
"El, gue pamit pulang ya?" pamit Rena sembari membereskan barang-barangnya
"Gue juga. Udah malem banget soalnya" tambah Anya
"Em.. ati-ati" kata Ella terhenti
"Ntar dijalan jangan lupa kalau ada semut minggir, trus kalau ada truk baru jalan ke tengah" lanjutnya
"Goblok.. kebalik bego" umpat Rena
"Mati dong gue kalau ada truk jalan ke tengah" seru Anya
"Bagus dong populasi cabe berkurang" santai Ella
"Mulut Lo El, emang minta di sekolahin" ketus Anya
"Hahahahah"
"Udah sana pulang" usir Ella
"Iya iya ini pulang"
"Pulang dulu El bye baby" pamit Rena
"Bye El" pamit Anya
"Iya" kata Ella singkat
'Nggak terasa ya udah 14 tahun papi ninggalin Ella sendirian'
...----------------...
Saat itu Ella masih berusia 4 tahun, saat ia harus menerima kenyataan bahwa Papinya, Superhero kebanggaannya. Harus meninggalkannya dan maminya untuk selamanya. Untuk anak usia 4 tahun, Ingatan Ella masih begitu samar saat itu. Yang dia ingat hanya tangisan putus asa dan kehilangan dari mami dan neneknya.
'papi kemana? Mami sama nenek nangis nyariin papi' gumam Ella saat itu
Kemudian 2 bulan berlalu
Hidup Ella mengalami perubahan yang cukup drastis. Ella kecil memang bukan terlahir dari keluarga kaya raya, keluarganya hanya keluarga sederhana namun penuh dengan kebahagiaan. Papinya bekerja sebagai karyawan biasa dan maminya yang seorang ibu rumah tangga. Lalu saat papinya pergi, maminya mau tak mau harus mengantikan peran papinya sebagai kepala keluarga. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka maminya bekerja di salah satu perusahaan sebagai karyawan.
Waktu Tanisha yang sebelumnya 24 jam bersama Ella, kini harus tersita. Ella hanya bisa bertemu dengan maminya saat sarapan dan selanjutnya ia akan ikut ke rumah Oma Opanya untuk dititipkan disana. Saat itu Oma Opanya juga bekerja. Omanya bekerja di pabrik pembuatan kerupuk dan Opanya berjualan es cendol keliling. Jadi, setiap harinya Ella akan ikut salah satunya pergi bekerja.
Jika ditanya apakah Ella sedih harus ikut bekerja, padahal anak seusia Ella biasanya akan bermain dirumahnya? Jawabannya TIDAK. Ia tidak sedih, justru ia bahagia karna bisa membantu keluarganya. Setidaknya Ella tidak kesepian karna harus sendirian dirumahnya.
Hari demi hari berjalan seperti biasanya, Tanisha yang semakin sibuk dengan pekerjaannya, juga Ella yang sudah mulai memasuki TK. Sehingga ia, tidak bisa ikut bekerja dengan Oma Opanya seperti dulu lagi. Terkadang dalam hati, Ella benar-benar merindukan hidupnya yang dulu. Saat papinya, yang begitu menyayanginya masih hidup dan maminya yang tidak sesibuk sekarang. Ella merasa kesepian sekarang. Namun, apa boleh buat. Lagi-lagi Ella harus memendam perasaan sendiri, karna takut akan melukai perasaan maminya.
Kemudian 5 tahun berlalu
Waktu berjalan dengan cepat, Ella sudah tidak terlalu kesepian seperti dulu. Ella juga sudah mulai terbiasa dengan kesibukan mami. Ia sungguh memakluminya. Hidup Ella kembali berjalan seperti sedia kala, meskipun tanpa sosok ayah yang mendampinginya. Hingga hari itu datang.
"Ella kenalin ini om Latif calon suami mami" ucap Tanisha memperkenalkan laki-laki disebelahnya kepada putri
Jedarrr
"Kami akan menikah bulan depan"
"Mulai sekarang kamu panggil om Latif dengan sebutan papa ya sayang"
Deg
Perkataan Tanisha, sungguh sangat menyakiti perasaan Ella saat itu. Ella sungguh kecewa pada maminya. Ia sadar, cepat atau lambat maminya pasti menikah lagi. Tapi ia merasa tidak dihargai sebagai seorang anak karna Maminya tak pernah meminta pendapat dan persetujuannya.
"Mami kok nggak pernah bilang mau nikah lagi?" Tanya Ella menatap maminya dengan sedih
"Mami sibuk sayang jadi lupa ngasih tau kamu"
"Udah ayo kita masuk dulu. Kita makan bersama"
"Ayo mas masuk" kata mami berjalan beriringan dengan om Latif meninggalkan Ella yang masih berdiri di depan pintu
'sebegitu sibuk apa mami, hingga tidak memberi tau hal sebesar ini kepada Ella'
Tes tes tes
Tak terasa air mata Ella jatuh begitu saja. Hati Ella sungguh sangat sakit. Ia merasa tidak dihargai oleh Tanisha.
'mami kenapa tega sama Ella?' gumam Ellaine sedih
"ELLA AYO MAKAN" teriak Tanisha dari arah ruang makan
"Iya mi" Lirih Ella
Sampai di ruang makan, mereka lalu memulai acara makan bersamanya.
"Ella, kelas berapa?" Tanya om Latif pada Ella disela-sela makan
"Kelas 4 SD om" jawab Ella tanpa minat
"Oh begitu" katanya lalu melanjutkan makannya
"El, setelah menikah om Latif akan tinggal disini" kata mami ceria
"Iya mi" sahut Ella singkat
"Kamu sakit?" Tanya mami yang mungkin menyadari perubahan sikap Ella
'iya hati Ella yang sakit' ucap Ella dalam hati
"El sehat" jawab Ella
"Mi, Ella ke kamar dulu ya.. Ella mau ngerjain tugas sekolah dulu" pamit Ella lalu pergi tanpa mendengar persetujuan dari Tanisha
"Maafin, Ella ya mas" ucap Tanisha melihat kepergian putrinya
"Tak apa" jawab Latif
"Aku akan berbicara dengannya dulu. Kamu lanjutin makannya" kata Tanisha lalu pergi ke kamar Ella
Disisi lain,
BRAK
Hiks Hiks hiks
'mami kenapa lakuin ini sama Ella?'
'sebegitu tidak pentingkah Ella, hingga mami baru ngasih tau Ella'
'apakah karna Ella masih kecil? Hingga mami bahkan tidak ingin mendengar pendapatku'
'bukankah sekecil apapun anaknya, orang tua tetap harus mendengarkan pendapat anaknya' pikir Ella sedih
Kebanyakan orang tua, tidak pernah mau mendengarkan pendapat anaknya. Karna menurut mereka, anaknya masih kecil dan belum berpengalaman dalam hidup hingga tidak mau mendengarkannya. Padahal, mau sekecil apapun anaknya sebagai orang tua yang baik seharusnya mau mendengarkan pendapat anaknya. Dengan begitu anak akan merasa dihargai oleh orangtuanya.
Cklekk
"El, mami masuk ya sayang" ucap mami menyadarkan lamunan Ella
"Hm" sahut Ella menghapus bekas air mata di pipinya
"Sayang maafin mami ya sayang bukan maksud mami nggak nganggep kamu. Tapi mami takut kamu nolak pernikahan ini?"
'sejahat itukah Ella dimata mami? Hingga mami nggak berani bilang. Ella kan juga ingin mami bahagia' ucap Ella miris dalam hati
"Sayang.. kamu tahukan, mami juga butuh pendamping hidup lagi apalagi setelah kepergian papi kamu, mami terlalu sibuk kerja. Dengan mami menikah lagi, waktu mami akan lebih banyak buat kamu lagi.. kamu paham kan sayang?"
"Ya" ucap Ella singkat
"Mami mohon restuin mami ya sayang untuk menikah lagi" pinta Tanisha memohon
"Mami, Ella nggak pernah ngelarang mami, jadi restu Ella akan selalu untuk mami" ucap Ella yang kala itu masih berusia 9 tahun
"Makasih anak mami yang cantik" ucap Tanisha lalu memeluk Ella erat
"Kamu lanjutin belajarnya ya sayang mami mau ke bawah dulu" pamit Tanisha
"Ya" ucap Ella melanjutkan belajarnya dengan air mata yang masih menetes
Dalam pikiran Ella saat itu, kenapa tuhan melakukan ini? Kenapa tuhan selalu mengujiku? Apa aku bukan anak baik? Hingga tuhan terus-menerus mengujiku
Hiks hiks hiks
'Ella merindukan papi'
Sebulan berlalu
Tanisha benar-benar menikah dengan Latif
Hati Ella benar-benar hancur saat melihat pernikahan mereka, Ella merasa posisi papi dirumah akan tergantikan dengan kehadiran Latif. Namun, lagi-lagi Ella hanya bisa diam memendam semua perasaannya sendirian.
"Hay cantik, kamu anaknya mbak Tanisha ya?" Kata seorang gadis mendekati Ella yang sedang duduk sendirian dipojok ruangan
"Iya" jawab Ella
"Kenalin aku hikmah, adiknya mas Latif " katanya sambil mengulurkan tangannya
"Ella" kata Ella menyambut uluran tangannya
"Ahh kamu sangat manis" pekiknya tiba-tiba memeluk Ella dengan erat
"Tak ingin berfoto bersama" katanya menunjuk Tanisha dan Latif yang berada di pelaminan
"Mungkin nanti" kata Ella tetap sibuk dengan kue dihadapannya
"Maaf, jika kehadiran mas Latif membuat kamu kurang nyaman El, tapi percayalah mas Latif orang yang baik. Dia orang yang penyayang. Apalagi dengan keluarga. Aku yakin suatu saat kamu pasti merasakan itu El" katanya lalu meninggalkan Ella sendirian
'Aku tau dia orang baik, aku percaya dengan pilihan mamiku, hanya saja hatiku sakit melihatnya' gumam Ella lirih
Hari, bulan dan tahun berganti
Sudah genap 1 tahun Tanisha menikah lagi tidak banyak yang berubah hanya saja Ella sudah mulai menerima kehadiran Latif sebagai papa barunya tidak hanya itu kebahagiaan mereka juga bertambah dengan kabar kehamilan Tanisha Ella begitu senang mendengar kabar bahwa maminya akan memiliki seorang bayi. Ia sudah berjanji dalam hatinya akan menjadi kakak yang baik untuk adiknya itu. Namun, lagi-lagi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Entah kenapa Tanisha dan suami barunya mulai sering berantem. Ella sendiri juga tidak tau alasan pastinya, yang ia ingat hanya papa tirinya yang sering pulang malam, dan maminya yang sering marah-marah kepada papa tirinya, maminya yang sering menangis diam-diam. Hampir tiap hari Ella kecil selalu mendengar perdebatan mereka yang sebenarnya tidak untuk didengarkan oleh anak sekecil Ella. Terkadang Ella ketakutan sendiri mendengar bentakan-bentakan dari mereka. Bahkan kelahiran adiknya tidak banyak merubah mereka. Hingga puncaknya saat adik Ellaine berumur 3 bulan. Saat itu Ella sedang tidur di kamarnya sendirian.
Flashback
Prang
"Kamu nggak bisa bawa Athaya gitu aja" teriakan Tanisha yang terdengar hingga kamar ella
"Athaya putraku" sahut papa tiri ella
"Athaya juga putraku. Berikan dia padaku" pekik Tanisha
"Nggak bisa. Aku mau bawa Athaya pergi dari sini" sahut Latif
"Kamu nggak bisa seenaknya aja mas. Athaya masih kecil dia butuh ibunya" kata Tanisha
"Aku bisa membesarkan Athaya sendiri" kata Latif
"Nggak kamu nggak bisa bawa Athaya. Kalau kamu mau pergi silahkan. Tapi, kamu nggak bisa bawa Athaya. Berikan Athaya padaku mas"
"Tidak"
"Berikan Athaya padaku"
"Nggak"
Ella yang saat itu sendirian dikamar sangat takut. Ia bingung, nggak tau harus gimana. Saat itu yang terlintas dalam pikiran ella hanya Oma dan opa.
Tut Tut Tut
"Halo Oma hikss Oma hiks kesini sekarang juga hikss Mami sama papa berantem hikss Ella takut Oma hikss Papa mau bawa Ata pergi hiks"
"..."
"Iya Oma hikss"
'hiks Ella harus gimana hikss Ella takut' tangis Ella saat itu
3 menit kemudian
Ella mendengar Oma dan opanya yang sudah datang
"KALIAN INI APA-APAAN!!" bentak opa
"Dia mau bawa Athaya pergi pa" kata mami Ella
"Athaya putraku" kata papa tiri Ella
"TAPI DIA JUGA PUTRAKU" Teriak mami Ella keras
"Kamu nggak bisa bawa putraku seenaknya. Latif" kata mami Ella dingin
"Hey hey. Ada apa ini? Ayo duduk dulu selesaikan semuanya dengan kepala dingin. Jangan kayak anak kecil seperti ini" kata Oma lembut
"Bu sebaiknya ibu tidak ikut campur urusan rumah tangga saya" kata papa tirinya
"Kamu berani-beraninya ngomong kayak gitu sama mamaku. Keterlaluan kamu"
"Berikan Athaya sekarang juga" kata mami Ella yang ingin merebut Athaya dari gendongan papa tiri Ella
"Tidak"
"Berikan br*ngs*k" umpat Tanisha
"Kumohon berikan anakku" kata Tanisha lirih
"DIAM!!"
"TIDAKKAH KALIAN MALU!! TIDAKKAH KALIAN MEMIKIRKAN PERASAAN ELLA SEKARANG!! MELIHAT ORANG TUANYA SEPERTI INI, TIDAKKAH KALIAN MEMIKIRKANNYA!! TIDAKKAH KALIAN KASIHAN DENGANNYA!!"
"NISHA PIKIRKAN PERASAAN PUTRIMU SAAT INI!! DIA PASTI KETAKUTAN MELIHAT KALIAN BERTENGKAR!! Cucuku pasti sedang menangis sekarang" kata opa Ella dengan nada yang lirih diakhir kalimatnya
"DAN KAMU LATIF, KALAU KAMU MEMANG TIDAK MENYUKAI CUCU PEREMPUAN SAYA. TIDAK APA!! SAYA BISA MEMBESARKANNYA SENDIRI!!" Teriak opa
"IYA SAYA MEMANG TIDAK MENYUKAI CUCU ANDA.. DIA MENJADI PENGHALANG KEBAHAGIAANKU DAN TANISHA. KARENA DIA, TANISHA TIDAK MAU IKUT DENGAN SAYA UNTUK PINDAH KOTA!!! KARENA DIA TANISHA SELALU MENOMOR DUAKAN SAYA!! PUAS ANDA!!" Teriak papa tiri Ella
Deg
"Jadi ini salah Ella ya? Mami dan papa berantem karna Ella? Maafin Ella ya mami papa hikss. Kalau emang Ella ganggu Ella ikut Oma opa aja hikss" kata Ella yang tiba-tiba ada dibelakang mereka
"ELLA" kaget semua orang
"Mami maafin Ella
Papa maafin Ella
Kumohon jangan berantem lagi
Kalau memang kehadiran Ella disini mengganggu kalian, Ella akan pergi dari sini" kata Ella sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu
"ELLA" pekik Tanisha melihat kepergian Ella
"Biarkan, Ella butuh waktu sendiri. Nanti aku yang akan memberi pengertian kepada Ella" ucap Oma Ella
"PUAS KAMU!!!! HA!! JAWAB PUAS KAMU!! KAMU UDAH NYAKITIN putri kecilku hiks" Tangis Tanisha tak terbendung saat mengingat tatapan kesedihan dimata Ella
Sedangkan Latif hanya diam saja mendengar perkataan Tanisha. Ia juga merasa bersalah karna menyakiti hati gadis kecil itu. Tapi bagaimana lagi, Latif merasa Ella memang penghalang kebahagiaan keluarga kecilnya.
'maafkan papa Ella' batin Latif
Disisi lain
Ella benar-benar tidak menyangka bahwa selama ini ia adalah penyebab orang tuanya sering bertengkar. Ella merasa bersalah kepada maminya, ia merasa sebagai penghalang kebahagiaan maminya itu.
'hiks hiks maafin Ella mami' gumam Ella dalam hati
Flashback end
...----------------...
Sejak kejadian itu, Ella selalu menyalahkan dirinya. Ia merasa menjadi perusak hubungan antara mami dan papa tirinya. Apalagi saat mami dan papa tirinya memutuskan untuk bercerai, hati Ella semakin hancur berkeping-keping saat itu. Maminya lebih memilih dirinya daripada harus bersama dengan suaminya itu.
Sekali lagi Ella harus melihat maminya berkerja keras untuk menafkahi Ella dan Athaya yang saat itu masih bayi. Ella menjadi saksi dari perjuangan luar biasa seorang ibu saat itu. Baginya ibunya adalah pahlawannya, ia tidak pernah mengeluh mau sesusah apa jalan yang dilewatinya.
Tes tes tes
Tak terasa air mata Ella keluar dengan sendiri begitu mengingat kejadian pahit dahulu. Takdir memang benar-benar mempermainkannya dengan begitu kejam. Sedari kecil Ella sudah melewati banyak hal, kematian papanya, pernikahan maminya, hingga perceraian maminya Ella menyaksikannya sendiri. Tak mudah bagi Ella menerima semuanya, apalagi saat itu Ella masih kecil untuk memahami banyak hal. Tapi, seiring berjalannya waktu Ella mulai menerima masa lalunya dan belajar untuk mengikhlaskan walau masih sulit bahkan untuk saat ini.
Tak heran Ella mempunyai hati dan mental sekuat baja, bahkan menghadapi Kavin yang setiap hari menyakiti hatinya. Ella masih bisa tersenyum dengan manis walau batinnya menjerit. Kehidupannya di masa lalu benar-benar telah mengajarkan banyak hal untuknya.
...----------------...
Keesokan harinya
Ella bersekolah seperti biasanya, tak ada yang berubah bahkan senyum manis Ella tetap terpatri apik dibibirnya.
"Ella"
"Kavin" kata Ella begitu menoleh kearah seseorang yang memanggilnya
"Buat kemarin, aku minta maaf" kata Kavin tulus
"Tak apa. Gue tau Lo cemburu" kata Ella santai
"Bener?" Tanya Kavin memastikan
"Ya" jawab Ella jujur
"Hari ini aku mau ke toko buku buat nemenin Kila. Bolehkan?" Kata Kavin penuh harap
"Tentu aja boleh" kata Ella santai
"Syukur deh kalau gitu. Makasih ya" kata Kavin memeluk Ella
"Kesabaranku ada batasnya kav, jangan sampai melewatinya. Karna jika kamu melewatinya, bahkan saat kamu bersujud meminta maaf sekalipun kepadaku jangan harap akan mendapatkan maaf dariku. Camkan itu!!" Bisik Ella pelan pada Kavin yang hanya diam mematung melihat kepergian Ella
...Next?...
...----------------...
...Follow...
...Instagram : @quella.ved...
..."Your Life is Your Choice"...