
Sepeninggal Ella, Kavin mengambil ponselnya dan mengetik pesan kepada sahabat-sahabatnya yang lain.
...Somplakk Genk...
^^^Ella kembali ^^^
Rei
Beneran?
Demi apa?
Addi
Beneran?
Demi apa? (2)
Radhit
Beneran?
Demi apa? (3)
Anya
Beneran?
Demi apa? (4)
Rena
Beneran?
Demi apa? (5)
Evan
(6)
^^^Serius^^^
^^^Gue tadi ketemu dia di rumah sakit ^^^
Evan
Kak El sakit lagi
Addi
Sakit apa?
^^^Bukan^^^
Anya
Lah trus?
^^^Dia kerja disana ^^^
^^^jadi dokter^^^
Rena
Dokter??
OMG!!
Sahabat gue keren banget
Anya
Bangga gue jadi sahabatnya
Evan
Ck, sahabat apanya?
Selama 8 tahun nggak pernah komunikasi sama Kak El
Tiba-tiba ngaku jadi sahabatnya.
Situ sehat π
Rena
Bocah! Yang sopan kalau ngomong
Anya
Nggak ada tata Krama banget kalau ngomong.
Evan
Lah gue jujur, emang kalian buang kak El gitu aja
Padahal Kak El udah berkorban banyak buat kalian.
Emang nggak tau diri jadi sahabat
Rena
Diem Lo bocah!!
Kalau nggak tau apa-apa itu mending diem
Anya
Bocah!!
Rei
Woi
Ngapa jadi berantem disini sihπ’π’
Addi
Tau nih, kalau mau berantem mending ketemu
Baku hantam sekalian ππ
Rei
Addi bego
Orang berantem malah disuruh baku hantamππ
^^^Berisik ^^^
^^^Kenapa jadi kalian yang ribut^^^
^^^Jam 8 ^^^
^^^Di cafe biasa.^^^
...----------------...
Pesan Kavin, lalu memasukkan ponselnya ke sakunya dan pergi menemui bundanya yang sudah menunggunya di mobil.
...----------------...
"Gimana?" tanya Lina kepo
"Apanya?" tanya balik Kavin yang masih fokus menyetir
"Ella? Kamu ngomong apa aja sama Ella? Dia maafin kamu kan?" tanya Lina beruntun
"Maafin" jawab Kavin jujur apa adanya
"Bunda tau. Ella pasti maafin kamu, dia itu anak yang baik dan lembut"
"Untungkan bunda tadi ijin ke toilet, jadi kalian bisa ngobrol berdua" kata Lina santai.
Sebenarnya Lina tidak hanya pergi ke toilet. Tapi ia keluar dan memilih menunggu Kavin di mobil. Alasannya supaya putra bodohnya ini bisa berbicara berduaan dengan Ella.
Dan rupanya usahanya tidak sia-sia.
"Jadi kapan kamu balik sama Ella?" tanya Lina tak sabar
"Balik apanya? Aku sama Ella cuma temenan" kata Kavin menutupi fakta sesungguhnya
"Yah, kok gitu" kata Lina kecewa lalu memicingkan matanya curiga pada Kavin
"Apa lagi?" tanya Kavin lelah melihat bundanya yang curiga padanya
"Jangan-jangan kamu nggak mau balik sama Ella, gara-gara gadis urakan itukan" kata Lina curiga
"Denger ya Kavin, sampai kapanpun bunda tidak akan merestui kamu sama gadis urakan itu" kata nya tegas
"Dia punya nama, Bun. Namanya Diana" kata Kavin menghiraukan perkataan Lina. Dirinya sudah kebal dan terbiasa dengan sikap bundanya pada pacarnya itu.
Dari awal Kavin memang sudah tau bundanya ini tidak menyukai Diana. Entah apa alasannya, Lina sedari dulu sudah tidak menyukai Diana.
"Bodo amat, bunda nggak peduli namanya" kata Lina acuh
"Yang jelas bunda nggak mau punya menantu seperti dia" katanya sangat tegas
"Kamu paham?" tanyanya pada Kavin
Kavin yang sudah lelah hanya mengangguk kepalanya setuju tanpa banyak komentar lagi.
"Bagus, itu baru anak baik" kata Lina puas
...----------------...
Cafe,
"Lo itu jangan gitu sama Kak Rena dan Kak Anya" tegur Radhit pada Evan yang dengan cuek memainkan ponselnya
"Meskipun Lo nggak suka mereka, setidaknya Lo harus menghormati mereka sedikit. Bagaimanapun mereka temenn6a bang Kavin" kata Radhit menasehati
"Ck" decak Evan sinis
"Van" ingat Radhit
"Mereka itu sahabat-sahabatnya kak Ella" kata Radhit
"Dulu" kata Evan mengingatkan Radhit
"Yah kan-"
"Dhit, gue nggak peduli mau mereka sahabatnya Kavin ataupun Kak Ella. Tapi yang harus Lo inget gue paling benci sama orang yang munafik. Lo harus tau itu" kata Evan tanpa repot-repot memanggil Kavin Abang
"Munafik gimana?" tanya Radhit tak paham
"Gue cowok dan Lo juga cowok, kita sama-sama paham. Kalau Anya punya perasaan lebih buat Kavin. Selama ini dia kelihatan sedih karena Kak Ella putus, tapi nyatanya dia orang yang paling bahagia saat tau Kak Ella dan Kavin tolol itu putus"
"Sahabat mana yang bahagia, saat sahabatnya terluka?"
"Meskipun nggak ikut sedih pun. Minimal mereka seharusnya menghibur Kak Ella yang sedih. Tapi apa, mereka malah pesta saat Kavin pertama pacaran sama Diana" Kata Evan menjelaskan mengapa dirinya tidak suka dengan kedua perempuan itu
"Gue bodo amat sama mereka semua. Tapi gue ngerasa bersalah saat inget tatapan mata Kak El. Tatapan yang selalu memberikan kenyamanan dan kehangatan untuk kita semua" kata Evan termenung
"Ingat nggak Lo. Saat kak El bela-belain dateng cuma buat menghibur Rena yang baru putus, padahal dirinya sendiri masih sakit. Tapi dia bela-belain dateng buat sahabatnya"
"Lalu saat kak El sedih, kemana mereka semua" kata Evan tertawa sinis
"Mereka pergi, dengan dalih mengejar kebahagiaan masing-masing. Mereka pergi, pergi tanpa menoleh ke belakang. Menoleh untuk melihat siapa yang dibelakang mereka saat mereka jatuh" kata Evan menatap Radhit
"Bener-bener habis manis sepa dibuang" sinis Evan
Sibuk dengan perbincangan mereka berdua, baik Evan maupun Radhit tidak menyadari kedatangan Rena dan Anya di belakang mereka. Hingga..
"Lo kok berdiri aja?" tanya Rei yang baru datang bersama Addi
"Iya" kata Rena tersenyum canggung
"Ayo" kata Addi mengajak mereka untuk lebih mendekat kearah Evan dan Radhit
"Udah lama?" tanya Addi basa-basi kepada Evan dan Radhit
"Lumayan" jawab Radhit melirik jam
"Kalian mau pesen apa?" tanya Rei
"Kita udah pesen" jawab Radhit menunjuk 2 gelas jus di meja mereka.
"Kalian?" tanya Rei menatap Rena dan Anya
"Sama in aja" jawab Rena tak tau harus bagaimana saat berhadapan dengan Evan, padahal ia yakin Evan dan Radhit tidak menyadari kedatangan ya dan Anya. Tapi tetap saja canggung rasanya saat melihat Evan.
"Kenapa?" tanya Evan pada Rena yang sesekali meliriknya
"Nggak papa" jawab Rena
"Kavin mana?" tanyanya mengalihkan pembicaraan
"Mungkin bentar lagi dia datang" jawab Addi
Dan benar saja setelah menunggu 10 menit, Kavin akhirnya datang.
"Maaf telat" kata Kavin duduk di kursi yang masih kosong
"Macet?" tanya Anya yang di balas lirikan sinis dari Evan
"Bukan, cuma gue tadi harus nganterin bunda dulu" kata Kavin
"Oh ya, katanya Lo ketemu Ella di rumah sakit? Ella dokter?" tanya Rei yang sudah sangat penasaran
"Iya, gue ketemu Ella di Rumah Sakit. Kebetulan dia dokter yang meriksa bunda" kata Kavin jujur
"Hebat" puji Evan tenang
"Maksudnya?" tanya Kavin bingung dengan respon Evan
"Bukan apa-apa" jawab Evan anteng
"Dia masih sama seperti dulu. Manis, ramah, dan tatapannya sehangat matahari. Hanya saja dia terlihat sangat anggun sekarang" kata Kavin menjelaskan
"Kapan-kapan kita harus ketemu sama Ella" kata Rei antusias
"Yah harus" kata Kavin yakin
...----------------...