
"Kamu nggak bisa seenaknya kayak gini dong sama aku?"
"Aku juga butuh kejelasan hubungan kita"
"Udah 8 tahun aku nungguin kamu, setia sama kamu. Tapi apa yang aku dapat?" tanya Diana tak terima dengan Kavin yang kembali mendekati Ella, padahal status mereka masih berpacaran.
"Kamu malah mau ngejar Ella lagi dan buang aku gitu aja" katanya marah
"Kurang apa aku selama ini sama kamu? Aku tetep setia dan sayang sama kamu meskipun kamu selalu banding-bandingin aku sama Ella" Kata Diana menitihkan air matanya.
Selama 8 tahun ini hubungan Diana dan Kavin seperti tidak ada arah dan tujuan. Kavin yang tidak mencintai Diana tapi ingin Diana tetap disisinya, sedangkan Diana yang sangat mencintai Kavin namun keberadaannya tidak pernah dianggap oleh Kavin.
Jika orang luar melihat hubungan mereka yang harmonis dan saling mencintai, tapi kenyataannya Diana tersiksa dengan hubungan ini. Dirinya tidak pernah dianggap ada oleh Kavin dan keluarganya.
Keluarga Kavin menyalahkannya karena sudah merusak hubungan Kavin dan Ella, mereka tidak mau menerima dirinya.
Diana ingin menyerah, tapi hatinya sangat mencintai Kavin.
"Lo harus tau dari awal gue cuma cinta sama Ella"
"Dan selamanya akan gitu" kata Kavin tajam
"Ella satu-satunya perempuan yang gue cintai"
"Lalu aku ini apa?" ratap Diana sedih
"Apa nggak ada sedikit saja cinta untukku?" tanyanya pada Kavin
"Tidak ada" kata Lina yang tiba-tiba masuk kedalam rumah putranya
"Kamu lagi" tunjuknya pada Diana
"Harus berapa kali saya bilang, jauhi putra saja. Kamu itu nggak pantes buat putra saya" kata Lina tajam.
Dari awal Lina memang tidak menyukai Diana. Baginya Diana hanya perempuan yang suka merebut kebahagian perempuan lain. Perempuan yang suka menyakiti hati perempuan lain hanya untuk kebahagiaannya sendiri. Perempuan yang tidak memiliki perasaan dan empati.
"Tante" lirih Diana terkejut melihat Lina
"Tunggu apa lagi kamu. Cepat keluar, pergi jauh dari rumah putra saya" usir Lina tak sabaran
"Tapi Tante, Tante nggak bisa seperti ini sama saya"
"Saya ini pacar anak Tante. Calon menantu Tante" kata Diana mencoba memegang lengan Lina tapi sebelum tangannya menyentuh lengan Lina, Lina sudah pergi melewatinya dan duduk disamping putranya.
"Sayang, kamu hari ini ketemu sama Ella kan?" tanya Lina tanpa menghiraukan keberadaan Diana
"Gimana? Ella suka nggak bunganya?" tanyanya
"Ella nggak mau terima bunga dari aku, Ma" kata Kavin sedih
"Sabar ya sayang. Mungkin suatu saat, Ella akan mau memaafkan kamu dan kembali bersama kamu lagi" kata Lina mengelus rambut Kavin
Diana yang tak tahan pembicaraan mereka berdua. Bergegas menghampiri Kavin dan menarik tangannya untuk berdiri.
"Lo apa-apa sih?!!" Amuk Kavin menghempaskan tangannya
"Kamu yang apa-apaan?!! Kamu anggap aku ini apa??!! Aku ini pacar kamu!! Bisa-bisanya kamu lakuin ini sama aku" kata Diana tak kalah emosi
"Lo?? Lo siapa?? Lo mau tau Lo siapa?? Lo itu cuma boneka yang gue mainin sesuka hati dan saat gue bosen" kata Kavin sembari menjentikkan jarinya
"Buhh,, gue bisa buang Lo" katanya santai
Plakk
"KAVIN" Syok Lina saat Diana menampar pipi kanan Kavin dengan keras
"Lo, gila yah" amuk Kavin pada Diana mengusap pipinya yang terasa panas
"Dari pada Lo disini buat rusuh, mending pergi dan nggak usah datang lagi" kata Kavin mengusir Diana lalu pergi masuk kedalam kamarnya
"KAVIN"
"KAVIN"
"KAMU NGGAK BISA LAKUIN INI SAMA AKU"
"KAVIN" Teriak Diana yang diabaikan oleh Kavin
PYARR
"Kenapa kamu sedih? Kecewa? Marah? Atau menyesal?" kata Lina berjalan mendekati Diana
"Kamu harus ingat, seperti inilah perasaan Ella 8 tahun yang lalu"
"Sedih, kecewa, marah dan menyesal" katanya tajam seakan menusukkan pedang ke jantung Diana
"Diana, kamu akan menuai apa yang kamu tabur. Karma itu ada" sinisnya lalu memanggil pembantu untuk membersihkan pecahan vas bunga.
"Liat aja, aku akan bikin perhitungan sama gadis nggak tau malu itu" gumam Diana kesal
...----------------...
Cafe,
"Maaf ya telat, jalan macet" kata Ella duduk didepan Diana
"Nggak papa kak, santai aja. Lagian ini emang jamnya orang pulang kantor" kata Diana
"Kak El mau pesan apa?" tanyanya menyodorkan buku menu
"Kayaknya aku pesen minum aja kali yah, aku nggak bisa lama-lama soalnya" kata Ella memanggilnya waiters dan memesan minuman untuknya.
"Aku baca pesan yang kamu kirim, katanya mau ngomong penting. Kamu mau ngomong apa?" tanya Ella mulai membuka pembicaraan
30 menit yang lalu, Ella mendapatkan pesan dari Diana. Diana mengatakan ingin membicarakan sesuatu yang penting bersamanya dan ingin bertemu. Meskipun dengan setengah hati, Ella tetap menerima ajakan Diana. Yah, hitung-hitung silaturahmi.
"Kak El maaf sebelumnya aku harus ngomong gini sama kakak" kata Diana mulai berbicara dengan serius
"Hm, ngomong aja" kata Ella santai
"Aku mau kakak jauhin bang Kavin" kata Diana membuat Ella bingung sekaligus merasa aneh.
"8 tahun yang lalu kakak pernah bilang untuk aku menjauhi bang Kavin, aku mengiyakan permintaan kak Ella karna aku menghormati Kakak. Dan sekarang gantian aku yang minta kakak untuk jauhin bang Kavin" kata Diana tajam
"Bang Kavin adalah pacarku saat ini. Aku harap kak Ella bisa jauhin bang Kavin, agar hubungan kami berjalan dengan baik" katanya
"Aku mohon sama kakak, jangan merusak hubungan kami yang bahagia. Kakak nggak mau kan jadi orang ketiga dihubungan kami" kata Diana sedikit meneteskan air matanya
Ella hanya menatap tanpa minta gadis dihadapannya ini.
"Maksudnya gimana?" tanya Ella datar
"Aku dan bang Kavin saling mencintai. Kami bahkan berencana untuk menikah. Tapi dengan kedatangan kakak kembali disini, kakak sudah merusak rencana kami" kata Diana menangis tersedu-sedu
"Kak-"
"Tunggu dulu" kata Ella memotong perkataan Diana
"Sebelumnya mari kita luruskan hal ini dulu" katanya mencondongkan tubuhnya sedikit kedepan dan menatap tajam Diana.
"Saya kembali ke Jakarta, semata-mata hanya untuk pekerjaan dan nggak lebih" kata Ella
"Saya ketemu pacar kamupun juga nggak sengaja, karena ibu pacar kamu itu kebetulan pasien saya" katanya
"Tapi-"
"Dengerin saya dulu. Saya belum selesai ngomong" kata Ella memotong perkataan Diana lagi.
"Kamu nggak perlu khawatir, saya ngambil pacar kamu. Karena merebut laki-laki perempuan lain itu bukan gaya saya. Apalagi laki-laki yang nggak setia seperti Kavin, jelas-jelas bukan tipe saya"
"Jadi buat apa, saya ngambil laki-laki nggak setia dan bertanggungjawab sepertinya. Nggak guna" kata Ella tajam
"Lagipula saya sebentar lagi akan menikah" kata Ella mengeluarkan undangan pernikahannya yang baru selesai dicetak.
"Kamu dan Kavin harus hadir" katanya menyodorkan undangan pernikahannya
"Saya rasa urusan kita udah selesai" kata Ella berdiri
"Saya pamit dulu" katanya meninggalkan Diana yang hanya diam tanpa berkutik melihat undangan pernikahan di depannya.
...----------------...