
"Sudah lebih baik?" tanya Dokter pada Ella yang baru mau keluar dari kamarnya setelah dibujuk oleh Tunangannya
Ella hanya diam saja dan duduk disampingnya. Melihat gelagat Ella, Dokter Wisnu menoleh kearah tunangannya, Dokter Caca yang paham dengan kode dokter Wisnu hanya menggelengkan kepalanya tidak berdaya.
"Hai, kamu kenapa?" tanya Dokter Wisnu lembut mengusap rambut Ella
"Maaf" lirih Ella menundukkan kepalanya
"Maafin Ella, maaf udah buat kalian khawatir dan sedih" lirihnya masih setia menunduk melihat kebawah
"Nggak usah minta maaf dokter paham apa yang kamu rasakan" kata Dokter Wisnu lembut
"Jangan sedih. Jika Kavin tidak memperdulikan kamu lagi, maka kami yang akan menjagamu" katanya membawa Ella kedalam pelukannya dan sesekali mengecup kening Ella berharap dengan begitu Ella akan sedikit melupakan kesedihannya.
Dokter Caca tersenyum sendu melihat tunangannya memeluk Ella.
Jika ditanya apakah dia cemburu? TIDAK! ini jawaban tegas yang akan di berikan secara cepat. Dia tidak pernah sedikitpun cemburu dengan Wisnu yang begitu menyayangi dan menjaga Ella. Karna dirinya juga sama seperti Wisnu sangat menyayangi gadis kecil ini.
Dari awal Caca menganggap Ella seperti adik kandungnya sendiri, adik yang harus dia jaga dan cintai.
Apalagi dia pernah kehilangan seorang adik perempuan.
Dulu Dokter Caca mempunyai seorang adik perempuan yang sangat cantik dan manis. Dia sangat menyayangi adik kecilnya itu, adiknya bagaikan peri kecil dalam hatinya. Mereka selalu bermain bersama. Dokter Caca tidak pernah meninggalkan adiknya sendirian. Dia adalah dunia bagi Dokter Caca. Sayangnya, Tuhan lebih menyayanginya adiknya harus pergi karna penyakit kanker.
Disaat itulah dunianya mulai berubah, tidak ada lagi adik yang selalu mengekorinya kemanapun, adik yang selalu bermanja-manja dengannya, dan juga adik yang selalu tersenyum bahkan saat dia memarahinya. Ia merasakan fase hidup terberat dalam hidupnya. Ia merasa bersalah tidak bisa menjaga adiknya dengan baik. Hidupnya seperti diliputi oleh perasaan bersalah yang tidak berkesudahan.
Hingga Ella hadir dalam kehidupannya, gadis manis yang selalu tersenyum hangat kepada siapapun yang dijumpainya. Dokter Wisnu, tunangannya. Mengenalkan dia pada gadis pemilik senyuman terindah yang pernah dia lihat itu pada saat ia berkunjung untuk menemuinya di Rumah Sakit.
Dan siapa sangka dia langsung jatuh cinta saat melihat gadis ini. Gadis ini mengingatkannya akan adik kecilnya. Apalagi saat dia tau mereka sama-sama menderita kanker.
"Halo dokter cantik" sapa Ella dengan senyuman manisnya kala itu
"Dokter cantik deh, angkat aku jadi adikmu. Ella menyukaimu"
"Kamu bilang apa?" tanya Dokter Caca bingung
"Kata dokter Wisnu, dokter punya adik juga?" tanya Ella dengan tatapan polosnya
"Iya, tapi sayangnya Tuhan lebih menyayanginya" jawab dokter Caca sendu
"Tak apa dokter jangan sedih. Ella akan menemani Dokter, seperti adik dokter menemani dokter. Kami memang tidak sama tapi kami sama-sama menyayangimu" kata Ella senang
"Jadi, anggap Ella menjadi adik Dokter" katanya tersenyum manis
Sekelibat ingatan Caca kembali pada saat ia bertemu dengan Ella pertama kalinya, lucu memang jika diingat. Tapi yang tau ternyata gadis manis itu akan benar-benar menjadi adik kesayangannya.
Ella adalah peri kecil untuknya, dan dia benar-benar akan menjaga adiknya dengan baik dan juga sepenuh hati.
"Kamu kenapa cuma berdiri? Ayo duduk" ajak Dokter Wisnu melihat Caca yang hanya tersenyum manis kearahnya dan Ella
"Iya, dokter cantik. Ayo kesini" ajak Ella antusias. Rupanya dia juga sudah sedikit melupakan tenang kesedihannya
"Baiklah-baiklah" kata Dokter Caca duduk disamping Ella
"Dokter senang melihat kamu tersenyum lagi" kata dokter Caca membenarkan poni Ella
"Ella juga" kata Ella memeluk Dokter Caca dari samping
"Terimakasih, Kakak" bisiknya pelan pada telinga Caca
Deg
Dokter Caca terkejut mendengar panggilan Ella kepadanya.
KAKAK? Yah, Kakak. Ini baru pertama kali mendengar Ella memanggilnya begitu, selama ini ia selalu berharap Ella mau memanggilnya Kakak bukan dokter. Tapi dia juga tidak enak jika harus memaksa Ella untuk itu.
Namun, sekarang Ella sendiri yang memanggilnya kakak. Bolehkah ia menangis bahagia sekarang? dia benar-benar bahagia, ia seperti menemukan dunianya yang sempat hilang.
...----------------...
"El, kamu tau kan 1 bulan lagi Ujian Nasional?" tanya dokter wisnu lembut
"Iya" kata Ella menganggukkan kepalanya
"Kamu mau pulang ke Jakarta untuk sementara?" tawar dokter Wisnu
"Atau kamu mau mengikuti ujian disini?" tanyanya mengingat Ella yang sedang dalam kondisi sedih karna Kavin
Sebenarnya ini hal yang sulit dilakukan, tapi Dokter Wisnu bisa mengusahakannya jika memang itu kemauan Ella. Ia hanya ingin membuat Ella bahagia tanpa merasa terbebani oleh apapun itu.
"Kamu yakin? Emang kamu nggak kangen sama temen-temen kamu?" tanya Dokter Caca lembut
"Kita tidak pernah tau kapan kamu bisa benar-benar pulang ke Jakarta. Tapi ini bisa menjadi kesempatan buat kamu ketemu sama temen-temen kamu di sana" nasehatnya
"Meskipun cuma 1 Minggu" tambahnya
"Tapi itu juga terserah kamu" kata Dokter Wisnu
"Kami cuma pingin kamu bahagia" katanya diangguki setuju oleh tunangan
"Pikirkan dulu baik-baik, tapi yang pasti tidak baik menghindar dari masalah" kata Dokter Wisnu menepuk pundak Ella
"Iya, nanti Ella akan pikirkan" kata Ella lirih
...----------------...
Keesokan harinya,
"OMG!! Ella gue kangen banget sama Lo" kata Rena dan Anya yang terlihat antusias dari layar laptop Ella.
Memang setelah berpikir hampir semalaman Ella akhirnya memutuskan untuk mengabari kedua sahabatnya bahwa dia tidak bisa mengikuti ujian Nasional di Jakarta. Bukannya ingin menghindar dari Kavin. Tapi, hatinya juga butuh waktu untuk sembuh setelah kepercayaannya dirusak sedemikan rupa oleh orang yang sangat dia sayangi.
"Hai,, aku juga kangen" kata Ella melambaikan tangannya kearah mereka
"Kapan balik? Kita kangen" keluh Anya mengerucutkan bibirnya sedih
"Gue juga kangen sama kalian" kata Ella sendu
"Lo tau nggak, nggak ada Lo kelas sepi nggak ada yang ngelawak lagi, kita kesepian nggak ada yang ngajak bolos kantin, apalagi selir-selir Kavin sekarang makin merajalela karna nggak ada Lo" kata Anya menggebu-gebu
"Dan yang paling bikin gue kesel, adik caper Kavin itu" katanya
"Adik caper?" tanya Ella bingung
'apa mungkin dia yang kemarin jadi alasan Kavin pulang cepet-cepet' batin Ella menduga
"Iya adek caper, kalau nggak salah namanya Diana" kata Anya mengingat-ingat
"Darah tinggi gue tiap hari ngelihat dia kayak lintah nempel muluh sama Kavin" adunya
'ternyata benar' batin Ella sedih
"Kavin juga gitu, br*ngs*k banget jadi cowok nggak ingat punya pacar. Malah asik-asikan bareng adeknya yang caper itu" cerocos Anya tanpa henti
"Ap-" ucapan Anya berhenti saat Rena yang sedari tadi diam menyenggol lengannya menyuruhnya untuk berhenti berbicara dan melihat kearah Ella yang seperti sedang memikirkan sesuatu
"Ella" panggil Rena lembut, Ella melihat kearah Rena karna memanggil namanya
"Lo nggak papa?" tanya Rena
"Nggak papa" jawab Ella memaksakan senyumannya
"Gue hampir lupa, gue mau bilang gue nggak bisa pulang ke Jakarta buat Ujian Nasional" katanya to the points
"Loh?!" kata kedua sahabatnya syok
"Kenapa?" tanya mereka sedih
"Dokter Wisnu bilang gue harus lebih banyak fokus sama kesehatan"
"Jadi, dia ngusulin buat gue ikut UN di Singapura aja" kata Ella memberikan alasan
"Yah, padahal kita pingin ketemu sama Lo" kata Anya sedih
"Tapi, apa boleh buat ini buat kesehatan Lo" kata Rena juga
"Kita pasti dukung apapun yang Lo lakuin yang penting Lo selalu sehat" tambahnya memaksakan senyumannya
"Makasih karna kalian udah mau ngerti, yaudah yah. Gue mau siap-siap dulu" pamit Ella
"Iya, Bye Ella" kata mereka melambaikan tangannya
"Bye" kata Ella melambaikan tangannya kearah layar laptop juga lalu mematikan sambungan telepon via video mereka
"Maafin aku, aku terlalu pengecut" gumam Ella sedih
...----------------...