
Aku tak tau semuanya bermula dari mana.
Rasa trauma, sakit dan kesedihan ini, aku sudah menyimpan semuanya sejak lama dan mendalam. Rasa yang selalu aku pendam sendiri dan berusaha terlihat baik-baik saja didepan semua orang. Nyatanya menjadi boomerang untukku lalu menghancurkanku sekaligus tanpa sisa.
Jika diingat-ingat semua bermula saat kematian ayahku. Semua orang mengatakan ayahku meninggal karna bunuh diri. Mama mengatakan ayah meninggal karna kecelakaan kerja. Lalu mana yang harus aku percaya, keduanya sama-sama meyakinkan.
Tapi ayahku tidak mungkin bunuh dirikan? Ayah tidak mungkin meninggalkan putrinya yang masih berusia 3 tahun sendirian didunia yang kejam ini tanpa sosoknya. Ayahku tidak mungkin setega itu denganku.
Sepeninggal ayah, mama harus bekerja untuk menghidupiku. Aku hampir tidak pernah bisa bertemu dengan mama. Mama selalu sibuk dengan pekerjaannya dan hanya bertemu denganku untuk memarahiku. Tak apa, aku tak masalah mungkin mama terlalu lelah dengan pekerjaannya dan menjadi marah karna aku yang selalu nakal.
5 tahun kami berjuang bersama melewati suka dan duka berdua. Mamaku memutuskan untuk menikah lagi.
Aku setuju? Tentu saja tidak semudah itu. Hatiku masih belum rela ada yang menggantikan sosok ayah yang meskipun tidak pernah aku kenal dengan orang asing begitu saja.
Namun aku bisa apa? Apa yang anak usia 8 tahun bisa lakukan. Semua orang menyudutkanku saat aku tak setuju. Kakek, nenek, tante, bahkan keluarga besar yang hanya bertemu setahun sekali saat lebaran juga ikut menekanku agar aku setuju.
Mereka mengatakan "Kasihan mamamu, kalau selamanya sendiri. Mamamu masih muda, masa depannya masih panjang. Jangan egois dengan menahan kebahagiaan mamamu"
Jadi aku hanya bisa diam menahan semua perihku sendiri menuruti semua perkataan orang dewasa.
Bersama dengan pernikahan itu, hatiku juga ikut hancur sekaligus bahagia untuk mama. Jika diingat, aku tak ingat mengapa aku yang baru berusia 8 tahun harus menangis begitu histeris sampai tak ada yang bisa menenangkanku bahkan mama ku sendiri. Aku hanya mengingat hatiku terasa sesak dan sangat sakit.
Sebulan beradaptasi dengan keluarga baruku. Aku mulai nyaman. Aku merasa senang ada orang yang bisa aku panggil ayah lagi. Aku bahagia mendapatkan sosok ayah yang tak pernah aku rasakan. Apalagi setelah 1 tahun pernikahan, aku memiliki seorang adik laki-laki.
Adik yang begitu tampan dan lucu. Aku menyayanginya sangat menyayanginya meskipun kami berbeda ayah. Dia adik kecilku yang manis. Aku merasa keluarga sudah lengkap dan bahagia.
Sayangnya impian dan harapanku harus hancur. Mama dan ayah tiriku memilih untuk berpisah. Ayah meninggalkan kami bertiga. Meninggalkan mama yang harus kembali bekerja keras untuk biaya sekolah dan keperluan adikku yang masih bayi. Meninggalkan adikku yang baru berusia 3 bulan tanpa sosok ayah. Aku masih ingat bagaimana susahnya mama mencari uang untuk kami. Tak ada kata lelah dan menyerah dalam langkahnya. Mama benar-benar wanita terhebat yang aku kenal.
Dulu aku tak paham kenapa mereka berpisah padahal adik masih kecil. Namun kini aku tau, ayah meninggalkan mama dan adik karena aku. Ia tak senang dengan kehadiranku yang menganggunya. Kadang aku berfikir, jika aku memang penghambat kebahagiaan mama dan adik. Karna aku, mama harus bekerja keras lagi. Karna aku, adik harus kehilangan sosok ayahnya.
Bertahun-tahun kami bertahan. Saling menguatkan satu sama lain. Aku mencoba sesedikit mungkin untuk merepotkan mama.
Dalam perjalanan hidupku, aku harus menghadapi banyak cobaan. Seakan fisik dan mentalku diuji habis-habisan.
Saat SMP, aku pernah menjadi korban peleceh*n salah satu guruku. Hatiku hancur saat itu aku takut dan malu. Aku tak pernah bilang kesiapapun bahkan kepada mama. Aku tak ingin mama ikut hancur saat mengetahui putrinya yang begitu dia lindungi harus mengalami hal yang sangat mengerikan. Kututupi semuanya sendirian. Mengobati rasa takut dan traumaku.
Disaat itu juga aku harus menghadapi kenyataan, aku sakit. Aku didiagnosa memiliki tumor dan harus segera dioperasi.
Aku merasa tuhan sangat tidak berpihak kepadaku. Mengapa aku harus mengalaminya. Tak cukupkah mentalku yang dihancurkan, kenapa fisikku juga.
Lagi dan lagi aku harus sabar dan fokus pada penyembuhanku.
Kesabaranku membuahkan hasil aku sembuh. Baru saja ingin bahagia.
Aku kembali harus merasakan kesedihan. Salah satu tanteku harus berpisah padahal pernihakannya baru beberapa hari. Aku kembali dihadapkan dengan kata perceraian.
Namun tak hanya itu, tanteku yang lainnya yang sangat dekat bahkan seperti ibu kedua untukku harus menelan pil pahit saat tau suaminya berselingkuh. Pernikahan 10 tahun seperti berada dijalan yang sempit dan pengap.
Aku berusaha sedemikian rupa mengembalikan senyum adik sepupuku. Aku tak ingin ia merasakan menjadi aku dulu. Ku tutupi rasa kehilangan akan kehadiran mamanya dengan keberadaanku.
Perjuangan tanteku tak sia-sia. Pernikahannya masih bisa diselamatkan meskipun jalannya sulit dan panjang.
Kadang aku merasa tak ada lagi yang bisa aku percaya. Aku semakin takut untuk melangkah, dunia ini begitu gelap dan menyakitkan untuk diriku. Tak ada cahaya sedikitpun didunia ini. Semuanya hanya hitam dan gelap.
Bertahun-tahun berikutnya. Aku mencoba ikhlas dan memperbanyak sabar. Sembari mengobati luka dan trauma yang tak kunjung sembuh.
Menguatkan diri, mengatakan dengan lantang bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Hampir 10 tahun berlalu sejak perpisahan mama. Meski melewati jalan yang sulit dan trauma serta luka yang semakin menumpuk. Akhirnya aku bisa bertahan. Aku sedikit merasakan udara segar didunia yang pengap ini.
Hingga sesuatu datang. Mama meminta ijin untuk menikah lagi.
Aku tentu saja memberinya ijin. Aku ingin melihat mama bahagia dan tak kesepian dimasa tuanya.
Aku memberinya ijin 100% mendukung penuh niat baiknya. Hanya saja aku tak bisa tinggal bersama mama dan adikku lagi.
Bukan karna aku tak sayang mama dan adik. Aku juga tak ingin meninggalkan mereka. Hanya saja aku tak bisa. Aku tak sanggup.
Aku takut, mama.
Trauma dan rasa sakit itu masih ada. Tetep ada didalam hatiku. Tak pernah hilang sekeras aku mencoba mengobatinya.
Mama, putrimu ini ketakutan setiap hari. Putrimu tak pernah bisa tidur dan selalu menangis dimalam hari. Berharap ada yang mendengar setiap kesakitannya.
Aku mengijinkan mama untuk memulai hidup baru. Tapi tolong biarkan aku dengan keputusanku. Aku tak meminta mama memilih antara aku dan calonmu. Karna sampai kapanpun aku akan tetap menjadi putrimu dan mama akan tetap menjadi mama terhebatku.
Mama pantas bahagia dan memang harus bahagia. Maaf selama ini tak bisa membahagiakan mama. Tak bisa menjadi sandaran mama saat lelah.
Aku berani bersumpah memberikan doa serta restuku pada kalian. Tapi maaf mama jangan paksa aku untuk ikut dengan kalian.
Mental dan fisikku sudah lelah.
Aku terlalu lelah biarkan aku istirahat sendirian. Tak apa, mama tak meninggalkanku, aku juga tak meninggalkan mama.
Impian mama memiliki keluarga yang utuh ada didepan mata, Adik pasti senang dan aku juga akan ikut bahagia sangat bahagia saat kalian bahagia.
Sekali lagi maaf mama. Maafkan aku.
^^^^^^Da**ri putrimu yang egois**^^^^^^
...****************...