
Beberapa hari belakangan ini, badan gue sakit semua rasanya. Awalnya gue pikir,cuma kecapekan karna beberapa bulan belakangan ini jadwal gue emang full. Tapi kok lama-lama sakitnya tambah parah. Gue bahkan sering tiba-tiba mimisan. Kayak beberapa hari yang lalu saat gue dan Kavin serta teman-teman gue yang lain lagi makan dikantin, tiba-tiba gue mimisan diwaktu yang tak terduga.
...----------------...
Flashback
"Lo kenapa?" Tanya Kavin ke gue
"Nggak papa" bohong gue
"Jangan bohong, muka Lo pucat gitu nggak papa" kata Kavin menelisik muka gue
"Gue bener nggak papa" kata gue menggenggam tangannya untuk menenangkannya
"Tapi Lo beneran pucat El" kekeh Kavin
"Gue nggak papa Kavin, mungkin ini karna gue kecapekan aja" jelas gue tenang
"Kan gue udah bilang, jangan capek-capek. Kalau Lo sakit gimana?" Omel Kavin
"Iya iya gue tau" kata gue sekenanya
"Jangan iya iya aja" omel Kavin
"Kavin bener El, Lo nggak papa? Muka Lo emang kelihatan pucat banget soalnya" kata Addi yang sedari tadi diam melihat perdebatan kami
"Gue nggak pa-" kata gue terputus karna tiba-tiba kepala gue pusing banget
"Aw" pekik gue secara nggak sadar sambil memegang kepala gue
"Lo kenapa?" Panik Kavin melihat gue kesakitan
"Ng-gak papa" kata gue terbata-bata
"Jangan bohong, ayo ke UKS" ajak Kavin menarik tangan gue. Namun, sebelum berdiri tiba-tiba..
"Darah!! Ella hidung Lo keluar darah!!" Pekik Rena
"Lo mimisan El!!" Pekik Anya juga
Mendengar perkataan mereka, gue segera menyentuh hidung gue dan benar saja memang ada darah. Shit!! Kenapa mimisannya datang disaat yang nggak tepat sih. Mengabaikan semuanya gue segera lari ke toilet
"Ella" panggil mereka
"Toilet" kata gue sambil terus berlari.
Sesampainya di toilet, mimisannya udah lumayan berhenti. Gue pergi ke wastafel buat cuci muka gue sambil menghilangkan sisa darah di hidung gue. Gue lihat di kaca, Kavin bener gue emang pucat banget. Nggak mau lama-lama didalam toilet, gue segera keluar dan kaget karna semua teman-teman gue ada disini
"Kalian ngapain?" Tanya gue bingung
"Masih nanya ngapain" gemas Rena
"Tentu aja kita khawatir sama elo. Mangkanya kita kesini" lanjutnya dengan tatapan seolah mengatakan ' kita khawatir bodoh '
"Oh, gue nggak papa kok" kata gue masih tersenyum
"Nggak papa gimana. Lo tadi berdarah. Mimisan" kata Anya tak percaya
"Mimisan itu wajah bagi yang lagi kecapekan" jelas gue
"Tapi ini nggak wajah. Kalau hampir tiap hari Lo mimisan" kata Anya
"Kamu sering mimisan?" Tanya Kavin begitu mendengar perkataan Anya
"UPS" kata Anya reflek menutup mulutnya saat gue meliriknya tajam
"Yang?" Tanya Kavin sekali lagi
"Hm" gumam gue
"Yang aku tanya sekali lagi. Kamu sering mimisan?" Tanya Kavin tegas
"Iy-ya" gugup gue melihat tatapan tajam Kavin
"Kenapa nggak cerita?" Tanya Kavin dengan suara yang lebih lembut
"Gue nggak papa. Lagian ini wajar menurut gue. Udah ah, gue mau kekelas dulu. 2 menit lagi bel masuk" kata gue bergegas meninggalkan mereka
Flashback end
...----------------...
Sejak hari itu, Kavin makin posesif sama gue. Ngelarang gue inilah itulah, pokoknya gue harus jadi Putri solo disekolah. Gue sih B aja sebenernya, karna memang 2 hari belakangan ini gue udah nggak terlalu sakit lagi. Hari-hari gue pun berjalan seperti biasanya meskipun harus dibumbui dengan drama ke posesifan Kavin. Seperti hari ini, gue baru pulang sekolah. Dan lagi tiduran santai dirumah. Karna mami udah pulang, jadi gue nggak terlalu sibuk dirumah.
Namun, lagi enak-enakan tidur. Gue tiba-tiba kebangun gara-gara suhu badan gue tiba-tiba tinggi banget. Apalagi kepala gue yang rasanya pusing banget.
Karna gue anak yang nggak bisa nahan sakit fisik terlalu lama, gue keluar kamar buat nyariin mami
"Mi" panggil gue lirih pada mami yang sedang memasak makan malam
"Kenapa?" Tanyanya yang masih fokus memotong sayuran
"Badan aku panas" kata gue sambil nangis sesenggukan
"Loh? Kok bisa? Jangan bercanda kamu?" Tanya mami beruntun melihat gue yang sudah menangis
"Hiks bener mi hiks kepala Ella pusing hiks" tangis gue
"Yaudah ayo ke kamar dulu. Nanti mami ambilin obat kamu. Kalau memang masih sakit kita ke dokter Wisnu" kata mami menuntun gue ke kamar
"Kamu tiduran dulu. Mami ambilin obat" kata mami meninggalkan gue
Sepeninggal mami tangis gue nggak berhenti malahan makin kenceng. Kepala gue rasanya kayak mau pecah, badan gue sakit semua dan hidung gue terus-terusan keluar darah. Detik ini juga rasanya gue pingin pingsan aja, biar nggak ngerasain rasa sakit ini.
Mendengar suara pintu dibuka, gue yakin itu pasti mami. Meskipun penglihatan gue semakin nggak jelas karena pusing.
"Mi" panggil gue lirih
"Ya Allah sayang.. kamu kenapa? Kita ke rumah sakit aja ya. Mami telpon supir dulu" kata mami kemudian menelpon supir Oma
"Mi hiks sakit hiks" tangis gue
"Sabar ya sayang. Kamu harus kuat" kata mami dengan suara bergetar
"Sakit hiks" Raung gue
"Iya iya bentar ya" kata mami menenangkan gue
Tin.. tin..
"Nah itu suara mobilnya udah kedengaran. Mami panggil mang Ojo dulu ya" kata mami meninggalkan gue yang masih menangis kesakitan
"Ayo sayang kita ke rumah sakit" kata mami menyuruh mang Ojo untuk membantu menggendong gue
Selama perjalanan menuju rumah sakit tempat dokter Wisnu dinas. Gue masih menangis kesakitan, kalau biasanya orang kesakitan bakalan pingsan justru gue nggak bisa pingsan karna sangking sakitnya.
Di rumah sakit, gue segera di bawa ke UGD. Dan langsung ditangani oleh dokter Wisnu yang sudah di telpon mami sebelumnya.
"Ella Hay, Ella ini saya dokter Wisnu. Kamu harus kuat ya. Kamu harus bisa lawan semuanya" kata dokter Wisnu memberikan semangat
"Sakit hiks sakit hiks" tangis gue
"Iya sabar ya fairy nya dokter" kata dokter Wisnu memberikan sebuah suntikan lalu meninggalkan gue untuk berbicara dengan mami. Sekitar setengah jam mereka berbicara. Dokter Wisnu kemudian kembali lagi bersama mami yang matanya sembab.
"Masih sakit?" Tanya mami mengelus rambut gue. Yang gue jawab dengan anggukan pelan
"Yaudah Ella bobok dulu ya. Biar nggak sakit lagi" katanya sambil terus mengelus kepala gue dan sesekali menghapus air mata gue yang turun karna menahan rasa sakit.
Nggak lama kemudian, gue tertidur karna kelelahan.
Tapi, sebelum tidur gue samar-samar mendengar suara mami.
"Jangan sakit. Mami hancur melihat kamu kesakitan seperti tadi" bisiknya pelan dan mencium kening gue lembut lalu semuanya gelap.
...----------------...
Nggak tau berapa lama gue tidur, bangun-bangun ternyata udah siang. Gue sekarang sudah berada di ruang rawat inap yang selalu gue pakek kalau sedang ada kunjungan rutin dengan dokter Wisnu. Sakit yang gue rasain tadi udah lumayan hilang. Mami? Gue nggak tau mami dimana. Tapi di sofa ada tas yang selalu mami gunakan. Itu artinya mami masih ada di sekitar sini.
Karna haus gue ambil air di nakas yang nggak jauh dari ranjang gue. Tenang aja, ini nggak pakek drama gelasnya pecah kok. Karna nyatanya gue sukses minum dengan aman. Setelah minum, Gue ambil hp gue disamping tempat gelas tadi. Baru nyalain hp, tapi sudah terdapat ribuan notifikasi dari WA, IG, Line, dan akun sosmed gue lainnya. Kebanyakan nanyain gue kemana selama 3 hari ini.
WHAT!!! 3 HARI!!! gue tidur selama 3 hari. Pantesan aja, notif nya banyak banget. Karna gue menghilang tiba-tiba. Karna gue males ribet buat bales chat mereka satu-persatu, gue akhirnya chat di grup.
...Somplakk Genk 😌...
...Addi(curut member), Anya cabe 🌶️, Evan (sepupu Kavin), Kavin Onyet 🙉, Radhit(sepupu Kavin), Rei(curut member), Rena👿, dan Anda...
Rena👿
Woyy Ella Lo hilang kemana oi
Addi(curut member)
Tau lo
Bos besar ngamuk nih nyariin elo
Radhit(sepupu Kavin)
Kak Ella nggak lagi selingkuh kan karna bosen sama bang Kavin
Kavin Onyet 🙉
Babi Lo @Radhit
Yang kamu dimana?
Aku kangen:*
Aku nggak bisa tidur mikirin kamu
Aku khawatir sama kamu😞
Rena👿
🤢
Jijik gue baca chat Kavin
Tapi, El. Elo dimana?
Kita khawatir nih
...💬1.680 pesan belum dibaca...
^^^Ellaine^^^
^^^Gue lagi nginep di rumah sakit guys.^^^
^^^Biasa boring dirumah terus🤣😂^^^
^^^Canda✌️^^^
^^^Gue tiba-tiba sakit kemarin😖, dan nggak sempet ngasih tau kalian😞^^^
^^^Sorry ya🙏^^^
^^^Kalau mau tau lebih detilnya^^^
^^^Gue tunggu guys😉^^^
Balas gue, menskip pesan mereka lainnya. Lalu mematikan hp dan kembali beristirahat karna badan gue masih sakit semua.
...----------------...
Author POV
Beberapa menit kemudian Tanisha masuk kedalam ruang rawat inap putrinya dengan wajah lelah yang sangat kentara. Melihat wajah pucat putrinya yang sedang tertidur damai dengan pandangan terluka, pikirannya terus memikirkan perkataan dokter Wisnu beberapa saat yang lalu.
"Penyakit Ella semakin parah Tante. Jika tetap dibiarkan Ella bisa kehilangan nyawanya"
"Saya sudah menganggap Ella seperti adik saya sendiri Tante, saya ingin yang terbaik untuk Ella"
"Kejadian kemarin, menandakan bahwa penyakitnya semakin parah, ditambah lagi Minggu kemarin Ella tidak kontrol ke rumah sakit, dan yang saya lihat Ella juga jarang minum obat yang sudah saya berikan"
"Jika seperti ini terus, kondisi Ella akan memburuk. Yang bahkan operasi apapun tidak akan bisa menyelamatkan nyawanya. Saya harap Tante bisa lebih memperhatikan Ella lagi"
Tidak, Tanisha tak bisa jika kehilangan salah satu pilar dalam hidupnya. Hidupnya bisa menjadi gelap jika kehilangan salah satu pelita nya. Hidupnya akan menjadi suram tanpa senyum manis dan ceria dari putri tercintanya. Apa yang harus Ia lakukan jika, peri kecilnya meninggalkannya? Apakah ia bisa hidup tanpa dukungan dan semangat dari Ella yang selama ini menjadi penyemangat dan pendukungnya? Tidak, Tanisha tidak akan bisa hidup. Hidup pun akan sama seperti mati rasanya.
Tes.. tes..
Tak terasa air mata Tanisha jatuh saat memikirkan segala kemungkinan yang terjadi ke depannya.
Dielusnya rambut Ella dengan kasih sayang
"Kamu harus sembuh, kamu janji sama mami. Bahwa kita akan selalu bersama" bisik Tanisha pelan
"Mami" panggil Ella membuka matanya
"Kamu sudah bangun? Mana yang masih sakit? Biar mami panggilkan dokter Wisnu jika masih sakit" tanya Tanisha beruntun begitu melihat putrinya bangun
"Ella nggak papa" kata Ella dengan tersenyum manis yang malah membuat hati Tanisha bertambah hancur.
"Mami kenapa?" Tanya Ella begitu melihat mata Tanisha yang biasanya memancarkan kehangatan kini seperti menyimpan berjuta luka disana
"Maafkan mami sayang. Selama ini mami terlalu sibuk bekerja, hingga melupakan kamu. Kamu sakit karna mami yang jarang memperhatikan kamu" kata Tanisha dengan air mata yang sudah menetes
"Mami ngomong apa sih. Ella nggak suka yah, mami ngomong gitu" kata Ella cemberut sambil menghapus air mata Tanisha
"Mi, Ella sakit itu karna takdir tuhan. Mami nggak boleh menyalahkan diri sendiri, seperti ini" kata Ella lembut
"Tapi, mami-" kata Tanisha terpotong
"Mi Ella bener-bener nggak suka mami ngomong gini" tegas Ella
"Ella bener, Nisha" kata Nenek Ella yang masuk kedalam ruang rawat inap Ella
"Nenek" panggil Ella riang pada Hanum
"Hay, cucu nenek. Gimana masih sakit?" Tanya nenek perhatian
"Udah nggak dong. Kan mami selalu jagain Ella" puji Ella pada Tanisha
"Bagus kalau gitu. Ini nenek bawakan bubur untuk kamu" katanya memberikan Tupperware berisi bubur ayam
"Maacih. Nenek cantik" kata Ella imut
"Kamu bisa aja. Udah nenek mau pulang dulu. Kasihan fio sama gio dirumah sendirian" pamit Hanum
"Cepet banget" cemberut Ella
" Tapi nggak papa deh, hati-hati nenek cantik" senyum Ella
"Iya, kamu cepet sembuh ya sayang" katanya lalu mencium kening Ella.
"Nisha, ibu pulang dulu yah. Kamu jangan lupa makan sama istirahat. Jangan sampai sakit juga" pamit Hanum pada Tanisha, menantunya.
"Iya Bu" kata Tanisha menyalimi Hanum
"Mami sendok" pinta Ella begitu Hanum keluar dari ruang inap
"Nih" kata Tanisha memberikan sendok
"Kamu tuh, meskipun sakit tetep aja makan no.1" lanjutnya melihat Ella makan dengan lahap
"Oh, yah harus dong" kata Ella santai
"Mami, buka mulut" kata Ella ingin menyuapi Tanisha
"Mami udah makan" tolak Tanisha
"Mami, Aku tau bahkan sebelum orang lain menyalahkan mami. Mami pasti lebih dulu menyalahkan diri sendiri saat aku sakit. Aku tau hati mami pasti hancur saat ini" kata Ella melihat dalam mata ibunya
"Ella hiks Mami hiks" kata Tanisha tertahan karna tangisnya
"Mami pliss" kata Ella dengan mata memohonnya
"Baiklah" kata Tanisha berusaha menghentikan tangisnya dan tersenyum manis
"Jangan nangis, malaikat Ella sama Athaya nggak boleh nangis" kata Ella tersenyum lalu melanjutkan makannya.
'Kamu benar sayang, tidak perlu orang lain menyalahkan mami. Justru mami sendiri yang pertama kali menyalahkan diri mami, saat melihat kamu sakit seperti ini' batin Tanisha melihat anaknya makan dengan lahap
"Mami Ella ngantuk, mau tidur" kata Ella setelah menghabiskan buburnya dan setelah diperiksa oleh dokter Wisnu tadi
"Yaudah tidur aja, lagian dokter juga udah ngecek kamu tadi" kata Tanisha membenarkan selimut Ella
Dan mengelus lembut rambutnya.
...----------------...
Malam hari
"Assalamu'alaikum" kata seseorang membuka pintu ruang rawat inap Ella
"Waalaikumsalam" jawab Ella dan Tanisha
"Cih, tamu tak diundang" kata Ella begitu melihat Rena, Anya, Kavin, Addi, Rei, Radhit, Evan, Leo, dan Dafa masuk
"Jahat hiks hiks" kata Rena dan Anya yang sudah berderai air mata melihat Ella
"Hahaha" tawa Ella melihat sahabatnya menangis
" Don't want to hug me, sista?" Ella merentangkan tangannya
Yang disambut segera oleh Rena dan Anya.
"Kenapa sakit?"
"Kenapa nggak bilang kalau sakit?"
"Sakit apa?"
"Parah nggak sakitnya?"
"Masih ada yang sakit?"
"Kapan sekolah?"
"Sekolah sepi nggak ada Lo?" Tanya beruntun mereka setelah melepaskan pelukan mereka
"Gue nggak papa. Ntar kalau gue udah keluar dari RS gue sekolah" kata Ella santai
"Cih, udah sakit masih santai aja Lo" ketus Anya
"Trus gue harus gimana?" Tanya Ella
"Ya gimana gitu. Jangan santai aja" jawab Anya
"Udah. Ella lagi sakit jangan didebat. Biarin dia istirahat" lerai Rena
"Lo sakit apa?" Tanya Rena lembut
"Kecapekan" kata Ella
"Mangkanya elo itu harus istirahat yang cukup. Makan jangan lupa" nasehat Rena
"Iya bawel Lo" canda Ella
"Temen kamu benar Ella" kata dokter Wisnu yang tiba-tiba masuk keruang inap Ella
"Kamu harus istirahat yang cukup dan makan serta minum obatnya jangan sampai telat" kata dokter Wisnu mendekati Ella
"Kalian pasti teman-temannya Ella kan. Perkenalkan saya dokter Wisnu. Dokter yang biasanya menangani Ella" kata dokter Wisnu memperkenalkan diri
"Salam kenal dokter saya Rena, ini Anya, disampingnya Rei, Radhit, Evan, Addi Dan yang duduk disamping Ella itu Kavin" kata rena memperkenalkan mereka
"Kavin? Ella's boyfriend?" Tanya dokter Wisnu melihat Kavin
"I am" jawab Kavin
"Senang bertemu denganmu. Ella sering menceritakan tentangmu, saat sedang ada jadwal kontrol" jelas dokter Wisnu yang membuat mereka bingung
"Memangnya kak Ella sering kesini dok?" Tanya Radhit mewakili yang lain
"Tentu, Ella 2 Minggu sekali selalu kemari" jawab dokter Wisnu jujur
"Memangnya Ella kenapa harus kontrol?" Tanya Kavin dengan wajah serius dan genggaman tangan kavin yang tidak pernah lepas dari Ella
"Kamu tidak tau? Ella kan-"
"Dok" panggil Ella memotong pembicaraan mereka
"Dok, ini udah malam mending dokter pulang. Ntar dicariin Dokter Caca loh" kata Ella mengusir dokter Wisnu secara halus
"Ah, kamu bener. Yaudah saya pulang dulu"
Cup
"Cepat sembuh. Besok saya cek kondisi kamu lagi" pamit dokter Wisnu setelah mencium kening Ella. Sebenarnya Ella biasa saja, karna dokter Wisnu sering mencium keningnya. Tapi hari ini, banyak teman-temannya yang melihat dan memberikan tatapan tak percaya. Apalagi genggaman tangan kavin yang tiba-tiba bertambah menguat saat ini.
"Siapa?" Tanya Kavin datar begitu dokter Wisnu keluar
"Dokter Wisnu" kata Ella pura-pura polos
"Kenapa?" Tanya Kavin dengan aura yang semakin mencekam
"Dia dokter pribadi gue. Gue udah anggap dia kayak kakak gue" jelas Ella pelan namun masih diacuhkan oleh Kavin. Bahkan teman-temannya yang lain sedang asik makan bakso yang tadi dipesankan mami buat mereka.
"Gue masih sakit loh ini. Masak Lo ketus banget sama gue" Rajuk Ella
"Cih" dengus Kavin
"Makan, aku beliin bubur ayam kesukaan kamu" kata Kavin dengan suara lembut
"Makasih" kata Ella lalu memakan buburnya dengan lahap
...----------------...
...Ig : @quella.ved...
..."Your Life is Your Choice"...