CEO'S Prince

CEO'S Prince
Rencana Licik



Makan malam di rumah Om dan Tante Komang sudah selesai. Om Komang bersama dengan tiga teman prianya berniat meninggalkan ruang makan.


"Andre, ada yang ingin Om bicarakan di ruang kerja. Biarkan Dokter Kinan menemani istriku, mengobrol di bawah sambil nonton drakor," pinta Om Komang sambil tetap melempar senyum santun pada Kinan.


"Maaf, Om. Kinan akan ikut kita berbincang-bincang di ruang kerja Om. Tidak ada rahasia di antara kami berdua, jadi untuk apa meninggalkan Kinan di bawah hanya berdua dengan Tante Komang," balas Andre sembari menggandeng jemari tangan Kinan supaya tidak ada lagi yang berniat memisahkan mereka barang sedetik pun.


"Tapi, pembicaraan ini tidak cocok untuk seorang dokter hewan wanita," timpal teman Om Komang yang kurang menghargai wanita.


Sejak acara makan malam dimulai, pria tua berkacamata itu kurang suka dengan kehadiran Kinan. Karena ketiga temannya tak henti-hentinya memuji dan mengagumi Kinan. Makhluk cantik yang satu ini jangan sampai muncul lagi di ruang kerja Komang, alamat ketiga pria temannya tidak dapat berkonsentrasi penuh dan akan menyetujui permintaan Andre tanpa dipikir baik-baik.


"Maaf, Om. Walaupun Kinan hanya seorang dokter hewan, namun sejak menjadi istri saya, Kinan mulai belajar berbisnis. Perbincangan kali ini, pasti akan sangat menarik dan akan semakin menambah wawasannya dalam bidang bisnis. Bagaimana Om Komang? Apakah istri saya boleh ikut?" tanya Andre santai.


Di sini harus ditegaskan, pihak mana yang telah mengundang Andre ke acara makan malam. Om Komang bukan? Itu berarti Om Komang yang membutuhkan bantuan Andre dan Om Komanglah yang seharusnya membuat keputusan agar tidak merusak mood hati Andre. Jelas-jelas Andre ingin Kinan ikut bersamanya, kenapa Om Hadi melarang terus dan Om Komang masih diam seribu bahasa.


"Hadi, biarkan Kinan ikut. Tambah satu personel saja, pasti tidak ada masalah, Kawan." Om Komang menepuk punggung temannya yang alergi pada wanita cantik.


"Iya, Hadi. Ada wanita cantik bisa tambah segar. Tidak cepat ngantuk setelah kekeyangan makan malam," tambah Pak Budi sambil mengelus perutnya yang buncit.


Sementara Pak Chandra menganggukkan kepala di balik mata sayunya.


Hadi mendengus kesal. Ketiga sahabatnya setuju mengajak Kinan dalam sebuah pembicaraan penting. Awas ya kalau kalian sampai say yes hanya gara-gara terpesona kecantikan dokter hewan itu.


"Silahkan masuk," ucap Pak Komang seraya mempersilahkan para tamunya untuk duduk di sebuah sofa empuk yang sangat besar.


Andre menggandeng tangan Kinan dan meminta Kinan untuk duduk di sofa paling pojok. Terlindung dari tatapan tiga pria yang suka dibelai wanita cantik.


Jika bukan karena urusan malam ini sangat penting, pasti Andre sudah memperlihatkan gigi taringnya, siap mengoyak leher para pria yang haus wanita itu.


"Begini, Pak Andre. Saya mengundang Bapak kemari karena besok rapat pemegang saham Ariandono Group akan diadakan di kantor Ariandono. Saya bersama ketiga teman saya agak sedikit bimbang mau memihak Bapak atau memihak ibu Ayu Sekar Sari," ucap Pak Komang mengawali perbincangan.


Andre mengangguk dan mengamati satu persatu pria yang ada di dalam ruangan. Semuanya terlihat tegang. Pak Budi sejak tadi mulai *******-***** jemari tangannya yang berkeringat dingin. Pak Chandra dengan mata sayunya sesekali menengadah melirik Andre lalu kembali menunduk seperti kurang percaya diri. Sementara Pak Hadi terus mendengus kesal. Sinar matanya terlihat kurang senang dengan kehadiran Kinan di dalam ruangan.


"Kenapa ragu, Om? Coba lebih diperinci lagi alasannya," tanya Andre ingin tahu.


"Ehm ... Begini Pak Andre, beberapa hari lalu pengacara Ibu Ayu Sekar mendatangi kami satu persatu. Pengacara tersebut meminta kami untuk mendukung Bu Ayu Sekar Sari dalam rapat pemegang saham. Sedangkan Pak Andre sepertinya tenang-tenang saja, tidak mengutus sekertaris Bapak atau pengacara Bapak untuk meminta dukungan sama sekali kepada kami berempat. Apakah besok Bapak sudah yakin dengan kemenangan atau sudah rela menerima kekalahan?" tanya Pak Komang memulai negosiasi.


"Oh tidak, tidak. Bukan begitu, Pak Andre. Saya sama sekali tidak punya pemikiran untuk meremehkan Bapak atau memperkirakan Bapak akan kalah besok pagi," ucap Om Komang balas terkekeh.


"Saya tahu Pak Andre ini adalah CEO Ariandono Group yang sangat hebat. Beberapa tahun silam, kehebatan Bapak sudah terbukti. Bapak dapat mengembalikan kepercayaan para customer dan masyarakat. Nilai saham Ariandono Group juga semakin tinggi dengan berjalannya waktu. Semuanya berkat kerja keras Bapak. Kemungkinan besar Bapak akan menang dalam rapat pemegang saham besok." Om Komang mulai bersilat lidah.


"Benar, Pak Andre. Kami selalu menganggap Bapak sebagai pahlawan Ariandono Group. Tanpa Bapak, Ariandono Group sudah hancur beberapa tahun silam dan kami sudah bangkrut, merugi banyak telah berinvestasi di Ariandono Group," tambah Pak Hadi agar tidak melukai harga diri Andre.


Andre tersenyum.


"Kalau begitu, apakah besok Bapak-bapak sekalian akan mendukung saya agar kemenangan saya menjadi kemenangan mutlak, ibu tiri saya kalah telak dalam rapat pemegang saham dan tidak berani berkutik lagi?" tanya Andre serius. Tatapan matanya tajam dan menusuk empat pria yang ada di hadapannya.


Semuanya terdiam, tercekat menahan nafas. Tidak menyangka Andre langsung memukul telak mereka.


"Kalian semua memuji kehebatan saya malam ini, seharusnya tanpa saya kirim sekertaris atau pengacara, Bapak-bapak semua pasti langsung mendukung saya. Benar begitu?" tanya Andre di atas angin.


Pak Chandra dan Pak Budi yang duduk mengapit Pak Hadi segera menyenggol lengan Pak Hadi. Memintanya mewakili mereka untuk memberitahu Andre yang sebenarnya sedang terjadi.


"Ehm ... Pak Andre, sebenarnya kami sudah menandatangani surat dengan pengacara Bu Ayu Sekar. Kami akan mendukung beliau besok. Namun semuanya dapat kami batalkan jika Pak Andre bersedia menolong kami," ucap Pak Hadi.


Andre pura-pura terkejut padahal ia sudah tahu. Keempat pria di hadapannya pasti ditekan oleh ibu tirinya. Jika tidak, mana mungkin mereka mau mendukung ibu tirinya.


"Apakah kalian berempat tidak takut ibu tiri saya akan menuntut kalian semua besok karena sudah ingkar janji, tidak jadi memberikan suara untuknya di rapat pemegang saham?" tanya Andre memutar agar tidak terjebak dalam permainan kotor ke empat pria yang ada di hadapannya.


"Kami berencana untuk abstain (tidak memberikan suara dalam pemungutan suara). Abstain tidak menyalahi perjanjian yang telah kami tanda tangani dengan pengacara, Pak. Jadi ibu Ayu Sekar tidak bisa menuntut kami berempat," jelas Om Komang.


Andre tersenyum. Om Komang dan kawan-kawannya ternyata tidak bodoh. Perjanjiannya dengan Bu Ayu Sekar hanya perjanjian untuk memihak Bu Ayu Sekar di rapat pemegang saham. Namun jika saat rapat pemegang saham, dia abstain, tidak mendukung Bu Ayu Sekar maupun Andre, dia tidak akan dipersalahkan oleh Ibu Ayu Sekar.


"Jadi tujuan kalian semua mengundang saya makan malam di sini hanya untuk mengatakan bahwa kalian akan abstain besok?" tanya Andre ingin meyakinkan lagi apakah tidak ada keinginan lain yang tersembunyi.


"Ehm ... Kami ingin Pak Andre terus memimpin Ariandono Group sebagai CEO. Dan kami juga ingin Pak Andre meminta Ibu Ayu Sekar dan putrinya untuk mundur dari Ariandono Group. Tidak membuat masalah seperti ini lagi di kemudian hari," ucap Pak Hadi.


"Itu perkara mudah. Ibu tiriku pasti tidak akan macam-macam lagi jika sudah kalah telak besok pagi. Jadi, doakan saja supaya saya bisa memenangkan pertarungan esok hari," ucap Andre santai.


Ke empat pria di hadapannya hanya ingin membuat ibu tirinya tersingkir dan Andre pasti akan menyingkirkan ibu tirinya demi melindungi keluarganya.