ELLAINE'S SECRET

ELLAINE'S SECRET
Ellaine's Secret Bersama Raka



"Papi, ini Ella putri kecil papi" kata Ella mengusap nisan papinya yang belum dia datangi selama bertahun-tahun.


"Ella sekarang sudah besar, putri kesayangan papa kini tumbuh menjadi wanita yang cantik dan menawan" kata Ella terkekeh pelan mendengar pekataan narsisnya


"Ella bukan lagi anak kecil cengeng seperti dulu. Kini Ella sudah menjadi wanita yang kuat dan tegar" tambahnya dengan air mata yang perlahan menetes dari mata indahnya.


"Sama seperti pesan papi dulu" kata Ela dengan air mata yang semakin membanjiri pipinya


'Ella kita tidak pernah tau apa yang terjadi di masa depan. Papi tidak pernah memaksa kamu melakukan apapun. Hanya saja ingat pesan papi, jadilah perempuan yang kuat dan tegar. Kita tidak bisa hanya mengandalkan orang lain' kata Papi Ella kepada Ella yang masih sangat muda saat itu


'Baik, papi' jawab Ela tersenyum manis meskipun tidak tau apa yang dimaksud papinya.


"Ella sudah melakukan pesan papi" bisik Ella mengelus nisan papinya


"Papi terimakasih untuk segalanya. Tanpa papi Ella tidak ada didunia ini. Tanpa cinta dan kasih sayang papi, Ella tidak akan sekuat sekarang dan juga maafin Ella yang jarang kesini. Papi tau, El sekarang adalah wanita karir yang super sibuk" kata Ella bercanda sembari mengusap air matanya


"Ella setiap hari berlarian di rumah sakit dan ruang operasi. Yah, Ella sekarang sudah menjadi dokter. Menyelamatkan banyak orang" cerita Ella


"Meskipun Ella lelah tapi Ella senang. Dan untungnya ada Raka yang selalu menemani Ella disaat Ella lelah"


"Ella sekarang sudah bahagia. El sudah menemukan laki-laki yang sangat baik dan mencintai El sama seperti papi mencintai El. Dia orang yang dengan tulus mengulurkan tangannya untuk El, membimbing El menemukan cahaya baru. Memberikan bahunya untuk tempat El menangis dan berkeluh kesah. Dia memberikan El pelukan hangat disaat El sedang sedih dan senang" katanya melirik laki-laki yang ada disampingnya.


"Dia melimpahi El dengan begitu banyak cinta dan kebahagiaan"


"Papi sekarang El sudah menemukan kebahagiaan yang selama ini El tunggu"


"Putri kecil papi sekarang sudah bahagia. Jadi sekarang papi bisa tenang disana" bisik Ella pelan lalu memeluk Raka dengan erat sembari menumpahkan segala sesak dihatinya.


Dirinya sekarang sudah lega. Dirinya sudah menemukan kebahagiaan yang selama ini dinantikannya. Dan dia yakin papinya juga pasti bahagia melihatnya dari atas sana.


...----------------...


"Kenapa kamu bawa aku kesini? " tanya Ella pada Raka yang sedang membukakan pintu mobil untuknya


"Suka?" kata Raka balik bertanya


"Suka" jawab Ella tersenyum sangat manis


"Bagus" kata Raka menepuk pelan kepala Ella lalu berjalan kearah lain mobil


"Tapi kamu belum jawab pertanyaanku" kata Ella cemberut


"Kemarin aku udah janji buat bawa kamu ke suatu tempat" kata Raka tenang


"Dan akhirnya kamu bawa aku kesini" kata Ella bingung.


Awalnya dia berpikir Raka akan mengajaknya makan atau jalan-jalan keliling jakarta. Kembali mengingat masa-masa saat mereka kecil. Tapi tidak disangka Raka malah membawanya ke makam Papinya.


"Aku tau kamu belum ke makam papi kamu sama sekali sejak balik ke Jakarta. Setelah bertahun-tahun di Singapura. Kamu pasti kangen" kata Raka membantu Ella memasang seatbeltnya lalu memasang seatbelt untuk dirinya sendiri.


Tidak ada canggung dan aneh dengan perilaku Raka. Raka melakukannya dengan santai seakan sudah biasa. Begitu juga dengan Ella yang sudah terbiasa dengan perhatian kecil Raka. Raka ini memang jarang berbicara panjang lebar dengannya apalagi dengan orang lain. Tapi perlakuannya membuat Ella merasa seperti wanita paling bahagia didunia.


"Aku rasa tempat ini adalah tempat yang tepat untuk kita datangi. Sekaligus aku ingin meminta restu sama papi kamu" kata Raka mengacak pelan rambut Ella


"Terimakasih" kata Ella tulus menatap Raka dengan matanya yang sembab sehabis menangis tadi.


Raka hanya menatapnya dan mengelus pipinya lembut.


"Kedepannya jangan pernah menangis sendirian lagi" kata Raka lembut mengusap bekas air mata di pipi Ella.


"Kita pulang" kata Raka menjalankan mobilnya meninggalkan area pemakaman.


...----------------...


"Katanya mau pulang?" tanya Ella yang lebih dulu melangkahkan kakinya masuk kedalam cafe


"Makan" jawab Raka singkat memilih tempat duduk dipojok ruangan.


"Kamu laper?" tanya Ella duduk di depan Raka lalu melihat sekeliling cafe.


Ella merasa puas dengan tempat duduk yang dipilih Raka. Tidak terlalu menjadi pusat perhatian orang lain namun masih bisa melihat sekeliling Cafe dengan nyaman.


"Aku nggak laper" kata Ella


Raka tidak menangapi ucapan Ella dan memanggil pelayan untuk memesan makanan. Setelah pelayan pergi, Raka menatap Ella dengan tatapan dalam. Merasa diperhatikan Ella menatap Raka dengan bingung.


"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Ella menyentuh rambut dan wajahnya


"Make up aku luntur ya gara-gara nangis tadi" kata Ella buru-buru melihat ponselnya untuk bercermin. Ella melihat tidak ada yang salah dengan wajah dan rambutnya, hanya saja matanya sedikit sembab.


"Kamu cantik" kata Raka tersenyum tipis


Mendengar pujian mendadak dari Raka. Bukannya tersipu malu, Ella hanya menatap menyelidik kearah Raka.


"Aku curiga" kata Ella namun Raka hanya menaikkan bahunya acuh.


"Makan" kata Raka menggeser makanan untuk Ella.


"Baik, karena kamu yang memaksa maka aku akan makan" kata Ella dengan antusias memakan makanannya.


...----------------...


"Kita mau kemana lagi?" tanya Ella sembari mengeratkan genggaman tangan mereka.


"Jalan-jalan" jawab Raka berjalan pelan bersama Ella menyusuri jalanan taman.


Dengan hati yang berbunga-bunga Ella berjalan sembari menceritakan pengalamannya selama di Jakarta beberapa hari ini. Bahkan ia juga menceritakan pertemuannya dengan Kavin bersama teman-temannya yang lain.


"Hah, aku bener-bener mau nonjok wajah pede dan sok polos Kavin. Apalagi wajah cabe-cabean itu" kata Ella kesal


"Untungnya aja aku sebaik ibu peri. Jadi mana bisa aku main kasar sama orang lain" kata Ella polos


"Bagus, jangan sampai kamu terluka cuma buat orang yang nggak penting" kata Raka memuji Ella.


Keduanya berjalan diantara lampu dan bunga-bunga seakan menjadi pemandangan yang sangat indah dan cocok.


Namun sayangnya kebahagian mereka sirna saat melihat Diana berjalan dengan antusias kearah mereka.


"Itu dia cabe-cabeannya" bisik Ella pelan pada Raka


Raka hanya menganggukkan kepalanya dan melirik gadis yang sudah ada dihadapan mereka.


"Kak Ella. Aku nggak nyangka bisa ketemu sama kakak disini" sapa Diana basa-basi


"Iya aku juga" kata Ella tertawa paksa


"Oh ya, kak ini siapa?" tanya Diana menatap Raka dengan penuh minat. Meskipun pernah satu sekolah, kemungkinan bertemu Raka adalah 0.5%. Raka adalah orang yang tertutup dan tidak suka menjadi pusat perhatian orang lain. Jadi wajar Diana tidak tau Raka.


"Calon suami" kata Ella menunjukkan cincin tunangan dijari manisnya


"Oh" kata Diana tersenyum kecut lalu menatap Raka dan tersenyum sok polos.


"Kenalin kak, Diana"


"Adik kelasnya kak Ella. Kita berteman dekat loh" katanya dengan nada manja mengulurkan tangannya


'Cih, temen deket apanya' ejek Ella didalam hati


Raka hanya menatap tangan Diana tanpa minat.


"Memang benar kata kamu" kata Raka tiba-tiba


"Apanya?" tanya Ella bingung


"Cabe murahan" jawab Raka datar lalu menarik tangan Ella menjauh dari Diana yang masih terdiam mematung menatap tangannya yang bahkan tidak disentuh oleh Raka.


"Si*l" umpat Diana lalu pergi dengan kesal


...----------------...