CEO'S Prince

CEO'S Prince
Terlambat Menyadari Bahwa Dia Ayahku



Setelah Ariani pulang, Kinan dan Rimba pergi ke panti wredha Surya untuk menemui nenek Rimba, Levi Lee. Jaraknya tidak begitu jauh dari rumah yang sekarang ditinggali Kinan dan Rimba, sehingga beberapa saat kemudian taxi sudah sampai di halaman panti wredha Surya.


Setelah membayar ongkos taxi, Kinan dan Rimba segera masuk ke lobby panti wredha Surya.


"Selamat siang, apakah saya dapat bertemu ibu Levi Lee?" tanya Kinan dengan sopan.


"Tentu. Tolong diisi dulu buku tamunya. Setelah itu saya akan mengantar anda menemui ibu Levi Lee," jawab petugas administrasi panti wredha.


Saat Kinan sedang mengisi buku tamu, Rimba berjalan-jalan di lobby panti wredha. Tak sengaja manik mata cokelatnya melihat seorang pria berpakaian jas biru tua yang rapi yang ada di halaman panti wredha. Pria itu terlihat sangat tampan. Namun raut wajahnya sangat dingin dan menakutkan.


"Wajahnya mirip denganku. Tapi auranya terlihat menyeramkan. Sangat tidak ramah. Sungguh berbeda karakter denganku. Siapakah dia? Kenapa wajahnya begitu mirip denganku? Apakah dia ayahku?" tanya Rimba masih terus mengamati kepergian pria tampan berwajah dingin itu.


"Kok ngomong sendiri, Rimba?" tanya Kinan.


Rimba tersenyum dan menunjuk mobil pria tampan dan dingin itu. "Rimba baru saja melihat seorang pria dewasa yang wajahnya sangat menakutkan. Untung saja pria itu sudah pergi dengan mobil birunya. Rimba khawatir Bunda akan ketakutan saat melihatnya."


Kinan tersenyum. "Apakah dia lebih menakutkan daripada singa di hutan?"


"Seratus kali lipat lebih angker, Bunda," jawab Rimba sambil terkekeh.


"Sungguh mengerikan. Sekarang, ayo kita temui nenek," ajak Kinan yang sudah ditunggu petugas admin.


"Ya, Bunda." Rimba dengan riang segera menggandeng tangan Kinan dan mengekor petugas admin. Pergi ke kamar Levi Lee.


Kriet! Pintu kamar Levi terbuka. Nampak seorang wanita cantik yang sudah penuh keriput sedang terbaring tak berdaya di tempat tidur. Pandangan matanya kosong seperti tidak ada sinar kehidupan lagi di sana.


Kinan segera berlari mendapati ibunya. Menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh kurus Levi hingga membuat Rimba ikut menangis.


"Maafkan Kinan baru datang sekarang, Bu. Maafkan Kinan sudah meninggalkan ibu begitu lama," ucap Kinan parau. Hatinya tercabik-cabik sedih. Melihat ibunya begitu lemah, tidak dapat berbicara dan tidak dapat berjalan lagi seperti dahulu.


"Nenek, ini Rimba, cucu nenek. Cepat sehat ya, Nek," ucap Rimba di sela-sela tangisnya.


"Maaf, kalian berdua siapa ya?" tanya seorang perawat yang merawat Levi. Tiba-tiba muncul hingga membuat Kinan kaget dan segera menyusut air matanya.


"Saya Kinan, putri Bu Levi. Dan ini putra saya, Rimba," jawab Kinan sambil menunjuk ke arah Rimba.


"Oh, anda putrinya Bu Levi dan cucunya ya? Maaf, saya tidak tahu. Selama ini saya kira Bu Levi hanya punya seorang putra. Namanya Tuan Andre," ucap perawat yang tidak menyangka kalau Bu Levi juga punya seorang putri.


Deg! Jantung Kinan kembali berdetak kencang.


"Andre? Suster, kenal Kak Andre?" tanya Kinan.


"Iya, saya mengenal Tuan Andre sudah sejak lama. Mungkin sekitar enam tahun. Oh ya, Tuan Andre baru saja datang kemari. Itu buktinya. Bunga mawar biru adalah bunga yang selalu dibawa Tuan Andre jika datang kemari," jawab perawat sambil menunjuk sebuah keranjang mawar biru di meja kecil, di sebelah tempat tidur Levi.


"Apa? Kak Andre ada di Indonesia?" tanya Kinan tak percaya.


Bukankah kata Ariani, Kak Andre ada di luar negeri? Kenapa perawat mengatakan Kak Andre baru saja menjenguk ibu? batin Kinan.


Kinan menepuk dahinya. "Astaga, aku melewatkan kesempatan emas bertemu Kak Andre. Aku tak menyangka Kak Andre begitu dekat denganku dan Rimba. Bahkan Rimba sempat melihatnya di halaman depan lobby panti. Sayang sekali, kami berdua masih belum berjodoh bertemu kembali dengan Kak Andre."


"Semuanya sudah terlambat. Kak Andre sudah pergi meninggalkan panti werdha sejak tadi. Kalau begitu, aku akan menghubungi Ariani dan minta nomer ponsel Andre," ucap Kinan cepat-cepat mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ariani. Namun panggilan teleponnya tidak terjawab. Kinan hanya dapat menarik nafas panjang.


"Aku tidak boleh berprasangka buruk pada orang yang sudah menolongku. Mungkin saja Kak Andre pulang dari luar negeri lebih cepat dari perkiraan Ariani. Ada sedikit miss communication antara aku dan Ariani," ucap Kinan lugu.


"Kak perawat, apakah kakak memiliki nomer ponsel ayah Rimba? Tuan Andre maksud Rimba," tanya Rimba pada perawat.


Perawat menggelengkan kepalanya.


"Maaf, Rimba. Kakak maupun petugas administrasi panti werdha ini hanya memiliki nomer ponsel Bu Ariani. Orang yang membawa, membayar biaya perawatan Bu Levi dan yang menjadi walinya jika ada keadaan darurat yang berhubungan dengan Bu Levi," jelas perawat.


Rimba cemberut, lalu mengambil kertas dan pena di atas meja tulis, di samping tempat tidur nenek. Menulis sesuatu di atas kertas.


"Kalau begitu, jika lain kali ayah Rimba datang kemari, tolong berikan kertas berisi nomer ponsel Bunda ke ayah Rimba ya, Kakak Perawat," pinta Rimba sambil menyodorkan sebuah kertas berisi alamat rumah Rimba dan deretan angka ponsel Kinan.


"Siap, Rimba. Semoga kalian segera dapat bertemu dengan Tuan Andre," balas perawat.


Kinan tersenyum. Putra geniusnya ini memang sangat teliti dan cekatan. Dia dapat berpikir cepat dan mengambil tindakan yang tepat agar Bundanya tidak larut dalam kekecewaan. "Terima kasih, Rimba."


"Kalau begitu, saya permisi, Bu Kinan. Silahkan menikmati waktunya bersama ibu anda. Jika perlu sesuatu, panggil saja saya di luar," ucap perawat.


"Terima kasih banyak." Kinan dan Rimba segera duduk di tepi tempat tidur Levi dan bercakap-cakap dengan penuh keharuan.


***


Berkali-kali Kinan mencoba menelepon Ariani, namun tidak pernah sekali pun diangkat. Kekecewaan mulai membuncah di hati Kinan.


"Kenapa tidak mengangkat panggilan teleponku?" tanya Kinan kesal.


"Apakah dia sedang repot atau sedang pergi keluar negeri? Sampai tak punya waktu untuk berbicara denganku." Kinan menghembuskan nafas.


"Walau begitu, Ariani tidak mengingkari janjinya. Ariani mendaftarkan Rimba ke sebuah taman kanak-kanak di dekat sini," ucap Kinan.


Beberapa saat yang lalu Kinan menerima panggilan telepon dari sekolah Rimba bahwa lusa Rimba sudah boleh masuk sekolah. Selain itu, Ariani juga mengirim peralatan dan perlengkapan agar Kinan dapat segera membuka klinik hewan.


"Ya sudahlah. Masih ada banyak hal yang harus kuurus. Aku akan menelepon Ariani lagi nanti," seru Kinan tidak putus asa. Gagal mendapatkan nomer ponsel Andre dari Ariani, bukan berarti Kinan tidak terus berusaha mencari tahu keberadaan Andre dan nomer ponselnya Andre lewat media sosial.


Hitung-hitung sambil menyelam minum air, sambil mencari Andre lewat komputer, Kinan juga mengajarkan Rimba bagaimana cara berselancar di dunia maya dan mengenal perkembangan tehnologi komputer.


Namun sayang hasil pencarian Andre nihil. Nama Raden Andre Ariandono tidak sekali pun ada di data pencarian internet.


Sepertinya Kak Andre tidak suka bermain sosial media dan tidak pernah diliput oleh media. Ya sudahlah. Jika memang kami berdua masih berjodoh, Tuhan pasti akan kembali mempersatukan kami lagi, batin Kinan.


Tak berapa lama Kinan sudah sibuk membereskan semua peralatan dan perlengkapan untuk membuka klinik hewan dan berbelanja peralatan sekolah untuk Rimba.