ELLAINE'S SECRET

ELLAINE'S SECRET
Ellaine's Secret Permintaan Ella



Di taman hotel,


Ella dan Kavin sedang duduk di salah satu bangku taman. Ella terlihat menyenderkan kepalanya di pundak Kavin, sedangkan Kavin menggenggam tangan Ella.


"Aku seneng banget bisa ketemu kamu" bisik Kavin setelah keduanya sama-sama saling diam, menikmati waktu yang mungkin tidak akan bisa mereka nikmati lagi.


"Aku juga seneng bisa ketemu kamu" balas Ella mendongak menatap Kavin.


Menatap Kavin dengan tatapan penuh ketulusan. Sejenak pandangan Kavin seakan terkunci dengan tatapan Ella. Entah mengapa dia merasa sangat bersalah dan menyesal melihat tatapan itu.


Ia seakan telah melakukan kesalahan fatal terhadap tunangan yang dicintainya itu. Tapi ia tidak tau kesalahan apa yang diperbuatnya.


Cup


"Miss you" kata Ella mengecup singkat pipi Kavin


Merasakan kecupan manis dipipinya, Kavin tersenyum manis dan balik mencium kening Ella lama.


Cup


"Miss you more" bisik Kavin memeluk Ella erat.


Begitu erat seakan Kavin takut akan kehilangan Ella jika melepaskan pelukannya.


Tanda Kavin sadar Ella sedari tadi sedang menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya.


"Kav" kata Ella melepaskan pelukannya


"Hm" Gumam Kavin membenarkan rambut Ella yang sedikit berantakan


"Aku punya permintaan" kata Ella menundukkan kepalanya karena sedikit ragu dengan permintaannya sendiri


"Kamu mau apa?" tanya Kavin yang masih fokus dengan rambut Ella


"Kamu bakal kabulin permintaan aku?" tanya Ella menatap wajah tampan Kavin


"Tentu" jawab Kavin yakin


"Kalau gitu.." kata Ella mengambil tangan Kavin dari rambutnya dan menggenggamnya


"Aku minta sama kamu tolong kamu jauhi Diana" katanya menatap mata Kavin


"Maksudnya?" tanya Kavin tidak paham


"Aku mau kamu jauhi dia. Aku nggak suka dia" jawab Ella memperjelas


Kavin yang masih sedikit tidak paham dengan maksud Ella. Hanya bisa menatap Ella bingung, sementara pikirannya trus menebak-nebak maksud Ella.


Hingga pikirannya tertuju dengan satu hal.


"Kamu cemburu?" tanya Kavin mengelus pipi Ella yang mulai memucat karena kedinginan


"Anggap saja jawabku iya. Aku cemburu. Jadi aku mau kamu jauhi Diana" jawab Ella menyentuh tangan Kavin dipipinya


"El, berapa kali aku bilang. Aku cuma mengaggap Diana sebagai adik, kayak Aya"


"Aku sama sekali nggak punya perasaan apa-apa sama dia" kata Kavin tegas


"Kamu memang nggak punya perasaan apa-apa sama dia. Tapi bagaimana dengan Diana?" kata Ella balik bertanya


"Diana cuma menganggap aku sebagai abangnya" jawab Kavin lembut


"Dia sendiri yang bilang itu sama aku"


"Kav, nggak ada yang tau isi hati manusia. Bisa aja dia bilang enggak, padahal hatinya iya" kata Ella membantah dengan tegas


"Aku juga perempuan, aku pernah merasakan jatuh cinta dan mencintai" kata Ella mulai melembutkan suaranya


"Hanya dengan sekali lirik saja aku tau dia punya perasaan lebih sama kamu" katanya


"Kavin selama ini aku nggak pernah minta apa-apa sama kamu" kata Ella melihat Kavin yang hanya diam


"Aku cuma minta kamu jauhi Diana"


"Aku nggak minta kamu bertindak seperti orang asing saat ketemu dia. Cukup kalian jaga jarak dan jangan memberi perhatian lebih yang membuat Diana semakin suka sama kamu" kata Ella


"Aku tau, permintaan ku ini kekanak-kanakan dan terdengar egois buat kamu" kata Ella dengan mata berkaca-kaca


"Tapi aku bener-bener takut kehilangan kamu. Apalagi saat ini kita jarang bersama"


"Aku takut kamu akan berpaling dari aku lalu pergi dengan orang lain" kata Ella menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan air matanya


"Jadi, ijinkan aku untuk egois kali ini" kata Ella sendu


Hening,


Ella hanya diam menundukkan kepalanya sembari sesekali menghapus air matanya. Sedangkan Kavin juga hanya diam menatap langit malam yang sunyi.


"Huft"


"Aku akan jauhi Diana" kata Kavin setelah lama saling diam


"Apa?" tanya Ella mendongak menatap Kavin


"Aku akan jauhi Diana" kata Kavin lagi


"Aku nggak mau cuma karena perempuan lain yang baru datang di hidupku. Aku jadi nyakitin kamu"


"Jadi, aku akan nurutin permintaan kamu"


"Mulai sekarang aku akan menjaga jarak dengan Diana. Dan berlaku sewajarnya seperti seorang kakak kelas dan adik kelas" kata Kavin memperjelas


"Aku minta maaf"


"Maaf kalau selama ini, aku sering nggak sengaja nyakitin perasaan kamu" kata Kavin lembut


"Aku janji, aku akan jauhi Diana. Dan kalaupun kita mau ketemu, aku pasti akan bilang dulu sama kamu" kata Kavin


"Janji?" tanya Ella mengulurkan jari kelingkingnya


"Janji" kata Kavin menautkan jari kelingking mereka lalu saling tersenyum manis


"Ayo pulang" kata Kavin membuka jasnya lalu memakainya di pundak Ella


"Dingin" katanya lembut lalu mengandeng tangan Ella untuk pergi dari sana.


...----------------...


Parkiran,


"Bang Kavin" teriak Diana lalu berlari kearah Kavin dan Ella


"Bang Kavin kemana aja" katanya melepaskan rangkulan Kavin di pundak Ella lalu bergelayut manja di lengan Kavin


Ella yang tersingkir hanya berjalan santai kearah Rena dan Anya.


"Maaf, lama yah?" tanya Ella pada kedua sahabatnya


"Malahan gue mau Lo nggak usah pulang sekalian"


"Nginep aja di sini"


"Biar kapok tuh ulat bulu" kata Anya menatap sinis kearah Diana yang tidak tau malu itu


"Murahan" cibir Rena juga


"Lo nggak papa?" tanya Rena pada Ella. Khawatir sahabatnya ini akan tersakiti karna kehadiran ulat bulu satu itu.


"Gue?" tanya Ella balik yang dibalas anggukan dari kedua sahabatnya


"Gue baik-baik aja" kata Ella santai. Sebenarnya ia bisa saja menendang gadis tidak tau malu ini. Tapi, ia urungkan karena ingin melihat reaksi Kavin. Tunangannya itu sudah berjanji padanya kan.


"Lepas" kata Kavin datar menarik tangannya


Mereka semua tercengang seketika melihat wajah datar dan suara dingin Kavin, padahal biasanya Kavin akan berbicara lembut dan manis pada gadis itu. Bahkan Diana juga tidak bisa mempercayai pendengaran sendiri.


"Bang Kavin ngomong apa sih" kata Diana tegang


"Abang pasti capek kan. Kita pulang yuk sekarang" katanya berusaha menyentuh tangan Kavin lagi


"Kak El, ayo pulang"


"Aku sama bang Kavin akan nganterin kak El sampai rumah" kata Diana santai seakan membuktikan bahwa dirinya dengan baik hati ingin mengantarkan Ella padahal aslinya ia sedang mengejek Ella.


Rena dan Anya yang sudah kepalang marah dari tadi ingin maju dan memukul kepala Diana yang sepertinya bermasalah itu.


"Bener-bener nggak tau malu" kata Anya geram


"Ulat bulu itu makin menjadi-jadi" kata Rena juga


"El, pliss ijinin kita kali ini aja buat mukul kepalanya itu" kata Rena memelas


"Siapa tau dengan kita pukul, dia lebih tau diri lagi" kata Anya setuju


"Apaan sih kalian" kata Ella terkekeh kecil merasa lucu dengan tindakan kedua sahabat


"Nggak usah diladenin masih bocah juga" katanya santai


"Gue emang mau pulang" kata Kavin datar


"Tapi bukan sama Lo" katanya berjalan melewati Diana


"Ayo kita pulang" kata Kavin lembut menarik tangan Ella lalu membukakan pintu depan untuk Ella dan menutupnya


"Gue duluan yah" pamit Kavin pada sahabat-sahabatnya yang masih tercengang dengan perubahan sikap Kavin yang mendadak


"Lo naik taksi aja. Tadi gue udah manggil taksi buat Lo. Mungkin 5 menit lagi" kata Kavin lalu masuk kedalam mobilnya tanpa menghiraukan protes Diana


"Bang Kavin nggak bisa kayak gini sana Diana"


"Mentang-mentang Kak El balik, bang Kavin cuekin Diana" teriak Diana


Tapi Kavin tidak menghiraukannya dan pergi dari kawasan sekolah bersama Ella.


"Duh kasihannya" ejek Anya setelah mobil Kavin melewati pergi


"Emang yah, yang selamanya selir akan selalu kalah dengan permaisuri"


"Buktinya aja waktu Ella kembali, Kavin langsung campakin Lo" sinis Rena


"Lo tau apa itu artinya"


"Artinya karna Lo nggak penting buat Kavin. Berbeda dengan Ella yang notabennya tunangan Kavin" ejek Anya lalu pergi meninggalkan Diana yang sedang menahan amarahnya.


"Bye, selamat menunggu taksi" kata Rena lalu pergi bersama Anya, Rei dan Addi.


...----------------...


...Next...