
Ini pertama kalinya Raka berbicara sepanjang itu selama hidupnya. jika Ersya dan Jeno tau mereka pasti tercengang saat ini.
"Raka" lirih Tanisha sendu
...----------------...
Sebagai seorang ibu, Tanisha tentu sangat tersentuh dengan perhatian Raka pada putrinya. Ia merasa beruntung Ella memiliki banyak orang yang sangat menyayanginya.
Apalagi mengingat masa kecil Ella yang tidak bisa berjalan normal seperti anak seumurannya.
'Mami lega kamu dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayangi kamu' batin tanisha
Dan mengenai perkataan Raka tadi. Sebenarnya Tanisha tau bahwa dulu Ella adalah anak yang lugu dan polos, dia bahkan sangat ramah kepada siapapun. Namun, kenangan akan masa kecilnya begitu membekas dalam pikiran dan hatinya merubah sifatnya menjadi seperti sekarang.
Cuek dan dingin adalah cara Ella untuk membentengi dirinya dari pengalaman serupa. Ella takut jika harus mengalami hal serupa dalam hidupnya.
Tapi, meskipun begitu Tanisha begitu bangga dengan putrinya yang sangat dewasa, mandiri dan bijaksana di usia yang terbilang masa-masanya labil.
Ia ingat dulu saat pendaftaran SMP untuk Ella, saat itu kondisi Tanisha sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja dengan suami barunya. Karena tidak ingin membebani maminya, Ella pergi untuk mendaftar sekolah, ikut tes masuk sekolah, melihat pengumuman lolos tes sekolah, bahkan pembayaran sekolah ia lakukan sendiri tanpa banyak mengeluh. Ella dengan semangat dan penuh senyum mengurus semuanya.
Disaat itu, Tanisha merasa menyesal sekaligus bangga pada Ella. Menyesal karena tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk putrinya dan bangga bahwa putrinya bisa mandiri. Ia juga merasa sangat terharu karena perhatian putrinya yang tidak ingin menambah bebannya.
Ia sangat bersyukur memiliki putri pengertian seperti Ella. Ia sadar diluar sana banyak anak yang disebut 'broken home' yang memilih jalan salah untuk melampiaskan emosinya. Walaupun Tanisha juga yakin 100% bahwa tidak semua anak seperti itu.
"Tante" panggil Raka mengejutkan Tanisha yang melamun
"Iya?" bingung Tanisha tersadar dari lamunannya
"Ella sakit apa?" tanya Raka to the point
'Maafin Mami Ella, menurut mami teman kamu harus tau kondisi kamu saat ini' batin Tanisha merasa bersalah ingin membocorkan rahasia Ella
"Sebenarnya Ella" kata Tanisha membuat Raka was-was
"Huftt"
'Maafin mami sayang' batin tanisha
"Sebenarnya Ella sakit-
"TANTE NISHA"
"Dokter Caca" kata tanisha bingung melihat kedatangan dokter Caca yang terburu-buru
"Ella sudah sadar" kata dokter Caca memotong pembicaraan mereka
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Terimakasih dokter atas infonya" kata tanisha penuh haru
"Sama-sama. Kalau begitu saya harus pergi karena ada operasi sebentar lagi" pamit dokter Caca meninggalkan mereka
"Raka, Kamu ke ruangan Ella dulu"
"Tante, mau ke kantin beliin Ella makanan" kata tanisha ikut meninggalkan Raka yang masih termenung menatap kepergian Tanisha
"Kayaknya gue harus tanya sendiri sama Ella" gumam Raka berjalan ke arah ruangan Ella
...----------------...
Tok tok tok
Cklekk
"Raka" kejut Ella melihat kedatangan mendadak Raka
"Lo sendirian?" tanya Ella celingukan mencari temannya yang lain
"Hmm" Jawab Raka berjalan ke arah Ella
"Buat gue?" tanya Ella menatap buket bunga matahari ditangan Raka
Mendengar pertanyaan Ella, Raka memberikan buket bunga itu tanpa banyak bicara.
"Makasih" kata Ella terbiasa dengan sikap dingin Raka
"Tumben sendirian?" tanya Ella mengambil buket tersebut
"Yang lain sibuk" jawab Raka
"Lo?" tanya Ella lagi
"Gak" jawab Raka singkat
"Ohh" sahut Ella paham
Hening
"El" panggil Raka memecahkan keheningan
"Iya?" sahut Ella menatap Raka
"Lo sakit apa?" tanya Raka mengejutkan Ella
"Cuma kecapekan" jawab Ella berusaha menyembunyikan keterkejutan
"Udah hampir 2 Minggu Lo di rawat. Bukannya tambah sembuh Lo tambah kelihatan pucet" kata Raka melihat wajah pucat Ella
"Yakin kecapekan?" tanyanya menelisik
"...."
"El, kita udah kenal lama. Gue udah anggap Lo kayak adik gue sendiri. Gue tau saat ini Lo lagi bohong" kata Raka menatap lembut Ella
"...." Ella masih terdiam menundukkan kepalanya enggan menjawab Raka
Deg
"Gue emang nggak tau Lo sakit apa. Tapi yang jelas gue yakin ini pasti serius" kata Raka
"Rak" kata Ella menoleh kearah Raka
"Kita udah lama sahabat, El. Gue cuma nggak mau Lo kenapa-kenapa" kata Raka lembut
"Raka.. gue.." sendu Ella
"Nggak papa kalau Lo emang nggak bisa jujur sama gue" kata Raka melihat Ella yang masih enggan jujur padanya
"Gue nggak bisa maksa Lo"
"Tapi saran gue Lo harus jujur sama Kavin. Dia itu tunangan Lo" nasehat Raka
"Dia pasti kecewa, saat tau Lo bohongin dia" tambah Raka
"Gue nggak tau harus ngomong dari mana" lirih Ella
"Gue bingung"
"Gue takut, Rak" tambahnya
"Apa yang Lo takutin? Kavin itu tunangan Lo. Calon masa depan Lo" kata Raka tak habis pikir dengan pikiran Ella
"Jangan sampai dia salah paham, saat dia tau dari orang lain yang sebenarnya" tambahnya
"Karena kalau itu sampai terjadi semuanya akan semakin rumit" kata Raka
"Gue takut dia akan ninggalin gue" lirih Ella menitihkan air matanya
"Gue takut dia nggak akan mau nerima gue" tambahnya
"Lo tau sendiri kan, gimana masa kecil gue. Gue udah banyak kehilangan"
"Gue nggak bisa kalau harus ngerasain itu lagi" kata Ella tersenyum pedih
Raka memang sudah mengetahui masa lalu kelam Ella dari dulu. Raka adalah sahabat semasa kecil Ella, rumah mereka berdekatan. Mereka sering bermain bersama dan menjadi semakin dekat seiring bertambahnya usia mereka. Tidak banyak yang tau tentang ini. Bahkan Kavin juga tidak mengetahuinya.
"Kavin itu sangat mencintai Lo, nggak mungkin dia ninggalin Lo gitu aja" kata Raka menghapus air mata Ella
"Yah meskipun gue tau dia playboy" katanya kesal mengingat Ella yang sering menangis diam-diam hanya karna Kavin playboy
"Udah jangan nangis" kata Raka mengelus tangan Ella
"Gue nggak nangis" bantah Ella menepis tangan Raka
"Itu air mata" tunjuk Raka pada bekas air mata di pipi Ella
"Bukan" tegas Ella menolak
"Yah.. yah.. terserah" kata Raka lelah menanggapi Ella
"Tumben Lo cerewet banget hari ini" kata Ella yang sebenarnya tidak terlalu heran dengan perubahan Raka
Raka memang seperti ini jika berdua dengan Ella. Ia akan lebih banyak bicara saat mengobrol dengan Ella.
"Hmm" sahut Raka seadanya
"Cih, kutub nya balik lagi" keluh Ella melihat Raka yang kembali dingin
"Bodo" kata Raka tak peduli
"Tapi El gue serius sama omongan gue tadi"
"Lo harus jujur sama Kavin"
"Sebuah hubungan itu dibangun di atas kepercayaan. Jika kepercayaan itu saja dinodai oleh kebohongan, bukankah nggak mungkin kalau hubungan bisa runtuh kapan saja" kata Raka serius menatap Ella
"Hmm.. Nanti gue pikirin" gumam Ella masih tak yakin
"Kalau Lo emang takut Kavin ninggalin Lo"
"Lo tenang aja karena
Zabiru akan selalu ada untuk Zoya" kata Raka lembut menggunakan nama panggilan mereka saat kecil
...----------------...
14 tahun yang lalu
"Kamu kenapa, kok nangis?" tanya seorang anak laki-laki berumur 5 tahun pada gadis kecil dihadapannya
"Papi Zoya ninggalin Zoya" jawab gadis itu sedih
"Zoya takut nggak akan ada yang bisa jagain Zoya lagi dari anak-anak nakal" katanya menitihkan air mata
Zabiru atau Raka kecil yang saat itu merasa prihatin pada gadis kecil pemilik mata berkilau dan senyum manis itu, berusaha untuk menghapus air matanya.
"Jangan takut, mulai sekarang Zabiru akan jagain Zoya dari anak nakal" kata Zabiru memeluk Zoya erat
...----------------...
Sejak saat itu Zabiru atau Raka sering bertemu dengan Zoya atau Ella untuk bermain bersama. Hubungan mereka sangat dekat meskipun sedikit orang yang mengetahuinya. Bahkan Kavin saat itu menghajar Raka karena salah paham dengan Raka.
"Makasih Zabiru karena sudah selalu ada untuk Zoya" kata Ella tersenyum manis
...----------------...
...Next?...