ELLAINE'S SECRET

ELLAINE'S SECRET
Ellaine's Secret Pulang



Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta,


Jakarta.


"MAMI" teriak Ella berlari menghampiri Maminya yang sudah menunggu untuk menjemputnya


"Mami El kangen banget" katanya saat sampai didepan Tanisha


"Kamu sudah besar sekarang" kata Tanisha terharu mengelus pipi anak perempuannya


"Selamat sayang, selamat atas semua pencapaian kamu 8 tahun ini. Mami bangga sama kamu" kata Tanisha memeluk erat putrinya


"Makasih mami" kata Ella membalas pelukan maminya tak kalah erat


"Wah, ini Athaya" kata Ella melepas pelukan mereka lalu beralih menatap laki-laki remaja di samping maminya


"Iya ini adik kamu" kata Tanisha mengelus rambut putranya


"Nggak mau peluk kakak?" tanya Ella merentangkan kedua tangannya


Dengan malu-malu, Athaya perlahan mendekati kakaknya dan memeluknya erat.


"Miss you" gumam Athaya di pelukan kakaknya


"Me too. Terimakasih sudah menjaga semua orang selama Kaka tidak ada" bisik Ella pelan yang hanya dibalas anggukan kecil oleh adiknya.


Mengabaikan kedua saudara kandung yang sedang melepas rindu itu. Tanisha menatap sekeliling dengan seksama seperti mencari sesuatu.


"Mami cari siapa?" tanya Ella menyadari kelakuan maminya


"Calon mantu mami mana?" tanya Tanisha balik


Mendengar pertanyaan maminya, mood Ella tiba-tiba menjadi hancur.


"Nggak ada" jawab Ella kesal


"Loh?" tanya Tanisha bingung


"Kok loh? Udah ayo ke mobil. El capek mau cepet-cepet sampai rumah, mau tidur" kata Ella mengandeng tangan adiknya mengabaikan maminya yang masih terlihat bingung.


...----------------...


"Jadi, mantu mami masih ada kerjaan di Singapura?" tanya Tanisha setelah mendengar penjelasan Ella


"Hm" Gumam Ella kesal


"Kamu sabar aja. Mungkin dia memang ada urusan" kata Tanisha melirik ke kaca spion didalam mobil dan melihat putrinya yang masih menggerutu kesal


"Calon kakak itu dokter juga kan?" tanya Athaya tiba-tiba


Ella hanya mengangguk membenarkan pertanyaan adiknya.


"Wah, keren dong" kata Athaya semangat membayangkan calon kakak iparnya


"Ck, apanya yang keren" gumam Ella kesal


"Oh ya El, bagaimana kabar Dokter Caca dan Dokter Wisnu?" tanya Tanisha ingin mengalihkan sedikit perhatian Ella agar tidak terus cemberut. Dan benar saja, saat mendengar nama Dokter Caca dan Dokter Wisnu Ella segera mengembangkan senyumnya.


"Baik, Luna juga baik" kata Ella semangat


Luna adalah anak perempuan Dokter Caca dan Dokter Wisnu usianya 5 tahun. Dia gadis kecil yang cantik, lucu, imut dan juga sangat lengket dengan Ella.


Bahkan menganggap Ella seperti kakak kandungnya sendiri. Bisa dibilang Luna hanya akan menangis selama 1 menit jika ditinggal ibunya tapi akan menangis berjam-jam jika Ella yang pergi.


"Tapi Luna menangis semalaman saat tau aku akan kembali ke Jakarta" kata Ella sedikit sedih mengingat tangisan Luna kemarin malam saat dirinya pamit untuk kembali ke Jakarta.


"Bukankah Dokter Wisnu dan Dokter Caca juga akan kembali ke Jakarta?" tanya Tanisha


"Iya, 3 bulan lagi. Mereka masih harus mengurus beberapa hal disana" jawab Ella


"Mami akan mengunjungi mereka saat mereka pulang. Kamu tau kan mami berhutang banyak dengan mereka" kata Tanisha sembari menyetir mobil


"Ella juga berhutang banyak pada mereka berdua" kata Ella tersenyum tipis mengingat kedua dokter kesayangannya itu.


Mereka berdua adalah salah satu orang yang menjadi alasan Ella bisa bertahan dan meraih mimpinya hingga dirinya bisa seperti ini. Mereka seperti malaikat pelindung untuk Ella.


"Kakak bisa tidur jika merasa lelah" kata Athaya


Ella lalu menutup matanya dan tiba-tiba terkekeh kecil.


"Kenapa?" tanya Athaya menatap kakaknya


"Enggak, cuma kakak merasa lucu. Dulu kamu yang selalu tidur dalam pelukan kakak. Sekarang kamu sudah besar dan bahkan lebih tinggi dari Kakak. Kakak hanya merasa itu lucu" kata Ella lirih


Ella sedikit merasa emosional saat mengingat adiknya ini. Terkadang dia masih merasa bahwa perceraian mami dan ayah tirinya adalah salahnya. Salahnya hingga adiknya tidak merasakan cinta ayah dalam hidupnya.


Lalu disaat adiknya tumbuh, dia tidak ada disana untuk menjaga dan melindunginya sebagaimana seorang kakak pada umumnya. Dia sudah melewatkan banyak hal tentang adiknya.


Sekarang setelah 8 tahun, adiknya tumbuh menjadi pemuda yang baik dan menawan. Dan adiknya berjanji akan melindunginya dan juga ibu mereka.


Sungguh Ella tidak pernah menentang takdir dihidupnya. 8 tahun ini ia benar-benar belajar untuk menerima semuanya dengan ikhlas. Tapi, dirinya masih tidak bisa menerima ketidakadilan takdir pada adik kesayangannya.


"Kakak jangan banyak berfikir" kata Athaya menepuk punggung tangan kakaknya


"Sekarang aku akan melindungi kakak dan mami" katanya lembut


Ella yang mendengarnya hanya bisa tersenyum dan menutup matanya berusaha untuk tidur.


Sedangkan Tanisha yang melihat dari kaca spion hanya bisa menghela napas. Karena bagaimanapun ia juga merasakan apa yang dirasakan putrinya.


Ia tidak pernah punya waktu untuk kedua anaknya. Sekarang kedua anaknya sudah besar. Yang satu akan segera menikah dan yang lainnya sudah mempunyai usaha kecil sendiri meskipun masih bersekolah.


Ia merasa masih belum menjadi ibu yang baik untuk mereka berdua.


...----------------...


"Dokter Ella" sapa seorang perawat yang baru masuk kedalam ruangannya


"Ada apa?" tanya Ella menatap perawat itu


"Ini berkas-berkas pasien yang anda inginkan" kata perawat itu memberikan setumpuk berkas


"Kamu sudah membuat janji dengan mereka?" tanya Ella


"Sudah" jawab perawat itu


"Baiklah, terimakasih" kata Ella lalu perawat itu keluar dari ruangan Ella.


Ruangan menjadi hening sekali lagi, Ella sibuk membaca rekap medis pasien yang nantinya akan ditanganinya.


Hingga perhatian Ella tertuju pada satu rekap medis pasien dengan nama yang sangat dikenalinya.


"Kenapa harus sekarang" gumam Ella memijit pelipisnya lelah


...----------------...


"Kenapa baru menghubungi aku sekarang?" tanya Ella pada seseorang yang sedang melakukan panggilan telepon dengannya


"Maaf, aku benar-benar sibuk" kata laki-laki itu meminta maaf


"Ck, alasan" ketus Ella


"Beneran, aku nggak bohong. Aku harus menyelesaikan beberapa hal penting disini dulu" kata laki-laki dengan yakin


"Baiklah, aku percaya" kata Ella dengan sedikit kesal


"Kamu tunggu aku, seminggu lagi aku akan menyusul kamu ke Jakarta" kata Laki-laki itu


"Dan kita akan mengadakan pernikahan kita disana" katanya lagi


"Baiklah, aku akan menunggumu" kata Ella dengan senyum mengembang


"El, kamu harus ingat. Aku akan selalu bersama dengan kamu dan mendampingin kamu dari dulu sampai nanti" kata laki-laki itu sebelum menutup teleponnya


"Yah aku tau, karena kamu memang selalu bersama denganku. Disisiku" bisik Ella lirih


"Baiklah sayang, aku harus pergi" kata laki-laki itu


"Oh ya, Aku lupa memberitahumu Indy sudah terbang ke Jakarta mungkin beberapa menit lagi dia sudah sampai disana" katanya lalu menutup teleponnya


"Ck, dia lagi. Kapan gue bisa lepas dari dia" gumam Ella kesal saat tau Indy akan ke Jakarta


...----------------...