ELLAINE'S SECRET

ELLAINE'S SECRET
Ellaine's Secret Pergi (2)



Alexander Hospital, Singapura


13.00 p.m


"Iya mami, aku baik-baik aja disini" telepon gadis yang sedang duduk di ranjang rumah sakit


"..."


"Kuharap juga begitu"


"..."


"Hmm, aku akan cepat pulang" sendunya menatap langit-langit ruangannya


"..."


"Aku juga sangat menyayangi mu" katanya lalu mematikan sambungan telepon mereka


"Huft" keluhnya karena merasa tertekan dan lelah


'Mari berjuang sampai akhir, karena aku tak ingin mematahkan banyak hati jika aku menyerah begitu saja' katanya dalam hati sambil melihat pemandangan kota Singapura dari jendela Rumah Sakit.


Cklekk


Suara pintu terbuka membuatnya mengalihkan perhatian ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang


"Dokter Caca" sapa nya penuh ceria berbeda 180° dengannya yang penuh tekanan tadi


"Bagaimana, Ella?" tanya dokter Caca penuh lembut berjalan menghampiri Ella. Yah gadis yang tadi menerima telepon adalah Ella. Ella yang sebelumnya terbaring tidak sadarkan diri.


"Lumayan" katanya tersenyum manis


...----------------...


Flashback


Tap tap tap


"Tante bagaimana kondisi El?" tanya Rena tak sabaran


"..." hening Tanisha tak menjawab pertanyaan Rena


"Tante?" tanya Rena dengan suara serak menahan tangis


"..." Tanisha hanya diam menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong. Pikirannya saat ini sedang kalut dengan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi pada putrinya


"Tan" panggil Anya menepuk bahu Tanisha pelan. Tanisha yang merasa bahunya ditepuk, hanya menoleh dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Ella sedang dalam kondisi kritis" jelas Tanisha sangat pelan


Deg


"Nggak mungkin, Ella tadi baik-baik aja" kata Rena enggan menerima kenyataan yang ada di depannya


"Kita baru aja bercanda bareng tadi, malahan kita udah janjian mau kumpul bareng sebelum Ella ke Singapura" lirih Anya dengan air mata yang sudah jatuh dipipinya


"Tan?" panggil Kavin menahan kesedihannya


"Kavin" tangis Tanisha tak terbendung saat melihat raut wajah Kavin menggambarkan ketakutan dalam hatinya yang sama seperti hatinya sekarang


"Kavin, Tante harus apa?Tante bener-bener nggak tau harus gimana?" kata tanisha meneteskan air mata


"Tante jangan nangis, Ella akan baik-baik saja" kata Kavin berlutut dihadapan Tanisha


"Kavin, percaya kalau Ella akan sembuh seperti sedia kala"


"Ella akan seperti dulu lagi" kata Kavin menggenggam tangan Tanisha erat


"Jadi Tante harus kuat" kata Kavin menyemangati


"Yah kamu benar, Ella akan baik-baik saja" kata Tanisha mengelus rambut Kavin


Sahabat-sahabat Kavin yang lain, hanya bisa menahan tangis melihat momen ini. Terutama bagi Rei dan Addi yang notabennya sahabat Kavin dari kecil. Mereka tau bagaimana perasaan Kavin kali ini. Mereka juga tau Kavin sangat mencintai Ella meskipun tertutupi dengan sikap playboy nya. Entah bagaimana hidup Kavin, jika sampai Ella meninggalkan mereka.


Kavin sudah pasti akan hancur, jika itu sampai terjadi.


"Boleh kita liat Ella, Tan?" ijin Anya setelah menguatkan dirinya


"Boleh" kata Tanisha mengijinkan


...----------------...


"Bangun, kita datang buat Lo" kata Anya serak


"Lo janji bakal temuin kita, jadi Lo harus bangun"


"Bangun Ella"


"Kita bener-bener butuh lo" kata Anya tidak dapat menahan air matanya. Bahkan Rena sudah menangis tersedu-sedu begitu melihat Ella yang terlihat begitu rapuh dan lemah terbaring di ranjang rumah sakit.


"Lo harus bangun dan sembuh, ada banyak hal yang ingin gue ceritain ke Lo" kata Rena menggenggam tangan Ella


"Hikss Lo harus sembuh. Kita disini akan selalu nungguin Lo bangun" kata nya dengan berurai air mata


"Maaf, karena belum bisa jadi sahabat yang baik buat Lo"


"Kita semua sayang sama Lo" kata Rena mengelus rambut Ella


"Ella, gue mohon jangan pernah menyerah" kata Anya


"Kita semua akan selalu mendukung Lo" katanya ikut mengelus tangan Ella


...----------------...


"Lo salah satu gadis yang bikin gue selalu tercengang dengan segala hal yang Lo lakuin, kak" kata Radhit tersenyum miris mengingat tingkah laku Ella yang terkadang membuatnya kagum, syok, bahkan terheran-heran dengannya


"Ella Lo gadis yang kuat, meskipun Kavin sering nyakitin Lo. Lo tetep tersenyum manis. Gue tau Lo pasti sakit hati banget sama Kavin. Tapi Lo juga pasti tau, Kavin akan hancur jika Lo pergi"


"Jadi gue mohon, Lo harus tetep kuat" kata Addi menahan air matanya


"Kak Ella, Lo gadis teristimewa yang pernah gue temuin. Lo udah kayak kakak buat gue. Jadi, Lo harus bertahan" kata Evan sedih


...----------------...


"Maafin aku" kata pertama yang diucapkan Kavin setelah 10 menit hanya diam menggenggam tangan Ella erat


"Maaf"


"Maaf" kata Kavin berulang kali sambil mengecup punggung tangan Ella


"Maaf, karena aku belum bisa jadi tunangan yang baik buat kamu"


"Aku cuma bisa ngasih kamu air mata dan kesedihan"


"Bahkan saat kamu sakit, aku juga nggak ada disaat kamu butuh dukungan dari aku" kata Kavin menyesal


"Aku tau kamu pasti udah muak dengan semua kesalahan yang terus-menerus aku ulangi"


"Tapi, aku bener-bener akan hancur saat kamu ninggalin aku" kata Kavin menitihkan air matanya


Bahkan cowok seplayboy dan sebr*ngs*k Kavin sampai menitihkan air matanya, hanya untuk Ella. Bisa dibayangkan bagaimana sakitnya hati Kavin saat ini. Melihat gadis yang disayanginya terbaring lemah tidak sadarkan diri.


"Sayang, aku mohon jangan tinggalin aku" kata Kavin terus mengecup punggung tangan Ella dengan air mata yang terus bercucuran


"Hikss aku mohon hikss" tangis Kavin menyesal dengan semua yang terjadi. Terutama menyesal karena tidak bisa mendampingi Ella saat Ella sedang kesakitan dan membutuhkannya. Padahal Ella, akan selalu ada untuknya saat dia sedang sedih, marah, kecewa. Ella sudah seperti rumah untuk Kavin pulang berkeluh-kesah.


"Ku mohon aku mohonn" harapnya


Hingga


"Kamu kenapa??" kata serak Ella yang mengejutkan Kavin


"Kamu??" kejut Kavin tidak percaya


"Minum" kata Ella menatap Kavin sendu


"Bentar" kata Kavin buru-buru mengambilkan air minum untuk Ella


"Hati-hati" kata Kavin membantu Ella untuk minum


"Thank you" kata Ella tersenyum manis


"Kamu kenapa??" tanyanya sekali lagi sambil menghapus bekas air mata di pipi Kavin


"Aku takut kamu ninggalin aku" lirih kavin


"Tapi syukurlah, sekarang kamu udah sadar" kata Kavin lega


"Terimakasih" katanya memeluk Ella erat tapi tidak sampai menyakitinya


"Terimakasih sudah kembali" bisik Kavin penuh syukur


Flashback end


...----------------...


3 jam setelah Ella sadar, Dokter Wisnu dan Dokter Caca segera berangkat bersama Ella ke Singapura menggunakan pesawat pribadi mereka. Mereka tidak ingin mengambil resiko jika harus menunggu lebih lama lagi.


Dan akhirnya disinilah Ella sekarang, Rumah sakit keluarga Dokter Caca. Kebetulan Dokter Caca juga sedang ada urusan di sini bersama tunangannya. Jadi, Ella tidak terlalu sungkan karena sudah merepotkan mereka berdua.


Padahal menurut Dokter Caca dan Dokter Wisnu, Ella sama sekali tidak merepotkan mereka berdua. Karena Ella sudah seperti putri di keluarga mereka. Apalagi keluarga dokter Wisnu yang tidak memiliki anak perempuan.


"Setelah infusnya habis kita bisa pulang" kata dokter Caca menatap Ella dengan sayang


"Dokter sekali lagi terimakasih untuk segala hal yang sudah kalian lakukan untuk Ella"


"Ella sangat bersyukur bisa bertemu orang-orang baik seperti kalian" kata Ella menahan tangis mengingat semua kebaikan mereka.


"Lucukan, Ella orang asing untuk kalian tapi rasanya seperti keluarga sendiri, sedangkan keluarga Ella malah memperlakukan Ella seperti orang asing" kata Ella tersenyum miris mengingat keluarga besarnya


"Kamu ngomong apa sih" ketus dokter Caca


"Udah jangan mikir yang aneh-aneh"


"Lebih baik kamu makan" katanya memberikan salad untuk Ella.


"Dokter tau aja, kalau Ella lagi laper" kata Ella semangat memakan saladnya


"Kamu kan gitu, yang dipikirin cuma makanan" ejek dokter Caca


"Dokter kalau ngomong suka bener" cengir Ella


"Udah makan dulu" kata dokter Caca duduk di kursi samping ranjang Ella


...----------------...


...follow Instagram : ...


...@quella.ved...