
Plok! Plok! Plok!
"Tolong dibawa kemari baju pengantinnya. Letakkan di sini patung manekinnya. Lalu pasang baju pengantinnya di patung manekin," ucap seorang pria yang geraknya lemah gemulai seperti wanita, pada beberapa orang krunya.
"Tante, apakah perhiasan dan sepatunya boleh diletakkan di sini?" tanya seorang gadis sambil membawa beberapa kotak perhiasan dan sepatu. Dia berjalan mendekati meja rias yang ada di dalam kamar Kinan.
"Sure. Letakkan di sana, lalu panggil MUA yang akan merias pengantinnya. Minta MUA untuk membangunkan pengantinnya lebih dahulu," seru pria jadi-jadian sambil menunjuk seorang wanita berambut cokelat yang masih bergelung nyaman di dalam selimutnya.
"Baik, Tante." Gadis itu segera keluar dari kamar Kinan dan menarik seorang gadis muda yang lain.
"Pengantinnya masih tidur, Kak. Kakak harus memintanya mandi, sikat gigi dan sarapan dahulu sebelum dimake up. Panggil aku kalau Kakak sudah merias pengantinnya. Aku harus pergi mendadani pangeran kecil dan orang utannya," ucap gadis muda pada MUA di hadapannya. Pergi ke kamar yang ada di sebelah kamar Kinan.
MUA pun segera masuk ke kamar Kinan. Menarik selimut yang dipakai Kinan dan membangunkan putri tidur yang semalam tidur larut malam.
"Kak Kinan, ayo bangun, Kak! Kakak hari ini akan menikah," ucap MUA dengan suara keras.
Kinan membuka matanya karena ada suara berisik yang mengusik tidurnya. Melihat ada orang lain yang tidak ia kenal sebelumnya, Kinan langsung terduduk kaget di atas kaaur empuknya.
"Siapa kamu?" tanya Kinan syok.
"Saya MUA yang akan merias Kak Kinan. Kakak hari ini akan menikah, jadi tolong cepat mandi dan sikat gigi ya. Waktu saya untuk merias Kak Kinan hanya satu jam, jadi tolong jangan lama-lama di dalam toilet," jawab MUA dengan penuh semangat.
"Saya menikah hari ini? Ish! Adik MUA ini jangan bercanda deh!" Kinan kembali berbaring memejamkan matanya untuk tidur. Hari ini hari Minggu, klinik tutup, jadi Kinan boleh tidur sampai agak siangan.
"Kakak, saya tidak bercanda. Coba Kakak lihat! Itu gaun pengantin Kakak dan itu sepatu yang akan Kakak pakai saat menikah," seru MUA kembali menarik tangan Kinan untuk segera bangun dari tidur.
Kinan kembali membuka mata dan melirik manekin yang sudah memakai baju pengantin putih berhias kristal mawar biru di bagian lehernya.
"Astaga! Mawar biru. Itu pasti gaun pengantin dari Kak Andre," pekik Kinan tak percaya dengan kejutan yang Andre berikan di hari Minggu pagi. Kejutan yang datang bertubi-tubi dalam dua hari. Kemarin malam dilamar dan pagi ini udah mau menikah. OMG! Gercep banget!
"Iya, Kak Kinan hari ini akan menikah dengan Kak Andre. Ayo, Kak. Cepat mandi. Waktu kita tersisa lima puluh menit." MUA mengecek arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ini sudah gila!" Kinan buru-buru turun dari kasur, berlari cepat ke arah kamar mandi. Waktunya mepet. Dia harus siap dirias hanya dalam hitungan menit. Padahal mandi dan sikat gigi minimal butuh waktu sepuluh menit. Sekarang ia harus memangkasnya menjadi lima menit. OMG! Mandi dan sikat giginya jadi tidak bersih nih! What ever deh, ntar tinggal disemprot parfum aja yang banyak. Hahaha ....
Empat puluh lima menit kemudian, Kinan sudah dimake up dan memakai gaun pengantin putih dengan hiasan kristal mawar biru di bagian leher. Kinan juga memakai sepatu putih berhias kristal mawar biru.
"Bundaaa!" pekik Rimba yang sudah memakai setelan jas putih dengan hiasan bunga mawar biru di dada kanannya.
"Bunda cantiiiik sekali!" puji Rimba yang rambutnya sudah ditata dengan hair spray hingga terlihat rapi dan sangat tampan.
"Terima kasih, Sayang." Kinan melihat bayangan dirinya di dalam cermin besar. Tubuhnya yang ramping terlihat sangat anggun dalam balutan gaun pengantin putih sabrina mermaid. Rambut cokelatnya ditata naik ke atas, sehingga lehernya yang jenjang dan bahunya yang lebar terlihat begitu elok.
"Pinggang Kak Kinan kecil, cocok sekali dengan model pakaian mermaid ekor panjang." MUA terkagum-kagum dengan lekuk tubuh Kinan bak gitar Spanyol.
"Resepnya apa supaya bisa ramping dan tetap cantik, Kak?" tanya MUA penasaran.
"Astaga! Saya tak sanggup. Kata orang Indonesia, kalau belum makan nasi itu berarti belum makan sama sekali. Wah, dietnya Kak Kinan cukup ketat juga ya," balas MUA makin terkagum-kagum.
Kinan tersenyum. Rimba ada-ada saja.
"Bunda, sudah siap? Ayah sudah menunggu Bunda di rumah kaca. Ayah dan Bunda akan menikah di sana," jelas Rimba dengan wajah berseri-seri bahagia.
Akhirnya Ayah dan Bunda menikah juga. Itu berarti Rimba akan punya adik beberapa bulan lagi. Asyik! batin Rimba.
Kinan mengambil nafas dalam-dalam. "Ayo, kita temui ayah."
***
Di rumah kaca halaman belakang.
"Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Mempelai pria diperbolehkan mencium mempelai wanita," ucap Pastor yang memimpin acara pemberkatan perkawinan.
Andre maju selangkah, menatap mempelai wanita yang wajahnya ditutup kerudung putih transparan. Senyum bahagia menghiasi wajah tampan Andre.
Tanpa ragu, Andre menyibak kerudung putih itu. Wajah cantik Kinan bertabur senyum manis membuat Andre tersenyum lebih lebar.
Akhirnya, aku mempersunting malaikat penolongku menjadi istriku, batin Andre.
Andre maju selangkah lagi, menggenggam jemari tangan Kinan, menciumnya dengan lembut lalu beralih ke bibir mungil Kinan yang menggoda.
"Terima kasih, sudah menjadikanku sebagai pasangan hidupku. Aku akan mengasihi, menjaga dan melindungimu selalu," janji Andre di daun telinga Kinan. Kinan tersenyum dan memeluk Andre dengan erat.
Rimba, Tina dan Rendra bertepuk tangan disusul dengan para pelayan, tukang kebun dan satpam rumah Andre. Semuanya diundang untuk memeriahkan pesta pernikahan yang digelar sangat sederhana.
Rendra dengan cepat melangkah ke depan begitu Andre sudah melepaskan Kinan yang wajahnya meram padam karena malu.
"Silahkan duduk di kursi taman itu, Pak Andre dan Bu Kinan. Acara penandatangan surat nikah secara hukum dan penyerahan surat akta kelahiran Rimba akan segera dimulai," ucap Rendra pada Andre dan Kinan.
Kinan menaikkan alis matanya, tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Tapi Andre tidak punya waktu untuk memberi penjelasan, malah segera menggandeng Kinan untuk berjalan ke kursi dan meja taman yang sudah disulap menjadi meja dan kursi saksi pernikahan mereka berdua.
Beberapa lembar kertas perlu dibubuhi tanda tangani Kinan dan Andre. Sebelumnya Kinan membaca deretan huruf yang terangkai di atas kertas akta kelahiran Rimba. "Raden Rimba Ariandono," gumam Kinan saat membaca nama baru yang Andre berikan untuk putra tercintanya.
"Kamu suka nama barunya?" tanya Andre.
Kinan mengangguk dengan wajah bahagia. Akhirnya putranya mendapatkan pengakuan dari ayahnya. Namanya bukan lagi Rimba Lee tapi Raden Rimba Ariandono.
Pengacara yang duduk di sebelah petugas catatan sipil membawa sebuah amplop berisi hasil tes DNA Rimba. Isinya menunjukkan bahwa DNA Rimba 99 persen identik dengan DNA Andre. Sudah terbukti pasti bahwa Rimba Lee adalah putra Andre. Dan berhak menyandang gelar kebangsawanan dan nama keluarga Andre. Serta menjadi pewaris semua harta kekayaan Andre begitu Andre tiada.
"Terima kasih, Kak Andre," gumam Kinan lirih.