tapi Ella tau, jika Ella pergi Kavin akan hancur. Begitu juga teman-teman Ella yang lain" adu Ella yang masih setia bersandar


"Tapi Ella bisa apa Pi!! Ella punya alasan tersendiri kenapa menolak kemoterapi" kata Ella


"Ella tak ingin mami menghabiskan uangnya untuk hal yang sia-sia dan tak pasti" tambahnya


"Ella harus apa Pi.. hiks hiks.. Ella harus apa Pi.. hiks hiks" tanya Ella frustasi


Seakan mengetahui hati Ella. Matahari yang awalnya bersinar cerah kini mulai tertutup awan. Langit cerah berubah menjadi langit mendung. Angin-angin berhembus kencang dan pohon-pohon menggugurkan daunnya seakan ikut bersedih melihat gadis cantik yang terus menangis sambil bersandar.


Disisi lain, Rena datang untuk mengajak Ella shopping. Tapi setelah menunggu 15 menit di rumah Ella, Ella tidak kunjung datang juga.


"Dimana coba nih anak ayam. Ngilang mulu kerjaannya" gumam Rena


"Telpon aja mungkin ya" kata Rena mengeluarkan hpnya


Tut.. Tut.. Tut..


"Halo"


"...."


"Lo dimana? Gue nungguin Lo udah dari kemarin oi. Tapi Lo nggak dateng-dateng" kata Rena alay


"...."


"Ok, gue kesana. Jangan kemana-mana. Jangan ngelakuin hal bodoh dan jangan berpikir macem-macem" ingat Rena kemudian mematikan telponnya dan segera menuju tempat yang disebutkan Ella tadi. Setengah jam perjalanan, Rena sampai di tempat yang di sebutkan Ella tadi. Dari kejauhan Rena melihat Ella duduk di sebuah kursi panjang dengan kepala menunduk dan rambut yang menutupi seluruh wajahnya


"El" panggil Rena menyentuh bahu Ella pelan


"Rena" kata Ella menatap Rena dengan mata sembabnya


"Masuk" kata Rena menyuruh Ella masuk kedalam mobilnya


"Kita pulang aja" kata Rena begitu melihat keadaan Ella yang kacau


...----------------...


"Makasih" kata Ella setelah sampai di rumahnya


"Gue mending pulang dulu"


"Gue tau Lo pasti butuh tempat buat sendiri dulu saat ini" lanjut Rena mengetahui kebiasaan Ella yang selalu menyendiri disaat ada masalah


"Hmm" kata Ella tersenyum tipis dan kemudian turun dari mobil


'lo kenapa lagi sih El?' batin Rena melihat punggung Ella yang sudah menghilang di balik pintu rumahnya


...----------------...


Keesokan harinya Ella berangkat ke sekolah seperti biasanya. Hanya saja yang berbeda tidak ada raut ceria dan antusias diwajahnya. Wajahnya yang selalu tersenyum manis kini berubah menjadi senyum sedih, matanya yang selalu memancarkan kehangatan kini hanya memandang sayu kedepan dengan sesekali tampak berkaca-kaca.


"Beb" panggil Kavin yang tiba-tiba ada disamping Ella. Namun, masih dihiraukan oleh Ella. Bahkan menoleh pun tidak.


"Maaf ya aku tadi nggak jemput kamu. Soalnya aku udah janji berangkat bareng Janet hari ini" kata Kavin menunjuk Janet yang ada disampingnya. Moodnya sudah kacau, di tambah ketemu Kavin dan selingkuhannya. Lebur sudah mood Ella saat ini.


"Hm" sahut Ella seadanya. Ella tetap tidak merespon alasan Kavin saat ini. Pikirannya hari ini sedang kalut. Pikirannya seakan bercabang kemana-mana. Ia bahkan tidak bisa fokus untuk saat ini.


"Kamu marah?" Tanya Kavin mendengar respon cuek dari Ella


"Kamu jangan marah, kan aku udah bilang kalau aku udah janji berangkat bareng Janet. Jadi, nggak sempet jemput kamu" jelas Kavin yang masih nggak peka dengan keadaan Ella


"Pliss, hari ini gue males debat" kata Ella pada Kavin


"Lo marah El, Kavin berangkat bareng gue?"


"Maaf ya El, kemarin Kavin janji ke gue bakalan jemput gue soalnya"


"Kalau Lo marah. Gue nggak bakalan berangkat bareng Kavin lagi deh"


"Tapi gue mohon maafin Kavin. Jangan marah sama dia"


"Dia nggak salah, gue yang salah disini" kata Janet sok sedih supaya bisa menarik perhatian Kavin


"Maafin Kavin ya Ella. Pliss maaf-"


"DIEM" bentak Ella pusing mendengarkan ocehan Janet


"Sekali lagi Lo ngomong gue gampar nih" Ella mengangkat tangannya


"Ella Lo keterlaluan" kata Kavin begitu melihat Janet pergi karna terkejut mendengar bentakan Ella


"Gue udah bilang, gue males debat. Tapi emang cabe Lo itu nggak bisa diem"


"Jadi, jangan salahin gue kalau gue bentak dia" bela Ella tak terima disalahkan


"Tapi kan caranya nggak gini. Kalau Lo lagi marah sama gue jangan dilampiasin ke orang lain dong" cecar Kavin sok tau


"Diakan cuma minta maaf, karna bikin gue nggak bisa jemput Lo. Tapi lihat, Lo bikin dia ketakutan. Kasihan kan Janet. Hatinya pasti sakit banget denger bentakan Lo"


"Lo keterlaluan, barbar banget jadi cewek gue kecewa sama Lo" kata Kavin sebelum meninggal Ella yang masih terdiam mendengar semua perkataan Kavin yang menyakitkan hatinya.


'trus bagaimana dengan hati gue Vin?' tanya Ella pedih dalam hatinya


...----------------...


Di kelas


"Lo kenapa?" Tanya Rena melihat Ella yang hanya diam menatap sayu ke arah papan tulis dengan sesekali matanya nampak berkaca-kaca


"La..


Ella..


LA


ELLA"


"Sorry, habisnya Lo ngelamun trus dari tadi" kata Rena cengengesan melihat Ella memelototinya


"Kenapa? Masih mikirin yang kemarin?" Tanya Rena mengingat kejadian kemarin. Meskipun, Ella belum menceritakan apa-apa padanya. Tapi ia tahu, jika Ella ditempat itu berarti Ella sedang menghadapi masalah besar dalam hidupnya.


"Atau mikirin Anya?" Tebak Rena lagi mengingat sahabatnya yang satunya itu kini sedang menjauhi Ella.


"Nggak" jawab Ella seadanya


"Trus?" Tanya Rena yang masih tidak puas dengan jawaban singkat Ella


"Pikiran gue bercabang kemana-mana. Jadi, gue nggak fokus"


"Kayaknya Gue butuh liburan" kata Ella mengalihkan pembicaraan


"Bener Lo emang butuh liburan singkat" kata Rena setuju


"Mungkin pulang sekolah nanti gue mau ke rumah nenek aja" kata Ella


"Nggak ke Oma?" Tanya Rena. Karna menurut Rena dibanding dengan neneknya Ella lebih dekat dengan Omanya


"Oma lagi sibuk. Beliau lagi ke malang sama adek dan sepupu gue" jelas Ella


"Ohh" paham Rena


...----------------...


Pulang sekolah seperti rencana awal, Ella pergi ke rumah neneknya yang tidak terlalu jauh dari sekolahnya.


"NENEKKK.... ELLA COMEBACK" teriak Ella begitu membuka pagar rumah neneknya


Tapi baru beberapa langkah masuk ke halaman rumah neneknya. Ella mendengar teriak-teriak orang yang lagi berantem


"KURANG AJAR LO YA JADI ISTRI BANYAK OMONG!!!"


"LO YANG KURANG AJAR!!!! UANG YANG GUE KASIH CUMA LO HAMBUR-HAMBURIN SAMA JALANG LO ITU"


"TERSERAH GUE!!! HAK APA LO NGELARANG GUE!!"


"GUE INI ISTRI LO, DI!!! ISTRI LO!!"


"ISTRI YANG BISANYA BIKIN RUMAH PANAS. KARNA OCEHAN SAMPAH LO"


"SUDAH DIAM!!


MALU DIDENGER TETANGGA!!


KALIAN BERDUA PERGI DARI RUMAH SAYA!!!!"


Mendengar teriakan neneknya. Ella segera masuk kedalam rumah.


"NENEK" pekik Ella melihat neneknya diantara Tante Yuni dan Om Budi yang sedang berantem


"Ella" kata nenek Indah yang berlari menghampiri Ella


"Bilang sama mereka El. Suruh diam dan pergi dari rumah nenek" pinta Indah dengan wajah pucatnya


"KALIAN INI APA-APAAN SIH!!!" teriak Ella memisahkan Yuni dan Budi


"DIEM KAMU ANAK KECIL!! JANGAN IKUT CAMPUR!!" teriak Budi tidak terima


"LO YANG DIEM. LAKI-LAKI NGGAK TAU DIRI LO!! BISANYA BIKIN MALU PERGI NGGAK DARI SINI!!! PERGI!!" Usir Ella


"Ella usir dia.. dia udah nyakitin Tante El" kata Yuni melihat Ella


"Dia nyakitin Tante Ella


Dia selingkuhi Tante


Dia habisin uang tante


Di-"


"DIEM LO!!" kata Ella pada Tante Yuni


"PERGI KALIAN SEMUA!!! PERGI DARI SINI!!" Usir Ella pada mereka


"ATAS HAK APA KAMU NGUSIR SAYA" ucap Budi tak terima


"GUE CUCU PERTAMA DISINI. GUE PUNYA HAK LEBIH DARIPADA LO YANG CUMA ORANG LUAR DAN NUMPANG TIDUR DISINI" tekan Ella pada Budi


"PERGI!!" Usir Ella


"PERGI DARI RUMAH SAYA!!" Usir indah melihat Budi masih tidak bergeming dari tempatnya


"SAYA NGGAK NERIMA KAMU DI RUMAH SAYA


PERGI..


PERGI..


KAMU LAKI-LAKI NGGAK BERGUNA!! YANG BISANYA NGABISIN UANG BUAT JALANG!!" Lanjutnya


"BU!! SAYA NGGAK AKAN SELINGKUH KALAU ANAK IBU NGGAK KEBANYAKAN OMONG!! SUAMI MANA YANG BETAH KALAU SETIAP HARI HARUS DENGERIN OCEHAN ISTERINYA" bela Budi


"YUNI NGGAK BAKAL NGOCEH, KALAU KAMU KERJA. JANGAN HANYA BISA NGABISIN UANG AJA" teriak Indah


"SAYA UDAH KERJA, BU!! TAPI ANAK IBU YANG NGGAK TAU DIRI INI, KEBANYAKAN NUNTUT DAN NGGAK BISA BERSYUKUR" bela Budi


"BOHONG!! SEMUA UANGNYA DIHABISIN SAMA JALANG ITU!! LO LAKI-LAKI BRENGSEK!! LAKI-LAKI NGGAK BERGUNA"


"LAK-


PLAKKKK


"DIEM" tampar Ella kepada Yuni


"BACOT!! LO *****!! JANGAN LUPA SEBURUK APAPUN KELAKUAN SUAMI LO!! NGGAK SAMPAI SETENGAH JAM JUGA LO UDAH MANJA LAGI SAMA DIA!! LO PEREMPUAN PALING NGGAK TAU MALU YANG GUE KENAL"


"LIAT BAHKAN ANAK-ANAK LO SENDIRI JIJIK LIAT IBU KAYAK LO" kata Ella menunjuk Fio dan Gio yang dari tadi menonton mereka dari jauh


"SEKARANG LO LAKI-LAKI NGGAK BERGUNA PERGI DARI SINI!!" Usir Ella yang sudah tidak tahan dengan ini semua


"DAN LO PEREMPUAN YANG NGGAK TAU MALU, DIEM JANGAN BANYAK OMONG!! KARNA SEBANYAK APAPUN OCEHAN LO. BENTAR LAGI LO PASTI JUGA AKAN CARI SUAMI NGGAK BERGUNA LO ITU" Tunjuk Ella pada Yuni


Sebenarnya ini bukan pertama kali pertengkaran mereka. Ella sudah kebal dengan ocehan-ocehan mereka. Ella yakin, nggak sampai setengah jam tantenya ini bakalan nyari suaminya dan kembali seperti sediakala. Bener-bener cocok satu nggak tau diri yang satu nggak tau malu.


"Hikss hikkss Mas Budi" tangis Yuni melihat suaminya pergi. Tuhkan, emang perempuan nggak tau malu dia.


"NENEK" kejut Ella melihat neneknya tiba-tiba pingsan di pelukannya


"BU ibu bangun Bu" panggil Yuni mencoba memegang tubuh ibunya


"LEPAS.. JANGAN SENTUH NENEK GUE DENGAN TANGAN KOTOR LO ITU!!" kata Ella menghempaskan tangan tantenya dan mendorong tubuh Yuni untuk menjauh dari neneknya


"LIAT!! LIAT AKIBAT DARI KELAKUAN LO INI!! INI SEMUA GARA-GARA LO!!" Teriak Ella dengan tangan yang bergetar mencoba membangunkan neneknya


"Nenek.. nek.. nenek..


Nenek bertahan ya.. Ella mau nelfon Tante Iva dulu" panggil Ella dengan suara bergetar menahan tangis


Tut.. Tut..Tut..


'Maaf nomer yang anda hubungi sedang sibuk'


"SHITT.. Tante Iva kemana sih" gumam Ella kalut


Tut.. Tut.. Tut..


"Halo, kav gu-"


"Apaan El, sorry gue lagi sibuk. Gue lagi keluar sama Janet sebagai permohonan maaf karna Lo udah bentak dia tadi" potong Kavin lalu memutuskan sambungan teleponnya


Tut..


"Brengsek" umpat Ella semakin kalut


"Gue harus apa hiks.. hikss..." Tangis Ella


Tut..Tut..Tut..


"Halo El"


"Tolong gue hikss" tangis Ella sudah tak terbendung lagi saat mendengar suara orang yang ditelponnya


"Lo nangis?? Kenapa??"


"Hikss.. Kerumah nenek gue sekarang hikss..


Pliss.. hikss" tangis Ella semakin bertambah keras


"5 menit" kata orang tersebut lalu mematikan sambungan teleponnya


...----------------...


Dirumah sakit


Ella hanya diam terduduk dengan air mata yang masih membasahi pipinya.


"Nenek pasti baik-baik aja?" Tanya Ella dengan suara parau pada orang disampingnya


"Yah, ia pasti baik-baik aja" jawab orang tersebut


"Makasih Raka udah nolongin gue" kata Ella menoleh kearah Raka. Yah, yang menolong Ella tadi adalah Raka ketua Paskib di SMA Garuda


"Nggak ada kata terimakasih dalam persahabatan, itu yang selalu Lo katakan" kata Raka menepuk rambut Ella pelan


"Tapi tetap aja terimakasih banyak atas bantuan Lo kali ini. Gue nggak tau kalau nggak ada Lo harus gimana lagi" lirih Ella mengingat kejadian tadi


"Udah jangan mellow. Kita tunggu dokter keluar dulu" kata Raka


Mendengar perkataan Raka, Ella kembali diam dengan sesekali mengusap air matanya yang tidak bisa berhenti keluar dari tadi


Klekk


"Keluarga ibu Indah" panggil seorang dokter


"Saya dok"


"Ibu indah baik-baik saja, hanya tekanan darahnya naik. Itu yang menyebabkan beliau pingsan. Saya sarankan jangan memberinya tekanan yang berlebihan saat ini" jelas dokter


"Jadi nenek saya baik-baik saja dok?" Tanya Ella


"Beliau baik-baik saja. Hanya butuh beberapa hari dirawat di rumah sakit. Kesehatannya akan pulih kembali" jelas dokter


"Kalau sudah tidak ada yang ditanyakan. Saya permisi dulu" lanjutnya meninggalkan Ella dan Raka


Mendengar perkataan dokter tadi, Ella langsung jatuh ke lantai


"Ella" kejut Raka melihat Ella terduduk di lantai


"Nenek gue nggak papa Rak" kata Ella memeluk Raka dengan menangis haru. Semua ketakutan dalam hatinya lenyap seketika, begitu mendengar perkataan dokter tadi.


"Yah, nenek Lo baik-baik aja. Sekarang Lo harus temuin nenek Lo didalam" kata Raka menarik Ella untuk bangun


"Lo bener. Gue masuk dulu ya, Lo mau ikut?" Ajak Ella


"Nggak usah gue tunggu disini aja" tolak Raka. Menurutnya, Ella membutuhkan privasi untuk bersama neneknya.


...----------------...


...Follow...


...Instagram : @quella.ved...


..."Your Life is Your Choice"...