
"Ada apa ini?" kata seorang wanita yang berusia sekitar 50 tahunan namun terlihat tetap cantik dan anggun.
Wanita cantik itu keluar dari lift bersama asisten pribadinya dan menatap sekeliling mencari tahu apa yang terjadi. Hingga pandangan terhenti di Ella yang tersenyum manis menatapnya.
"Ohh, lihatlah ini siapa yang datang" katanya bergegas berjalan menghampiri Ella dengan wajah kesal.
Semua orang yang melihat wanita itu menundukkan kepalanya dengan hormat.
Siapa yang tidak tau pemilik salon kecantikan ini sekaligus istri tercinta Mr. Alterio, Laura Alterio.
Mereka semua menatap penasaran Ella dan Nyonya Alterio itu.
'Mampus' batin Diana senang melihat wanita itu bergegas menuju Ella dengan ekspresi kesal.
Diam-diam ia menunggu Ella dipermalukan dan diusir dari sini.
Bagaimana jika Indy punya kartu hitam. Ella tetap akan kalah jika dihadapan Nyonya Alterio ini. Batin Diana sangat puas.
Namun dirinya terkejut saat adegan yang dibayangkannya tidak sesuai dengan yang terjadi didepannya saat ini.
Nyonya Alterio malah memeluk Ella. Memeluk. Bukan menghina atau mengusirnya pergi. Belum cukup keterkejutan Diana, ia semakin terkejut mendengar perkataan Nyonya Alterio.
"Ah, calon menantuku yang manis dan cantik. Mama sangat merindukanmu" Kata Laura memeluk Ella erat sembari mengecup kening Ella dengan sayang.
"Ella juga kangen Mama" kata Ella membalas pelukan calon mertuannya itu.
"Bohong" ketus Laura melepas pelukan mereka
"Ma?" tanya Ella bingung
"Kenapa baru sekarang kesini? Sudah hampir sebulan kamu disini dan baru sekarang nemuin mama. Dasar anak nakal" kata Laura merajuk
"Hehehe"
"Maaf, ma. El sibuk di rumah sakit" kata Ella dengan memelas agar Laura mau memaafkannya
"Kamu dan Raka sama saja. Selalu sibuk. Mama kesepian" kata Laura mengelus rambut Ella sayang
"Maaf, lain kali Ella akan sering kesini" kata Ella memeluk Laura
Melihat keimutan calon menantunya hati Laura menjadi menghangat. Ia mengelus lengan Ella yang sedang memeluknya.
"Baiklah-baiklah. Anak manis" kata Laura lembut
"Makasih, ma" kata Ella mengecup pipi Laura yang membuat calon mertuanya itu semakin bahagia.
"Oh ya, ini Indy kan?" tanya Laura pada Indy yang sedari tadi melihat keharmonisan mereka.
"Iya tante" kata Indy tersenyum sopan.
"Bukannya kamu di Singapura?" tanya Laura bingung
Laura memang mengenal Indy, karena Ella sering mengajak Indy untuk datang menemuinya di salon. Dirinya juga sangat menyukai gadis ini. Sikapnya yang asal ceplos dan berani sangat jarang dilingkup sosialitanya. Apalagi Indy ini juga desainer muda yang sedang naik daun.
Laura dan putri sulungnya sering membeli gaun hasil rancangan Indy.
"Enggak, tan. Indy disini nemenin Ella" kata Indy
"Bagus" kata Laura puas. Ia sebenarnya merasa kasihan dengan calon menantunya ini, Ella dan putranya akan segera menikah tapi putranya itu malah sibuk dengan pekerjaannya dan membiarkan calon istrinya sendirian.
"Kalau ini?" tanya Laura beralih menatap Diana, Rena dan Anya yang masih terdiam termenung.
"Musuh" gumam Indy pelan yang untungnya hanya didengar Ella, Diana, Rena dan Anya
"Diem" kata Ella menyenggol lengan Indy pelan membuat Indy kesal
"Teman El, ma" katanya tersenyum manis menatap Laura
"Oh temen kamu" kata Laura menatap mereka bertiga
"Diana tante" kata Diana tersenyum manis mengulurkan tangannya.
"Dih sok manis" gerutu Indy pelan yang lagi-lagi mendapat tatapan peringatan dari Ella.
"Saya adik kelasnya, Kak El" kata Diana menatap Ella dengan lembut dan sopan.
"Adik kelas pelakor" gerutu Indy lagi yang membuat Ella hanya bisa menghela nafas.
"Ini Kak Rena dan Kak Anya. Sahabat saya" kata Diana menatap Ella dengan bangga karena bisa dekat dengan sahabat Ella dulu
"Laura" kata Laura menyambut uluran tangan Diana
"Calon mertua Ella" katanya terkekeh kecil mendengar perkataannya sendiri.
"Wah, kak El mau nikah" kata Diana pura-pura tidak tau padahal dirinya adalah orang pertama yang mendapat undangan tersebut.
"Loh kamu belum tau?" tanya Laura bingung
"El emang belum sebar undangan. Nunggu Raka balik ke sini" kata Ella menjelaskan
"El rasa lebih bagus, Raka dan El yang sebar undangan bersama-sama" tambahnya
"Memang harusnya seperti itu" kata Laura setuju
"Hah, anak itu kapan pulang" katanya kesal mengingat putranya
"Tante tenang aja, Raka pulang hari ini" sahut Indy semangat
"Oh ya?" kata Laura terkejut
"Iya. Mangkanya Indy ajak El kesini buat perawatan. Supaya nanti Raka pangling liat El tambah cantik" kata Indy jujur
"Bagus, kamu memang bisa diandalkan" kata Laura ikut senang menatap Ella yang sedikit malu dengan perkataan Indy.
"Yaudah, El. Mama pergi dulu ya ada urusan. Kamu seneng-seneng disini" kata Laura mencium pipi Ella sekilas
"Dan kalian jangan lupa dateng di acara pernikahannya Ella" katanya pada ketiga teman Ella.
"Bye, sayang" kata laura lalu pergi berjalan ke luar salon.
"Lo mau nikah?" tanya Rena pada Ella
"Iya" jawab Ella santai
"Sama siapa?" tanyanya lagi
"Raka" jawab Ella diam-diam mengulum senyum mengingat tunangannya itu.
"Raka anak paskib dulu?" tanya Rena syok
"Iya" jawab Ella jujur toh buat apa ditutup-tutupi.
"Wah, selamat yah" Kata Rena dengan tulus
"Semoga pernikahan kalian lancar"
"Thanks" kata Ella tersenyum tipis lalu kembali melanjutkan jalannya yang sempat tertunda karena Mama Raka tadi.
Sepeninggal Ella dan Indy. Ketiga perempuan itu memiliki masing-masing ekspresi yang berbeda.
Rena yang menyesal dan sedih karena tidak bisa dekat lagi dengan Ella. Anya yang terlihat biasa saja dan cenderung bodo amat. Sedangkan Diana yang cemburu dengan kebahagian Ella.
'Mengapa harus dia? Mengapa dia begitu beruntung? Punya calon mertua yang baik, calon suami yang tampan dan kaya raya, karir yang bagus. Kenapa bukan aku yang punya itu?'
Diana menatap tajam Ella dan Indy yang asik bercanda sembari berjalan menuju lift.
'Tidak, aku akan merebut semua milik Ella. Jika dulu aku bisa merebut tunangannya maka sekarang aku juga bisa merebut tunangannya lagi' batin Diana menatap Ella sinis dan penuh kecemburuan yang kebetulan juga dilihat oleh Ella.
...----------------...
"El, lo nggak papa?" tanya Indy sedikit khawatir dengan Ella yang hanya diam saja sedari tadi
"Gue nggak papa, gue cuma lagi mikir" kata Ella
"Mikir apa?" tanya Indy kepo
"Em" Gumam Ella ragu untuk menceritakannya dengan Indy
"El" panggil Indy sekali lagi
"Mikir pakai baju apa nanti jemput Raka dibandara" kata Ella berbohong.
Sebenarnya ia sedang memikirkan arti tatapan dari Diana tadi. Dirinya bingung sepertinya ia tidak pernah mencari masalah dengan Diana, tapi mengapa Diana terlihat begitu membencinya.
"Oh, baju" kata Indy paham lalu kembali fokus berbicara pada pegawai salon yang sedang mencuci rambutnya.
...----------------...