
"Ayo pergi" bisik Raka, lalu menggenggam tangan Ella erat. Berjalan meninggalkan kerumunan yang sedari tadi melihat keributan Diana dan Kavin.
Dengan langkah pelan Raka menuntun Ella berjalan kearah taman. Sepanjang jalan, Raka hanya diam menatap kedepan sedangkan Ella sibuk dengan pikirannya sendiri.
Tidak ada yang tau apa yang sedang dipikirkan Ella saat ini. Bahkan Raka yang sudah bersama Ella lebih dari 10 tahun masih tidak bisa menebak jalan pikiran Ella.
"Zoya, duduk" kata Raka pada Ella, lalu membantunya duduk di bangku taman.
Ella hanya mengerutkan keningnya bingung menatap keadaan disekitarnya.
"Sejak kapan kita ada ditaman?" tanya Ella bingung
"Sejak kamu melamun" jawab Raka
"Aku tau kamu nggak nyaman didalam. Jadi aku membawa kamu kesini" tambahnya yang hanya diangguki oleh Ella.
"Ada apa? " tanya Raka menyadarkan Ella dari pikirannya sendiri.
"Ha? " tanya Ella tidak paham
"Kamu mikirin apa?" tanya Raka memperjelas pertanyaannya
"Kavin? Kamu mikirin dia?" tanyanya sembari membenarkan poni Ella yang menutupi matanya.
"Kok kamu tau?" tanya balik Ella dengan jujur. Memang sedari tadi ia memikirkan Kavin.
"Kenapa?" tanya Raka mengabaikan pertanyaan Ella.
"Kamu menyesal putus darinya?" tanyanya dengan nada datar seperti biasanya.
Jika saja Ella tidak mengenal Raka lama, ia pasti tidak akan tau ada jejak kecemburuan dalam pertanyaan Raka. Untung saja, Ella sudah mengenal calon suaminya ini sejak lama dan tau kebiasaan-kebiasaan Raka saat cemburu.
"Cemburu, heh" ejek Ella mengacak rambut Raka dengan gemas
"Nggak" kata Raka mengambil tangan Ella dari rambutnya
"Ck, kalau cemburu itu bilang" cibir Ella lalu memeluk sembari menyandarkan kepalanya didada Raka. Ella selalu suka memeluk Raka seperti ini. Nyaman dan aman. Apalagi dia bisa mendengar debaran jantung Raka yang tidak pernah berubah saat bersamanya.
Raka memang sangat mencintainya.
"Kamu tau, banyak hati yang terluka hanya karna kata yang tak pernah terucap" bisik Ella pelan namun masih bisa didengar oleh Raka.
"Aku hanya berfikir ternyata selama ini aku salah" kata Ella dengan masih bersandar dipelukan Raka
"Aku selalu percaya diri dengan fakta bahwa aku sudah melupakan Kavin dan semua kenangan kami. Aku selalu yakin dengan ini"
"Namun, hari ini aku salah. Ternyata semuanya masih sama. Tidak ada yang berubah sama sekali" kata Ella yang membuat Raka menegang namun tetap diam tak ingin menyela perkataan Ella.
"Rasa sakit dari pengkhianatan, kepercayaan yang dihancurkan dengan mudahnya, kebohongan yang tidak ada habisnya, harapan yang dihempaskan begitu saja. Semuanya tetap sama, sama menyakitkannya seperti dulu. Hatiku tetap sakit untuk itu" lirih Ella
Raka yang mendengar perkataan Ella sedikit rileks namun hatinya juga sakit mendengarnya. Sekilas Raka seperti dibawa ke masa-masa dimana Ella terpuruk dulu.
Ella yang kehilangan harapannya, Ella yang sakit karna dikhianati dan dibohongi, Ella yang benar-benar putus asa dengan dengan hidupnya sendiri.
"Sakit, Rak. Hatiku sakit mengingatnya" lirih Ella dengan air mata yang mengalir dipipinya
"Jangan menangis, Zoya" bisik Raka mengusap pelan air mata Ella. Raka menatap mata Ella dengan penuh cinta dan kasih sayang. Tatapan itu seakan menghangatkan hati Ella yang sedang kacau saat ini.
Entah mengapa emosi Ella tidak stabil saat ini. Dirinya tiba-tiba merasa lelah baik fisik, mental, maupun pikirannya. Dirinya lelah membohongi dirinya sendiri dan orang lain.
"Raka, aku telah gagal. Aku tidak bisa melupakan semua sakit dan amarah yang pernah aku rasakan" kata Ella dengan frustasi
"Aku telah kalah dengan semua rasa yang aku pendam selama ini"
"Aku tidak bisa melupakannya Raka, tidak bisa. Aku benci dengannya, aku benci pernah begitu mencintainya, benci berkorban begitu banyak namun tidak pernah dihargai, benci dengan diriku sendiri" lirihnya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Raka sedikit tidak berdaya dengan Ella yang saat ini. Inilah yang dia takutkan. Ella memang tidak pernah membagi isi pikiran dan hatinya dengan siapapun. Dia menyimpan semua luka dan sakitnya sendiri. Bertindak seolah dia baik-baik saja padahal dirinya terluka.
"Kalau begitu, biarkan saja seperti ini. Biarkan semua sakit dan luka dihatimu. Jangan menutupinya atau berusaha menyembuhkannya sendiri jika kamu rasa itu terlalu sakit. Karna aku yang akan menyembuhkannya. Biarkan semuanya, Zoya. Aku akan menyembuhkan semua luka dihatimu perlahan dan dengan caraku"
"Jika kamu rasa kenangan itu terlalu menyakitkan, maka aku akan menciptakan kenangan indah"
"Namun, jangan pernah bilang kalau kamu membenci dirimu sendiri. Kamu terlalu berharga untuk membenci dirimu sendiri" kata Raka membawa Ella kedalam pelukannya yang hangat.
"Jangan menangis dan terluka, Zoya. Aku akan selalu bersamamu" bisik Raka pelan namun penuh dengan keyakinan dan ketulusan.
Tak jauh dari Raka dan Ella, Kavin ternyata mendengar pembicaraan mereka berdua.
Hatinya terasa diremas mendengar perkataan Ella. Sejauh apa selama ini dirinya menyakiti Ella? Hingga Ella begitu membenci dirinya sendiri yang pernah mencintai dia. Apa yang selama ini telah diperbuatnya? Hingga menciptakan luka yang begitu dalam dihati Ella.
Beribu kata yang ingin Kavin ucapkan untuk Ella, namun hanya satu yang bisa keluar dari mulutnya saat ini.
"Maaf" bisik Kavin pelan
'Maaf, karena pernah menyakitimu dengan begitu kejam.
Maaf, karena sudah menorehkan luka yang tak akan bisa sembuh.
Maaf, karena menghancurkan harapanmu.
Maaf, maafkan aku yang tak bisa menjagamu dengan baik' batin Kavin
Tak ingin berlama-lama melihat pemandangan yang menyesakkan hatinya. Kavin berbalik pergi meninggalkan dua sejoli yang tengah berpelukan.
Namun, baru beberapa langkah. Langkahnya terhenti saat melihat Lana yang berdiri menatapnya dengan datar.
"Sudah liat, bagaimana luka yang Lo torehkan ke Ella? Lihat seberapa sakit dan marah Ella?"
"Kalau Lo udah liat. Berarti Lo harus tau dengan baik dan jelas, Ella nggak akan pernah bisa kembali ke Lo. Dan Lo harus sadar ini. Jangan bersikap br*ngs*k dengan datang seenaknya setelah semua yang udah terjadi. Biarin Ella bahagia dengan Raka" tunjuk Lana dengan tegas
"Karna kebahagian Ella ada bersama dengan Raka begitu juga sebaliknya"
"Mending sekarang Lo dan cewek Lo yang nggak tau diri itu" tunjuk Lana pada seorang perempuan yang berjalan mendekati mereka
"Jauh-jauh dari Ella. Jangan muncul atau merusak kebahagiaan Ella" katanya lalu pergi dengan anggun meninggalkan Kavin yang terdiam mematung.
...----------------...