
"Ndy, gue pergi dulu" pamit Ella bersiap-siap untuk pergi bekerja
"Nggak sarapan dulu?" tanya Indy dari dapur
"Di rumah sakit aja" kata Ella menghampiri Indy yang sedang memasak di dapur lalu mencium pipi kirinya sekilas
"Bye, Ndy" kata Ella bergegas pergi ke Rumah sakit
"Hati-hati" teriak Indy yang dibalas gumaman dari Ella.
Karena jarak yang relatif dekat dengan Rumah Sakit, Ella memilih berjalan kaki sembari berolahraga pagi. Suasana hatinya sangat baik saat ini. Tunangan memberikan kabar akan ke Jakarta besok, dirinya sangat bahagia dan senang.
Namun sayangnya, kebahagiaannya hanya berlangsung sebentar. Saat dirinya melihat sosok Kavin berdiri di depan rumah sakit membawa buket bunga mawar besar.
"Ya Tuhan, apa lagi ini"
"Masih pagi ada aja cobaan ini" keluh Ella berjalan ogah-ogahan.
Bahkan Ella sempat berpikir untuk masuk dari pintu belakang rumah sakit saja. Tapi, dia tepis saat mengingat ide konyolnya itu.
"Pagi, sayang" sapa Kavin ceria
"Ini aku bawa bunga buat kamu" katanya memberikan bunga itu
Ella hanya menatap tanpa minat bunga itu dan mendesah lelah.
"Mau apa lagi?" tanya Ella lelah
"Diterima dulu dong bunganya" kata Kavin melirik buket ditangannya
"Gue nggak suka bunga" kata Ella cuek
"Kamu nggak suka mawar, kalau gitu aku beliin bunga matahari mau" kata Kavin masih tersenyum manis
"Kav, gue nggak tau harus ngomong gimana lagi supaya Lo paham. Tolong jauhin gue" kata Ella tegas
"Berhenti. Hubungan kita sudah berakhir 8 tahun yang lalu" katanya
"El, gue mau memperbaiki semuanya" kata Kavin sendu
"Gue mau mengulang semuanya dari awal lagi"
"Kamu mau kan?" tanya Kavin penuh harap
"Aku masih cinta sama kamu"
"Aku sayang kamu"
"Aku-
"Cukup" kata Ella lelah
"Kita sudah berakhir. Selesai"
"Lagipula gue udah punya tunangan" kata Ella menunjukkan cincin dijari manisnya
"Jadi berhenti lakuin ini semua"
"Kamu bohong kan? Nggak mungkin. Kamu itu cinta banget sama aku, aku juga cinta sama kamu" kata Kavin tak percaya
"Cinta gue udah hilang 8 tahun yang lalu bersamaan dengan Lo yang mengkhianati gue" kata Ella
"Kenapa, El?" tanya Kavin sedih
"Kav, gue berhak punya kebahagiaan lain. Gue berhak bahagia dengan siapapun" jawab Ella
"Udahlah, gue lagi males berantem. Mending sekarang Lo pergi, gue mau kerja" kata Ella lalu meninggalkan Kavin yang masih terdiam mematung.
"Nggak mungkin Ella punya pacar lagi"
"Dia bilang gitu, cuma ingin gue berjuang dapetin dia lagi"
"Gue yakin itu. Pasti" gumam Kavin dengan percaya diri.
...----------------...
Malam hari,
Ella baru saja menyelesaikan operasi. Dia terlihat lelah berjalan menuju ruangannya dengan sempoyongan.
"Gila, capek banget" keluh Ella duduk di sofa ruangannya
"Udah jam 8" kata Ella melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 8
Drtt.. drtt..
"Siapa lagi?" keluh Ella mengangkat teleponnya tanpa melihat nama yang menelponnya
"Halo"
"Ini gue"
Deg
Ella terdiam seketika saat mendengar suara yang sangat dikenalnya ini. Suara sahabat lamanya Rena.
"El"
"Ha?! Iya kenapa?" tanya Ella canggung karena baru mendengar suara Rena setelah 8 tahun
"Lo sibuk?"
"Enggak. Kenapa?" tanya Ella
"Bisa ketemu sekarang"
"Boleh, kebetulan gue belum makan malam. Kita ketemu di cafe deket rumah sakit tempat gue kerja aja" kata Ella memberi ide
"Boleh, gue otw kesana"
"Gue tunggu" kata Ella mematikan teleponnya
"Sepertinya Kavin udah bilang anak-anak gue balik" gumam Ella lalu segera membereskan barang-barangnya dan pergi ke cafe tempat mereka janjian.
...----------------...
Sedangkan Ella masih menggunakan gaun formal berwarna peach. Dimata Rena, Ella juga tidak banyak berubah. Tapi, Rena bisa melihat Ella sekarang terlihat sangat anggun dan berwibawa.
'Kavin nggak bohong, Ella memang terlihat lebih anggun dan elegan' batin Rena
"Nggak papa" kata Ella canggung lalu mempersilahkan Rena duduk
"Mau pesen apa?" tanya Ella pada Rena
"Samain aja" jawab Rena masih canggung
Bagaimanapun ini pertemuan pertama mereka setelah 8 tahun berpisah wajar jika masih canggung dan kaku.
"Oke" kata Ella lalu memanggil waiters dan memesan makanan untuk mereka berdua
"Gimana kabar Lo?" tanya Ella lebih dahulu
"Baik" jawab Rena
"Lo sendiri?" tanyanya balik
"Baik" kata Ella menganggukkan kepalanya
"Sibuk apa sekarang?" tanya Rena kaku sedangkan Ella hanya diam memperhatikannya
"Ren" kata Ella memajukan badannya sedikit
"Iya?" tanya Rena
"Berhenti basa-basi kayak gini" kata Ella lalu kembali menyandarkan tubuhnya di kursi
"Lo pasti udah tau tentang gue dari Kavin" kata Ella mengetukkan jarinya diatas meja
Mendengar pernyataan Ella, Rena sedikit tercengang.
"El" kata Rena takut Ella tersinggung dan marah
"Nggak papa, gue nggak marah. Justru gue seneng bisa ketemu kalian lagi setelah 8 tahun" kata Ella tersenyum tipis
"Terakhir kita komunikasi itu waktu gue cerita gue habis putus"
"Iya kan?" tanya Ella
"Iya" kata Rena menundukkan kepalanya menyesal mengingat dirinya tidak ada di samping Ella untuk menghiburnya.
"Nggak usah ngerasa bersalah. Gue nggak nyalahin kalian. Semua yang terjadi 8 tahun lalu, itu udah terjadi" kata Ella santai sedangkan Rena menjadi semakin menyesal
"Maaf, gue nggak ada di samping Lo saat Lo butuh temen curhat. Gue sama Anya malah asik sendiri dengan dunia kami"
"Padahal Lo adalah orang yang selalu ada untuk kami"
"Kami ngerasa bersalah banget sama Lo" kata Rena menyesal
"Waktu itu bukannya kita menghibur Lo, kita malah party bareng Kavin dan pacar barunya. Kita lupain Lo gitu aja" kata Rena yang ditanggapi Ella dengan senyum tipis
"Anya nggak ikut?" tanya Ella mengalihkan pembicaraan
"Anya" kata Rena menggantung
"Dia masih marah" tebak Ella
"Itu emang salah gue. Gue nggak tau kalau nyokapnya Anya meninggal. Dan baru tau 7 hari setelahnya" kata Ella mengingat kejadian 8 tahun yang lalu
"Nitip salam untuk Anya. Bilang, gue minta maaf" kata Ella pada Rena
"Nanti gue sampaikan" kata Rena menganggukkan kepalanya
"Ayo makan" kata Ella mengakhiri pembicaraan mereka saat pesanan mereka sampai.
...----------------...
"El, makasih buat makanannya" kata Rena memeluk singkat Ella
"Sama-sama" kata Ella
"Gue pulang dulu" pamitnya
"Tunggu" kata Rena menghentikan Ella
"Kenapa?" tanya Ella
"Itu....." kata Rena ragu
"Itu kita masih temenan kan?" tanya Rena penuh harap
"Masih" kata Ella tersenyum tipis
"Syukurlah, gue kira Lo nggak mau sahabatan sama kita lagi" kata Rena lega
"Sahabat?" tanya Ella tak paham
"Iya, sahabat" kata Rena tersenyum manis
"Kapan aku bilang kita sahabat, aku cuma bilang kita temenan" kata Ella santai
"Tapi itu sama ajakan?" tanya Rena tak paham
"Beda, temen cuma ada disaat Lo seneng dan lagi butuh aja. Sedangkan sahabat itu ada disaat seneng dan sedih. Orang yang nggak akan ninggalin kita saat kita down, dan selalu ada untuk kita. Itu sahabat" kata Ella
"Sedangkan hubungan kita, aku rasa kita nggak sedekat itu untuk dibilang sahabat" katanya
Deg
Hati Rena seakan ditusuk duri saat mendengar perkataan Ella. Hatinya hancur berkeping-keping.
"Gue duluan" kata Ella meninggalkan Rena sendirian
'Memaafkan bukan berarti melupakan. Rasa kecewa yang gue rasain terlalu besar untuk menerima kalian lagi'
'Maafin gue, Ren. Gue udah sakitin Lo kali ini' gumam Ella meneteskan air matanya diam-diam.
...----------------...