
Profesor Rudolph mendengus kesal.
Sebelumnya Tina adalah hewan peliharaanku, kenapa sekarang Kinan berlaku seolah-olah dia adalah pemiliknya? Diskusi dengan seekor orang utan lebih dahulu, apakah itu masuk akal? Paksa saja orang utan itu untuk kawin dan hamil sekali lagi. Susah amat sih, batin Profesor Rudolph dongkol.
Tapi apa boleh buat? Di belakang Kinan ada suaminya yang bernama Andre, CEO Ariandono Group. Profesor Rudolph terpaksa tunduk pada kekuasaan besar yang dimiliki Andre.
"Baiklah. Diskusikan dengan Tina lebih dahulu. Kabari aku secepatnya jika sudah mendapat jawaban. Aku akan mempersiapkan satu dua ekor orang utan untuk menjadi pasangan baru Tina," jawab Profesor Rudolph.
"Baik, Profesor." Kinan menggigit bibirnya.
Setelah kematian kekasih dan calon anaknya, Tina tidak pernah berinteraksi lagi dengan orang utan jantan. Tina selalu menjauh setiap ada pejantan yang mendekatinya atau menggodanya. Tina tidak tertarik untuk kembali jatuh cinta dan punya anak.
Tapi waktu sudah berlalu, seharusnya luka batin Tina sudah sembuh. Sekarang saat Tina move on dan memulai hidup baru. Sama sepertiku, batin Kinan.
Kinan membuang jauh-jauh pikiran negatifnya, mengalihkannya pada hal lain. Urusan perut yang sudah mulai keroncongan setelah bekerja keras.
"Profesor, apakah Profesor mau makan malam bersama kami?" tanya Kinan sopan, melihat jam di dinding menunjukkan pukul enam sore. Monyet di hadapannya masih belum siuman, jadi Kinan akan pulang agak malam dari kliniknya. Sementara Rimba ada di ruangan yang lain, pasti lapar begitu jam sudah menunjukkan jam makan malam.
"Boleh, Kinan. Sambil menunggu, bolehkan aku menemui Rimba?" tanya Profesor Rudolph.
Kinan mengangguk mengijinkan. "Tentu saja, Prof. Lewat pintu ini saja, Prof. Langsung tembus ke ruangan sebelah."
Profesor berlalu dan Kinan langsung mengambil ponselnya. Menghubungi Andre, mengabarkan jika akan pulang rumah agak malam. Tidak makan malam di rumah.
Setelah itu Kinan segera memesan banyak makanan lewat aplikasi layan antar.
***
Andre menutup panggilan telepon dari Kinan. Lalu pandangannya terarah pada Rendra yang berdiri di hadapannya.
"Apa yang kau temukan setelah menyelidiki Ariani dan ibu tiriku?" tanya Andre.
"Sesuai dengan prediksi Bapak. Mereka mengubungi Black Phanter, Pak." Rendra bergidik menyampaikan kabar mengerikan ini pada atasannya.
Black Phanter adalah seorang pembunuh bayaran yang ada di novel-novel Miss DK sebelumnya. Sepak terjangnya lumayan mengerikan karena dia adalah bawahan dari seorang mafia terkenal di Surabaya. Hades.
"Kalau begitu besok aku tidak ke kantor lagi. Aku akan membawa keluargaku ke villa yang ada di Batu. Rahasiakan ini dari semua karyawan kantor. Katakan saja jika aku membawa Kinan dan Rimba pergi berbulan madu keluar negeri," jawab Andre yang berusaha melindungi keluarganya dari pembunuh bayaran yang cukup terkenal di dunia, tidak pernah gagal dalam melaksanakan tugasnya.
"Baik, Pak."
"Rendra, pesan makan malam sekarang. Kinan berencana lembur malam ini. Jadi kita juga akan lembur malam ini," titah Andre.
"Baik, Pak." Rendra segera meninggalkan ruang kerja atasannya. Memesan layanan pesan antar makanan. Malam ini dia ingin makan nasi cumi Suramadu Bu Anna dengan sambel pencit yang banyak. Biar saja ongkirnya mahal karena lokasi rumah makan Bu Anna nun jauh dari kantor. Mumpung big bos yang bayarin, hajar saja!
***
Di ruang tamu rumah Kinan.
Profesor Rudolph berjalan-jalan sambil memperhatikan isi rumah Kinan. Batinnya selalu memuji Kinan. Dokter hewan cantik yang satu ini memang selalu rapi dan bersih. Rumahnya sangat sempurna dan sehat.
Profesor Rudolph kemudian mulai mencari Rimba. Pria kecil ini tidak ada di lantai satu. Mungkin sedang berada di kamar yang ada di lantai dua.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk saja. Tidak dikunci kok." Terdengar suara Rimba mempersilahkan tamunya untuk masuk ke ruang pribadinya.
Kriet! Pintu terbuka. Profesor Rudolph segera menyapa Rimba. "Sedang apa, Nak?"
"Saya sedang bermain games online, Prof," jawab Rimba segera bangkit berdiri setelah melihat kalau bukan Bunda yang masuk ke kamarnya tapi Profesor Rudolph. Rimba langsung membungkuk hormat pada mantan atasan bundanya. "Ada yang bisa Rimba bantu, Prof?"
Profesor Rudolph segera mendekati Rimba setelah puas memandangi kamar Rimba. Menepuk bahu Rimba. "Kudengar dari ayahmu, kalau kau pandai matematika. Apakah aku boleh mengujimu?"
"Ayah terlalu berlebihan, Prof. Saya hanya suka matematika dan kebetulan pernah membantu ayah menyelesaikan soal-soal matematika yang agak susah," ucap Rimba merendah.
Profesor Rudolph menepuk bahu Rimba sekali lagi. "Apakah kau mau mengerjakan soal matematika yang kubuat?"
Mata Rimba berbinar senang. "Dengan senang hati akan saya coba, Prof."
Profesor mengeluarkan buku tebal yang ia bawa. Lalu menyodorkannya pada Rimba. "Coba kerjakan dua soal berikut ini!"
Rimba melirik dua soal tersebut dan belum sempat Profesor Rudolph duduk di kursi kosong yang ada di samping Rimba, Rimba sudah memberikan jawabannya.
"Nomer satu jawabannya nol dan yang nomer dua jawabannya satu," ucap Rimba.
"Apa? Secepat itu kau menjawabnya?" Profesor Rudolph terperangah kaget mendengarnya. Padahal soal yang diberikannya adalah soal matematika yang diajarkan di universitas. Bahkan beberapa mahasiswa dengan IPK di atas 3.5 yang ia minta untuk menjawab soal tersebut mengalami kesulitan. Tapi pria kecil di hadapannya hanya butuh beberapa detik untuk menjawab.
"Bagaimana dengan dua soal yang ini?" tanya Profesor Rudolph.
Rimba tersenyum. "Jawabannya adalah bilangan prima dan bilangan cacah."
"Luar biasa. Kau memang jenius." Profesor Rudolph kembali menepuk bahu Rimba. Matanya terlihat sangat puas dan bangga melihat Rimba. Senyum licik terukir di wajahnya.
Rimba yang melihat dan membaca gerak gerik Profesor Rudolph merasa bahwa Profesor Rudolph mempunyai niat tersembunyi yang kurang baik. Rimba tidak menyukainya.
Aku harus meminta Bunda berhati-hati dengan Profesor Rudolph. Sepertinya pria ini terlalu berambisi besar dan punya maksud kurang baik pada seseorang, batin Rimba.
Ting tong! Bel pintu berbunyi. Rimba yang mendengarnya langsung meminta ijin untuk turun ke bawah dan membuka pintu bagi tamu yang sudah membunyikan bel pintu rumahnya.
"Ada yang datang, Prof. Lebih baik kita segera turun," ajak Rimba yang tidak ingin Profesor Rudolph berada di kamarnya lebih lama. Rimba khawatir jika Profesor Rudolph mengganggu dan melanggar privasinya. Membongkar barang-barang milik Rimba.
"Baiklah. Ayo kita turun!" Profesor Rudolph pergi meninggalkan kamar Rimba.
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga menikmati makan malam dalam keheningan.
Sepertinya Bunda dan Profesor Rudolph sedang ada masalah penting. Aku juga tidak punya sesuatu yang harus kubicarakan dengan Bunda. Jadi lebih baik makan dan tetap diam, batin Rimba.
Sepanjang sore tadi, Rimba sudah bercerita panjang lebar dengan Leony. Sahabat yang menjadi pendengar setianya, walaupun Rimba suka berbicara layaknya pria dewasa. Bukan seperti anak kecil.
Terkadang Rimba suka dilahirkan sebagai anak jenius, namun sesekali dia juga tidak ingin dilahirkan dengan bakat-bakat khusus yang membuatnya terlihat lebih pandai daripada anak seusianya. Karena beberapa teman Rimba kurang suka mengobrol dengan Rimba. Pemikiran mereka tidak sepaham.
Hmm ... Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga ingin menjadi anak jenius? Kalau author, lebih suka jadi anak normal-normal saja. Karena di atas normal itu sering dianggap tidak normal. Wkwkwk ...