
2 hari kemudian, sekolah digegerkan dengan kabar ke pindahan Ella ke Singapura.
Tak cukup kabar kepindahan Ella secara tiba-tiba saja yang mengejutkan, tapi alasan Ella pindah sekolah yang justru lebih mengejutkan banyak orang.
Yah, Dokter caca dan Dokter wisnu memberitahukan alasan kepindahan sekolah Ella kepada kepala sekolah. Dengan persetujuan Tanisha dan seluruh keluarga besar Ella tentu saja.
Mereka terpaksa melakukannya karena tidak punya pilihan lagi. Ella yang merupakan siswi kelas 12 tidak bisa pindah sekolah begitu saja, butuh proses panjang yang pastinya membutuhkan waktu yang lumayan lama. Apalagi ini untuk pindah ke luar negeri. Sedangkan kondisi kesehatan Ella yang trus menurun tidak bisa menunggu lagi. Oleh karena itu, dengan sangat terpaksa dan berat hati mereka memberitahu kebenarannya.
Awalnya Dokter Caca dan dokter wisnu sudah meminta pihak sekolah untuk merahasiakannya dari siswa-siswi lain. Mereka meminta agar sekolah tidak membocorkan perihal kondisi kesehatan Ella.
Namun, tidak tau siapa dan bagaimana kabar kepindahan dan kondisi kesehatan Ella tiba-tiba merebak ke seluruh sekolah.
Mendengar itu tentu saja semua orang terkejut dan terpukul atas kabar kepindahan Ella. Terutama sahabat-sahabat Ella.
Mereka sangat amat terkejut dengan kabar ini, bagaimana tidak. Sahabat mereka, Ella mereka, cahaya mereka, pelita mereka tiba-tiba harus pergi meninggalkan mereka dengan kondisi seperti ini.
...----------------...
Seperti saat ini mereka sedang berkumpul di ruang OSIS untuk membahas tentang Ella. Dari Kavin, Addi, Rei, Radhit, Evan, Rena Anya,Ersya, Malven, Lana dan Raka semuanya berkumpul. Bahkan Kavin dan Raka yang sebelumnya terlibat sengketa, memilih berdamai dan mengabaikan masa lalu hanya demi untuk Ella.
"Ini beneran?" tanya Addi masih menolak untuk percaya
"Mungkin ini cuma rumor" kata Rei berusaha berpikir positif
"Kemarin Ella baik-baik aja kok, kemarin gue nengok dia dan kondisi dia baik-baik aja" kata Ersya berpikir positif
Tut tut tut
"Nggak diangkat" lirih Malven menunjukkan hpnya
"Gue juga" kata Lana ikut menunjukkan hpnya
Tut tut tut
'Maaf nomer yang anda hubungi sedang sibuk'
"Tante Nisha juga nggak bisa dihubungi" kata Kavin berusaha menelpon Tanisha
"Coba telpon saudara kak Ella yang lain" suruh Evan
"Oke" kata Kavin berusaha menelpon semua nomer keluarga Ella yang dia punya
Kavin mulai mencoba menelpon nomer Tanisha, Oma, Opa Ella, Nenek Ella, Tante Iva, Fio, Athaya, Tante Adis, bahkan sampai Tante Yuni. Tante rival Ella. Semuanya tidak ada yang menjawab telepon Kavin.
"Gimana?" tanya Rena penuh harap menatap Kavin
"Nggak diangkat" jawab Kavin menggelengkan kepalanya lesu
"Ella" lirih Rena menahan tangisnya
"Kita harus gimana?" tanya Anya cemas
"Gue takut" lirihnya memeluk Rena yang ada disampingnya
"Biar gue coba telepon temen-temen Ella yang lain" kata Lana ikut berusaha mencari kebenaran kabar ini
"Gue bantu" kata Rena mencoba ikut membantu
Disaat semuanya sibuk dengan urusan masing-masing,
BRAK
"Gimana?" tanya Rena cemas berlari menghampiri Elvan yang baru saja datang
"Ella" lirih Elvan dengan mata merah menahan tangis
"Iya Ella kenapa? Ini semua cuma rumor kan" kata Rena cemas
"Ella"
"Jangan bikin gue tambah takut"
"Cepet ngomong, ini cuma rumor kan?" tanya Rena tak kuasa menahan air matanya
"Ella"
"Ella akan pindah" lirih Elvan menundukkan kepalanya
BOM
Seakan tau maksud dari perkataan Elvan, mereka semua hanya bisa jatuh terduduk dengan perasaan yang campur aduk. Harapan yang sebelumnya mereka genggam erat kini terlepas dengan sendirinya.
"Enggak enggak" kata Rena menggelengkan kepalanya tak percaya
"Ella nggak boleh kemana-mana"
"Nggak boleh"
"Ella harus tetap disini sama kita"
"Hiks Ella nggak boleh hiks"
"Ella hiks" racau Rena menangis tersedu-sedu menolak percaya akan apa yang didengarnya saat ini
"Jadi ini bener?" tanya Anya menyakinkan
"G-gue tadi nanya ke kepala sekolah"
"Dan ternyata memang benar, Ella akan pindah sekolah ke Singapura untuk melakukan pengobatan Kanker darah yang dideritanya" jelas Elvan dengan suara lirih dan mata yang memerah menahan tangis
BRAKK
"Nggak mungkin" lirih Kavin jatuh terduduk
"Ini nggak mungkin"
"Kenapa dia nggak jujur sama gue" gumam Kavin menatap kosong ke depan
"Dia anggep apa gue selama ini"
"Gue ini tunangannya. Gue tunangannya. TUNANGANNYA" teriak Kavin melampiaskan semua emosinya
BRAKK
"AKHHH!! KENAPA DIA BOHONGIN GUE!!" amuk Kavin membanting kursi didepannya
"KENAPA?!!"
"KENAPA?!!"
"Kenapa!!.. Kenapa??" tanya Kavin berulang kali
"Gue tunangannya! Kenapa??" lirih Kavin meneteskan air matanya
Hatinya kacau balau saat ini, ia merasa sangat tidak berguna karena tidak bisa ada disamping Ella saat tunangannya itu membutuhkannya. Tapi ia juga kecewa dengan Ella yang tidak mau jujur kepadanya.
"Kenapa hiks kenapa kamu jahat banget sama aku El hikss" lirih Kavin menyembunyikan kepalanya diantara kedua lututnya sembari menangis dalam diam
Tidak ada yang bisa menenangkan Kavin, semua sahabat-sahabatnya hanya bisa melihat Kavin dengan kasihan. Mereka bisa merasakan bagaimana perasaan Kavin saat ini.
Kecewa, yah mereka saja yang sahabat Ella teramat sangat kecewa dengan Ella. Apalagi kavin yang notabennya adalah tunangan Ella.
'Liat El, semuanya kecewa karena kamu'
'Kamu sudah mematahkan banyak hati' batin Raka yang sedari tadi hanya diam memperhatikan teman-temannya
Raka sudah menduga semua ini akan terjadi. Meskipun ia sudah tau Ella akan pindah, tetap saja hatinya sakit saat mengetahui Zoya nya terkena kanker darah.
...----------------...
Disisi lain,
"Jadi semuanya sudah tau?" tanya seorang gadis yang sedang duduk di atas kursi roda dengan wajah pucatnya
"..."
"Sepertinya iya" kata gadis itu saat tidak mendapat jawaban dari lawan bicaranya
"Temui mereka Little Fairy" kata seseorang yang tak lain adalah Dokter Caca
"..." hening Ella hanya menatap pemandangan langit dari balik jendela kaca di ruangannya
"Mereka berhak mengetahui yang sebenarnya"
"Jangan buat mereka salah paham"
"Saat ini mereka pasti khawatir dan cemas dengan keadaanmu" tambah dokter Caca
"Aku hanya tidak ingin menambah beban mereka, dokter cantik" sendu Ella
"Justru dengan kamu yang seperti ini, yang akan menambah beban untuk mereka"
"Mereka akan berpikir kamu tidak menghargai persahabatan diantara kalian, jangan hanya karena satu kesalahpahaman merusak persahabatan bertahun-tahun kalian" nasehat dokter Caca
"Coba kamu pikir jika kamu berada diposisi mereka, jika Rena Anya Lana pergi tanpa pamit dari kamu, jika Kavin ninggalin kamu tanpa kata terakhir" kata dokter Caca mengelus lembut rambut Ella
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya lembut
"Hatiku akan sakit" lirih Ella menitihkan air matanya mengingat orang-orang yang sangat disayanginya meninggalkannya tanpa penjelasan
"Itulah yang dirasakan mereka saat ini" kata dokter Caca dengan sangat lembut
"Dokter" kata Ella menatap dokter Caca
"Iya. Kamu harus melakukannya" kata dokter Caca tersenyum manis seakan tau apa yang dimaksud Ella
"Jangan takut, karena apapun yang terjadi. Dokter akan selalu mendukung little Fairy"
"Terimakasih" kata Ella memeluk erat dokter Caca
Cup
"Sama-sama cantik" kata dokter Caca mengecup kening Ella
"Ini" kata dokter Caca memberikan telepon Ella yang sedari tadi berdering
...----------------...
...Next???...