
"Aku tau kamu pasti laper" kata Ella dari arah dapur
"Jadi, aku buatin kamu spaghetti" tambahnya meletakkan 2 piring spaghetti di meja makan
"Makasih, sayang" kata Kavin memeluk singkat Ella
"makasihnya nanti aja. Sekarang kamu makan dulu" kata Ella mendorong Kavin untuk duduk di kursi
"Dan habis itu kamu harus anterin aku ke Rumah Sakit, karena aku ada janji check up sama dokter Wisnu" jelas Ella ikut duduk disamping Kavin
"Iya iya,, nanti aku anterin kamu" kata Kavin mengacak rambut Ella gemas
"gimana?" tanya Ella setelah Kavin mencoba masakannya
"enak kayak biasanya" jawab Kavin tersenyum manis
"Kamu tau nggak, Aku kangen masakan kamu selama kamu tinggal disini" tambahnya
"Halah bilangnya kangen, tapi realitanya kamu happy-happy aja sama dedek emesmu itu" kata Ella sinis
"dedek emes siapa?" tanya Kavin bingung
"nggak usah sok nggak tau" jawab Ella semakin ketus
"aku serius nggak tau" kata Kavin membela diri
"ck, maksud aku Diana" kata Ella memberi tahu
"Sayang" kata Kavin mengambil tangan Ella untuk digenggamnya
"aku sama Diana itu nggak ada apa-apa" katanya
"aku cuma kasihan aja sama dia"
"oh ya??" tanya Ella sinis
"iya, kalau kamu nggak percaya kamu tanya sendiri aja sama Diana" jawab Kavin
"Bener?" tanya Ella memastikan
"bener, aku cuma nganggep dia adik nggak lebih" jawab Kavin penuh keyakinan. Melihat tatapan mata Kavin yang tulus, mau tidak mau Ella mencoba untuk percaya.
"Lagian aku cinta banget sama kamu, kita juga udah tunangan. Keluargaku juga udah sayang banget sama kamu, apalagi bunda" tambah Kavin
"Aku harap kamu nggak ngecewain aku kali ini" kata Ella menatap dalam Kavin
"Aku mohon sama kamu, jangan rusak kepercayaanku. Karna, jika itu terjadi aku benar-benar akan mundur dari hubungan ini" tambahnya
"iya sayang. Aku akan berusaha jaga kepercayaan kamu" kata Kavin mengelus pipi Ella lembut
"Yaudah, kalau gitu kita lanjutin makan dulu. Aku tau kamu punya banyak hal yang ingin kamu tanyakan sama aku" tebak Ella tepat sasaran
"oke, kita lanjut makan dulu" kata Kavin setuju
_______
"Kita punya waktu satu jam sebelum ke rumah sakit" kata Ella melirik jam dipergelangan tangannya
"So, kamu mau tanya apa?" tanya Ella berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri
Sejak kedatangan Kavin. Ella sudah tau sebenarnya tujuan Kavin datang, hanya saja Ella menunggu waktu yang tepat untuk memulai pembicaraan. Dan tebakan Ella adalah tentang masalah masa lalu keluarganya lah yang pasti akan ditanyakan Kavin.
Hampir 4 tahun mengenal Kavin, Ella sangat tau betul. Bahwa Kavin itu bukan tipe tunangan yang akan sering menemui tunangannya jika bukan untuk urusan penting.
Bukannya tidak sayang, Tapi karna Kavin tau Ella sibuk dengan segala pengobatannya dan tidak ingin banyak mengganggu Ella. Ditambah Ia juga punya kesibukan sendiri yang kadang memang benar-benar tidak bisa ditinggal lama-lama.
Benar-benar bukan tunangannya yang perhatian dan romantis_-
"Aku tau, kamu pasti udah bisa nebak apa yang mau aku tanyakan" kata Kavin setelah diam sejenak
"Dan aku tau kamu pasti juga sudah tau jawabannya" kata Ella
"tapi kalau kamu emang mau tau dari aku langsung. Aku bisa jawab. Jadi, kamu mau tau apa?" tanya Ella
"masa kecil kamu?" tanya Kavin
"Bisa dibilang cukup berkesan untukku. Papi meninggal saat usiaku 3 or 4 tahunan. Saat itu juga hidupku berubah 180°, Kav. Tidak ada lagi mami yang 24 jam selalu ada untukku" kata Ella berhenti sejenak untuk melihat reaksi tunangannya. Dan benar saja, meskipun sudah tau garis besarnya. Tetap saja wajah syok, sedih, kecewa, dan bingung terpampang jelas di wajahnya.
"Aku dulu bukan dari keluarga kaya seperti sekarang yang kamu tau. Aku, mami dan Alm. papi hanya hidup sederhana. Tapi kami sangat bahagia. Mami selalu ada untukku dan papi yang selalu mengajarkan banyak hal baru. Masa kecil yang bahagia awalnya. Hingga semuanya berubah" lanjut Ella melihat Kavin yang hanya diam saja mendengarkan ceritanya
"Sejak kematian papi, mami mau tidak mau harus bekerja keras untuk menafkahiku. Mami yang dulunya selalu menemaniku, harus merelakan waktunya" kata Ella
"dan kamu?" tanya Kavin
"Aku ikut Oma dan opa" jawab Ella
"kamu tau, Ella kecil saat itu sangat kesepian" tambahnya
"Tapi aku bisa apa, Kav. Diumur sekecil itu aku dituntut untuk paham situasi yang cukup ribet sebenarnya" kata Ella berusaha menahan air matanya
"Athaya?" tanya Kavin lagi
"Emm.. setelah kurang lebih 4 tahun aku hanya hidup dengan mami berdua. Mami akhirnya memutuskan untuk menikah lagi dengan pria yang usianya 5 tahun lebih muda darinya. Meskipun hatiku sakit melihat mami yang menikah lagi. Tapi aku hanya bisa berusaha mengerti posisi mami yang pastinya membutuhkan pendamping hidup" jawab Ella
"lalu dimana papa tiri kamu sekarang?" tanya Kavin
"Sayangnya, setelah 1 tahun menikah dan Athaya lahir. Mami dan papa tiriku menjadi sering bertengkar. Saat itu aku tidak tau pasti apa yang membuat mereka bertengkar.
Hingga malam itu, malam yang cukup membekas dihatiku hingga sekarang. Mama dan papa tiriku bertengkar hebat. Papa tiriku sempat ingin membawa paksa Athaya tapi gagal karna aku menelpon Oma dan opa untuk datang kerumah. Aku benar-benar sangat ketakutan Kavin saat itu. Bayangkan anak usia 9 tahun harus mendengar dan melihat kedua orang tuanya saling mencaci. Hatiku sakit melihat mami yang sudah berjuang mati-matian untukku harus menangis. Dan dimalam itu juga terakhir kalinya aku melihat papa tiriku" kata Ella dengan air mata yang jatuh dengan sendirinya padahal sudah susah payah ia tahan sedari tadi
"nangis aja nggak papa ada aku disini" kata Kavin mendekap tubuh Ella erat
Hati Kavin serasa diremas-remas melihat tunangannya yang selama ini ia kira baik-baik saja ternyata menyimpan luka yang cukup dalam.
"Hikss... Kavin.. Hikss.." tangis Ella akhirnya pecah dipelukan Kavin. Pelukan yang selalu ia impikan sedari dulu. Pelukan seorang kekasih, disaat ia sedang terpuruk.
"Iya aku disini" kata Kavin mengusap punggung Ella berusaha menenangkannya
"Dan yang paling menyakitkan untukku.. Saat aku tau ternyata aku yang menyebabkan mami harus berpisah dengan papanya Athaya" kata Ella dengan air mata yang bercucuran
Kavin bingung dengan yang dimaksud Kavin sebenarnya. Pikirannya mulai menebak-nebak segala kemungkinan yang terjadi. Hingga pikirannya menujuk kesatu arah.
'nggak mungkin kan?' batin Kavin menyakinkan dirinya sendiri
"iya, Kav. papa tiriku tidak suka dengan kehadiranku. Hikss.. hiks..
Karna mami tau itu, mami memutuskan untuk mempertahankanku dan memilih meninggalkannya.
Kavin....
Aku, anak yang paling jahat karna sudah merusak rumah tangga mamiku.
Aku juga, kakak yang buruk untuk Athaya karna menyebabkan ia harus berpisah dengan papa kandungnya" kata Ella menangis sesenggukan
Grebb
"shutt... jangan bilang gitu kamu anak yang sangat baik untuk mami dan kakak yang penyayang untuk Athaya" kata Kavin memeluk Ella erat. Ia berharap pelukannya bisa memberikan kekuatan untuk Ella
"Hai liat aku" kata Kavin melepaskan pelukan mereka dan menyuruh Ella untuk menatapnya
"Aku yakin mami pasti tau yang terbaik untuk kalian semua. Hingga membuat keputusan seperti itu. Jadi jangan menyalahkan diri kamu sendiri" kata Kavin menatap dalam Ella
'Kavin benar nggak seharusnya aku nyalahin diri sendiri. Aku nggak mau mami sedih kalau tau isi pikiranku yang sebenarnya' pikir Ella dengan jernih
"Kav" kata Ella setelah memenangkan dirinya
"hmm" gumam Kavin mengusap pipi Ella
"Makasih" kata Ella memeluk Kavin erat
"iya sayang" kata Kavin membalas pelukan Ella
Next???
____➖➖➖
Jangan lupa Like👍 dan Komen💬