CEO'S Prince

CEO'S Prince
Menginjakkan Kaki di Surabaya



Tiga hari kemudian, kapal pesiar yang ditumpangi Kinan, Rimba dan Tina berlabuh ke Surabaya North Quay. Tempat wisata di pinggir pelabuhan Tanjung Perak Surabaya bagian utara.


Berbondong-bondong turis kapal pesiar turun dan menikmati panorama senja di Surabaya North Quay. Mereka terlihat senang dengan indahnya pemandangan senja kota Surabaya.


Dari atas pelabuhan, para turis juga dapat melihat kemegahan jembatan Suramadu. Jembatan yang menghubungkan Surabaya dengan Pulau Madura.


"Terima kasih banyak, Kapten Budi. Saya tidak akan melupakan kebaikan hati anda," ucap Kinan sambil membungkuk hormat pada Kapten Budi. Diikuti Rimba dan Tina.


"Sama-sama, Bu Kinan. Saya juga sangat senang dapat membantu kalian bertiga. Oh ya, Bu Kinan. Ini ada sebuah hadiah kecil untuk Bu Kinan, Rimba dan Tina yang sudah banyak membantu kami dalam mengobati turis-turis yang terluka karena gigitan ikan hiu," balas Kapten Budi.


"Tidak perlu repot-repot, Kapten," ucap Kinan menampik amplop tebal berwarna putih.


"Mohon jangan menolak ketulusan dan keikhlasan kami semua, Bu Kinan," balas Kapten Budi kembali menyorongkan amplop putih itu ke hadapan Kinan.


Kinan yang memang membutuhkan sejumlah rupiah untuk memulai kehidupannya di Surabaya, akhirnya menerima hadiah yang diberikan Kapten Budi.


"Terima kasih banyak, Kapten. Sekarang kami mohon diri. Kami harus pergi sebelum malam makin larut," ucap Kinan kembali berpamitan.


"Baik, Bu Kinan. Hati-hati di jalan, Rimba," seru Kapten Budi sambil melambaikan tangan pada Rimba, Kinan dan Tina.


Kinan menggandeng Rimba dengan hangat. Sementara Tina bergelanjut manja di bahu Rimba. Mereka bertiga sudah tidak lagi berpakaian kulit kayu beringin putih. Namun sudah memakai kaos dan celana panjang dari bahan katun yang dibeli Kapten Budi di toko yang ada di kapal pesiar.


"Kapten Budi baik banget ya, Tina. Sudah memberikan kita baju bagus, makanan enak, kamar tidur yang sangat indah. Sekarang masih memberikan hadiah uang pada Bunda," ucap Rimba pada Tina.


"Uuu ...." Tina membalas dengan bahasa orang utan.


"Iya, semua berkat penyertaan Tuhan. Tuhan terus melindungi kita bertiga," ujar Kinan sambil memanggil sebuah taxi berwarna biru.


"Ayo naik ke dalam taxi, Rimba. Kita akan pulang ke rumah mungil Bunda. Tapi sebelumnya, kita mampir ke mini market untuk membeli makanan, beberapa keperluan rumah tangga dan alat-alat kebersihan. Malam ini, kita harus bersih-bersih rumah dahulu. Rumah Bunda pasti sangat kotor karena sudah lama tidak ditinggali," ucap Kinan.


"Mini market? Asyik! Asyik!" pekik Rimba kegirangan.


"Menurut cerita Bunda, mini market itu menjual banyak makanan, minuman dan semua kebutuhan hidup yang kita butuhkan. Aku tak sabar ingin ke sana, Tina." Rimba menyeringai senang sambil mengelus bulu cokelat punggung Tina.


Taxi segera meluncur menyusuri jalanan menuju ke area perumahan Kinan. Mulut Rimba ternganga, kepalanya dijulurkan keluar jendela taxi, tak henti-hentinya terpesona dengan kemegahan gedung-gedung, rumah-rumah dan jalanan kota besar Surabaya.


"Rimba tidak pernah menyangka Surabaya itu begitu indah, Bunda. Banyak hal yang menakjubkan," ucap Rimba hingga membuat Kinan terharu dan mengelus rambut panjang kecokelatan Rimba yang berkibar terterpa angin malam.


Tak berapa lama.


"Bu, sudah sampai di mini market. Ongkos perjalanannya lima puluh ribu, Bu," ucap supir taxi ramah.


Kinan mengambil uang pecahan lima puluh ribu dan membayar ongkos taxi. Dan bergegas turun dari taxi. Bersama Rimba dan Tina, Kinan berbelanja beberapa produk makanan cepat saji, baju untuk Rimba, peralatan mandi dan peralatan kebersihan rumah. Setelah membayarnya, Kinan, Rimba dan Tina berjalan kaki pulang ke rumah mungil Kinan yang tak jauh dari mini market.


Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di depan rumah yang ia tinggalkan selama enam tahun. Rumah itu masih berdiri kokoh dan tegak. Terawat dengan baik. Bahkan bunga-bunga di tamannya masih sangat indah. Persis seperti enam tahun yang lalu.


"Siapa yang membersihkan dan merawat rumah ini? Apakah ibuku masih hidup?" tanya Kinan kaget melihat kondisi rumahnya yang terawat dengan baik.


"Bunda, rumah Bunda indah sekali. Ayo, cepat masuk, Bunda! Rimba sudah tidak sabar ingin melihat isi rumah Bunda," seru Rimba sambil menarik pergelangan tangan Kinan.


Kinan lalu membuka tempat rahasia untuk menyimpan kunci rumahnya. Sebuah kotak kecil di dekat kotak pos surat.


Buru-buru Kinan membuka pintu rumahnya dengan kunci itu. Kinan segera menyalakan lampu ruangan.


"Oh, wow. Padahal aku tidak pernah membayar tagihan listrik selama enam tahun, tapi listrik di rumahku masih menyala. Luar biasa," ucap Kinan melihat pendar cahaya lampu di rumahnya.


"Rumah mungil ini masih sama seperti dulu. Sangat bersih dan tertata rapi," gumam Kinan bahagia.


Kinan langsung masuk dan mencari ibunya di dalam kamar, namun ia tidak menemukan siapa-siapa di sana.


"Jika ibu tidak ada di rumah, lalu siapa yang membersihkan rumah ini selama enam tahun? Lalu di mana ibuku sekarang berada? Apakah beliau masih hidup dan terawat dengan baik?" gumam Kinan lirih, merasa sedih karena telah pergi meninggalkan ibunya yang sakit alzheimer selama enam tahun.


"Bunda, kenapa menangis?" tanya Rimba bingung melihat mata Kinan basah oleh air mata.


"Rimba, sebelum Bunda terdampar di pulau asing bersama Tina, Bunda tinggal bersama nenek Rimba yang sedang sakit alzheimer. Bunda berharap dapat bertemu nenek Rimba setelah kembali ke rumah ini. Namun rupanya nenek Rimba tidak ada di rumah ini. Besok Bunda akan bertanya ke tetangga tentang nenek Rimba. Sekarang, ayo kita makan dahulu. Setelah itu mandi dan beristirahat," jawab Kinan segera membimbing Rimba ke ruang makan.


"Baik, Bunda," jawab Rimba patuh.


Kinan segera menyiapkan peralatan makan dan makan malam bersama Rimba dan Tina di meja makan.


"Bunda, makanan ini sangat enak. Rimba sangat suka," ucap Rimba yang baru pertama kali makan sushi berisi nasi dan aneka isian daging. Rimba makan dengan sangat lahap. Maklum selama di hutan, Rimba belum pernah makan nasi. Karena Kinan dan Tina tidak pernah sekali pun menanam padi untuk ditanak sebagai nasi.


"Makanlah yang banyak, Rimba," ucap Kinan sambil menyodorkan donat, bakpau dan pizza. Jenis makanan yang belum pernah Rimba makan saat tinggal di pulau asing.


Setelah perut kenyang, Kinan dan Rimba segera mandi dan beristirahat.


Keesokan harinya, Kinan bangun pagi dan menyiapkan sarapan. Setelah selesai, Kinan segera mandi dan berjalan keluar rumah.


Kinan melihat banyak ibu-ibu kompleks perumahannya yang sedang berkumpul membeli sayuran di tukang sayur.


"Selamat pagi. Apakah ibu adalah Bu Erna? Saya Kinan, tetangga sebelah rumah Bu Erna." Kinan memperkenalkan diri pada seorang wanita gemuk berdaster merah, tetangga yang sudah lama tidak bersua.


"Ya ampun. Nak Kinan, kapan pulang ke Surabaya?" tanya Bu Erna kaget tidak percaya melihat dokter hewan tetangganya sudah kembali setelah sekian tahun menghilang.


"Tadi malam, Bu. Apakah ibu tahu dimana keberadaan ibu saya?" tanya Kinan cepat.


"Bu Levi sekarang tinggal di sebuah panti jompo, Kinan. Seorang wanita muda bernama Raden Ayu Ariani lah yang membawanya ke sana. Karena kasihan Bu Levi tidak ada yang merawat," jawab Bu Erna lantang.


Raden Ayu Ariani, siapa itu? Aku tidak mengenalnya, batin Kinan.


"Apakah Bu Erna punya nomer ponsel Bu Ariani?" tanya Kinan lagi.


"Punya dong. Bu Ariani itu adalah bos saya. Beliau membayar saya untuk membersihkan rumah kamu setiap hari. Jadi saya punya nomer ponsel beliau," jawab Bu Erna.


"Oh, ternyata Bu Erna yang merawat dan merapikan rumah saya selama ini. Terima kasih banyak, Bu Erna," balas Kinan.


"Sama-sama, Kinan. Ini nomer ponsel Bu Ariani. 081-1122-3333," ucap Bu Erna.


"Terima kasih sekali lagi, Bu." Kinan tersenyum dan kembali pulang ke rumahnya. Hendak menghubungi Bu Ariani.