ELLAINE'S SECRET

ELLAINE'S SECRET
Ellaine's Secret Kesepian



"Ella" panggil dokter Caca


"Iya?" sahut Ella menoleh kearah dokter Caca


"Dokter boleh tanya sesuatu?" tanya dokter Caca ragu


"Boleh" jawab Ella menganggukkan kepalanya


"Tanya apa?" tanyanya


"Kenapa kamu menyembunyikan banyak hal dari orang lain?" tanya dokter Caca mengejutkan Ella yang sedang asik makan


"Yang dokter maksud adalah"


"Kamu punya banyak teman dan sahabat, yang sangat mendukung kamu"


"Kamu juga punya keluarga yang sangat amat menyayangi kamu"


"Ditambah kamu juga punya tunangan, yang meskipun hanya sekali lihat saja tapi dokter yakin dia juga sangat mencintai kamu" jelas Dokter Caca yang tidak habis pikir bagaimana Ella bisa menyembunyikan banyak hal dari orang-orang yang disayanginya


"Dokter tau kamu bukan orang yang egois. Kamu adalah orang yang paling nggak bisa lihat orang yang kamu sayangi menderita terlebih menderita karena kamu" katanya


"Kamu juga bukan tipe anak yang suka menyembunyikan rahasia dari keluarga"


"so, kenapa El?" tanyanya


"Ternyata dokter menyadarinya" kata Ella tersenyum kecut


"Ha?" tanya dokter Caca tak paham


"Enggak, aku cuma bilang ternyata dokter menyadari bahwa aku punya alasan kenapa harus menyembunyikannya" jawab Ella


"Kadang dokter Caca berpikir, tidak ingin merepotkan mereka dengan memberi tau semua masalah mu adalah alasan yang kamu buat untuk menutupi alasan yang sebenarnya" kata dokter Caca


"Gitu ya dok" kata Ella


"Sebenarnya"


"Yang dokter katakan itu sebagian benar" jawab Ella jujur


"Benar, aku memang tidak ingin merepotkan mereka dengan memberi tau semua masalah yang aku punya. Tapi perkataan dokter tadi juga ada benarnya" kata Ella semakin membingungkan dokter Caca


"Hidupku yang sekarang ini berbeda jauh dari aku yang dulu dokter" kata Ella menerawang jauh


"Dulu nggak ada yang benar-benar ada untuk aku"


"Dokter pasti udah tau tentang masalah keluarga ku" katanya tersenyum sedih ke arah dokter Caca


"Masa lalu kelam yang sangat membekas dalam hidupku. Masa lalu yang tidak akan pernah aku lupakan, bahkan sampai nanti aku meninggal. Bukannya aku dendam dengan menolak untuk melupakannya, tapi aku kecewa"


"Aku nggak pernah menyalahkan siapapun atas apa yang terjadi dulu. Karena aku tau mami adalah orang yang paling tersakiti"


"Hanya saja, sedetik saja aku ingin mereka juga bisa memahami perasaan ku saat itu. Perasaan anak umur 10 tahun yang harus melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat di usianya yang masih muda"


"Aku ingin mereka ada disaat aku ketakutan dan membutuhkan pelukan. Tapi nyatanya mereka malah sibuk saling menyalahkan tanpa peduli dengan perasaanku. Aku benar-benar tidak punya teman untuk berkeluh-kesah" kata Ella miris mengingat masa-masa dulu


"Keluargaku yang dulu tidak seperti sekarang yang dokter lihat. Mereka dulu hanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Tanpa mau tau apa yang sedang aku lakukan. Mami memang selalu sibuk sampai sekarang, tapi dulu bahkan bertemu denganku saja hanya sebulan sekali" katanya sambil menghapus air mata yang tiba-tiba jatuh dipipinya


"Dokter tau bagaimana kesepiannya aku saat itu? Bagaimana hancurnya aku setiap kali mendengar mereka saling menyalahkan? Bagaimana takutnya aku saat mereka saling mencaci didepanku? Aku kesepian, hatiku hancur, aku ketakutan. Tapi mereka tidak pernah tau itu"


"Aku tidak ingin menambah beban mami, aku hanya bisa menahan semuanya sendirian"


"Mungkin karena itu aku terbiasa menahan semuanya sendirian" kata Ella dengan tatapan yang mampu menyayat hati dokter Caca.


"Hehehehe, maaf ya dok. Aku jadi nangis" kata Ella terus mengusap air matanya yang tidak bisa berhenti


"Nggak papa. Dokter yang harusnya minta maaf, karna udah bikin little Fairy nangis" kata Dokter Caca menyesal


"Dokter nggak salah, ini pilihanku buat cerita semuanya sama dokter. Lagian aku juga udah anggap dokter seperti kakak perempuan buatku" kata Ella


Ella tidak sedih karena pertanyaan dari Dokter Caca, tapi dia kecewa jika mengingat masa-masa dulu. Masa dimana dia hanya dituntun menjadi yang terbaik tanpa mau melihat bagaimana perjuangannya untuk mencapainya. Keluarga yang saling menyalahkan, tanpa tau bagaimana perasaannya yang harus berada ditengah-tengah perselisihan. Mereka saling mencaci didepan Ella, tanpa tau bahwa mental Ella saat itu terganggu.


Jika bisa Ella ingin menghentikan mereka dan berteriak bahwa dia sangat ketakutan, tapi sebagai anak usia 10 tahun dia tidak bisa apa-apa.


"Tapi kamu punya teman dan sahabat kan?" tanya dokter Caca


"Iya, aku memang punya banyak teman dan sahabat. Tapi mereka tidak pernah ada saat aku membutuhkan mereka" jawab Ella setuju


"Kenapa? Dari yang dokter lihat sahabat kamu sangat menyayangi kamu. Terutama Rena dan Anya" kata dokter Caca bingung


"Entahlah, yang aku rasa seperti itu" kata Ella menolak untuk memberi penjelasan


...----------------...


Flashback


Saat itu hujan turun dengan deras, Ella baru saja mendengar mami dan keluarga besar papa tirinya sedang berdebat hebat. Entah apa yang mereka ributkan, sekilas Ella hanya mendengar mereka ribut karena alasan pernikahan kedua mami Ella hancur adalah Tanisha yang lebih memilih Ella daripada suami barunya.


Hati Ella hancur karena merasa menjadi penyebab dari perceraian maminya. Dengan hati dan pikiran yang kacau Ella menelpon Anya dan rena untuk sekedar bertemu dengan mereka dan sedikit menenangkan pikirannya. Tapi bukannya setuju, mereka berdua malah menolak permintaan Ella dengan alasan sedang ada urusan keluarga.


"Sorry, ya El gue mau ke Bandung sama nyokap" tolak Rena


"Aduh, El gue ada di Surabaya. Sepupu gue abis ngelahirin" tolak Anya


Seminggu setelah itu, Ella tau mereka bukannya ada acara keluarga tapi sedang ada acara pesta di rumah Kavin, yang notabennya pacar Ella waktu itu.


Ella tau saat tidak sengaja melihat foto mereka dan teman-teman Kavin di galeri hp Kavin.


Kavin tidak mengajaknya karena saat itu Kavin mengajak gebetan barunya. Dan Rena dan Anya juga tidak bisa jujur dengannya


Bisa bayangkan bagaimana kecewanya Ella, Ella kecewa dengan mereka. Bukan sekali dua kali mereka melakukan ini dengan dirinya. Padahal Ella selalu ada untuk mereka. Terutama untuk Anya dan Rena, tapi mereka selalu seperti ini dengan dirinya.


...----------------...


Sejak kejadian itu, Ella semakin jarang memberi tahu sahabat-sahabatnya tentang apa yang sedang dia hadapi. Ella juga semakin tertutup dan tidak percaya dengan siapapun.


Ella memang punya lingkaran pertemanan yang luas, tapi Ella tidak bisa benar-benar percaya dengan mereka. Hanya Raka yang Ella percaya. Tapi Ella juga tidak bisa merepotkan Raka dengan semua masalahnya, karena dia tau Raka juga pasti punya masalahnya sendiri.


"Aku tidak ingin sahabat ku kecewa, tapi mereka malah mengecewakan ku" ujar Ella miris


"Kavin?" tanya Dokter Caca mengalihkan pembicaraan


"Dia laki-laki yang baik. Dia yang menarik aku saat aku jatuh dan tenggelam dalam kegelapan" jawab Ella tersenyum


"Kenapa tidak cerita dengan Kavin? Kalian bertunangan kan?" tanya Dokter Caca lagi


"Ada yang tidak bisa berubah hanya karena status. Bukankah begitu?" tanya Ella balik


"Lalu kenapa kamu mau cerita sama dokter?" tanya Dokter Caca penasaran


"Karena aku percaya dengan dokter"


"Dan aku harap dokter akan selalu seperti ini" kata Ella dengan senyuman manis


"Dokter, Ella ngantuk. Bangunin Ella saat akan pulang" kata Ella lalu menutup matanya


"Berapa banyak yang kamu lalui El" kata Dokter Caca mengelus rambut sebahu Ella


"Hingga kamu tidak bisa percaya dengan orang lain"


"Hatiku sakit melihat kamu seperti tadi"


...----------------...