ELLAINE'S SECRET

ELLAINE'S SECRET
Ellaine's Secret



"Bang Kavin lihat sendiri, Kak El sudah bahagia dengan laki-laki pilihannya" kata Diana menahan pergelangan tangan Kavin saat melewatinya.


"Jadi aku mohon berhenti. Berhenti mengejar kak El, berhenti berharap kepadanya" katanya menatap Kavin dengan sendu


"Aku mohon" pintanya dengan memelas


Kavin hanya menatapnya tanpa minat dan melepaskan tangannya dengan kasar.


"Lepas" ketusnya. Diana terkekeh miris menatap tangannya yang dihempaskan begitu saja.


"Sekali saja, sekali saja lihat aku disini. Lihat semua perjuanganku yang bertahun-tahun mendampingi Bang Kavin" kata Diana lelah


"Aku tidak mencintaimu, selamanya tidak akan pernah" tekan Kavin semakin menyakiti hati Diana


"Aku hanya mencintai Ella, hanya Ella. Bukan kamu"


"Kenapa? Kenapa selalu kak El?" tanya Diana dengan rasa sesak dihatinya.


Bertahun-tahun perjuangannya mendampingi Kavin seakan sia-sia.


"Selama ini aku yang ada di samping Bang Kavin"


"Aku yang menemani kamu, aku yang merawat kamu saat sakit"


"Aku yang ada disaat bang Kavin terpuruk"


"Aku!! itu aku bukan Kak El"


"Tapi kenapa hanya ada kak El saja dalam hati bang Kavin" Isak Diana tidak terima


"Apa hebatnya wanita itu daripada aku!! Apa istimewanya dia!!"


"Dia hanya wanita penyakitan!! Wanita menyusahkan!!" teriaknya


Kavin yang tak terima kekasih hatinya di hina. Dengan langkah lebar menuju Diana. Mencengkeram erat kedua bahu Diana sampai memerah.


"istt.. sakit.." keluh Diana berusaha melepaskan tangan Kavin


"Kenapa, kamu masih tanya kenapa" sinis Kavin mengencangkan cengkeramannya.


"Jangan lupa kalau ini semua terjadi karena kamu"


"Kalau dari awal kamu tidak hadir dalam hubunganku dan Ella. Semua ini tidak akan terjadi"


"Karenamu dan kakakmu yang tidak tau diri itu aku harus kehilangan cintaku, cahayaku"


"Dan sekarang mulut busukmu itu dengan berani menghinanya" amuk Kavin dengan wajah memerah menahan amarahnya.


"Bagiku dirimu tidak ada 1% pun dibandingkan dengan Ella. Hanya namamu saja tidak bisa disandingkan dengan nama Ella. Terlalu jauh, jauh dibawah Ella. Sampah sepertimu tidak akan bisa sejajar dengan berlian seperti Ella" hina Kavin semakin membuat wajah Diana pucat.


"Ini peringatan pertama dan terakhir dariku"


"Jangan pernah macam-macam dengan Ella atau kau dan kakakmu itu akan berurusan dengan ku. INGAT ITU!!" ancam Kavin lalu pergi meninggalkan Diana yang masih terpaku.


Baru kali ini Diana melihat Kavin marah, bahkan selama ini meskipun Kavin kesal dengannya. Kavin tidak akan berani mengatakan hal seperti itu. Bagi Kavin, menyakiti hati perempuan lain sama seperti menyakiti hati ibunya.


"Ck"


"Gimana rasanya diabaikan oleh orang yang Lo cintai"


"Sakit? Hancur? Kecewa? Sedih? Atau patah hati?" kata Lana mengejek Diana


Lana memang sedari tadi melihat bahkan mendengar pembicaraan Kavin dan Diana. Awalnya Lana merasa kasihan dengan Diana, karna bagaimanapun juga Diana adalah korban dari perhatian Kavin.


Jika dari awal Kavin tidak memberikan harapan dan perhatian pada Diana, Diana juga tidak akan terlalu banyak berharap kepada Kavin.


Namun rasa kasihan nya musnah seketika saat mendengar Diana menghina Ella, teman seperjuangan dulu.


"Ini nggak ada hubungannya sama kakak"


"Kakak nggak usah ikut campur" kata Diana ketus


"Oh jelas ada hubungannya. Karena Ella dan Raka temen gue" kata Lana senang


"Kak aku disini juga korban" lirih Diana dengan wajah memelasnya


"Aku nggak ada niatan mengganggu Kak El dan tunangannya. Aku cuma mau kak El menjauh dari bang Kavin"


"Berhenti deketin bang Kavin"


"Kita sama-sama perempuan kak. Kakak pasti tau rasanya jadi aku yang perjuangannya tidak pernah dihargai" kata Diana dengan sedih


"Coba bayangin kalau kakak ada diposisi aku. Kakak juga pasti akan sedih"


"Iyakan?" tanya Diana dengan muka memelas


"Salah, jelas salah" tolak Lana


"Karena gue nggak mungkin ada diposisi Lo"


"PEREBUT TUNANGAN ORANG" tekannya


"Harga diri gue masih terlalu tinggi buat ngelakuin hal rendahan kayak gitu"


"Perempuan yang merebut kebahagiaan perempuan lain hanya demi kebahagiaannya sendiri. Itu sama aja kayak perempuan yang nggak punya harga diri" sinis Lana menyudutkan Diana dengan perkataannya.


Deg


Tidak punya harga diri,


Harga diri,


Harga diri,


Tidak punya?


Tidak ia punya harga diri.


Hanya saja dirinya terlalu mencintai Bang Kavin. Hingga menghalalkan segala cara untuk merebut Bang Kavin dari Kak El yang saat itu adalah tunangan bang Kavin.


"Tapi aku cinta sama Bang Kavin? Salah kalau aku cinta sama bang Kavin? Salah kalau aku memperjuangkan cintaku?" lirih Diana mendongakkan kepalanya menatap Lana dengan penuh air mata.


Lana sedikit terhenyak menatap Diana yang sudah berderai air mata. Memikirkan perkataannya yang mungkin sudah kelewat kasar kepada Diana.


' Nggak, ini emang waktu yang tepat untuk menyadarkan ulet bulu kecil ini. Ingat Lana yang dialami Ella lebih buruk dari perkataan Lo ke ulet bulu kecil ini ' batin Lana


"Emang nggak ada yang salah sama cinta" kata Lana setelah menguatkan hatinya


"Kita juga nggak pernah tau kepada siapa kita jatuh cinta"


"Tapi yang salah itu kalau cinta kita justru akan menyakiti orang lain"


"Jangan lupa, Na. Bukan cuma Ella yang sakit saat itu. Banyak hati yang sakit dan kecewa karena kelakuan Lo dulu" kata Lana dengan suara yang mulai melembut


"Mami Ella pasti pada saat itu sedih dan kecewa dengan Kavin yang menyakiti putrinya, tidak hanya mami Ella tapi begitu juga keluarga besar Ella. Lo tau sendirikan, Ella itu permata keluarganya"


"Belum lagi keluarga Kavin yang juga kecewa karna harus melepaskan perempuan hebat seperti Ella hanya karna putranya yang br*ngs*k"


"Jangan cuma merasa tersakiti hanya karna Kavin yang tidak pernah melirik perjuangan Lo. Tapi coba lihat berapa banyak yang udah lo sakitin dulu"


"Gue ngomong gini bukan karna benci sama lo, yah meskipun kesel dikit" kata Lana terkekeh sedikit diakhir kalimatnya


"Tapi karna gue juga peduli sama Lo" kata Lana mengelus pelan bahu Diana yang tadi memerah karna cengkeraman Kavin


"Karma itu berlaku"


"Jangan-jangan semua yang Lo rasain saat ini, karma dari kelakuan Lo dulu" tepuk Lana pada bahu Diana lalu memeluknya singkat dan membisikkan sesuatu di telinga Diana.


"Jadi hati-hati" katanya tersenyum miring lalu meninggalkan Diana yang masih diam dengan pikiran yang bercabang kemana-mana. Terutama tentang kakak kelasnya itu Lana.


"Jadi Kak Lana itu baik atau enggak" bisik Diana pelan


...----------------...