
"Benar, Kak. Seseorang mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawaku. Untunglah aku dapat menyelamatkan diri dan terdampar di sebuah pulau asing," tutur Kinan.
"Pembunuh bayaran?" tanya Andre tak percaya.
Kinan mengangguk.
"Apakah kamu punya musuh hingga ada yang menginginkan nyawamu?" tanya Andre lagi.
Kinan menggelengkan kepala.
Baiklah, aku akan meminta Rendra untuk menyelidikinya. Semuanya harus diusut tuntas. Jangan sampai otak dari usaha pembunuhan ini kembali melakukan hal yang sama di kemudian hari. Aku tidak mau kehilangan Kinan untuk kedua kalinya, batin Andre.
"Dan apakah Rimba adalah putraku?" tanya Andre ingin memastikan satu hal lagi. Suara Andre terdengar bergetar, nampak takut menerima kenyataan yang akan mengguncang hidupnya. Andre yakin tidak ada cinta untuk Kinan yang bersemi di hatinya. Selama ini Andre mencari Kinan untuk membalas semua budi baiknya.
Wanita adalah mahluk yang keberadaannya tidak dapat dipercaya seratus persen. Kecuali Kinan dan ibunya. Mereka berbeda karena mereka adalah malaikat penolongku. Tapi perlu diingat sekali lagi, mereka hanya penolong saat aku berada dalam keterpurukan. There is no love on deep of my heart. Dan imbalan untuk seorang penolong adalah uang dan hadiah. Bukan menjadi pemilik hidupku. Lebih-lebih meminta cinta dariku, batin Andre.
Andre menarik nafas panjang. Sekarang, ia harus kembali berurusan dengan wanita, hidupnya akan berubah 180 derajat jika pengakuan dari bibir mungil Kinan meluncur. Menyatakan bahwa Rimba adalah putranya.
Kinan menunduk. Andre mendengar Kinan mengucapkan kata 'iya' yang membuat tubuh tegap Andre sedikit limbung.
Bagai disambar petir. Pikiran Andre langsung melonjak ke kejadian malam itu.
Noda merah di seprai kasur Kinan menunjukkan bahwa Kinan masih murni saat aku menyentuhnya. Dia juga tidak pernah punya pacar sepanjang hidupnya. Rendra pernah menyelidiki dan melaporkannya padaku. Kinan memiliki ibu yang sakit alzheimer, jadi ia yang tidak memiliki waktu untuk mengurus laki-laki apalagi pacar. Waktunya habis untuk belajar, bekerja dan merawat ibunya. Lalu ... Tiga hari setelah aku pergi meninggalkannya, Kinan menghilang tanpa jejak. Meninggalkan ibunya di rumah hanya dengan seorang pengasuh lansia. Dan menurut pengakuannya, Kinan terdampar di pulau asing. Jadi tidak mungkin Kinan mengandung putra pria lain. Putra Kinan pasti adalah putraku, batin Andre sesak.
"Kak Andre, kau bisa melakukan tes DNA jika memang ingin membuktikan kebenaran ucapanku," ucap Kinan tidak ingin Andre meragukan ucapannya. Perlu sebuah pembuktian untuk menyatakan kebenaran ucapannya.
Andre mengangguk. "Jangan salah paham. Aku mempercayaimu, Kinan."
"Kakak yakin?"
Andre mengangguk. Di hadapan Kinan, Andre benar-benar tidak tega untuk meragukan Kinan. Tapi di dalam pikiran Andre.
Aku akan meminta Rendra mengurus tes DNA. Jika memang terbukti Rimba adalah putraku, aku akan memberikan nama belakangku untuknya. Untuk sementara hanya itu yang dapat kulakukan, batin Andre.
"Kinan, dimana kau tinggal? Aku akan mengantarmu pulang ke rumahmu," ucap Andre karena Rimba memang sudah diperbolehkan pulang, jadi untuk apa berlama-lama lagi di rumah sakit.
"Kami tinggal di ...." Belum selesai Kinan berucap, ada yang menyelanya.
"Di rumah ayah tentunya," jawab Rimba yang sudah membuka mata.
"Rimba, tidak baik menyela orang dewasa sedang berbicara. Bunda tidak mau Rimba mengulanginya lagi di kemudian hari," ucap Kinan sabar sambil mengelus pipi putranya dengan lembut.
"Kami berdua tinggal di daerah Grand Pakuwon, Kak." Kinan menjawab pertanyaan Andre.
Andre mengangguk. Sedikit penasaran dengan bagaimana Kinan dapat tinggal di kawasan perumahan elite tersebut. Tapi bibir Andre terkatup, tak kunjung bertanya.
Biarlah Renda yang mencari tahu, batin Andre.
Kinan menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak, Rimba. Kita harus pulang ke rumah kita sendiri."
"Bunda, please. Kita pulang ke rumah ayah saja," rajuk Rimba tidak putus asa.
"Jangan keras kepala, Rimba. Kak Andre punya banyak urusan dan butuh privasi untuk dirinya. Kita tidak boleh mengganggu dan merepotkannya," ucap Kinan tegas. Ia tidak menyangka Rimba membantah perintahnya. Padahal selama ini Rimba selalu menurut.
Ada apa dengan Rimba? Apakah sekangen itu dengan ayahnya? Atau ada maksud yang lain? Karena suara Rimba terlihat berbeda dengan biasanya, seperti dibuat-buat menjadi imut dan menggemaskan, batin Kinan.
Tidak berhasil menggoyahkan Kinan dengan rajukannya, Rimba berpaling pada Andre. Menatap Andre dengan sinar mata penuh harap. Seperti seekor orang utan kecil yang minta dibelai lembut dan disayangi. Sangat lucu dan menggemaskan.
"Ayah, apakah Rimba dan Bunda boleh tinggal bersama Ayah sekarang? Rimba janji tidak akan merepotkan Ayah. Bunda pasti setuju, jika Ayah mengijinkan kami untuk pindah ke rumah Ayah." Rimba tidak putus asa membujuk Andre untuk mengiyakan permintaannya yang pertama.
Setelah lima tahun, akhirnya ia bertemu denganku. Sosok ayah yang sangat dirindukannya. Aku tidak tega melihat wajahnya yang imut itu. Aku tak ingin membuatnya menangis dengan menolak permintaannya untuk tinggal bersamaku, batin Andre.
Andre meneguk salivanya sebelum mengangguk mengiyakan permintaan Rimba untuk ikut pulang ke rumahnya.
"Asyik! Terima kasih, Ayah." Rimba tersenyum kecil dan membuka kedua lengan tangannya lebar-lebar. "Tolong gendong Rimba, Ayah. Rimba bertambah gemuk sejak datang ke Surabaya. Bunda sudah tidak kuat lagi menggendong Rimba."
Kinan tersenyum melihat ulah Rimba yang begitu manja pada ayahnya.
Sudah lama Rimba menantikan moment ini, haruskah aku masih berkeras untuk tinggal terpisah dengan Kak Andre? Aku juga sangat merindukannya. Aku tidak ingin berpisah dengannya. Pertemuan kami hari ini terlalu singkat untuk diakhiri, batin Kinan.
"Ayolah, Bunda. Ayah sudah setuju. Jadi Bunda juga harus setuju." Rimba mengedipkan matanya dengan penuh harap.
"Baiklah, Rimba." Kinan akhirnya menyetujui permintaan Rimba.
"Ok, kita pulang ke rumah sekarang." Tanpa diperintah dua kali, Andre segera menggendong Rimba. Lelaki kecil yang wajahnya mirip dengan Andre dan di dalam darahnya juga mengalir darah Andre.
"Satu lagi, Ayah. Jemput Tina sebelum pergi ke rumah ayah yang sebenarnya. Tina pasti senang melihat Rimba sudah bertemu ayah dan akan tinggal bersama ayah selamanya," ucap Rimba sambil melingkarkan lengan tangannya ke leher Andre.
Oh, Tuhan! Siapa itu Tina? Seorang wanita? Ya ampun, ada satu wanita lagi yang akan tinggal di rumahku? Ya Tuhan, kapan aku terbebas dari wanita? batin Andre makin sesak.
"Tina adalah kakak sekaligus sahabatku, Ayah. Seekor orang utan kecil yang selalu menemaniku di pulau asing." Rimba menjelaskan semuanya agar Andre bersedia menjemput Tina sebelum berpindah rumah. Kasihan Tina jika ditinggalkan sendirian di rumah. Selain itu Rimba dan Kinan juga harus mengambil beberapa barang mereka di rumah sebelum pindah ke rumah Andre.
"Oh!" Perasaan Andre langsung lega mendengarnya. Ternyata Tina bukan manusia. Hanya hewan peliharaan. Tapi dia betina. Bukan jantan.
"Baiklah, ayo kita pergi!" Andre memperbaiki gendongannya agar Rimba tidak merosot ke bawah dengan satu tangannya. Sementara tangannya yang lain kembali terulur untuk menggandeng Kinan. Entah apa yang merasuki pikiran Andre, entah alasan apa lagi yang membuat Andre kembali ingin menggenggam tangan hangat Kinan. Yang penting, ayo jalan!
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah yang diklaim Ariani sebagai rumah Andre, Rimba tak henti-hentinya berceloteh. Ia menceritakan semua pengalamannya selama tinggal di hutan pulau terasing.
Sesekali Andre tersenyum, tertawa dan menimpali cerita Rimba.
Oh, Tuhan! Aku tidak ingin moment ini berakhir. Aku mau setiap hari mereka berdua selalu berkomunikasi, saling bertukar senyum dan canda. Tuhan, berkati kami. Semoga kami dapat membentuk keluarga yang bahagia dan harmonis, batin Kinan.