ELLAINE'S SECRET

ELLAINE'S SECRET
Ellaine's Secret Tamu tak diundang



Pulang sekolah,


"El" panggil Kavin dari arah belakang gue


"Apaan?" Tanya gue begitu melihat Kavin dan kedua sahabat curut nya didepan gue


"Pulang sama gue" katanya


"Gue bawa motor, jadi gue pulang sendiri aja" jelas gue


"Bener nggak papa pulang sendiri" kata Kavin khawatir


"Bener lagian berangkat tadi gue sendiri kok" sindir gue. Mengingat kejadian tadi pada saat Kavin lebih milih jemput cewek lain ketimbang gue


"Yaudah hati-hati" katanya nggak peka dengan sindiran gue


"Kok elo nggak nahan Ella sih? Harusnya elo itu paksa Ella supaya dia dianterin sama elo. Ella juga kok B aja pulang sendiri? Nggak sedih gitu?" Kata Addi gemas melihat kelakuan kami


"Buat apa? Kita itu pacaran. Bukan tukang ojek buat Ella yang kemana-mana harus diantar jemput. Lagian itu keputusan Ella, jadi gue harus hormati keputusannya sekecil apapun itu keputusannya selagi itu masih positif" jelas Kavin pada Addi


Ini yang bikin gue nyaman sama Kavin meskipun dia playboy. Kavin selalu menghormati keputusan gue, apapun itu selagi masih positif. Menurut gue Kavin itu bukan tukang ojek yang kemana-mana wajib nganterin gue. Kavin juga bukan security yang 24 jam harus ada disamping gue. Kita pacaran bahkan tunangan, tapi kita tetep saling menghormati privasi masing-masing dan tidak memaksakan keinginan kita pada pasangan.


Banyak yang bilang, Halah elo pacaran kok rasa temenan. Cowok loh jalan sama cewek lain elo diem aja, nggak cemburu emang.


Bukannya gue nggak cemburu, gue cuma percaya sama Kavin bahwa dia nggak akan nyakitin gue.


Bagi gue pribadi pacaran itu bukan hanya kemana-mana berdua, setiap hari ngomong cinta dll. Tapi pacaran itu, saling menghormati pasangan, menghormati juga privasi masing-masing, tidak memaksakan kehendak kita kepada pasangan jika dia nggak mau yaudah nggak usah dipaksa, saling memperbaiki diri jangan hanya saling melengkapi saja.


"Bener Kavin, lagian gue hafal jalan pulang kok. Jadi nggak bakal nyasar" canda gue


"Yaudah gue pergi dulu ya. Bye" kata gue sambil memegang pipi Kavin dan meninggalkan kelas untuk ke parkiran ngambil motor gue.


Sesampai dirumah, gue langsung menjatuhkan diri di kasur kesayangan gue. Gue lihat jam udah jam 4 sore. Kebetulan sekolah gue full-day jadi sekolah bubar jam 15.30 WIB


"Ganti baju dulu aja kali ya" kata gue mengganti seragam dengan baju santai


Selesai ganti baju, gue turun kebawah untuk beres-beres rumah. Jangan salah gini-gini gue sering beres-beres rumah apalagi saat mami kerja. Dirumah ini memang nggak ada pembantu sama sekali, alasannya gue nggak nyaman tinggal sama orang asing gue juga lebih suka rumah sunyi daripada rumah yang terlalu ramai.


"Nyapu udah, ngepel udah, rapiin baju juga udah tinggal nyiram bunga aja yang belum" kata gue sambil keluar rumah untuk menyiram bunga-bunga kesayangan mami.


Saat lagi asik nyiram bunga. Tiba-tiba ada segerombolan anak manusia yang dateng. Ada 5 remaja laki-laki yang seumuran dengan gue dan 1 orang gadis kecil.


"Kak Ella" teriak gadis kecil itu antusias berlari berhamburan memeluk gue


"Loh, Aya ngapain disini?" Tanya gue bingung


"Diajak bang Kavin" katanya sambil menunjuk Kavin yang berdiri tidak jauh dari kami


Yap, 6 anak manusia itu. Kavin, Addi, Rei, Radhit, Evan, dan Aya


"Ngapain?" Tanya gue pada Kavin


"Bunda lagi nggak ada dirumah" katanya memelas


"Lalu?" Tanya gue masih nggak connect


"Gue sama Aya mau makan malam disini" katanya enteng


"Disini?" Tanya gue memastikan


"Iya disini" jawabnya


"Ngapain? Kan elo bisa go food aja atau nggak ke restauran gitu" kata gue masih nggak paham jalan pikirnya


"Lo nggak suka gue sama Aya makan disini" katanya dengan wajah sok sedih


"Bukan gitu. Cuma gue masih nggak paham aja jalan pikiran elo" jelas gue buru-buru setelah melihat raut kecewa dari Aya


"Nggak paham apanya sih. Intinya gue sama aya mau numpang makan malam disini" kata Kavin


"Yaudah terserah elo deh" kata gue pasrah


"Tapi mereka berempat mau ngapain kesini?" Tanya gue menunjuk Addi, Rei, Radhit dan Evan


"Tentu aja kita juga mau numpang makan" kata Addi enteng yang diangguki semangat oleh 3 cowok yang lainnya


"Rumah Lo kebanjiran pakek numpang disini segala" kata gue jengah. Dipikir rumah gue penampungan apa, pakek numpang disini semua


"Nggak kebanjiran. Cuman, emak kami semua lagi liburan sama bundanya Kavin ke Paris" jelas Rei


"Dirumah nggak ada yang masakin kita" kata Radhit memasak muka memelas


"Bangkrut Lo semua. Sampek nggak bisa beli makanan" ketus gue


"Kita lagi bokek, uang semakin menipis jadi kita mau numpang disini juga" jelas Evan


"Pliss" kata mereka semua dengan puppy eyes nya


"Huftt, yaudah ayo masuk" kata gue pasrah


Saat akan masuk kedalam rumah. Satu tamu tak diundang datang lagi


"Ellaine" panggil wanita yang sedang menggendong bayi 1 tahun itu


"Tante Adis?" kata gue bingung melihat Tante Adis ada disini


"Hay Ella " sapa nya ramah


"Tante tumben kesini. Mami lagi nggak ada dirumah lagi ke luar kota baru aja berangkat tadi pagi" jelas gue, karna biasanya jika Tante gue Dateng pasti nyariin mami buat diajak shopping


"Tante kesini bukan buat nyariin Mami kamu" katanya


"Trus?" Tanya gue heran


"Tante kesini mau nitip Habibie + Kayla dan Athaya" jawabnya sambil melirik Habibie yang tidur di gendongannya dan Kayla serta Athaya di belakangnya


"Lah, tumben nggak dititipin ke Oma aja" tanya gue bingung. Karna biasanya kalau Tante Adis sedang sibuk, mereka pasti di titipin di Oma


"Nah itu masalahnya Tante mau perginya sama Oma. Nggak lama kok besok subuh, tante bakalan jemput Habibie kesini. Jadi kamu nggak perlu bolos sekolah. Untuk Athaya dan Kayla mereka juga udah bawa perlengkapan buat sekolah besok. Jadi kamu tinggal siapin mereka buat sekolah. Ntar pulangnya suruh pulang kerumah oma aja" katanya enteng tanpa memperdulikan gue yang syok


What!!! Besok subuh!! Ini artinya Habibie + Kayla bakalan nginep disini dong. Kalau Athaya sih, b aja karna diakan adek gue. Lah ini dua bocil yang lain ikut nginep


"Tapi tante, mami nggak ada dirumah Lo. Aku takutnya Habibie bakalan nangis nanti malam" bujuk gue


"Nggak tenang aja. Kamu kan tau sendiri. Dia itu anteng banget kalau sama kamu" kata Tante Adis


"Udah ya Tante pergi dulu, kasihan Oma nungguin dimobil" katanya sambil memberikan Habibie ke gendongan gue


"Lo-loh Tan, tunggu dulu-"


"Udah jangan protes. Tante titip mereka ya. Habibie mama pergi dulu ya, Kayla jangan nakal oke" katanya memutus omongan gue. Setelah berpamitan pada kami. Tante pergi begitu saja meninggalkan gue dengan 3 krucil-krucil ini. Hiks, miris banget nasib gue hari ini.


Huft..


"Oke kids ayo kita masuk" kata gue menyuruh mereka masuk.


"Eh.. anak siapa ini El" kata Addi mengagetkan gue yang baru masuk kedalam rumah


"****, gue lupa sama mereka" kata gue dalam hati melihat 5 cowok sedang nyantai duduk di sofa ruang tamu dengan seorang gadis kecil diantara mereka


"Lo nyuri bayi dimana El" kata Rei histeris


"Diem Lo!! Sampek anak gue bangun. Gue bunuh Lo" ancam gue


"Ah, elo jahat banget jadi orang" kata Rei cengengesan


"Hai, Athaya kita ketemu lagi" kata Kavin menyapa Athaya


"Hai juga bang Kavin" balas Athaya


"So, mereka siapa?" Tanya Evan


"Kids, ayo perkenalan diri kalian sama mereka" pinta gue


"Athaya, adiknya kak Ella " kata Athaya percaya diri


"Kayla" kata Kayla dengan suara mirip tikus kejepit karna malu sambil berdiri dibelakang gue


"Sepupu gue" jelas gue melihat tatapan penuh tanya dari mereka


"Dan ini Habibie adiknya Kayla yang otomatis sepupu gue juga " tambah gue melirik Habibie yang masih tidur dengan nyenyak


"Mereka?" Tanya Radhit bingung


"Mereka bakalan nginep disini mamanya lagi sibuk" jelas gue singkat


"Ohh"


"Kayla sama Athaya udah mandi" tanya gue


"Belom" jawab mereka sambil menggelengkan kepalanya


"Yaudah ayo kita mandi dulu" kata gue


"Jangan berisik. Sampek Habibie bangun denger suara kalian, gue usir kalian dari sini" ancam gue pada mereka setelah menidurkan Habibie di karpet berbulu


"Gue nitip bayi gue. Awas Sampek kenapa-kenapa" kata gue


"Aya udah mandi?" Tanya gue lembut pada Ay


"Belom kak" jawabnya


"Ayo kita mandi juga" ajak gue pada Aya


Gue pun ngajak Kayla dan aya ke kamar gue buat mandi sedangkan Athaya karna dia cowok gue suruh dia mandi di kamarnya sendiri. Namun baru beberapa langkah, gue denger sesuatu


"Ella sama Aya aja ngomongnya lembut banget. Lah sama kita tajam banget kalau ngomong" bisik Rei pelan tapi masih gue denger dengan baik


"Iya Ella pilih kasih jadi orang" kata Addi tak kalah pelan


"Gue denger woyy. Diem nggak atau pulang aja sana" kata gue ketus


"Cih, iya Iya ini diem" kata Addi pelan


"Udah sana mandi" kata Kavin menengahi kami


"Iya ini mau mandi" kata gue. Lalu menuntun para bocah unyu-unyu ini ke lantai 2


selesai mandi gue minta Athaya, Kayla, dan Aya untuk main dulu di taman sedangkan gue mau ke dapur dulu masak.


Di dapur, Gue lagi nyiapin makan malam buat mereka semua. Gue pilih masak makanan yang umumnya banyak disukai anak-anak dan orang dewasa. Gue masak Chicken Fajita Pasta, Kimbab, Cream soup sama pudding mangga.


Setelah lama berkutat di dapur, masakan gue udah siap tinggal dipindahin ke meja makan aja. Saat selesai memindahkan semua makanan di meja makan. Gue tiba-tiba inget sesuatu.


"Ah, gue lupa makanan buat Habibie. Tadi sih Tante Adis udah bilang Habibie udah makan. Jadi nggak perlu makan, makanan yang berat-berat lagi malamnya. Apa gue buat smoothies aja kali ya. Yaudah deh gue bikin smoothies aja buat Habibie" pikir gue


15 menit berlalu smoothies buat Habibie sudah jadi. Tinggal dipindahin di mangkok aja. Saat akan mengambil mangkok. Tiba-tiba Kavin datang dengan Habibie digendongnya.


"Kenapa?" Tanya gue saat melihat mata Habibie memerah seperti habis menangis


"Nangis" jawab Kavin singkat


"Habibie kenapa? Sini sama kakak" kata gue mengambil Habibie dari gendongan Kavin


"Habibie habis nangis ya" tanya gue lembut yang dibalas pelukan erat dari Habibie


"Sayang" panggil gue lembut yang membuat Habibie melihat kearah gue


"Mamam" kata Habibie dengan suara bayinya


"Aih, kamu laper ya. Ini kakak buatin smoothies buat Habibie. Entar kita makan bareng ya. Sekarang kamu ikut bang Kavin dulu. Kakak mau nyiapin makan malam. Oke" jelas gue pada Habibie


"Ke" jawabnya


"Kamu bawa Habibie dulu. Aku siapin ini bentar, dan juga kamu panggil mereka ke ruang makan. Kita makan malam bareng" pinta gue pada Kavin


"Istri idaman banget sih kamu" puji Kavin sambil mengambil alih Habibie dari gendongan gue


"Ya iyalah Ellaine gitu loh" kata gue pede


"Udah sana panggil yang lain, keburu dingin makanannya" lanjut gue


"Iya iya" katanya lalu meninggalkan gue di dapur


Setelah memindahkan smoothies Habibie ke mangkok gue pergi ke ruang makan. Disana udah ada Kavin dengan Habibie yang masih di pangkuannya. Disamping kanan Kavin ada Evan, Radhit. Sedangkan Athaya, Kayla, dan Aya duduk diseberang meja makan bersama Addi dan Rei.


"Tolong ambil kursi makannya Habibie disana Van" pinta gue pada Evan


"Sip kak El" kata Evan mengambil kursi makan bayi di pojok ruang makan


"Habibie sering disini?" Tanya Kavin


"Nggak juga. Kenapa emangnya?" Tanya gue balik


"Kok ada kursi makan bayi disini" tanya Kavin menunjuk kursi makan Habibie yang sudah Evan letakkan di sebelah kiri gue


"Tante Adis sering nitipin Habibie disini jadi mami beliin kursi makan buat Habibie" jawab gue


"Udah ayo makan. Sini Habibie sama kakak" kata gue mengambil Habibie dari Kavin dan mendudukkannya di kursi makannya.


"Sini Aya, Kayla, sama Athaya biar kak El ambil makannya" kata gue pada mereka


"Nih buat Aya"


"Ini buat Kayla"


"Makasih" kata mereka bersamaan


"Ihh cute banget sih kalian" kata gue gemas


"El kita nggak di ambilin nih" kata Kavin penuh harap


"Ambil sendiri. Punya tangan kan" kata gue ketus


"Cih, nggak romantis Lo jadi tunangan" kata Kavin sewot


"Udah sih tinggal ambil aja" kata gue jengah. Meskipun ogah-ogahan Kavin tetap mengambil makanannya sendiri.


Selesai mengambil makanan semua,


"Etss, Sebelum makan. Kita harus berdoa" kata gue menggagalkan Rei dan Addi yang sudah akan menyuap makanannya.


"Ayo Athaya pimpin doa" kata gue pada Athaya. Mengabaikan tatapan penuh protes dari Rei dan Addi yang gagal makan


"Allohumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaaban naari" pimpin Athaya dengan suara imutnya


"Aamiin"


Jangan salah meskipun masih kecil. Kayla dan Athaya udah dididik tentang banyak hal. Contoh yang paling mudah dan banyak dilupakan oleh banyak orang yaitu berdoa sebelum makan.


"Cih, lama" keluh Rei pelan namun masih bisa gue denger


"Kayla kalau mau makan kita harus berdoakan?" Tanya gue pada Kayla yang dibalas anggukan


"Kalau tidak berdoa apa yang terjadi?" Tanya gue lagi


"Nanti makanannya dimakan setan sebelum kita makan" jelas Kayla dengan polosnya yang berhasil membuat Rei gelagapan


"Jelas" kata gue pada Rei yang dibalas anggukan kaku


"Oke, selamat makan" kata gue ceria mempersilahkan mereka makan


"Selamat makan juga" jawab mereka


Kamipun mulai makan malam dengan tenang tanpa suara. Gue makan sambil nyuapin Habibie dengan smoothies yang tadi udah gue bikin. Jangan harap akan ada adegan suap-suapan antara gue sama Kavin. Karna nyatanya dia asik sendiri sama masakan gue. Cih, derita punya pasangan yang romantisnya sama cewek lain tapi sama gue enggak. Hiks:')


Makan malampun selesai. Gue dan 5 cowok curut ini lagi kumpul di ruang keluarga nonton kartun. Lebih tepatnya gue yang maksa mereka buat liat kartun. Sedangkan Athaya, Kayla, dan Aya sedang belajar di ruang belajar. Ruang yang memang dibuat khusus sama mami untuk gue dan Athaya kalau belajar, lebih kearah ruang buat les sih. Karna biasanya gue ataupun Athaya kalau ada guru lesĀ  belajarnya diruang belajar.


Lalu ada juga bocah kecil yang mengemaskan, Habibie. Sekarang sedang anteng dipangkuan gue main boneka kelincinya.


"Lo semua nggak mau pulang, ini udah malam loh?" Tanya gue pada 5 cowok curut ini


"Kak El ngusir kita nih?" Tanya Radhit dengan muka memelas


"Em.. sebenernya sih iya" jawab gue enteng


"Hiks.. apa yang kak Ella lakukan ke kami itu jahat" kata Radhit mendramatisir dengan Sok-sokan menghapus air matanya


"Butuh kain lap buat nggapus air mata Lo" kata gue santai


"Tisu dong kak masak kain lap sih" kata Radhit protes


"Hm terserah Lo deh. So, kalian nggak pulang?" Kata gue kembali pada pembicaraan awal


"Lo beneran ngusir kita nih El" kata Rei tak percaya


"Iya" kata gue polos


"Jahat banget Lo jadi cewek" protes Addi


"Bodo. udah jangan muter-muter ngomongnya" kata gue jengah


"Gue tanya lagi, Lo semua nggak pulang?" Tanya gue sekali lagi


"Enggak. Kita semua mau nginep disini" kata Rei dengan ceria


"Apaan nggak pulang sama semuanya. Lagian besok sekolah" kata gue mencoba memberikan alasan


"Ya nggak papa kita sekolahnya berangkat dari sini" kata Addi enteng


"Seragam Lo? Buku Lo?" Kata gue masih mencoba memberikan alasan


"Kamu tenang aja yang kalau masalah itu. Kami tadi udah telpon supir masing-masing, untuk ngambilin perlengkapan sekolah kami" kata Kavin sambil merangkul bahu gue


"Dan mungkin sebentar lagi mereka sampai" tepat Kavin menyelesaikan omongannya. Bel rumah berbunyi


"Rei ambil sana" perintah Kavin


"Kok gue?" Protes Rei


"Udah banyak omong Lo. Sana cepet" perintah Kavin yang mau tak mau di lakukan oleh Rei


"Lo semua?" Kata gue tercengang melihat kelakuan ajaib 5 curut ini


"Nggak nggak gue nggak ijinin yah, kalian nginep sini" protes gue


"Loh Kenapa? Habibie, Athaya, sama Kayla boleh nginep sini masak kita nggak boleh" kata Kavin sedih


"Jelas beda mereka nggak ada temennya dirumah. Nggak mungkin dong mereka ngurus Habibie sendirian dirumahnya" kata gue memegangi kepala gue yang mulai pusing melihat kelakuan mereka


"Kita juga nggak ada temennya" kata Kavin yang langsung gue pelototin.


"Nggak ada temennya gimana, kalau emang itu masalahnya kenapa nggak nginep dirumah salah satu dari kalian aja. Kenapa harus dirumah gue" kata gue


"Kamu nggak kasihan sama Aya. Bunda lagi nggak ada dirumah. Ntar dia kesepian. Lagian emang kamu percaya, aku bisa ngurusin anak umur 9 tahun dengan baik" kata Kavin mencoba membujuk


'cih alasan, sampek bawa-bawa Aya lagi. Tapi gue juga nggak percaya sama curut ini. Gue takut Aya kenapa-kenapa' kata gue dalam hati bimbang


"Yang?" Panggil Kavin melihat gue ngelamun


"Hm.. Iya udah kalian boleh nginep disini" kata gue dengan berat hati


Hiks, jadi kapal pecah deh rumah gue


"Dilantai 1 ada 5 kamar kosong kalian bisa pakek itu, ntar Aya biar tidur dikamar Kayla" jelas gue


"Kak El rumah Lo, gue lihat-lihat kok banyak kamarnya yah" tanya evan yang sedari tadi diam


"Oh itu, mungkin karna mami sama papi gue anak pertama, Tante sama om gue banyak yang suka nginep disini. Jadi, disini banyak kamar deh. Yah, walaupun nginepnya kalau ada acara keluarga aja." jelas gue


"Lo nggak ada pembantu?" Tanya Addi


"Nggak" jawab gue


"Jadi yang bersihin rumah sebesar ini?" tanya Addi


"Gantian sih sebenarnya kalau mami gue lagi sibuk kebanyakan gue yang bersih-bersih rumah" kata gue tenang


"Gila bener bener istri idaman elo" puji Addi


"Oh ya jelas dong" kata gue bangga


"Ngedukun dimana Lo kav, dapat cewek super paket lengkap kayak gini" kata Rei kepo


"Tanpa gue ngedukun pun. Ella udah pasti milih gue" kata Kavin percaya diri yang langsung mendapat cibiran dari gue


"Lo bener dong yang?" Kata Ella


"Iya elo emang selalu bener" kata gue pasrah


"Udah gue mau ke dapur sekalian liat anak-anak dulu" kata gue memberikan Habibie pada Kavin. Kenapa Kavin? Karna gue lebih percaya Habibie sama Kavin dari pada sama curut lainnya.


Sebelum ke dapur, gue nengok anak-anak dulu


"Udahan yuk belajarnya" kata gue pada mereka yang masih serius belajar


"Kak Ella" kata mereka begitu melihat gue


"Iya. Udahan yuk belajar. Sekarang beresin dulu buku-bukunya. Trus ke ruang keluarga ya" suruh gue lembut


"Siap kak" kata mereka kompak


"Kakak mau kedapur dulu buatin Habibie susu. Kalian mau juga?" Tanya gue


"Mau" kata mereka semangat


"Oke deh kalau gitu" kata gue lalu pergi kedapur membuatkan susu untuk Habibie yang gue lihat udah mulai ngantuk. Sama 3 gelas susu untuk bocil-bocil tersayang gue.


"Nah ini susunya" kata gue datang dari dapur sambil membawa nampan berisi 3 gelas susu dan 1 dot berisi susu


"Gue nggak dikasih susu juga yang" kata Kavin genit


"Susu yang mana emangnya kav" kata Rei ambigu


"Terserah yang penting susu" kata Kavin tak kalah ambigu


"Hei mulutnya. Disini ada anak kecil, jangan ngomong aneh-aneh" peringat gue


"Susu apaan sih emangnya El, maksud gue itu susu kayak Athaya, Kayla dan Aya. pikiran Lo negatif Mulu El" kata Rei dengan senyum tak berdosanya


"Bukan pikiran gue yang negatif. Tapi emang semua yang dari omongan Lo udah pasti menjurus ke hal yang negatif" kata gue yang langsung disambut tawa dari mereka semua kecuali 4 bocah kesayangan gue yang masih asik dengan susunya masing-masing dan Rei yang menatap gue kesal


"Hahaha.. emang bener kak. Pikiran bang Rei emang negatif semua" ledek Radhit pada Rei


"B*ngs*t Lo" umpat Rei


"Hei mulutnya. Gue tabok nih" kata gue sambil mengangkat tangan


"Hehehe.. sorry El keceplosan" kata Rei tersenyum kaku


"Sekali lagi elo ngomong gitu. Gue tendang beneran nih dari rumah gue" kata gue tajam


"Kavin pacar Lo sadis banget sih" adu Rei pada Kavin


"Nggak papa gue tetep cinta kok. Meskipun dia sadis kayak macan" kata Kavin sambil tersenyum menggoda ke arah gue


"Halah banyak selingkuhan aja bilang cinta" sungut gue


"Selingkuhan yang mana sih Yang. Mereka itu nggak ada yang aku seriusin. Kayak aku serius ke kamu" katanya merangkul bahu dan mencium pelipis gue


"Bohong" Rajuk gue


"Iya princess. Kapan sih prince bohong sama princess" kata Kavin mengeratkan rangkulannya


"Woy.. jangan mesra-mesraan disini. Disini banyak bocah yang belum cukup umur" kata Addi kesal melihat gue dan Kavin asik berpelukan dengan Habibie di pangkuan kavin.


"Bilang aja elo iri" kata Kavin


"Ngapain iri sama kalian. Nggak level" kata Addi sok


"Mau kemana lagi?" Tanya Kavin saat melihat gue berdiri dengan membawa Habibie


"Bibi ngantuk. dia nggak bisa tidur kalau nggak digendong sambil di timang timang. Gue mau ambil selendang gendong dia dikamar sekaligus bawa di ke teras" kata gue membawa Habibie


"Ngapain keteras?" Tanya evan


"Kan gue udah bilang dia nggak bisa tidur kalau nggak digendong sambil di timang timang" jelas gue lalu ke kamar yang biasa ditempati Tante Adis dan Habibie kalau nginep dirumahnya.


Dikamar ini banyak perlengkapan bayi yang pasti milik Habibie. Gue ambil selendang gendong buat gendong Habibie. Lalu membawanya ke teras, dan menimang-nimangnya supaya Habibie cepat tidur.


"Tidur ya sayang" kata gue lembut sambil menimang-nimang Habibie


...----------------...


Author pov


Dibalik salah satu jendela rumah terdapat 5 cowok yang sedang mengintip Ella di luar


"Ella itu istimewa banget ya jadi cewek" puji Rei


"Yah gue setuju, dibalik sikapnya yang galak kayak macan. Dia punya sifat keibuan didalam dirinya" tambah Rei


"Kak El, emang beda dari perempuan diluar sana" kata Evan terpaku melihat sosok Ella yang tersenyum lembut pada Habibie


"Terlalu beda malahan menurut gue. Jarang ada perempuan kayak kak ella" kata Radhit


"Kav, kalau elo nggak suka sama Ella lagi. Gue siap Nerima Ella lahir batin" kata Rei tiba-tiba yang sudah pasti mendapat jitakan dari Kavin


"Sakit ******" protes Rei


"Mulut Lo sekali lagi bilang gitu. Gue bogem Lo" ancam Kavin


"Bercanda elah baperan banget Lo jadi orang" kata Rei jengkel


"Bercanda elo nggak lucu" ketus Kavin


"Kav, gue harap elo nggak nyakitin perempuan sebaik dan sesempurna Ella" kata Addi serius


"Ya gue bakalan jaga Ella dengan baik" tekat Kavin


"Udah ayo masuk, ntar Ella lihat kita. Berabeh, bisa ditendang dari rumah ini beneran kita" kata Rei mengajak mereka semua masuk.


Sayangnya mereka semua tidak tau, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Termasuk juga Ella.


...----------------...


...Follow...


...Ig: @quella.ved...