
Kamar Rawat inap Ella, terasa begitu menyesakkan saat ini. Terlihat mami Ella yang masih setiap menatap putrinya yang belum sadar.
"Mami harus apa sayang?" tanya tanisha sendu pada Ella yang masih setia menutup matanya
"Haruskah mami melepaskan mu, untuk kesembuhan mu?" tanyanya lagi menggenggam tangan Ella
"Kamu adalah harta berharga mami" ucapnya mengecup lembut punggung tangan Ella
Sebelumnya,
"Singapura? Kenapa harus disana?" tanya Tanisha pada dokter Wisnu
"Tak bisa dipungkiri perkembangan ilmu kedokteran disana lebih maju daripada disini Tante. Saya rasa, kesembuhan Ella akan maksimal jika dilakukan disana" jawab dokter Wisnu semakin membuat Tanisha sedih
"Apakah mungkin pengobatan Ella bisa diundur hingga kelulusannya nanti?" tanya Tanisha
"Seperti yang dokter tau, Ella begitu menyayangi sahabat-sahabatnya. Ella pasti akan langsung menolak ide ini" lanjutnya mengingat putrinya yang begitu menyayangi sahabat-sahabatnya
"Awalnya saya juga berpikiran sama Tante. Tapi yang seperti kita tau, kesehatan Ella menurun drastis. Jika dibiarkan, kita benar-benar akan kehilangan Ella Tante" jawab dokter Wisnu
"Tante tak perlu khawatir Ella akan sendirian disana, karna saya dan Caca juga akan mendampingi Ella dalam pengobatannya" lanjutnya
"Kapan Ella harus berangkat?" tanya tanisha cemas
"1 bulan dari sekarang, kita tidak bisa membiarkan penyakit Ella semakin menyebar" jawab dokter Wisnu serius
"Saya akan memberitahu Ella" putus Tanisha setelah memantapkan hatinya.
...----------------...
Hati Tanisha hancur saat mendengar perkataan dokter Wisnu tadi, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai seorang ibu, tentu ia ingin yang terbaik untuk putrinya. Ia adalah salah satu orang yang paling berharap tentang kesembuhan Ella. Tapi disisi lain, ia juga sangat mengkhawatirkan Ella. Ia merasa tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk putrinya, karna bagaimanapun Tanisha tidak bisa selalu mendampingi putrinya selama pengobatan. Sebagai Single parent yang mempunyai 2 orang anak, ia harus bisa membagi waktunya untuk bekerja, dan anak-anaknya.
"Maafin mami sayang" kata Tanisha menitihkan air mata
"Maaf tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk kalian" lanjutnya semakin mengeratkan genggaman tangannya
"Hikss hikss maafin mami sayang" tangis tanisha pecah saat itu juga
"Mami kenapa?" tanya Ella lirih yang mengejutkan Tanisha
"Kamu udah sadar? Mana yang sakit? Bilang sama mami, mana yang sakit sayang?" tanya tanisha beruntun
"Minum" lirih Ella dengan suara seraknya
"Bentar ya sayang" kata Tanisha buru-buru mengambil segelas air
"Ayo mami bantu" katanya membantu Ella untuk minum
"Udah" kata Ella. Tanisha kembali meletakkan gelasnya diatas nakas
"Kamu masih pusing?" tanya tanisha cemas
"Dikit" jawab Ella
"Rupanya Ella kesini lagi" katanya setelah menyadari bahwa kamar rawat inapnya sama dengan saat ia opname kemarin.
"Lama-lama, Ella berasa kamar ini kayak kamar Ella dirumah" katanya saat melihat banyak sticker Tinkerbell kesukaannya
"Dokter Caca yang menyiapkan ini. Supaya kamu nyaman katanya" kata Tanisha sedih mengingat anaknya yang keluar masuk rumah sakit
"Dokter Caca mah gitu, menyalah gunakan kekuasaan" keluh Ella
Dokter Caca adalah anak pemilik rumah sakit yang ditempati Ella saat ini. Dokter Caca juga merupakan tunangan Dokter Wisnu, dokter kesayangan Ella. Dokter Caca ini sudah seperti kakak perempuan untuk Ella. Bahkan terkadang Ella akan seperti anak dari Dokter Wisnu dan dokter Caca, saat mereka pergi bertiga. Maklum, ukuran tubuh Ella yang terbilang mungil. Jadi sering disamakan dengan anak SMP.
"Sepertinya, Ella akan lama disini. Hingga Dokter Caca buat kamarnya mirip kamar Ella dirumah. Bener kan mi?" tanya ella pada Tanisha
"Hiks Ella hiks" tangis tanisha pecah sekali lagi mendengar perkataan Ella
"Mami jangan nangis. Aku nggak papa, aku udah tau kok. Bahwa penyakit aku bertambah parah" sendu Ella menghapus air mata Tanisha dengan tangannya
"Lagi pula aku suka kamarnya" komen Ella dengan mata yang berkaca-kaca
"Kamu harus sembuh Ella" tekat Tanisha
"Mami akan berusaha supaya kamu bisa sembuh" lanjutnya
"Mami" sedih Ella
"Kamu akan melakukan pengobatan di Singapura" putus Tanisha yang mengejutkan Ella
"Mami sudah tau, kamu menolak usul Dokter Wisnu untuk melakukan pengobatan di Singapura" jawab Tanisha mengejutkan Ella
"Ellaine, mami mohon kamu terima usul dokter Wisnu untuk melakukan pengobatan di Singapura" pinta Tanisha lembut
"El nggak bisa mi" kata Ella mengalihkan pandangannya karna tak tega melihat harapan dimata maminya
"Kamu bisa sayang. Mami mohon kali ini saja turuti keinginan mami" pinta tanisha sekali lagi
"Mami tau kamu berat meninggalkan kami disini. Tapi, kalau kamu tetap disini. Mami yang hancur melihat kamu kesakitan setiap saat" katanya sambil meneteskan air mata
"Mami" lirih Ella sedih melihat wanita kesayangannya meneteskan air mata karnanya
"Kamu dan Athaya sudah seperti pilar hidup mami El. Mami nggak bisa kehilangan salah satu dari pilar hidup mami. Hancur hati mami setiap melihat kamu kesakitan dan berakhir di rumah sakit. Tahukah kamu bagaimana takutnya mami saat melihat kamu tidur? Mami takut kamu tidak akan membuka mata indahmu lagi" Kata tanisha yang sudah berurai air mata
"Mami mohon El, lepaskan mami dari ketakutan ini" pintanya sekali lagi
"Ella akan memikirkannya" putus Ella
"Baiklah kalau begitu" kata Tanisha tak ingin memaksa Ella lebih jauh lagi mengingat Ella yang baru sadar dari pingsannya
"Mami akan menjemput Athaya, tadi Ata telpon mami. Ia khawatir banget sama kamu. Mami pergi dulu ya sayang" pamit Tanisha Lalu meninggalkan Ella sendirian dikamarnya..
Tet tet
Merasa maminya sudah jauh, Ella menekan tombol disamping tempat tidurnya untuk memanggil perawat.
Clekk
"Ada yang bisa saya bantu, mbak?" tanya perawat yang baru memasuki ruangan Ella
"Bisa antar saya ke suatu tempat" pinta Ella penuh harap
...----------------...
Ditaman Rumah sakit,
Ella sedang duduk termenung di atas kursi rodanya memikirkan banyak hal. Pikirannya bercabang kemana-mana saat ini. Terutama memikirkan soal permintaan maminya tadi. Bukannya tidak ingin berobat, hanya saja Ella merasa berat meninggalkan keluarga dan sahabatnya di sini. Memang benar, setelah sembuh Ella akan kembali. Hanya saja, tidak ada yang tau tentang masa depan. Ella takut pengobatannya akan gagal, dan ia tidak akan bisa bertemu dengan orang-orang yang disayanginya disaat-saat terakhir hidupnya.
Setahun yang lalu, disaat Ella sudah mulai bisa berdamai dengan masa lalunya yang pahit. Ella dihantam dengan kenyataan yang menyakitkan. Ella didiagnosis menderita kanker darah atau leukemia. Ella yang semula mulai menemukan cahayanya kembali, tiba-tiba harus ditarik lagi kedalam kegelapan.
Tidak ada yang tau mengenai penyakit Ella, kecuali keluarganya. Ia benar-benar menutup rapat masalah ini dari semua orang. Bukannya tidak percaya dengan sahabat-sahabatnya, Ella hanya tidak bisa jika harus melihat mereka bersedih karnanya. Terutama Kavin.
Karna itulah, Ella mulai melakukan pengobatan secara diam-diam dari sahabatnya. Setiap penyakitnya kambuh disaat yang tidak tepat seperti tadi, Ella akan berusaha menutupi dengan berbagai macam alasan agar mereka tidak mengetahuinya. Sebelumnya, Ella sangat bersemangat dan optimis bisa sembuh agar bisa berkumpul bersama keluarga dan sahabatnya lagi. Tapi sayangnya, tidak ada perubahan signifikan terhadap penyakitnya. Hingga dokter Wisnu menyarankannya agar melakukan pengobatan di Singapura. Awalnya, Ella menolak usul dokter Wisnu. Tapi saat mami Ella mengetahuinya, Ella benar-benar bingung dengan keputusannya.
'Yatuhan apa yang harus aku lakukan'
'Tidak bisakah engkau menghentikan penderitaan dalam hidupku. Sampai kapan aku harus melihat satu-persatu orang yang kusayangi bersedih hanya karna aku'
'Tidakkah, semuanya sudah cukup untukku'
'Aku hanya ingin bahagia... Tuhan'
'Kumohon.. Berikan aku kesempatan untuk bahagia' jerit Ella dalam hati sembari menangis dalam diam
"Ella" kata Dokter Caca yang tiba-tiba mengejutkan Ella
"Dokter" rengek Ella sedih
Grepp
"Menangislah sayang.. Dokter akan selalu bersama kamu.. lepaskan semuanya" kata Dokter Caca memeluk Ella dengan erat
"Hikss hiks hiks" tangis Ella semakin menjadi didalam pelukan Ella
"Tak apa semua akan baik-baik saja" kata Dokter Caca lembut
Senja itu, di taman rumah sakit menjadi saksi bisu dari kesedihan Ella. Kesedihan seorang gadis manis yang begitu menginginkan kebahagiaan untuk orang-orang yang disayanginya.
...Next?...
...----------------...
...Follow...
...Instagram : @quella.ved...
..."Your Life is Your Choice"...