
Di Kantin SMA Garuda.
Anya, Kavin, Rei, Addi, Radhit, dan Evan sedang berkumpul untuk istirahat makan siang.
"Hei, menurut kalian Ella sebenarnya sakit apa sih?" tanya Rei membuka pembicaraan
"Bukannya cuma kecapekan biasa" jawab Addi sambil memakan sotonya
"Kalau emang sakit biasa, bukannya terlalu lama ya dirawatnya" timpal Radhit
"Ini udah hampir 2 Minggu kak El dirawat" kata Evan
"Bukannya apa-apa gue nanya gini. Tapi gue beneran penasaran + khawatir sama kondisi Ella" kata Rei yang memang mengkhawatirkan kondisi Ella
"Kalaupun kondisinya serius, setidaknya kita tau dan bisa ngasih support untuk kesembuhan Ella" tambahnya mendapat anggukan setuju dari yang lain
"Nya?" panggil Kavin menatap penuh selidik ke arah Anya
"Kali ini gue bener-bener nggak tau apa-apa" kata Anya saat melihat mereka menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan
"Lo kan biasanya tau semua rahasia Ella" kata Rei curiga Anya berbohong
"Cih, kalau menurut kalian gue tau segalanya tentang Ella. Kalian salah" ketus Anya kesal karna dicurigai
"Kok gitu, kan kalian sahabatan" komentar Evan
"Jadi sahabat nggak harus selalu harus tau privasi sahabatnya" kata Anya tajam
"Yang gue tau itu cuma 4% dari semua rahasia Ella" tambahnya
"Berarti masih banyak dong, hal-hal yang nggak kita ketahui tentang kak Ella" kata Radhit tercengang
"Bisa dibilang begitu" kata Anya meminum jus stroberinya
"Lagi pula Ella itu bukan tipe orang yang gampang mengungkapkan isi hati dan pikirannya" tekan Anya
"Kalau gitu Lo tau sesuatu tentang kondisi Ella saat ini?" tanya Kavin lagi
"Gue bener-bener nggak tau, yang gue tau terakhir kali gue jenguk dia. Mukanya pucat banget" kata Anya putus asa menjelaskan pada mereka bahwa ia tidak tau apa-apa
3 hari yang lalu, Anya bersama Rena datang untuk menjenguk Ella yang masih berada di Rumah Sakit. Jujur saja, mereka memang merasa ada yang aneh dengan Ella, Ella terlihat kesakitan dan mukanya sangat pucat. Anya dan Rena saat itu merasa sangat khawatir dan bertanya tentang kondisinya. Tapi seperti biasanya Ella cuma tersenyum dan mengatakan dia baik-baik saja.
"El, Lo beneran nggak papa?" tanya Anya khawatir
"Hmm" gumam Ella lirih
"Muka Lo pucat, mau di panggilin dokter" tawar Rena juga khawatir
"Nggak usah, gue nggak papa" tolak Ella berusaha tersenyum untuk menenangkan kedua sahabatnya
"Jangan bohong, muka Lo beneran pucat banget" kata Rena menggenggam tangan Ella yang tidak ada infusnya
"Gue bener-bener nggak papa. Pliss jangan tanya lagi" keluh Ella
"Kepala gue sedikit pusing, mangkanya gue kelihatan pucat" tambah Ella memberikan alasan
"Yaudah,, Lo istirahat aja" putus Rena tidak ingin memaksa Ella untuk jujur
"Kita pulang dulu aja, biar Lo bisa istirahat" pamit Anya
...----------------...
"Saat itu, gue emang ngerasa ada yang salah, tapi karna Ella nggak mau ngomong. Yaudah mau gimana lagi" kata Anya sambil menyeruput jusnya
"Bang, Lo kan tunangannya. Coba tanya, siapa tau kak El mau jawab" usul Radhit
"Kalau sama gue aja Ella nggak mau ngomong apalagi sama Kavin" kata Anya sinis
"Loh kenapa?" tanya Rei heran
"Logika aja nih ya, dari semua rahasia Ella. Kavin orang terakhir yang tau" jawab Ella disetujui mereka
"Tapi kalau kalian mau coba juga nggak papa" kata Anya
"Nanti gue usahain" kata Kavin, bukannya pesimis hanya saja Kavin juga sadar diri. Ia merasa Ella memang tidak sepenuhnya mempercayainya.
"Ok"
"Btw, Rena mana Nya?" tanya Addi sadar bahwa rena tidak ada diantara mereka
"Loh" kejut Anya yang juga sadar ketidakadaan Rena
"Yah, mana kita tau kan kita beda kelas" kata Rei
"Jahat banget kak Anya, masak sahabatnya nggak ada nggak sadar" sindir Evan yang sebetulnya sedikit tidak suka dengan Anya
Alasannya simple sebenarnya. Menurut Evan, Anya ini terlalu egois dan kekanak-kanakan. Beda dengan Rena dan Ella yang dewasa. Terbukti, saat Anya tau mantan pacarnya suka dengan Ella. Anya langsung menjauhi Ella yang sebenarnya tidak tau apa-apa. Bahkan, Anya tidak terlalu peduli dengan sahabat-sahabatnya yang sedang kesusahan. Berbeda dengan Ella dan Rena yang sangat peduli padanya.
1 hal lagi yang membuat Evan tidak menyukai Anya adalah fakta bahwa Anya pernah menaruh perasaan pada Kavin yang notabennya pacar sahabatnya sendiri pada saat itu. Evan tidak yakin berapa banyak orang yang sudah mengetahui fakta ini, tapi ia yakin 100% bahwa Ella sudah mengetahuinya dan bersikap seolah tidak tau apa-apa.
(So, itu tadi pendapat Evan. Menurut kalian gimana readers??)
Okay, back to topic
"Emang gue harus tau keberadaan Rena 24 jam" balas Anya sinis
"Seenggaknya, itu membuktikan kak Anya peduli sama sahabatnya sendiri" kata Evan tajam
"Udah jangan berantem" kata Kavin memisahkan mereka
"Mungkin Rena ada urusan"
"5 menit lagi bel masuk, ayo kita masuk" kata Kavin membubarkan mereka
...----------------...
Diwaktu yang sama, tepatnya di sebuah danau yang terletak di pinggiran kota Jakarta. Gadis yang dicari-cari sedari tadi sedang duduk termenung di pinggir danau sambil sesekali menghapus air matanya. Entah apa yang sedang dipikirnya, tapi raut wajahnya menunjukkan kekecewaan yang luar biasa besar.
"Hiks hikss hiks" semakin lama ia melamun semakin keras tangisannya terdengar.
Hingga sebuah suara mengejutkannya.
"Sampai kapan, Rena?" tanya seorang gadis yang juga berada disana
Yah, Gadis yang menangis tadi adalah Rena yang menghilang secara tiba-tiba di sekolah.
Merasa terkejut karna ada yang bertanya padanya, Rena segera membalikkan badannya. Betapa terkejutnya Rena, saat mengetahui orang yang sangat dibutuhkannya ada disini. Dengan perasaan campur aduk antara haru, sedih, kecewa, dan senang. Rena segera berlari menghampiri gadis itu, lalu memeluknya sangat erat
Grepp
"Tak apa Ella disini bersama Rena" kata gadis itu membalas pelukan Rena dengan erat
"hikss hikss"
"Tak apa" kata gadis itu yang tak lain adalah Ella
"Ella hikss" tangis Rena pecah saat berada dipelukkan Ella.
"Iya Ella disini bersama Rena" gumam Ella mengeratkan pelukannya
...----------------...
Setelah beberapa saat berpelukan, Ella merasa Rena sudah cukup bisa mengendalikan emosinya. Akhirnya mulai membuka pembicaraan.
"Kebiasaan Lo, kalau sedih pasti kesini" kata Ella mengurai pelukan mereka
"Kok bisa, Lo kesini?" tanya rena menghapus jejak air mata di pipinya
"Gadis bodoh masih aja nanya, Gue khawatir sama Lo" kata Ella menyentil pelan kening Rena
"Maafin gue" gumam Rena merasa bersalah karna merepotkan sahabatnya yang sedang sakit
"Nggak usah dipikirin"
"Yang penting Lo baik-baik aja" kata Ella santai duduk di rerumputan
"Terimakasih" gumam Rena lirih yang masih didengar oleh Ella
"Berapa kali gue harus bilang. Dalam persahabatan tidak ada kata maaf dan terimakasih. Paham?" kata Ella mendongak menatap Rena
"Hmm" kata Rena ikutan duduk disamping Ella
"Sebenarnya ada apa??" tanya Ella menatap Rena
"Ini masalah---
...----------------...
...Next?...