ELLAINE'S SECRET

ELLAINE'S SECRET
Ellaine's Secret Malam Minggu



"Thanks buat hari ini, gue mau masuk dulu. Kalian hati-hati" kata gue pada Kavin, Radhit dan Evan yang sudah nganterin gue dengan selamat sampai di rumah


"Iya" kata Kavin


"See you next time, kak El" kata Evan


"Bye kak El" kata Radhit


"See you and bye guys" kata gue sebelum masuk kedalam gerbang rumah


Di halaman gue lihat mami sedang asik merawat tanaman kesayangannya.


"MAMI!!" Teriak gue


"Astaghfirullah, kamu ini ngagetin mami aja!!" kata mami terkejut


"Hehehe" ucap gue cengengesan


"He-ha-hehe he-ha-hehe, jangan cengengesan kamu. Dari mana aja kok baru pulang" tanyanya


"Jalan dong mi, sama tunangan. Jangan kayak orang jomblo lah, ngerem mulu dirumah" kata gue sok


"Iya deh iya percaya yang udah punya tunangan.. mentang-mentang udah tunangan aja kamu jadi sok gini" kata mami 


"Btw nih mi ya, mami lagi apa? Serius bener?" Kata gue bingung. Meskipun gue tau mami amat sangat mencintai bunga-bunganya tapi tumben serius banget ngelihatin bunga


"Bunga mami banyak yang mati" katanya


"Kok bisa?" Tanya gue


"Kok kamu nanya mami, mana mami tau" katanya   


" kasihan banget bunga kesayangan mami, baru beberapa hari ditinggal sibuk ke butik udah pada mati semua" tambahnya.


Mami memang selama 3 bulan belakangan lebih sering di rumah karna di butik katanya lagi nggak sibuk, dan baru sekitar 2 Minggu ini butiknya sibuk lagi, katanya sih mau ada event besar di Paris.


So, sudah dipastikan selama dirumah mami lebih sering merawat bunga-bunganya dari pada biasanya karna sibuk di butik, bahkan mami sampai menambah koleksi bunga-bunganya. Dan imbasnya adalah gue karna harus ikut merawat bunga-bunga ini saat mami sibuk.


"Mami nyalahin aku. Mi tiap hari udah aku siram 2 kali sehari pagi dan sore kayak mami biasanya" kata gue. Udah kayak minum obat aja 2x sehari


"Kamu nyiram nya nggak pakek cinta, mangkanya mati semua" kata mami


"Ribet banget tinggal nyiram aja harus pakek cinta" kata gue kesel


"Yah harus dong" katanya sambil terus memotong bagian-bagian bunga yang sudah layu


"Terserah mami lah" kata gue


"Oh ya Mi, Athaya mana?" Tanya gue


"Dirumah oma lah masa kamu lupa" katanya.


Oh ya gue lupa, biasanya kalau mami dan gue nggak ada dirumah adik gue yang satu itu lebih sering menghabiskan waktunya dirumah oma. Kebetulan rumah Oma dan rumah gue cukup dekat cuma berbeda beberapa blok aja.


"Yaudah aku masuk dulu" kata gue. Baru 5 langkah gue jalan udah disuruh berhenti sama mami


"Ella tunggu dulu" panggilnya


"Apalagi mi" tanya gue balik badan menghadap mami lagi


"Nanti habis isya ikut mami" katanya


"Kemana?" Tanya gue penasaran


"Kerumah Oma kita rumpi cantik disana" katanya


"Ella nggak ikut boleh, Ella capek banget soalnya" kata gue penuh harap


"Nggak boleh harus ikut, masak malam Minggu dirumah aja. Jangan kayak jomblo deh" kata mami mengulangi perkataan gue tadi


"Iya mi iya Ella ikut" kata gue lalu melanjutkan langkah untuk masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamar tercinta gue


"Huft.. capek banget. Mandi dulu aja kali ya, habis itu tidur" gumam gue


Selesai mandi gue langsung menjatuhkan diri ke kasur empuk kesayangan gue dan terlelap dalam mimpi


...----------------...


Tok tok tok


"Ella bangun udah malam ayo siap-siap katanya mau kerumah Oma" teriak mami menggelegar dari luar kamar yang berhasil membangun gue dari mimpi indah


"Iya ini bangun" balas teriak gue


"Cepet ya. 15 menit nggak keluar-keluar mami potong uang jajan kamu" ancamnya


"Iya mami ini bangun" kata gue langsung ngacir ke kamar mandi. Bisa bahaya kalau Kanjeng mami nunggu lama. Siap-siap ucapkan selamat tinggal pada semua fasilitas gue


15 menit kemudian, gue udah siap dengan celana jins selutut sama kaos lengan pendek yang luarnya gue pakek cardigan jangan lupa sendal jepit


Dibawah gue lihat mami juga udah siap dengan pakaian santainya. Jangan harap mami gue bakalan pakai gaun atau baju ala-ala emak sosialita, faktanya mami gue pakai celana jins panjang sama kaos biasa bahkan dia nggak bawa salah satu koleksi tas mahalnya, dia cuma bawa dompet doang. Ya iyalah ngapain juga bawa tas, orang ini mau ke rumah Oma doang.


Jangan heran banyak yang menyangka kami kakak beradik bukan ibu dan anak karna mami gue yang masih muda, berusia sekitar 38 tahun apalagi ditambah dandanan mami yang seperti anak muda.


"Udah yuk berangkat" ajak mami


"Kita naik motor, Mi?" tanya gue saat melihat mami menuntun motor maticnya keluar garasi


"Iya biar pernah, bosen mami naik mobil. Lagian kita cuma mau kerumah oma sekalian keluar komplek bentar" katanya yang hanya gue iya in


"Ngapain keluar komplek?" tanya gue bingung


"Udah ayo naik" katanya.


Sebenarnya gue udah biasa di boncengin mami kayak gini. Bahkan gue pernah boncengan berdua sama mami cuma buat beli bunga di toko bunga. Masalahnya bunga yang dibeli memiliki ukuran yang cukup besar dan mami juga membeli pot yang terbuat dari semen yang pastinya sangat berat, untung saja belanjaan kami muat ditaruh tengah.


Terkadang juga saat gue ikut mami belanja keperluan dapur ke pasar tradisional, etss jangan tanya kenapa belinya ke pasar tradisional bukan ke swalayan atau pasar modern aja yang lebih bersih walaupun nggak semua pasar tradisional jorok yah,


INGET LOH NGGAK SEMUA!!!. jawabannya karena menurut mami keadaan di pasar tradisional lebih hidup karena ada kegiatan tawar menawar, padahal menurut gue itu cuma akal-akal an mami aja supaya bisa belajar murah meriah. Yah, namanya juga emak-emak meskipun udah jadi desainer yang lumayan terkenal *Alhamdulillah tapi tetep aja jiwa emak-emaknya masih suka diskonan.


So, jadi ini udah biasa buat kita keliling-keliling, jalan-jalan naik motor.


"Turun El, kamu yang beli" suruh mami saat sudah sampai di penjual odading nya


"Ngapain kamu?" Tanya mami saat melihat gue menadahkan tangan


"Uang" kata gue sambil tersenyum manis


"uang kamu dulu entar mami ganti" kata mami


"Eh nggak bisa, Ella nggak bawa uang" kata gue menolak


"Bohong dosa Lo kamu" kata mami dengan tatapan menyelidik


"Iya mi beneran nggak bawa uang, hp pun Ella lupa bawa" kekeh gue


"Yaudah nih uangnya" kata mami sambil menyerahkan uang 50.000


"Kembaliannya buat beli tahu bulat ya mi" kata gue penuh harap


"Iya iya terserah kamu" kata mami.


Sekitar 15 menit membeli makanan akhirnya selesai juga. Kamipun kembali masuk komplek tapi menuju rumah Oma.


...----------------...


Dirumah oma


"Hello guys. Ella comeback" teriak gue memasuki rumah Oma


"Ella jangan teriak" tegur Oma


"Hehehe" kata gue cengengesan sambil berjalan kearah dapur lebih tepatnya kearah kulkas, biasa cari makanan.


"Makan dulu sana tadi oma masak udang kesukaanmu" kata opa


"Opa!!! kangen banget deh nggak pernah ketemu" teriak gue saat melihat opa


"Kamu yang nggak pernah main kesini" kata opa


"Sibuk opa Ella nya" kata gue memberi alasan


"Halah kamu, seneng banget ya tinggal disekolah sampai pulangnya malem-malem trus. Jangan kira opa nggak tau, sebulan belakangan ini kamu pulangnya malem-malem trus kan?" Kata opa dengan tatapan menyelidik yang gue balas dengan senyuman manis saja


"Udah jangan senyum-senyum gitu. Makan dulu sana" suruh opa.


Selesai makan gue berjalan kearah teras rumah, disana udah ada adik sama sepupu gue main. Gue ini anak pertama sekaligus cucu pertama, bisa dibilang gue paling gede sendiri dibandingkan sepupu-sepupu gue yang lain.


Gue punya 2 sepupu anak dari Tante Adis, adiknya mami. Namanya Kayla umur 6 tahun sama Habibie umur 1 tahun. So, mereka udah kayak anak gue sendiri daripada adik. Soalnya dari bayi gue yang bantu ngurus mereka.


"Kak El sini ikut main " ajak Kayla


"Males ah, kak Ella mau main sama bibi aja" kata gue sambil menggendong Habibie


"Hay bibi, kangen kakak ya. Kita udah lama nggak ketemu soalnya" kata gue yang dibalas dengan senyum polosnya yang makin bikin gue gemes pingin gigit pipinya aja


"Ihh cute banget sih" kata gue gemas mencubit pipi gembul Habibie


"Gimana sekolah kamu?" Tanya Tante Adis


"B aja" kata gue yang tetap fokus pada bayi gembul ini


"Inget kamu nggak boleh kecapekan" ingat Tante Adis


"Iya, tante" kata gue


"Kapan jadwalnya ketemu sama dokter Wisnu?" Tanya opa


"Minggu depan katanya" kata gue menghentikan kegiatan gue karna melihat pipi Habibie yang sudah memerah menahan tangis


"Mau dianterin Tante lagi atau mami mu?" Tanya Tante Adis


"Ella mah terserah" jawab gue santai


"Biar aku aja yang nganterin" kata mami


"Semangat ya sayang, kita semua ada untuk kamu" kata Oma yang bikin suasana jadi sedih.


Duh kan jadi sedih gue, baper an banget sih gue jadi orang. Daripada gue sedih gini mending gue ikut mereka main. Nggak papa jadi bocah sehari


"Ayo bibi kita ikut main sama mereka" ajak gue pada Habibie yang masih anteng gue gendong.


Akhirnya, gue Athaya Kayla sama Habibie main kejar-kejaran dan tentu saja Habibie masih digendong gue dengan aman. Bisa dibayangkan pemirsa lari kecil sambil bawa bayi, itu beratnya minta ampun. Oma, opa, Tante Adis dan mami yang liat penderitaan gue cuma ketawa-ketawa aja. Dan jangan lupakan bayi imut di gendongan gue juga ketawa seneng banget diajak main kayak gini.


Yah, meskipun lelah setidaknya untuk hari ini, gue bahagia dan bersyukur untuk segalanya


...----------------...


...Ig : @quella.ved...