CEO'S Prince

CEO'S Prince
Putraku Bintang Keberuntunganku



Dua hari kemudian Rimba mulai mengawali sekolahnya. Pukul tujuh pagi, Kinan dan Rimba sudah tiba di depan halaman sekolah Rimba. Gedung sekolah yang sangat megah dan dihias aneka hiasan warna warni. Sangat menarik.


Kinan mendampingi Rimba bertemu dengan wali kelasnya. Bu Paula. Guru yang sudah cukup umur dan senior di taman kanak-kanak. Ceria dan sangat sabar.


"Hallo! Selamat pagi, Sayangku," salam Bu Paula saat berkenalan dengan Kinan dan Rimba.


"Selamat pagi, Bu Paula," balas Kinan dan Rimba bersamaan.


"Wah, Rimba tampan sekali. Rambutnya panjang dan berwarna kecokelatan. Kalau bisa, besok rambutnya sedikit dirapikan ya, Rimba. Supaya kelihatan makin tampan," nasehat Bu Paula pada Rimba.


"Baik, Bu," jawab Rimba sopan.


Bu Paula tersenyum senang mendengar kepatuhan dan kesopanan Rimba.


"Mari Rimba, ibu antar Rimba ke dalam kelas. Teman-teman sudah tidak sabar untuk berkenalan dengan Rimba," ajak Bu Paula sambil menggandeng tangan Rimba. Dengan patuh, Rimba mengikutinya. Bu Paula mengedipkan matanya pada Kinan. Dan Kinan mengekor Bu Paula dan Rimba ke kelasnya.


Kinan berhenti di depan kelas dan melihat isi kelas lewat jendela kaca yang bening. Sementara Rimba dan Bu Paula masuk ke dalam ruangan.


"Hallo, Anak-anak. Selamat pagi semuanya," salam Bu Paula begitu masuk ke dalam kelas yang ramai dan berisik.


Para siswa siswi yang sedang mengobrol segera kembali ke tempat duduknya. Seketika kelas menjadi hening. Tidak ada yang berbicara dan bersenda gurau lagi. Mereka diam terpukau melihat kedatangan Rimba. Sosok anak laki-laki yang tampan dengan kulit sedikit kecokelatan, berambut panjang sebahu dan berpostur tubuh kuat dan tegap.


"Hari ini, ada murid baru yang akan masuk ke kelas kita. Namanya Rimba Lee. Ayo Rimba silahkan perkenalkan dirimu di hadapan teman-teman," pinta Bu Paula.


Rimba dengan berani maju ke depan kelas. Dulu ia sering memperkenalkan diri pada hewan-hewan di hutan dengan bahasa hewan, tiap bertemu hewan baru yang tidak ia kenal. Namun sekarang, Bunda sudah mengajarinya untuk memperkenalkan diri dengan bahasa manusia yang sopan.


Rimba berdehem lebih dahulu sebelum mulai berbicara.


"Hallo, Teman-teman Semua. Namaku Rimba Lee. Usiaku lima tahun. Hobbyku adalah belajar dan bermain. Pelajaran yang paling kusukai adalah pelajaran tentang alam dan metematika. Sekian perkenalan dari saya. Mari kita belajar dan bermain dengan rukun bersamaku, Rim-ba," ucap Rimba penuh percaya diri.


Teman-teman Rimba bertepuk tangan dengan meriah. Mereka menyukai Rimba yang tampan, ceria dan berani.


"Rimba, silahkan duduk di sebelah Leony," tutur Bu Paula sambil menunjuk seorang anak perempuan yang gemuk dan kulitnya sangat putih. Pipinya tembem dan berwarna kemerahan. Sangat imut sekali.


"Baik, Bu." Dengan bersemangat, Rimba segera duduk di sebelah Leony.


"Hai, Leony. Nice to meet you," ucap Rimba sebelum duduk di bangku.


Leony yang terpesona pada Rimba hanya bisa bengong dan diam saja. Hingga semua teman-teman di kelas menertawakan kepolosan Leony.


Rimba tersenyum ramah pada Leony hingga membuat Leony makin gugup.


Dari jendela kaca bening, Kinan tak dapat menahan tawa lagi. Ia tergelak melihat ekspresi anak perempuan lucu di samping Rimba. Sangat lucu. Bu Paula segera menenangkan para muridnya lalu berpamitan sebentar untuk berbicara dengan Kinan di luar ruangan kelas.


"Rimba diterima dengan baik oleh teman-teman sekelasnya, Bu. Sekarang saya akan mulai mengajar di kelas. Terima kasih sudah datang dan mengantar Rimba di hari pertama sekolahnya, Bu," ucap Bu Paula.


"Sama-sama, Bu. Kalau begitu saya pamit, Bu. Terima kasih banyak," balas Kinan sambil tersenyum ramah dan berlalu pergi kemudian.


Dengan hanya berjalan kaki, akhirnya Kinan sudah sampai di depan rumahnya. Rumah yang sudah disulap menjadi tempat kerja dan mencari nafkah. Klinik Hewan Rimba Friends, begitulah namanya.


Kinan segera masuk ke klinik hewan. Mengenakan jas putih dan mulai menunggu kedatangan pasiennya. Tapi sampai beberapa jam berlalu, klinik hewan Kinan masih belum menerima satu pun pasien.


"Ah, mungkin karena masih baru dan kurang promosi, klinik hewanku masih sepi. Mungkin aku harus membuat brosur dan mulai menyebarkan iklan melalu sosial media," ucap Kinan mulai berselancar di dunia maya. Memasukkan iklan klinik hewan di sosial media yang baru saja ia buat. Sekaligus membuat beberapa brosur. Sampai waktu pulang sekolah Rimba tiba.


Tit! Tit! Tit! Alarm di meja kerja Kinan berbunyi. Kinan segera mematikan alarm dan bergegas pergi ke sekolah menjemput Rimba.


"Ah, dokter hewan yang cantik dan sangat ramah," ucap seorang ibu berpakaian sangat mewah hanya untuk menjemput putrinya sekolah. Manik matanya tak henti-hentinya mengawasi Kinan dan mulutnya berdecak kagum mengagumi kecantikan dan keramahan Kinan dalam bergaul dengan ibu-ibu yang lain.


"Iya, membuka klinik hewan di daerah perumahan ini memang sangat cocok. Banyak warga perumahan yang memelihara hewan peliharaan dan beberapa dari mereka sering keluar negeri, pasti mereka butuh tempat penitipan hewan. Hmm ... klinik hewan dokter Kinan dijamin akan laris manis," ujar ibu berkacamata.


"Kalau begitu aku akan membawa pudelku yang sedang mengandung untuk di-USG di klinik dokter Kinan. Aku juga ingin berkonsultasi tentang banyak hal dengannya. Karena beberapa hari ini, pudelku terlihat lesu dan kurang bersemangat," sahut seorang ibu tidak mau kalah dalam berbicara.


"Terima kasih banyak, Ibu-ibu. Saya tunggu kedatangan hewan peliharaannya di klinik saya," ucap Kinan sambil tersenyum manis.


Tak berapa lama, Rimba bersama teman-teman muncul. Rimba segera berlari mendapatkan bundanya.


"Bagaimana sekolahmu, Rimba? Apakah menyenangkan?" tanya Kinan sambil mengelus pucuk kepala Rimba dengan lembut.


"Sangat menyenangkan, Bunda. Rimba punya banyak teman. Pelajaran yang diberikan Bu Paula juga mudah dipahami," jawab Rimba antusias.


"Syukurlah jika kau menyukainya, Sayang. Sekarang kita ke salon dulu ya. Rambutmu harus dipotong agar terlihat lebih rapi," ajak Kinan.


"Baik, Bunda." Mereka berdua kemudian segera pergi ke salon.


Setelah selesai mengantar Rimba ke salon dan makan siang, Kinan kembali membuka klinik hewannya. Dan pasien pertama pun datang. Seekor pudel berwarna cokelat kemerahan dengan perut yang sudah membuncit besar. Pudel itu memakai baju berwarna pink dengan aksesoris yang terlalu berat dan berlebihan. Pita besar diikatkan di leher. Bando bunga besar diikatkan di kepalanya. Hingga terlihat sangat membebani dirinya.


"Selamat sore, Dokter," sapa ibu yang berjanji akan datang membawa pudelnya untuk di-USG. Ibu itu mengenakan baju berwarna senada dengan pudelnya. Sehingga terlihat makin menggemaskan dan imut-imut.


"Selamat sore, Bu. Mari silahkan masuk, Bu. Silahkan letakkan pudelnya di sini," sapa Kinan balik dan menunjuk meja dari aluminium tempat pasiennya dibaringkan.


Ibu itu menimang-nimang pudelnya sebentar lalu meletakkannya di atas meja dari aluminium.


"Selamat sore, Tante. Anjing pudelnya cantik sekali, Tante. Siapa namanya?" sapa Rimba dengan sopan. Rimba segera mengelus-elus bulu anjing pudel sambil tersenyum sendu.


"Selamat sore, Nak. Namanya Noodle. Tentu saja anjing Tante sangat cantik. Karena Tante selalu memberikan yang ter-wow, untuk anjing Tante. Lihat pakaiannya. Pakaian ini adalah pakaian anjing yang sangat mahal, " jawab ibu itu bangga atas pujian Rimba pada anjingnya.


Pudel itu menggonggong kecil lalu mengeluarkan suara sedih dan menyayat hati.


Rimba mengangguk pelan. Mengerti dan memahami bahasa hewan membuat Rimba dapat memahami keluhan-keluhan hewan yang tidak dapat dimengerti oleh manusia. Cepat-cepat Rimba berbisik pada Kinan. Menyampaikan semua keluhan-keluhan Noodle. Kinan tersenyum dan mengangguk pada Rimba.


"Terima kasih, Rimba. Bunda akan menyampaikan keluhan Noodle pada pemiliknya. Sekarang Bunda periksa Noodle dulu ya," ucap Kinan sabar.


Rimba mengangguk.


Setelah semua pemeriksaan pada Noodle selesai dilakukan, Kinan memulai sesi konsultasi. Dan di akhir sesi konsultasi, Kinan menasehati pemilik Noodle untuk tidak mendandani Noodle terlalu berlebihan karena kehamilan Noodle sudah sangat besar. Tubuhnya mudah letih. Kinan juga menyampaikan keluh kesah Noodle yang tidak ingin didandani berkali-kali dalam sehari karena berganti baju dan akesesoris berkali-kali itu sangat melelahkan. Baik sebelum atau saat mengandung.


"Oh, ternyata karena itu, Noodle jadi kurang bersemangat beberapa minggu ini. Saya kira Noodle sakit. Syukurlah ternyata Noodle dan bayinya baik-baik saja. Baiklah, saya tidak akan mendandani Noodle terlalu berlebihan lagi. Terima kasih, Dokter," ucap ibu itu semringah.


"Sama-sama, Bu."


Sejak hari itu, klinik hewan Kinan bertambah laris manis. Karena ibu pemilik Noodle adalah kaum sosialita dengan banyak teman yang memelihara banyak hewan peliharaan. Sehingga di setiap pertemuan dengan teman sosialitanya, tak henti-hentinya bercerita tentang Kinan dan klinik hewannya. Memang promosi dari mulut ke mulut sangat manjur untuk membuat sebuah klinik dokter hewan baru menjadi terkenal dalam sekejab.


Tentu saja semuanya tak lepas dari kegeniusan Rimba yang dapat berkomunikasi dan memahami bahasa hewan.


"Terima kasih, Putraku. Tanpamu klinik hewan milik Bunda tidak akan seramai ini," gumam Kinan melihat ruang tunggu kliniknya penuh dengan hewan peliharaan yang membutuhkan pengobatan dari dokter Kinan.


Rimba tersenyum manis lalu memeluk Bundanya dengan hangat.